Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Sperma X


__ADS_3

Mas Hadi tidur menghadap ke dinding. Lampu kamar yang temaram, tak begitu jelas menggambarkan raut wajahnya. Hanya tarikan napas yang terdengar mulai teratur. Ia telah pulas dalam tidurnya.


Perasaanku menangkap ada sesuatu yang tidak semestinya pada diri suamiku. Daripada memikirkan perkataan Mas Hadi menjadi sakit hati, lebih baik mengambil air wudu. Kuadukan semua gundah dan resah di atas sajadah, mahar dari Mas Hadi lima belas tahun lalu.


Air kran terasa menyegarkan. Posisi wilayah Ngaliyan yang terletak di dataran tinggi, membuat cuaca sedikit lebih dingin dari pada Kota Semarang yang terletak di dataran rendah. Meski tak menggigil, cukuplah air itu menyejukkan kepala. Seakan lupa pada amarah, kutunaikan hak Yang Maha pada pukul dua dini hari.


“Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.” Cukup kutipan surat Yasin ayat 76 ini menjadi penghibur, di kala hati sedang gulana sebab kalimat Mas Hadi yang tidak nyaman di dengarkan.


Menunggu pagi, kugunakan waktu untuk membuka-buka internet dan mempelajari tentang program hamil yang disebutkan oleh Dokter Melisa. Belum bisa kubayangkan reaksi Mas Hadi. Apakah ia akan setuju, bila harus melaksanakan beberapa rangkaian prosedur untuk mendapatkan bayi perempuan? Bayi yang sangat aku inginkan, agar bisa membahagiakannya.


Memikirkan saran bayi tabung dari Dokter Melisa saat konsultasi, membuatku penasaran dengan prosedur bayi tabung. Beberapa referensi menyebutkan, pada proses bayi tabung, sel telur istri akan diambil dengan menggunakan jarum khusus yang memiliki rongga. Sel telur segera dipertemukan dengan ****** pasangan, yang harus diambil pada hari yang sama. Kemudian disimpan di dalam klinik untuk memastikan perkembangannya maksimal. Setelah embrio hasil pembuahan sel telur dan ****** tersebut dianggap cukup matang, maka embrio akan dimasukkan ke dalam rahim.


Dokter akan memasukkan semacam tabung penyalur yang disebut kateter ke dalam ****** hingga sampai ke dalam rahim. Untuk memperbesar kemungkinan hamil, tiga embrio umumnya ditransfer sekaligus. Dua minggu setelah transfer embrio, maka pihak wanita akan diminta untuk melakukan tes kehamilan.


Ngilu rasanya membayangkan semua itu. Padahal, tanpa program bayi tabung, aku bisa hamil secara normal. Apalagi mengingat biaya bayi tabung yang tidak sedikit. Apa mungkin Mas Hadi akan setuju? Hendak berangkat ke dokter saja, responnya tidak baik.


Aku mendesah. Menunggu subuh masih sangat lama. Tak terasa, aku tertidur di samping Mas Hadi.


Suara Izal, si bungsu menggedor kamar memanggilku. Aku menggeliat. Astaghfirullah! Terlambat bangun! Kutinggalkan Hadi yang masih meringkuk, bergegas sholat subuh, dan menyiapkan sarapan pagi.


Minggu yang cerah. Izal dan Vian sudah berlari ke lapangan untuk bermain bola. Adi, si sulung, lebih memilih berangkat latihan karate di Dojo lapangan Kecamatan Ngaliyan.


“Mas, semalam aku sudah konsultasi ke dokter.” Aku memulai pembicaraan sambil mengoles mentega dan selai ke roti tawar yang akan dibakar dengan pembakar roti listrik.


Mas Hadi menyeruput teh hangat dengan tenang. Sisa kemarahannya semalam telah menguap entah kemana. “Hmm.” Dengan suara pelan ia mendehem, seolah cukup dengan itu, ia bisa menjawab ceritaku. Tangannya tak henti memelototi layar ponsel.


“Mas, kok aku ga bisa bayar dokter dan obatnya, ya? Jadi aku bayar pakai uang sendiri. Bisa di klaim ga ke kantor?”


“Kok, ga ngabarin?” tanya Mas Hadi kaget.


“Aku nelpon Mas berkali-kali, tapi berkali-kali pula panggilanku ditolak,” jawabku menahan kesal. Kesal karena harus mengingat lagi adegan penolakan panggilan yang dilakukan oleh Mas Hadi semalam, saat aku ingin konfirmasi masalah asuransi.


Laki-laki itu tak merespon banyak tentang kekesalanku. Tetap dengan kegiatannya, menyeruput teh, dan mulai memakan roti bakar hangat. Ponselnya, tak pernah lepas dari genggaman tangan.


Aroma mentega bercampur coklat mengudara. Kepulan asap hangat dari tumpukan roti yang kusiapkan untuk anak-anak membubung, menyapa indra penciumanku. Kuhirup napas dalam-dalam, menyimpan memori aroma roti bakar pagi ini.

__ADS_1


Kunikmati roti itu dalam diam. Mengunyahnya perlahan, sambil menyusun kata-kata bujukan. Memutar otak, agar Mas Hadi mau menjalani program hamil seperti yang disarankan Dokte Melisa.


“Apakah, kita bisa bicara, Mas?”


“Ngomonglah, aku dengar kok.”


“Bisa di klaim ga, pembayarannya?”


“Nanti kubawa kwitansinya,” jawabnya pendek.


“Soal program hamilnya, ... .” kalimat itu terhenti. Tertahan di tenggorokan saat hendak mengucapkan semua prosedur yang dijelaskan Dokter Melisa. Ragu. Apakah betul apa yang telah aku lakukan.


“Kenapa masih program juga, kan aku sudah bilang tak usah, tak perlu,” jawab Mas Hadi.


“Tapi, aku mau. Aku tidak apa-apa kalau hamil lagi. Demi Mas. Supaya Mas bahagia punya anak perempuan.” Pelan kuaduk teh hangat di hadapanku. “Kulihat, Mas senang sekali bercanda dan bermain dengan Caca, aku ingin Mas juga bahagia dengan anak yang akan aku berikan nanti.”


Duhai diri, apakah rasa benci melihat Mas Hadi bercanda dan bermain dengan anak sahabatku sendiri, aku sampe rela harus hamil lagi? Sebenarnya, aku tak masalah Mas Hadi bermain dengan anak siapa saja. Suamiku itu, tipe lelaki yang senang bermain dengan anak kecil. Terutama anak tetangga yang perempuan. Namun, ketika Mas menunjukkan sesuatu yang berbeda terhadap Caca, ada yang tak rela di hati ini. Tak bisa kujelaskan, rasa tak rela karena apa.


“Trus, aku harus ngapain, biar kamu hamil anak perempuan?”


“Beneran? Mau?” Antara ragu, bahagia, dan rasa yang entah apa bentuknya, aku hanya bisa membolakan mata.


Blug! Rasa yang telah meninggi di awang-awang, seketika runtuh tak bersisa saat jawaban itu terlontar dari mulut lelaki yang telah menemani hidupku selama lima belas tahun ini.


“Serius, dong, Mas!” pintaku gemas.


“Ya, coba cerita dulu, bagaimana dan aku harus apa?”


“Hmm ....” Aku mulai ragu. “Kita harus melakukan beberapa hal, agar aku bisa hamil anak perempuan.”


“Apa saja?”


“Jadi, gini, Mas. Pertama, kita harus mengatur pola makan. Makan-makanan yang banyak mengandung asam. Karena, ****** X yang membawa sifat perempuan, menyukai kondisi asam. Jadi, sebisa mungkin kita mengatur makanan kita.”


“Boleh dicoba, sekalian diet.”

__ADS_1


“Trus, soal pola berhubungan juga diatur. Kalau bisa sebelum masa subur, karena, ****** X bisa tahan hidup lebih lama dari pada ****** Y. Jadi pas masa ovulasi, yang ada di jalur pembuahan hanya ****** X saja. ****** Y-nya sudah mati.”


“Ga ngerti.”


“Hmm, gini aja, kita berhubungannya, hari ke 9-12 setelah aku haid.”


“Mau hubungan kok diatur-atur.”


“Kan, mau program hamil anak perempuan.” Hatiku serasa berada di roller coaster. Kadang di atas, kadang dengan tiba-tiba harus meluncur dengan cepat ke bawah.


“Kan kamu yang mau. Bukan aku.”


“Iya, memang aku yang mau.” Sungutku kesal. Tak bisa lagi aku menyembunyikannya.


“Ya udah.”


“Mas! Kamu ini ngerti ga sih! Aku maunya apa?” Akhirnya hanya pekikan kegalauan yang keluar dari mulutku.


Wajah itu kaget. Matanya menatap tajam ke arahku. “Kok marah, sih?”


“Iya gimana ga marah, aku mengajakmu bagaimana agar aku bisa hamil anak perempuan, bagaimana cara agar ****** X ini bisa membuahi sel telurku.” Getar suara dari bibirku tak tertahankan.


“Kan aku sudah bilang, tak perlu hamil lagi.”


“Tapi aku tak suka, kamu dekat sama Caca dan Nofi!” sergahku gusar.


Ia tak ingin aku hamil anak perempuan, tapi memperhatikan anak perempuan wanita lain? Jika aku bisa memberinya anak perempuan, tentu ia tak perlu memperhatikan anak dari wanita lain. Mengapa tidak mau? Mengapa tidak mengerti?


“Ya, ya. Aku tidak jadi memberi kado ke Caca.”


“Minggu depan, Mas ikut periksa ke dokter!”


“Periksa apa lagi?”


“Periksa ******.”

__ADS_1


“Supaya apa?” tanyanya tanpa dosa.


“Supaya bisa menghasilkan ****** X yang banyak, dan aku bisa hamil anak perempuan!”


__ADS_2