Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Trichomoniasis-1


__ADS_3

“Kemana dia tadi?” Sherly melaju di belakang mobil yang dinaiki Nofi. Wajahnya tegang.


Kami membuntuti mobil mini van hitam bernomor H-8355-UD yang melaju ke arah kota dari jalan Raya Prof. Dr. Hamka, Ngaliyan. Jalanan menurun membuat Sherly berhati-hati, namun matanya tak lepas mengikuti mobil itu. Klakson bersahutan mengingatkan Shrely agar berhati-hati. Wanita cantik itu tak peduli. Begitu ada celah sedikit, ia meliukan kemudi dan masuk jalur sebelah kiri, kemudian menginjak gas dan melaju menyusul mobil hitam itu.


Truk proyek pembangunan Tol Semarang-Jakarta hilir mudik menghalangi laju kendaraan. Debu berterbangan sepanjang jalan. Beberapa kali Sherly harus menyalip truk pengangkut tanah dan bahan material.


Setelah melewati Kampus I UIN Walisongo, mobil berwarna hitam yang kami ikuti berbelok ke arah kiri, arah Jakarta. Sherly menghentikan mobil sebelum lampu merah dan menepikannya ke kiri.


“Mau diikuti, Cin?” tanya wanita cantik itu. Matanya berharap aku setuju dengan pertanyaannya.


“Tidak usah, Sher. Badanku tidak enak. Lagi pula anak-anakku bagaimana?” jawabku bimbang.


“Sayang, Cint! Tanggung ini. Kita sudah hampir mengetahui belangnya. Malah kamu ga mau,” sungutnya kesal. Tangannya memukul kemudi hingga menyebabkan bunyi ‘bug’.


“Maaf Sher. Badanku benar-benar tidak enak banget.” Aku mengerti kekesalan Sherly. Tapi betul aku harus ingat diriku sendiri.


“Memang kamu sakit apa sih?”


Apakah aku harus menceritakan hal sensitif ini? Seminggu ini, ada yang terasa berbeda dengan tubuhku. Terasa ada yang membakar di daerah kewanitaanku. Panas tak tertahankan. Setiap buang air kecil, sakit tak terkira. Kupikir hanya infeksi saluran kemih biasa, jadi tak perlu khawatir.


Namun sejak sakit itu menyiksa hingga seminggu, tak urung rasa khawatir melingkupi di hati. Ada apa? Tak mungkin infeksi biasa. Ditambah suhu badanku yang naik turun, demam.


Aku tak bisa melayani Mas Hadi, tak sanggup merasakan perihnya. Sepanjang waktu rasa panas membakar itu sangat menyiksa. Mau berjalan sulit. Tegak berdiri sakit pinggang. Tubuh ini semakin ringkih.


“Kamu sih, mikir sendiri. Kenapa ga cerita sama aku dari dulu.” Sherly menggerutu.


Siang itu kami menjemput anak-anak pulang sekolah, kemudian makan siang di warung ‘Bakso Geger’ yang terletak di daerah Gisikdrono. Baksonya yang terkenal lezat dan tak berubah rasa sejak pertama berdiri. Sekarang, warung bakso itu telah berkembang menjadi besar dan sangat ramai.


Kami tak bisa berlama-lama makan di sana kali ini, karena kondisi Covid yang telah menimbulkan banyak korban di Kota Semarang ini. Kubungkuskan untuk Mas Hadi, agar bisa dinikmati sepulang kerja nanti. Ia sangat suka sekali bakso ini.


Besok anak-anak sudah mulai belajar di rumah lagi. Sehari pertama ini mereka hanya masuk sebentar untuk di beri pengarahan. Setelah itu, pembelajaran jarak jauh seperti tahun pelajaran sebelumnya.


*****


“Maaf ya, bukan aku membela Nofi, bisa saja itu taksi On-line. Kamu tuh berprasangka buruk terus sama orang lain. Sok suci!” sanggah Mas Hadi saat kutunjukkan foto dan video yang berhasil kami rekam.

__ADS_1


Laki-laki itu menjawab sambil membaca koran sore di teras. Meski sudah ada berita di media sosial, kami belum menghentikan langganan koran. Pernah suatu kali kami memutuskan berhenti langganan, Bapak Loper koran menangis dan bertanya salah apa sampai berhenti berlangganan koran. Kami sudah hampir sepuluh tahun berlangganan dengan beliau sejak di Semarang.


“Lho, dia kan punya mobil, punya motor, ngapain naik taksi?” sergahku kesal. Kenapa terus membela Nofi? Apa dia tidak terpikir, wanita yang dicintainya ini pergi dengan laki-laki lain.


Berharap dengan bukti dan berita yang aku sampaikan, Mas Hadi berubah pikiran atau setidaknya tidak membela Nofi. Ternyata, yang terjadi sebaliknya. Ia malah berpikiran positif terhadap Nofi. Atau jangan-jangan, Nofi sudah menceritakan terlebih dahulu pertemuannya denganku?


Bakso Geger telah kuhangatkan dan tersaji di hadapan Mas Hadi. Namun laki-laki itu tak menyentuhnya. Makanan itu hanya diliriknya sekilas.


“Yah, bisa saja dia sakit atau sedang malas naik mobil. Atau sedang malas naik mobil. Sudahlah. Kalau kamu mikir yang negatif terus, itu artinya ada penyakit hati di dirimu. Jangan mengurusi hidup orang lain, memikirkan kesalahan orang lain. Kamu sendiri banyak salah, kok memikirkan kesalahan orang lain.”


Kurenungi kata-kata Mas Hadi, untuk tidak mengurusi hidup orang lain. Mungkin benar kata suamiku, aku yang terlalu berprasangka negatif. Tapi, wanita ini benar-benar sudah berlaku tidak baik pergi dengan suami orang, apa juga masih perlu dianggap ia lebuh baik dariku?


“Sudahlah, kamu ini tidak usah mengurusi Nofi lagi. Urus saja keluarga kita ini, anak-anak kita,” ketusnya membuatku tak nyaman.


“Mas juga jangan mengurusi Nofi dong, urusi keluarga kita saja, anak-anak kita. Jangan anak perempuan lain,” kubalikkan kata-katanya, telak.


“Siapa yang ngurusi?” Matanya semakin bulat. Nada suaranya tiggii


“Mas, kan?” jeritku gemas.


Ah, sudahlah. Berdebat dengan Mas Hadi tidak akan ada habisnya, dia selalu punya cara untuk mengelak. Kutinggalkan ia untuk melanjutkan kegiatanku di dapur.


Sejak mengenal Nofi, Mas Hadi memang tak sehangat dulu. Kata-kata kasar dan umpatan sering tertuju kepadaku. Apalagi ketika kuketahui ia berhubungan dengan paranormal, antipatiku semakin besar.


Penolakan kulakukan secara frontal saat ia ingin berjualan barang-barang dari Mbah Jagad. ‘Pring Pethuk’ yang dijual harga milyaran rupiah, kata Mas Hadi. Ah tidak, aku tak ingin tergiua uang dan materi kalau hanya menjual iman. Marah, itulah reaksinya jika aku menolak apa yang akan dia lakukan. Aku tak peduli.


*****


Hari keenam sejak pertama merasakan sakit dan sensasi terbakar di **** **********, kuberanikan diri memeriksakan diri ke dokter. Takut, cemas dan bimbang, apa yang sebenarnya terjadi dengan diri ini? Yang kutakutkan hanya satu, bila aku menderita penyakit menular.


“Kok tidak sejak hari kedua atau awal-awal Ibu periksa. Kalau penyakit serius gimana?”


Mendengar nada bicara Dokter Melisa aku merasa bersalah dengan kondisi diri. Ini tubuhku, mengapa tak memperhatikannya. Terlalu memikirkan Mas Hadi yang tidak beres hingga membuatku lupa pada diri sendiri. Oh Tuhan, berapa lama waktu yang telah kugunakan untuk menyiksa diri?


“Sekarang sudah kesakitan begini baru datang.”

__ADS_1


Duhai Dokter, tahukah dirimu apa yang sedang kurasakan saat ini. Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar kalimat Dokter Melisa.


“Kita cek dulu ya, ini sakitnya karena apa. Perlu ambil sampel agar spesifik diagnosanya.”


Pasrah kuikuti semua perintah Dokter Melisa. Terlentang di bed pemerikasaan dan merasakan perihnya peralatan yang mengambil sampel ke dalam organ kewanitaanku. Kutahan napas dengan rasa khawatir,cemas tak berkesudahan.


“Ibu jangan tegang. Sulit masuk, malah sakit nanti. Santai saja, ya,” perintah perempuan cantik itu.


Aku mengangguk dalam diam. Bagaimana tidak tegang, melihat peralatan berwarna silver mengkilat itu, ciut nyaliku.


“Kapan terakhir pup-smear, Bu?”


“Udah lama, Dok. Tiga atau empat tahun yang lalau saat keputihan ga sembuh-sembuh.”


“Lho, piye tho. Gimana, sih, Bu?” gerutu beliau sambil terus bekerja dengan peralatannya di tubuhku.


Aku terdiam lagi mendengar pertanyaan Dokter Melisa. Tak sanggup menjawab lebih panjang selain senyum. Konsentrasiku tertuju pada peralatan yang liar di dalam tubuhku.


“Kalau sudah menikah, sebaiknya minimal satu tahun sekali periksa. Apalagi ibu pelaku **** aktif,” jelas beliau. “Pengambilan dan pemeriksaan sampel sel dari leher rahim ini penting sekali, Bu, untuk melihat ada tidaknya kelainan yang dapat mengarah kepada kanker serviks,” jelas wanita yang hari ini mengenakan setelan celana hitam dan blazer motif Batik Semarangan berwarna magenta. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang pucat.


Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Dokter Melisa, tapi memeriksakan diri pup-smear itu butuh keberanian tingkat tinggi. Membayangkan dokter memasukkan spekulum (alat yang menyerupai cocor bebek) untuk membuka ******, kemudian menorehkan sikat halus atau kapas ke leher rahim untuk mengumpulkan sampel sel, sudah membuatku giris. Namun, jika kondisi sudah kesakitan seperti ini, apa hendak dikata, harus dilakukan. Menyesal juga mengapa tak melakukannya saat dalam kondisi sehat.


“Suaminya kerja di mana, Bu?” tanya beliau mengorek informasi.


“Di Semarang juga. Gimana, Dok?”


“Masih aktif berhubungan?”


“Masih, Dok.”


“Ini kondisi leher rahim ibu dalam keaadan infeksi, erosinya sudah parah. Sebaiknya tidak berhubungan terlebih dahulu sampai sembuh.”


Kuhela napas gelisah. Aku sendiri rasanya enggan. Hantiku tak nyaman.


“Kalau ibu dan suami memang sehat dalam berhubungan, tidak menyeleweng atau **** bebas, tak perlu khawatir. Kemungkinan infeksi biasa.”

__ADS_1


Pernyataan terakhir Dokter Melisa membuatku semakin gamang.


__ADS_2