
keesokan harinya, mami Tasya dan ustadzah Aisyah sudah sampai di rumah sakit bersama karena mereka tadi janjian berangkat bersama.
tapi mereka kaget saat Cakra dan Shafa sedang mengajari kedua orang yang selama ini koma sudah bangun dan bisa tersenyum.
bahkan mereka bisa bercanda tawa bahagia seperti ini.
"Haris!!"
"Ilya!!"
kaget dua orang ibu yang tak percaya dan langsung memeluk
anak masing-masing.
"iya ibu, Ilya sudah sembuh..." jawab Ilya yang tersenyum senang.
begitupun dengan ustadz Haris yang sedang memeluk mami Tasya,bahkan wanita itu juga sedang menangis sesenggukan.
"tenang mami anak mu ini baik-baik saja,kenapa mami begitu sedih seperti ini, jika mami sedih aku juga ikut sedih, dan mami terlihat jelek saat menangis..." lirih ustadz Haris tersenyum menggoda maminya itu.
"maafkan mami..."
"mami tak salah, jadi tak perlu minta maaf...."
"sudah mami jangan menangis terus, nanti itu keriput nambah, terus mau Hamzah nanti bilang, Oma kok tua punya banyak keriput, padahal opa masih gagah," kata Cakra yang langsung mendapatkan jeweran dari wanita itu.
"kan Oma masih cantik, awas kamu kalau bilang tua lagi," kesal mami Tasya.
"sudah-sudah jangan ngomong terus dong, tolong kita sarapan dulu yuk, aku sangat lapar, karena mereka sudah tak bisa di ajak kompromi," mohon Shafa.
"benarkah, baiklah sayang kita makan yuk," ajak Cakra.
pria itu ingin mengajak istrinya keluar ke kantin, tapi mami Tasya menarik baju anaknya itu.
"tak usah keluar, kita makan disini saja," kata mami Tasya.
__ADS_1
"oke mami," jawab pria itu
mereka duduk bersama untuk makan bersama, dokter datang untuk memeriksa kondisi dari Ilya dan ustadz Haris.
dokter tak mengira jika perkembangan keduanya sangat cepat dan baik.
"tolong terus lakukan olahraga ringan supaya tidak kaku dan agar segera bisa cepat pulih." pesan dokter.
"iya dokter," jawab Keduanya.
Ilya merasa aneh, pasalnya bagaimana bisa dia tak melihat sosok Rahayu yang notabene adalah istri dari ustadz Haris.
dia sebenarnya ingin bertanya, tapi tak berani mengungkapkan perasaannya karena tak ada yang mengusik hal itu.
"kamu sedang pikirin apa nduk, ini minum obatnya dulu," kata ustadzah Aisyah.
"iya Bu," jawab Ilya
dia langsung minum obat yang sudah di siapkan itu, setelah minum obat, mereka memilih berjemur di taman di depan kamar mereka.
"ustadz kenapa aku tak melihat sosok istrimu, maaf jika aku lancang... tapi kenapa dia tak merawat mu," tanya Ilya penasaran.
pasalnya saat dia terakhir bertemu mereka, Rahayu terlihat sangat baik dan begitu memanjakan ustadz Haris sebagai istrinya.
"dia sedang hamil, kemungkinan mami melarangnya karena takut mempengaruhi kesehatan dari janin yang masih rawan keguguran, jadi dia di suruh di rumah oleh mami," terang ustadz Haris.
tiba-tiba air muka dari Ilya berubah, dia sepertinya terkejut dengan ucapan ustadz Haris.
"apa kamu baik-baik Ilya?" tanya pria itu nampak khawatir.
"iya ustadz aku hanya kaget tak ku kira akan jadi secepat itu, selamat ya ustadz, aku tak sabar mau melihat keponakan lagi, setelah Hamzah, sekarang akan punya lagi perempuan atau laki-laki ya?" kata Ilya dengan senyum yang merekah
ustadz Haris pun hanya diam, dia tak mungkin mengatakan jika itu bukan bayinya.
mungkin itu akan menghancurkan nama baik dari Rahayu, terlebih dia sudah tak memiliki siapapun di sisinya.
__ADS_1
"entahlah aku terburu sudah koma sebelum melihat jenis kelaminnya," kata ustadz Haris.
"apa pria itu menyerang ustadz lagi? seandainya aku lebih kuat, dan bisa membantu ustadz berjuang."
"kamu aneh ya, padahal aku sangat iseng padamu, tapi kenapa kamu begitu mudah menolong ku bahkan rela menghadang maut untuk ku," kata ustadz Haris.
"kenapa? aku juga tak mengerti, aku hanya tak bisa melihat ku terluka," kata Ilya sedih.
"kamu masih ingat yang aku katakan sebelum kamu tak sadarkan diri?"
Ilya mengangguk, ustadz Haris pun berlutut di depan Ilya, "mau menikah dengan ku, aku tau jika ini mungkin sangat keterlaluan dan serakah, tapi sebenarnya aku sangat mencintaimu, aku baru menyadarinya setelah aku ingin melakukan malam pertama dengan Rahayu, maaf ... seharusnya ini tak patut aku ceritakan," kata ustadz Haris menunduk sedih.
"tolong jangan menangis ustadz, aku memang mencintai mu, tapi tolong pikirkan perasaan istrimu terlebih sekarang dia sedang hamil dan butuh sosok mu disisinya," kata Ilya dengan lembut dan menyentuh pipi ustadz Haris.
ustadz Haris memegang tangan dari Ilya dan tersenyum, "aku bersumpah tak pernah menyentuhnya lagi setelah hari pengambil keris sesuai perintah mas Cakra, karena aku tak bisa melakukan tugas ku sebagai suami, karena terus melihat wajah mu saat ingin melakukannya, jadi aku tak ingin melakukannya lagi," kata ustadz Haris yang mengejutkan Ilya.
"innalilahi wa inna ilaihi Raji'un... ustadz kenapa kamu melakukannya, itu sama saja ustadz melakukan kedzaliman pada istri mu ustadz," kata Ilya terkejut.
"aku juga tak ingin melakukannya, tapi jika aku melakukannya tanpa cinta apa itu bisa di benarkan, karena itu aku yang akan terluka saat melakukannya," kata ustadz Haris.
Ilya juga ikut sedih mendengar semuanya, itu sama dengan buah simalakama.
"jangan menangis ustadz, aku percaya jika ustadz bilang pada ustadz sepuh insyaallah dia bisa memberikan solusi yang terbaik untuk kita semua ya ustadz, tolong jangan sedih ..."
"terima kasih, kamu mau mendengarkan semuanya."
ustadz Haris mengecup tangan dari Ilya, dari kejauhan kedua ibu itu hanya bisa melihat saja.
keduanya tak ingin menganggu waktu kedua orang itu, terlebih keduanya belum tau jika ustadz Haris dan Rahayu sudah bercerai.
mami Tasya masih trauma jika memberikan berita mengejutkan bisa melukai putranya itu dan membuat pria itu kembali drop dan mungkin akan sangat menyiksa nantinya.
"ibu Tasya tak mau menjelaskan, sepertinya ustadz Haris masih mengira jika Rahayu masih istrinya?"
"saya trauma ustadzah, sebaiknya biar nanti ustadz sepuh dan suami saya saja yang menjelaskan pada Haris, itu mungkin jadi pilihan yang terbaik untuk kita semua," kata mami Tasya.
__ADS_1