Desa Kantil

Desa Kantil
tak terasa ya


__ADS_3

sudah seminggu ini ustadz Haris dan Ilya berada di rumah kontrakan itu,dan seharusnya kini mereka harusnya segera kembali ke desa.


tapi bukannya berangkat, Keduanya malah masih sedang asik berdua, bahkan ponsel keduanya sengaja di matikan oleh ustadz Haris.


"mas..."


"iya sayang," jawab ustadz Haris.


keduanya sangat menikmati waktu bebas mereka, bahkan ustadz Haris berdoa agar istrinya itu segera hamil.


"mas sepertinya kita harus pergi, jika tidak mas Cakra akan marah bukan," kata Ilya yang mengajaknya bersiap.


"tidak bisa, besok saja, jika kita disana aku harus puasa lagi sayang," kata ustadz Haris memohon.


"baiklah aku mengerti, tapi bagaimana dengan mas Cakra?" tanya Ilya yang juga bingung.


"sudah tak usah di bahas," kata ustadz Haris.


ustadz Harun dan Cakra serta yang lain sedang berkumpul di teras rumah untuk mengadakan tahlilan rutin.


saat di tengah-tengah tahlil, perut Rahayu mulas, dia pun tak bisa menahan rasa mulasnya.


Rahayu mengenggam tangan Shafa, "neng tolong... aku merasakan sakit yang sangat," kata wanita itu.


"apa sudah waktunya melahirkan," kata Shafa kaget.


Rahayu mengangguk, semua orang kaget, "ustadz Harun kenapa tak menelpon suami dari neng Rahayu," bingung warga desa.


"beliau sedang sibuk di kota," jawab ustadz Harun.


Rahayu sudah berada di kamar di bantu Shafa yang akan menolong persalinan dan seorang dukun beranak.


"sakit neng.."


"sabar ya," kata wanita itu menenangkan.


Rahayu berteriak kesakitan, tanpa di duga mobil dari ustadz Haris dan Ilya sampai di desa.

__ADS_1


"assalamualaikum..." sapa pria itu.


"waalaikum salam, untunglah ustadz Haris datang, itu istrinya mau melahirkan," kata salah satu ibu.


"baiklah permisi saya harus masuk kedalam," pamit Ilya yang membawa air yang sudah di doakan oleh ustadz sepuh.


tak banyak bicara, mereka pun minggir, Ilya membantu Rahayu minum, "tolong minum sedikit saja, demi bayimu,"


Rahayu minum dan kemudian mengenggam batangan Ilya, "sakit neng...."


akhirnya bayi itu keluar dengan selamat, tapi dukun beranak itu gemetar melihat sosok dari bayi yang di lahirkan oleh Rahayu.


Ilya menghampiri dukun beranak itu, "tolong berikan pada saya, dan bantu untuk melahirkan anak yang kedua Bu,"


"baik neng," jawab dukun beranak itu.


Ilya membersihkan bayi itu dengan air yang sudah di doakan, dan bayi itu berubah dan mulai menangis.


Ilya keluar dan memberikan bayi itu pada Cakra, sedang tak lama bayi yang sesungguhnya lahir.


bayi laki-laki itu sangat sehat, "Alhamdulillah..." kata semua orang.


Ilya pun memberikannya, dan ustadz Harun mengadzani bayi laki-laki itu dan membuat Rahayu sangat senang.


sedang Cakra memberikan bayi itu pada sesosok ratu dan membawanya pergi,karena bayi itu tak bisa hidup di dunia ini.


"loh kok ustadz Harun yang mengadzani, bukannya ayahnya ustadz Haris, ada apa ini?" bisik salah satu warga


"entahlah, mungkin ada sesuatu jadi tolong diam Bu," saut yang lain.


Ilya yang membersihkan ari-ari bayi itu agar segera bisa di kubur di depan rumah.


Ki Bisono tak bisa mendekati rumah itu, tapi sebenarnya ilmunya sudah sangat pulih, tapi dia ingin lebih tapi tak bisa mencuri ari-ari dan bayi itu juga


setelah di kubur, beberapa orang mulai mengaji di teras rumah, itu sangat menyulitkan dirinya.


setelah itu, mereka semua mandi, dan dukun beranak itu mencuci kain yang terkena darah Rahayu.

__ADS_1


tanpa di duga Ki Bisono menghirup darah yang ada di dalam air, setelah itu dia pun terbang pergi karena kekuatannya sudah full.


Ilya berada di kamar miliknya untuk berganti baju, dia melihat semua bekas merah di tubuhnya.


beruntung tak ada yang melihat karena tertutup gamis panjang dan lebar.


saat dia baru selesai, tiba-tiba di depan rumah terdengar suara ledakan yang sangat keras.


semua orang keluar kecuali Shafa dan Hamzah yang tak di izinkan, karena untuk menemani Rahayu.


"siapa ini yang berani!!" marah Cakra melihat bola api itu membakar tiga pohon di depan rumah.


Marko datang untuk mengambil ari-ari bayi yang baru lahir itu secara terang-terangan.


dia menyangka jika ustadz Haris dan Ilya belum pulang, tapi nyatanya kedua orang itu sudah ada di rumah.


"mau apa anda kesini, kami tak punya urusan dengan mu," tanya ustadz Haris.


"aku akan membuat kalian memberikan anak ghaib dan ari-ari itu padaku, jika tak ingin keluarga mu mati," ancam pria itu.


"kami tak takut," jawab keduanya.


Ilya berdiri di depan bersama ustadz Haris, Cakra berdiri di belakang kedua orang itu.


"lawan kami kalau bisa," kata Ilya.


marko menyerang dengan membabi buta, tapi Ilya dan ustadz Haris nampak santai.


hingga tiba-tiba sebuah cahaya putih masuk kedalam tubuh Ilya, "kamu sudah terlalu banyak membuat masalah, sekarang waktumu habis," marah Ilya yang langsung menyerang Marko


dia mengambil sebuah tali dan sepotong kulit kayu yang masih menyala.


Ilya melempar potongan kulit kayu itu ke mata Marko hingga pria itu buta tak bisa melihat sedikit pun.


setelah itu Ilya mengikat tubuh pria itu dengan tali yang tiba-tiba berubah menjadi api dan untaian rantai besi yang membara.


"aku adalah penjaga desa ini, sudah cukup lama aku mengawasi tingkah warga desa, sekarang aku datang untuk membereskan semuanya," kata Ilya

__ADS_1


para warga pun kaget, mereka seperti melihat Dewi Sartika yang sudah lama hilang tak tau rimbanya.


__ADS_2