
perpisahan antara Rahayu dan ustadz Haris di rahasiakan dari semua orang, dan hanya orang berkepentingan yang tau.
itulah kenapa meskipun sudah tak menjadi menantu dari keluarga ayah Arkan.
Rahayu masih ada di pondok pesantren Miftahul Jannah, terlebih dia harus di pantau kesehatan dirinya dan janin di kandungannya.
sedang ustadz Harun harus mengurus semua yang terjadi di desa, dia tak bisa terlalu lama meninggalkan desa itu.
"tenang saja, jangan sedih aku akan segera bersama mu lagi," kata ustadz Harun yang pamit.
"aku yakin akan hal itu, aku hanya merasa semakin buruk saat disini, terlebih apa yang sudah kita lakukan," kata Rahayu yang sedih.
"berhentilah menangis, mereka semua orang baik, aku yakin jika mereka tak akan mengatakan apapun," kata ustadz Harun
Rahayu hanya bisa mengangguk, karena berkat ustadz sepuh yang berhasil meyakinkan ustadz Harun agar tak khawatir.
sedang ustadz Harun di berikan tasbih peninggalan orang tua dari ustadz sepuh untuk menjaganya.
sebenarnya keputusan untuk Rahayu tak ikut pulang ke desa adalah sebuah bentuk perlindungan.
karena yang di takutkan oleh Cakra dan ustadz sepuh adalah, kembalinya Ki Bisono yang mengincar janin untuk memperkuat tubuhnya.
malam ini Cakra datang bersama Shafa untuk mengantikan para ibu yang sudah seharian menunggu kedua orang yang tengah terbaring itu.
"kalian yakin, terus bagaimana dengan Hamzah, apa tak apa-apa dia harus tidur bersama dengan mbak Kalila?" tanya mami Tasya khawatir.
"tenang mami,ada Ibra yang akan membantu umi, lagi pula Hamzah kalau di pondok jarang rewel, insyaallah Semuanya baik," kata Shafa meyakinkan orang tuanya itu.
akhirnya mereka semua pulang, kini Cakra dan Shafa sedang membaca Al-Qur'an.
tiba-tiba Cakra teringat sesuatu, dia memejamkan matanya, kemudian mengenggam tangan Shafa, "Lily aku membutuhkan pertolongan mu," panggilnya.
Shafa membuka mata dan melihat sosok cantik di depannya, sosok itu menaruh tangannya di atas kedua tangan itu.
"aku akan menolong mereka, kalian terus baca kitab suci, Al-Qur'an tapi tolong mendekat ke arah mereka," kata wanita itu yang terlihat begitu cantik.
Shafa mengangguk dan melihat sosok Lily pergi, "apa ada pesan darinya?''
"kita harus mendekat dan membaca Al-Qur'an lebih dekat kepada mereka," jawab Shafa.
mereka kembali mengambil air wudhu dan serempak membaca Yasin do samping ranjang dengan cukup keras.
Lily sedang berjalan di sebuah taman yang sangat indah, dia melihat ada dua orang yang sedang tersenyum di pinggir danau
__ADS_1
"kalian harus kembali ... mereka semua membutuhkan kalian,"
ustadz Haris menoleh dan terkejut melihat sosok kakak perempuan itu berdiri di depannya.
"mbak Lily..."
"kamu harus kembali ustadz Haris, banyak orang yang membutuhkan mu, begitu juga dengan mu Ilya, orang tua mu sangat khawatir pada mu, tapi kalian malah memilih untuk tinggal disini dan membuat mereka cemas," kata Lily yang mendekat.
"tapi kami tak ingin berpisah Mbak," jawab ustadz Haris.
"kalian demi ego masing-masing memilih bersama tanpa perduli kesengsaraan yang di alami mereka semua,"
"bukan seperti itu, aku ingin kembali dan memeluk ibu," lirih Ilya
"ikuti suara yang akan membimbing mu," kata Lily menunjukkan sebuah lorong pada gadis itu
ustadz Haris tak bisa memegang dan menahan Ilya, dia melihat wanita itu pergi.
"itulah pengorbanan Haris, kamu sudah melalui itu, tapi kenapa sekarang kamu egois?"
"aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai, tapi aku terus melukai orang-orang yang mencintaiku," jawab ustadz Haris
"itu manusiawi Haris, kamu bukan makhluk sempurna, tapi sekarang lakukan apapun yang menurutmu baik, jangan demi menolong orang, kamu malah menyakiti dan melukai semua orang-orang di sekitar mu," terang Lily.
"baiklah aku percaya itu," terang Lily yang tersenyum.
dia mengantarkan adiknya itu menuju ke tempat yang seharusnya, sayup terdengar suara seseorang mengaji.
Shafa sudah memanggil dokter karena Ilya sadar terlebih dahulu, tak lama di susul oleh ustadz Haris
"dokter," panggilnya.
"silahkan tunggu di luar," kata tim dokter.
Shafa dan Cakra pun mengirimkan doa dan ucapan terima kasih untuk Lily.
Shafa bisa melihat sosok itu tersenyum kearahnya, seperti di awal, sekarang Cakra sudah menjadi milik Shafa
tom dokter keluar dari ruang rawat kedua pasien, "bagaimana keadaan kedua adik saya dokter?" tanya Cakra yang khawatir.
"Alhamdulillah pak, semua baik-baik saja, dan jika terus sebaik ini empat hari kedepan kedua pasien sudah bisa pulang," kata dokter.
"Alhamdulillah ya Allah..." kata Cakra dan Shafa.
__ADS_1
keduanya masuk kedalam ruangan rawat,dan melihat keduanya sedang duduk bersandar.
"bagaimana perasaan kalian?" tanya cakra saat masuk.
"Alhamdulillah terasa lebih baik, tapi bagaimana bisa kami di rawat di tiang yang sama, aku ingat benar saat itu kak Farid menentang ku,"
"semua atas izin Allah,sudah kalian harus pulih dulu,baru kita bisa menceritakan Semuanya," kata Shafa yang memeluk Ilya.
gadis itu tetap mengenakan jilbab instan kaos yang nyaman, "tapi sejujurnya aku lapar,"
"baiklah biar aku belikan sesuatu, makanan sehat," kata cakra yang keluar dari ruangan.
beruntung Farid datang bersama istrinya membawa nasi Padang dan bubur, karena mereka ingin makan bersama Cakra.
"mau kemana mas?"
"mau beli makan, kalian datang?" tanya Cakra yang masih di depan ruangan itu.
"iya mau mengajak kalian makan bersama, kebetulan istriku tadi buat bubur, tapi aku sudah telanjur membeli nasi Padang jadi kami kesini,"kata pria itu.
"kebetulan, sini biar aku bantu bawa, dan sekarang masuk, tapi apapun yang kalian lihat harus tenang ya," kata Cakra mempersilahkan.
"memang ada apa to mas," kata Farid penasaran.
dia dan istrinya membeku saat melihat sosok ustadz Haris dan Ilya sedang duduk.
Farid bahkan terjatuh lemas di lantai menyaksikan itu,"mas Farid..."
"Alhamdulillah akhirnya kalian sadar, mas minta maaf karena aku kalian hampir meregang nyawa lagi,"
"itu bukan salah mas Farid," kaya Ilya yang tersenyum.
Farid pun langsung bangun dan memeluk Ilya, setelah itu ganti memeluk ustadz Haris.
Ilya kaget melihat hal itu, pria yang selalu menentang perasaannya pada ustadz Haris.
kini malah nampak begitu merestui, "sudah pelukannya,kebetulan ada yang datang bawa bubur, dek tolong siapkan dan bantu suapi Ilya,"
"inggeh mas," jawab Shafa.
Cakra yang akan menyuapi ustadz Haris, tapi pria itu memilih makan sendiri.
Farid terus menerus mengucapkan syukur melihat kedua orang itu bisa kembali sehat, dan dia berjanji tak akan menghalangi cinta mereka.
__ADS_1
dan akan mendukungnya apapun yang terjadi.