
ustadz Haris memperhatikan sekeliling dan terlihat sangat sepi, bahkan desa ini sangat mengerikan saat malam.
"aku baru sadar jika suasana desa ini sangat mengerikan saat malam hari," kata ustadz Haris.
"kamu belum pernah jalan-jalan selama ini?"
"belum mas, aku selalu jaga di rumah karena Rahayu selalu berontak dan mengamuk saat malam hari.
"terus dia hanya bersama dengan Ilya di rumah, apa itu tak apa-apa mas, bukankah itu bisa membuat keduanya terluka," panik ustadz Harun.
"tenang saja, karena kamu tak mengenal Ilya, dia bukan gadis sembarangan," kata Cakra melirik ke arah ustadz Haris yang kesal.
tak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah kebun pisang yan terkenal di desa itu, yang selalu membuat orang takut melewatinya saat malam.
sebenarnya di kebun pisang itu tak ada apapun, tapi hawa di tempat itu sangat gelap itu saja.
"kamu merasakan sesuatu dek?" tanya Cakra yang membuat ustadz Harun panik karena tak merasakan sesuatu dan melihat apapun.
tiba-tiba ustadz Haris lari di ikuti Cakra, itu membuat ustadz Harun dan Alif ikut lari tunggang langgang.
mereka pun sampai di masjid, ustadz Haris lari ke toilet, dan Cakra duduk di teras tempat ibadah itu.
ustadz Haris dan Alif sampai di masjid dengan nafas ngos-ngosan, "Allahuakbar, ustadz ada apa kenapa lari seperti tadi, jangan membuat kami bingung? apa anda melihat sesuatu?" kata ustadz Harun penasaran.
"aku juga tak tau, aku mengikuti ustadz Haris," jawab Cakra yang sudah merebahkan dirinya yang kelelahan.
ustadz Haris kembali dan duduk di teras masjid, "ada apa kok pada ngos-ngosan?"
"sebenarnya ustadz tadi lihat apa? kenapa main lari saja?" tanya pria itu bingung.
"aku lari tadi, bukan kenapa-kenapa kok, aku hanya kebelet dan sudah di ujung jadi aku tak tahan," jawab ustadz Haris santai.
"ya elah ustadz ..."
mereka pun merebahkan diri di teras masjid, tak lama ada di sesuatu yang lewat di atas langit desa.
ustadz Haris bangkit dan langsung masuk kedalam masjid, beruntung tadi dia sempat mengambil wudhu.
dia pun mulai membaca surat Yasin berkali-kali, otomatis bayangan itu terpental kesakitan.
karena bacaan ayat itu sangat menyiksanya, bahkan dia yang sudah memiliki kekuatan hampir sempurna tak bisa menahan ayat yang di baca ustadz Haris.
dia harusnya mengambil jantung miliknya untuk bisa menyempurnakan semua ilmunya.
__ADS_1
Ilya masih membaca yasin, entah sudah berapa kali, dan saat dia mendengar bacaan juga di masjid itu menunjukkan bahwa ada malapetaka yang datang.
tak terasa waktu subuh akan segera datang, jadi Ilya merasa ingin ke kamar mandi, jadi dia memutuskan untuk pergi sebentar.
Ilya tak lupa meletakkan Al-Qur'an di atas kepala Rahayu, begitupun dengan tasbih yang di berikan oleh suaminya itu agar tak kotor.
saat di kamar mandi rumah itu, dia merasa ada hawa yang begitu aneh, terlebih saat dia melihat ada sebuah patung batu di belakang rumah Rahayu.
dia merasa hawa patung itu sangat menganggunya dan sangat pekat, dia pun mengabaikannya.
setelah dari kamar mandi dia mengambil air wudhu karena dia tak boleh batal wudhu.
tak butuh waktu lama untuknya kembali ke tempat duduknya, dan melakukan hal yang seperti tadi di lakukan.
tapi tanpa sadar dia malah tertidur sambil duduk, tapi anehnya dia malah bisa melihat dirinya yang sedang tidur saat ini.
"ah aku kenapa bisa keluar dari tubuh ku," bingung Ilya.
tapi dia melihat cahaya merah dari patung batu di belakang rumah, dia pun mendekat perlahan, tapi seseorang menahan gadis itu.
"jangan menghampirinya, itu bahaya,"
"baiklah, tapi anda siapa dan kenapa menyentuh ku, maaf ini tak pantas," kata Ilya mundur beberapa langkah .
"anda siapa, dan jenaka mengatakan hal seperti itu, aku benar-benar tak mengenal anda," kata Ilya yang terus tegas menolak.
tiba-tiba arwah pria itu hilang, dia pun bergegas Masuk kedalam tubuhnya.
dia pun terbangun dan kepalanya sangat pusing, karena dia butuh istirahat.
ustadz Haris dan rombongan yang tadi sudah pulang, Ilya bangkit dan tiba-tiba dia hampir tumbang.
beruntung ustadz Haris yang merasa tak baik masuk dan berhasil menangkap tubuh istrinya yang lemas.
"kamu kenapa Ilya?"
"kepalaku pusing ustadz, sepertinya aku kelelahan dan butuh tidur deh ustadz, tolong tunjukkan kamar yang bisa di gunakan," kata Ilya memohon
"mbak Ilya bisa mengunakan kamar tamu, biar saya bereskan sebentar," kata ustadz Harun
setelah di bersihkan Ilya merebahkan diri setelah mengikuti sholat subuh karena kepalanya benar-benar pusing.
tak lupa dia mengunci pintu dan tak jendela, karena dia tak ingin sedang istirahat dan melepas jilbabnya ada yang melihat auratnya.
__ADS_1
sedang Ilya sudah bangun dan membuatkan sarapan di bantu Ahmad.
sedang yang lain masih tidur, bahkan nderes Al-Qur'an yang biasa di lakukan sholat subuh di tiadakan.
karena beberapa hari ini jatah istirahat mereka kocar-kacir karena serangan setiap harinya.
tapi beruntung sekarang sudah datang beberapa bala bantuan, semoga sebentar lagi semuanya membantu.
setelah masak, Rahayu memanggil semua orang untuk sarapan, semua berkumpul kecuali Ilya.
karena khawatir ustadz Haris pun mengetuk pintu kamar perlahan, ternyata Ilya membukakan kamar hanya sedikit pintu.
"ada apa ustadz?"
"ayo sarapan dulu, kamu harus minum vitamin, jangan seperti ini," panggil ustadz Haris.
"aku tak nyaman sebenarnya, tunggu yang lain selesai aku baru akan makan," jawab Ilya.
"baiklah, apa kamu butuh sesuatu?"
"boleh minta tolong ambilkan air," jawab gadis itu dari sebrang pintu.
"baiklah aku ambilkan," jawab ustadz Haris.
ustadz Haris mengambilkan air minum dan kembali duduk untuk melanjutkan sarapan.
"apa dia tak makan?"
"dia sedang ingin istirahat, katanya biar makan nanti saja," jawab ustadz Haris.
ustadz Harun yang merasa ada yang aneh, pasalnya kenapa Ilya begitu terbuka dengan ustadz Haris.
padahal selama ini, gadis itu sangat menjaga batasan, atau gadis itu sedang merasa tak nyaman karena di rumah ini banyak laki-laki yang bukan mahramnya
setelah sarapan semuanya keluar untuk melakukan kegiatan, bahkan Rahayu juga pergi untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
ustadz Haris pun mengambilkan makanan untuk Ilya, dan kemudian masuk.
dia melihat Ilya sedang duduk di ranjang sambil membaca buku, ustadz Haris menghampiri istrinya dan menyuapi Ilya.
setelah itu tak lupa ustadz Haris memberikan sebuah kecupan hangat di kening Ilya, "kita harus bertahan ya sayang,"
"iya mas, semoga kita bisa," jawab Ilya tersenyum penuh harapan.
__ADS_1