
pagi hari, Ilya bangun dan tubuhnya serasa remuk redam, entahlah ini seperti seluruh tulangnya lepas.
dia melihat jam dinding, "innalilahi... aku kesiangan, sudah jam empat," kagetnya.
dia pun ingin bangun tapi tubuhnya hampir saja terjatuh ke lantai, beruntung sebuah tangan menahan tubuhnya.
"mas Haris," kaget Ilya.
"iya sayang, kamu ternyata belum benar-benar sehat," kata ustadz Haris.
"sepertinya aku belum terbiasa saja mas, aku ingat jika kemarin malam aku melihat sosok wanita yang berpakaian seperti orang kerajaan," kata Ilya yang kini di bantu suaminya itu duduk.
"sudah duduklah, mungkin ini akan mengejutkan dirimu, sebenarnya kemarin malam, mas Cakra baru mengatakan semuanya, ternyata kamu dan Rahayu adalah saudara kembar, tapi karena kamu lahir dengan kekuatan besar, hingga kamu di buang oleh keluarga mu," kata ustadz Haris
"apa.... mereka melakukan itu hanya karena aku berbeda," kata Ilya dengan sedih.
"tapi lihatlah hal yang baik, berkat mereka membuang mu, kami sekarang memiliki keluarga yang sangat peduli padamu," kata ustadz Haris mengenggam tangan Ilya.
tanpa di ketahui keduanya, Ilya melihat apa yang terjadi di kamar itu, dia kaget melihat apa yang terjadi.
"mas Haris, bagaimana kamu bisa berduaan seperti ini dengan neng Ilya, kalian berzina," kata Rahayu yang tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"terserah kamu memikirkan apa, toh ini bukan urusan mu," kata ustadz Haris yang langsung menutup pintu kamar
"mas, apa yang kamu lakukan," kata Ilya kaget melihat reaksi dari suaminya itu.
"aku tak peduli, dia terus membuat pusing, aku tak suka seperti ini, terlebih dia terus bersikap seperti orang yang sempurna, inilah sikap buruknya," kata ustadz Haris.
"ya Allah mas, kenapa sekarang kamu bisa kehilangan kesabaran mu," kata Ilya tak percaya.
ustadz Haris pun duduk di ranjang mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar tak menyukai sikap Rahayu.
setidaknya jika gadis desa lebih kalem dan polos, tapi tidak dengan gadis itu yang malah memiliki sikap iri.
Shafa keluar dari kamar setelah sholat subuh, "ada apa Rahayu, kenapa kamu mematung begitu?" tanya Shafa.
__ADS_1
"aku tak menyangka jika mas Haris dan neng Ilya melakukan hal buruk terang-terangan seperti ini, mereka berzinah," kata Rahayu dengan kesal dan suara mengejek.
"tutup mulut mu Rahayu, sebelum menghina seseorang, lihat dirimu terlebih dahulu, jika kamu sudah sempurna kamu bisa menghina orang lain," kata Shafa marah.
karena dia tau semua yang terjadi, "kenapa sekarang neng yang marah, aku mengatakan apa yang benar," bantah Rahayu.
"ya Allah... kamu memiliki mulut jahat ya Rahayu, bagaimana kamu bisa mengatakan hal buruk seperti itu, kamu tau itu bisa jadi fitnah saat kejadian yang sebenarnya tak seperti itu," kata Shafa yang benar-benar kehabisan kata-kata.
"tapi itu bukan fitnah, aku melihatnya, mereka berpegangan tangan, bahkan mas Haris berbicara lembut dan memanggilnya sayang," kata Rahayu.
mendengar keributan itu, Ilya dan ustadz Haris baru keluar setelah menyelesaikan sholatnya.
"kenapa kamu berteriak, ini bukan hutan," kata ustadz Haris.
"kamu ternyata pria busuk, bahkan kamu dan dia bisa berzina di sini," marah Rahayu menunjuk ustadz Haris.
"memang apa salahnya, ingat batasan mu, kamu itu cuma mantan istriku!!! jadi tak berhak mengatur kehidupan ku!!" bentak ustadz Haris keras.
semua orang yang baru pulang kaget mendengar ucapan pria itu, "Haris!!" tegur Cakra.
"apa..." kaget semua orang
Rahayu kaget, bagaimana bisa pria itu menikah dengan Rahayu setelah berpisah, bahkan saat dia masih hamil besar.
"tapi ustadz selama ini anda selalu tidur bersama dengan neng Rahayu, berarti kalian melakukan hal buruk,"
"apa kalian melihat aku pernah tidur dan keluar masuk ke kamar wanita itu, tidak bukan, jadi jangan mengatakan hal yang tak benar," kata ustadz Haris.
"tapi agama kita menghalalkan perceraian, tapi juga membencinya, kenapa ustadz melakukan itu," kata Ahmad tak percaya.
"karena dia ingin bersama wanita itu, bukankah begitu mas Haris, karena kamu menikahiku hanya untuk di manfaatkan diriku,benar begitu bukan," kata Rahayu mengejek ustadz Haris.
"jaga bicaramu, jangan sampai aku mengumbar semua keburukan mu yang selama ini di jaga keluarga ku, ingat sekali aib itu tersebar kamu tak hanya akan malu, tapi juga pasangan mu itu akan kehilangan semua kehormatannya," ancam ustadz Haris.
"tidak mas, lebih baik kita pergi dari rumah ini, toh pemilik rumah ini sudah tak suka kita di sini," kata Ilya menenangkan suaminya itu.
__ADS_1
Rahayu sudah terdiam, dia lupa jika ustadz Harun bisa kehilangan semuanya saat keburukan mereka terbongkar.
"semuanya bubar, ini bukan tontonan, jika kalian masih ada pertanyaan nanti aku akan jelaskan," kata Cakra.
Ilya pun menyiapkan semua baju mereka, untuk pergi dari rumah itu, ternyata tak hanya ustadz Haris.
tapi juga Shafa sudah tak nyaman di rumah itu, "sayang kamu mau kenapa juga?"
"maafkan aku mas, tapi aku sudah tak nyaman ada di sini, jadi aku akan pergi bersama dengan Ilya saja," kata Shafa.
"ya Tuhan, kenapa jadi ruwet begini," kesal Cakra.
semua warga desa kaget melihat ustadz Haris dan Ilya serta Shafa yang keluar dari rumah Rahayu dengan membawa tas.
"ustadz mau kemana?"
"kamu akan mencari rumah kontrakan, karena tak baik tinggal dengan orang yang tak menghendaki keberadaan kami," Jawab ustadz Haris.
"tapi bukankah itu rumah ustadz, ustadz suami Rahayu bukan?" tanya salah satu warga.
"tidak!! kami sudah bercerai saat dia hamil empat bulan, dan itu terjadi saat saya sedang koma," kata ustadz Haris
"aku punya rumah kosong, ustadz dan ustadzah Ilya bisa tinggal disana, tapi kalian belum menikah?"
"saya dan Ilya sudah menikah sepuluh hari yang lalu pak, jadi kami tak ada masalah untuk tinggal bersama."
semua warga desa bingung mendengarnya, bagaimana bisa mereka berpura-pura seperti ini
"jangan bilang bayi itu milik ustadz Harun, karena semalam kami bisa melihat bagaimana kebahagiaan ustadz Harun saat bayi itu lahir," kata pria yang dulu membawa minuman keras
"apa!!" kaget semua orang.
"kalian tak merasa aneh, saat dulu ustadz Haris sakit, neng Rahayu ini memilih duduk di desa dengan ustadz Harun dan para pria ini dari pada menemani suaminya yang sedang berjuang untuk sembuh," kata seorang ibu.
"ya kamu benar, jangan-jangan itu benar," saut yang lain.
__ADS_1