
Program Hamil
“Usia Ibu, berapa?” tanya Dokter Melisa ramah. Senyumnya membuat kesedihanku sirna.
“Tiga puluh lima, Dok.”
“Tiga puluh lima tahun, belum punya anak, begitukah?”
“Sudah punya anak, Dok. Tiga.”
“Lho kok masih mau hamil lagi?” Senyum Dokter Melisa membuatku malu mengakui, alasan apa yang membuatku menginginkan menjalani program hamil anak perempuan ini.
“Iya, Dok. Suami saya suka anak perempuan. Anak saya tiga, laki-laki semua.”
Ada yang menyesak di dada saat menyampaikan alasan itu. Hanya karena tidak menyukai Mas Hadi memberi kado kepada Caca, Aku bertekad menjalan program hamil ini untuk membahagiakannya.
“Wah, masih kurang juga?” Dokter Melisa takjub, menahan senyum. “Kita periksa dulu aja, ya, Bu.”
Langit-langit ruangan terasa sangat jauh saat aku berbaring di bed pemeriksaan. Dokter Melisa menggerakkan sebuah kamera USG di kulit perutku, setelah mengoleskan gel agar kamera bisa bergerak dengan leluasa.
“Kondisi rahimnya bagus, kok.”
Kamera itu terasa menggelikan. Dokter Melisa manggut-manggut. Sesekali ia melihat layar monitor besar. Tangannya memberi perintah, agar Aku menyimak gambar yang terekam di layar itu.
“Lihat ini, Bu. Ini kantung rahim Ibu. Kondisinya masih bagus, dan kesehatan Ibu, masih bisa untuk hamil lagi. Sekarang kita bicarakan, program hamil yang akan dijalani.” Dokter Melisa membuka sarung tangan, kembali ke kursi praktik.
“Sudah, Bu,” ujar perawat merapikan kain-kain yang menutup tubuhku.
Tertatih, kurapikan pakaian dan mengikuti Dokter Melisa.
__ADS_1
“Suami Ibu, mana?”
Terkesiap mendengar pertanyaan Dokter Melisa, gugup kujawab, “Em, sedang tidak bisa mengantar, Bu.”
Menyembunyikan rasa sedih itu, tak semudah menambah garam pada masakan yang kurang asin. Menyakitkan.
“Harusnya, kalau memang ingin program hamil, bersama suami. Agar bisa kita bicarakan, langkah apa yang harus dilakukan.” Mata sipit Dokter Melisa menyapa pandanganku.
“Iya, Dok.” Pasrah kujawab saran beliau.
“Jadi bagaimana, kita bicarakan programnya sekarang?”
“Baik, Dok.”
“Kita mulai ya, agak panjang tidak apa-apa, ya? Saya berharap, konsultasi kali ini bisa dipahami dna dilaksanakan, apabila Ibu dan Bapak benar-benar menginginkan anak perempuan.”
“Iya, Dok. Semoga saya bisa memahami dan melakukannya.”
“Peluang hamil anak perempuan atau laki-laki, sebenarnya sama. Namun, ada beberapa hal harus diperhatikan dalam merencanakan jenis kelamin anak. Kita harus memperhatikan karakteristik sifat kromosom pada ****** yang membuahi ovum terlebih dahulu.” Dokter Melisa memulai penjelasannya.
Rasanya, seperti belajar Biologi tentang reproduksi manusia. Tak apalah. Aku paham Biologi, meski akhirnya masuk ke jurusan IPS. Kudengarkan penjelasan Dokter Melisa dengan saksama, melupakan insiden kepergian Mas Hadi sebelumnya.
“Sperma, bisa dibagi menjadi X dan Y. ****** dengan kromosom Y, membawa sifat laki-laki, bergerak cepat, hanya bisa hidup sebentar saja setelah dikeluarkan, dan menyukai tempat yang basa. Sedangkan ****** kromosom X, pembawa sifat perempuan, bergerak lambat, dapat hidup lebih lama, dan menyukai lingkungan asam. Jadi, apabila Ibu menginginkan bayi berjenis kelamin perempuan, kita bisa melakukan beberapa hal yang menunjang agar ****** berkromosom X bisa hidup, dan ****** Y tidak mencapai tempat pembuahan. Sederhananya, kita buat si Y ini mati sebelum sampai tujuan.” Mata Dokter Melisa menatapku, memastikan aku paham dengan apa yang beliau maksudkan.
Aku memperhatikan gambar yang dibuat Dokter Melisa pada selembar kertas. Gambar dua ovarium. Alur ****** digambarkan seperti kecebong kecil yang berenang tergesa memasuki saluran pembuahan. Sel telur berbentuk oval, tercoret tak menentu.
Penjelasan dengan gambar itu, cukup mudah kupahami. Kulanjutkan menyimak Dokter Melisa. Suaranya yang renyah, membuatku tak merasa bosan mendengarkan. Untuk itulah aku membayar konsultasi, agar mendapat penjelasan, bagaimana Aku akan menjalani program hamil nanti.
“Nah, selanjutnya, kita buat bagaimana agar ****** berkromosom X, mampu hidup mencapai sel telur di ovarium, sebelum ****** Y. Kita buat lingkungan yang cocok buat si X ini. Lingkungan yang disukai X, tidak disukai Y. Jadi kalau kita buat ****** dan saluran yang mencapai ovarium menjadi asam, otomatis Y tidak akan tahan lama, dan akan mati sebelum bisa membuahi.”
__ADS_1
Coretan di kertas itu semakin mirip dengan benang kusut. Tak ada ruang untuk menggambarkan penjelasan lagi. Dokter Melisa meminta kertas yang baru. Menggambar ovarium, dan memulai penjelasan baru.
“Agar ****** dalam keadaan asam, Ibu bisa menyemprotkan 1 ¼ liter atau 1.250 cc air yang telah telah diberi dua sendok makan cuka (cuka asam). Perbandingan ukuran harus tepat ya, Bu. Derajat keasaman atau pH yang berubah sedikit saja, bisa membuat suasana akan berubah juga nanti.Semakin asam atau justru ke arah basa. Kalau ukuran tidak tepat, bisa menyebabkan ****** mati.”
Aku mengangguk mengerti. “Aman, Dok?”
“Aman, tidak apa-apa. Kita lanjutkan, ya, Bu?”
Tangan berkulit pucat itu kembali mencoret-coret kertas di hadapannya.
“Lingkungan bersuasana asam dapat mematikan kromosom Y, sehingga kromosom X selamat sampai tujuan dan membuahi sel telur. Volume ****** kromosom X yang banyak dapat meningkatkan kemungkinan mendapatkan anak perempuan.”
Memahami penjelasan Dokter Melisa, tak semudah mengecek stok jualan atau mengaduk adonan kue. Aku harus kembali memutar memory lama saat belajar mengenai reproduksi manusia.
“Selain dengan pengaruh lingkungan, kita juga bisa menghitung masa subur. Lakukan hubungan 2-3 hari sebelum masa ovulasi . ****** kromosom X, gerakannya lebih lambat dan lebih tangguh daripada ****** kromosom Y. Jadi, saat terjadi ovulasi, ****** kromosom X masih hidup, sedangkan Y mati karena tidak tahan lama. Hanya akan ada ****** yang membawa kromosom perempuan yang tertinggal di rahim untuk membuahi sel telur. Ibu sudah bisa menghitung masa subur?”
“Sudah, Dok.”
“Ok, kita lanjutkan, ya. Selain dengan cara tadi, bisa juga dengan mengatur pola makan. Ibu harus menghindari makanan yang menurunkan keasaman ******, yaitu dengan diet rendah alkali. Makanan yang harus dihindari adalah sayuran yang difermentasi, jamur, mustard, bawang putih, kacang hijau, labu, lobak, kubis, ubi jalar, apel, pisang, kelapa, ceri, persik, pir, almond, tahu, kayu manis, jahe, kari dan jus buah.”
‘Banyak sekali yang harus dihindari?’ Aku memekik dalam hati.
“Selain itu, Ibu juga melakukan diet rendah garam, dengan tidak memakan zaitun, ikan salmon, keju, kue dan udang yang kadar natriumnya tinggi. Perbanyak sayuran hijau seperti bayam, kol dan selada serta buah-buahan yang mengandung vitamin C tinggi seperti jeruk, stroberi, dan buah delima. Kandungan vitamin C mampu meningkatkan ph keasaman tubuh perempuan, terutama ******. Kondisi asam tersebut menguntungkan bagi ****** X dan akan melemahkan ****** Y. Perbanyak makanan yang mengandung magnesium dan kalsium dari susu, telur ,dan mentega.”
Dokter Melisa masih mencatat semua hal yang harus aku lakukan di atas kertas yang sudah penuh dengan coretan dan tulisan.
“Dok, nanti kertasnya boleh saya simpan?”
“Bawa saja tidak apa-apa, Bu. Sebenarnya masih ada beberapa tips lagi, tapi waktu saya tidak cukup. Kalau serius akan melanjutkan program ini, suaminya diajak, ya, Bu! Sekalian kita periksa ******.”
__ADS_1
Aku membelalakan mata. Periksa ******?