
Ilya terus mencoba mengetuk pintu sambil mengucapkan salam berkali-kali.
tapi tetap tak ada sahutan, dia ingat ada pintu belakang,itu memang lancang tapi dia khawatir.
dia sempat lewat samping rumah, dia kaget melihat sosok Rahayu yang menggeram ke arah bayinya.
"Allahuakbar!!! mbak Rahayu!!!" teriakkan dari Ilya yang langsung membuat bayi yang baru lahir itu menangis.
tiba-tiba jendela kamar yang terbuat dari kayu jati itu tertutup dengan keras di depan Ilya.
Ilya tak peduli lagi, dia lari lewat pintu belakang demi bisa menyelamatkan bayi mungil yang sedang menangis itu.
setelah sampai di belakang rumah dia menendang pintu belakang rumah hingga rusak.
dan berlari ke ruang tengah, "siapa kamu, lepaskan bayi itu, dan keluar dari tubuh saudari ku," kata Ilya berhenti saat melihat sosok Rahayu dengan mata merah.
dan terus menggeram sambil menggendong bayi itu dengan satu tangan
"ha-ha-ha, aku ingin menyantap bayi ini sebagai tumbal ku, kalian semua bodoh, kenapa meninggalkan wanita ini sendiri, terlebih dia ini juga tak kuat agama seperti mu," kata Rahayu yang kerasukan.
"tapi dia keturunan dari Suyono penjaga desa ini," kata Ilya yang mengulur waktu untuk berpikir bagaimana cara menolong Rahayu.
"keturunan Suyono, ha-ha-ha kami hanya tau kamu saja sang keturunan, sedang dia hanya wanita biasa, aku juga heran bagaimana bisa wanita goblok itu meminta dua bayi dan malah membuang mu yang istimewa, seharusnya dia membunuh wanita ini karena jika sang keturunan lahir kembar, maka salah satunya akan jadi barang cacat yang buruk," kata sosok yang merasuki Rahayu.
"itu bukan urusan kami, dan bayi itu tak berdosa kenapa kamu menginginkannya," kata Ilya yang mencoba berdzikir dengan tasbih di belakang tangannya.
"ha-ha-ha, ilmu mu sek cetek nduk, kamu tak akan mengalah kan ku dengan tasbih mu itu, dan bayi ini adalah bayi yang tak memiliki nasab ayah,jadi pas untuk ku jadikan tumbal," kata sosok itu.
Ilya melempar tasbih milik suaminya itu ke arah Rahayu, dan tubuh wanita itu terpental.
bayi mungil itu terlempar ke udara dengan cepat, beruntung dengan sigap Ilya menangkap bayi merah itu.
dia pun mengambil gendongan jarik di dekatnya dan mengendong bayi itu di balik jilbabnya yang lebar.
"sialan, kamu benar-benar ingin melawan ku," marah sosok itu yang ingin menyerang Ilya.
__ADS_1
dia membaca mantra dan mengeluarkan cambuk yang langsung di gunakan untuk menyerang makhluk itu.
cambuk itu terus memukul tubuh Rahayu, dan akhirnya tubuh wanita itu terpental keluar rumah dengan keras, dan sosok yang merasukinya itu pergi hilang entah kemana.
ustadz Harun kaget melihat tubuh Rahayu tergletak di tanah, dan Ilya yang memberikan susu kepada bayinya.
"Rahayu!!" panggil ustadz Harun.
Ilya pun keluar setelah memastikan bayi itu minum susu, "ustadz Harun, tadi mbak Rahayu di rasuki sesuatu, dia ingin memakan putranya sendiri, beruntung aku tak terlambat," kata Ilya yang berhasil memenangkan bayi mungil itu.
"dia bohong, dia ingin merebut putra ku.... aku di dorong olehnya," kata Rahayu yang mengejutkan Ilya.
"astaghfirullah, mbak kenapa kamu bilang seperti itu, memang aku membuat ku terpental keluar, tapi tadi kamu menyerang ku dan ingin melukai anak mu, jadi aku melawan sosok yang merasuki mu," kata Ilya membela diri.
"itu bohong, untuk apa aku menyakiti bayiku sendiri, aku ingat tadi aku sedang membaca Al-Qur'an tapi dia tiba-tiba masuk dan mendorong ku," kata Rahayu.
"tidak...." lirih Ilya yang tak mengira akan di fitnah seperti ini.
"kamu baru menjadi istri seorang ustadz Haris saja begitu sombong, ingat Ilya kamu itu cuma wanita yang di tinggalkan, jika ustadz Haris saja bisa meninggalkan Rahayu, aku jamin kamu akan di tinggalkan juga setelah ini," kata ustadz Harun.
"kemarikan bayiku!!" bentak ustadz Harun.
"Harun!!! jaga bicaramu, jangan lupa dia istriku!!" teriak ustadz Haris yang datang bersama dengan para santri.
"kenapa? dia telah melukai Rahayu," jawab ustadz Harun.
"kau gila, bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, kamu lupa siapa Ilya, membunuh semut saja dia tak tega, kenapa harus melukai Rahayu yang sebenarnya saudari kembarannya sendiri," marah ustadz Haris.
"sudah mas tak apa-apa," kata Ilya yang tak ingin kedua pria itu bertengkar.
Ilya membuka gendongan bayi itu, dan memberikan bayi itu pada ustadz Harun.
"aku tak tau jika niatku menolong akan jadi fitnah seperti ini, kalau begitu maaf aku tak akan ikut campur lagi di kehidupan kalian,"
Rahayu diam, ustadz Harun dan para santri pun diam, "sekarang terserah kalian, kami akan benar-benar menjauh dan angkat tangan jika terjadi sesuatu lagi, karena sikap kalian begitu buruk pada istriku,"
__ADS_1
keduanya langsung pergi, Ilya pun tak menyangka jika akan mengetahui kebenaran dari makhluk yang merasuki tubuh Rahayu.
ternyata yang di maksud produk cacat itu adalah sifat dan karakter Rahayu.
ustadz Haris baru melihat bagaimana Rahayu bersikap yang sebenarnya.
bagaimana tidak, wanita itu sudah bisa memfitnah istrinya seperti itu, bahkan sikap keduanya seperti Utara dan Selatan saling bertolak belakang.
"maafkan aku mas,"
"tidak dek,kamu tidak salah, hanya saja dia yang keterlaluan memfitnah dirimu hingga seperti ini, dan aku tak menyangka jika Harun juga begitu mudah percaya dengan wanita seperti itu tanpa memilah ucapannya," kata ustadz Haris.
Ilya pun juga tak menyangkal jika Rahayu sejahat ini, mereka pun sampai rumah dan memilih mandi dan bersih-bersih karena sudah sore.
dan Cakra serta keluarganya sudah kembali ke desa mereka, karena pekerjaan Cakra yang menumpuk dan tak bisa di hendel oleh anak buahnya.
Ahmad mengambil tas yang tadi di bawa oleh Ilya, "ustadz Harun,ini tadi tas yang di bawa oleh neng Ilya, beliau datang untuk menyampaikan titipan dari para ibu utama di pondok, sebenarnya tadi ustadz Haris sudah melarang neng Ilya datang sendiri, tapi karena terlalu lama menunggu kami selesai, jadi neng Ilya berangkat duluan," terang Ahmad.
"apa.... ya Allah aku benar-benar terpengaruh ucapan Rahayu, sepertinya aku harus minta maaf," kata ustadz Harun.
sedang Rahayu sedang duduk manis di kamarnya, tapi yang aneh tiba-tiba ASI-nya tidak keluar.
"ustadz Harun, ASI ku tidak keluar, bagaimana ini," panik Rahayu.
"tenang saja, ini ada kiriman susu formula dari pondok pesantren, sepertinya hadiah dari umi Kalila, mungkin neng Shafa mengatakan jika bayi kita terlalu kecil, hingga mereka mengirimkan ini," kata ustadz Harun.
"kenapa mereka terus mencampuri urusan kita,"
"Rahayu!!"
"kenapa itu benar, kamu itu laki-laki, dan kapan kamu akan menikahi ku, aku tak mau jadi ibu dengan anak tanpa suami," kata Rahayu.
"tunggu kamu selesai nifas," kata ustadz Harun memijat kepalanya.
"tidak itu terlalu lama, aku ingin Minggu depan kita menikah, jika tidak aku akan membuat mu menyesal," kata Rahayu menunjukkan sifatnya yang sesungguhnya.
__ADS_1