
“Masa iya, belatung yang ada di tubuhnya, sih?” wajahnya terlihat bengong mendengar kisah yang kuceritakan.
“Iya, Mas. Belatungnya banyak banget. Belatung itu tanda kebusukan hati. Mungkin iya, cantik mempesona dan menakjubkan. Tapi semua hanya tipuan. Aslinya tidak begitu. Mana kita tahu tujuannya datang ke rumah ini.”
Udara pagi ini terasa begitu dingin. Mas Hadi terlihat shock mendengar jawaban yang kuberikan. Ditipu dukun penjual batu akik saja percaya. Gemas rasanya, masa suamiku percaya hal-hal yang mengandung kesyirikan. Huft!
Siapa yang mempengaruhi hingga bisa berhubungan dengan gaib begini ya? Kuingat-ingat dengan baik teman yang sering ia ceritakan. Teman yang membawa pengaruh buruk terhadap perilakunya. Deretan nama-nama orang yang pernah kenal dengan Mas Hadi terdaftar di dalam otakku, hingga akhirnya mengerucut ke sebuah nama.
Beberapa bulan sebelum Mas Hadi memakai cincin Mirah Delima, ia menyebutkan seoang bernama Pak Catur. Nama yang disebutkan itu adalah nama karyawan yang menjabat sebagai kepala cabang sebelumnya di kantor. Sekarang ia sudah dimutasikan ke wilayah lain.
“Dik, ternyata Pak Catur saat masih tugas di sini, sering pergi ke paranormal lho?” kisahnya suatu hari saat pertama kali ia menggantikan posisi pak Catur.
“Aku baru tahu, Pak Kemal sering mengantarkannya ke Jogja, ternyata untuk bertemu dengan paranornal. Kata Pak Kemal, Pak Catur minta kepada paranormalnya agar jabatannya di kantor semakin naik dan ga ada yang bisa menggantikan posisinya.”
Pak Kemal adalah sopir kantor. Menurut cerita Mas Hadi, beliau sering diminta tolong untuk mengantar karyawan bila ada keperluan pribadi dengan memberi uang tips. Pak Kemal tinggal di lantai tiga ruko kantor bersama istri dan seorang anaknya yang berusia empat tahun.
Menurut Mas Hadi, sebulan sekali Pak Catur pergi ke tempat paranormal itu. Namun, paranormal itu tak bisa melanggengkan posisinya di kantor. Sekarang, posisinya digantikan oleh suamiku.
Rasanya ingin tertawa geli mendengar kisah yang disampaikan Mas Hadi mengenai rekan kerjanya. Bagaimana mungkin seorang Pak Catur percaya kekuatan gaib yang di miliki Mbah Jagad, nama yang disebutkan Mas Hadi sebagai nama panggilan paranormal itu.
Mbah Jagad bisa memberikan kekuatan apapun yang diinginkan oleh siapa yang menghendaki. Pak Catur menghendaki jabatan, ia memberikan rasa percaya bahwa tak ada yang bisa menggantikan posisinya di kantor. Jangan-jangan, Mbah Jagad juga memberikan kekuatan kepada Mas Hadi lewat Cincin Mirah Delima yang dikenakannya?
“Mas ngapain sholat malam segala? Tumben?” dahiku mengernyit.
“Ga usah ikut campur!” Ia bangkit mengemasi barang-barang di atas sajadah.
Sebuah kertas kumal berwarna kuning, sebuah botol parfum, kalung batu legam, dan ... dahiku makin mengernyit tak percaya. Tegang seluruh tubuhku melihat barang terakhir yang dikemasi suamiku. Napas menjadi sesak dan aku hilang diri.
“Buat apa foto Nofi ada di situ?” teriakku histeris.
Entah apa yang harus aku katakan lagi. Melihat foto sahabatku ada di hadapan tempat Mas Hadi melakukan ritual salat malamnya, luruh semua kekuatan hidupku. Salat apa yang meletakan foto wanita di hadapannya?
Entah, aku tak bisa menangis lagi. Sudah terlanjur perih hati ini. Laki-laki yang kupercaya menjaga diri dan anak-anak, melakukan hal yang sangat dilarang oleh agama, kemusryikan. Gamang, kukemasi air mata yang siap menerobos kelopak mata.
“Mas, aku tidak bisa. Maaf.” Hanya itu yang sanggup terucap. Kulepaskan cincin pernikahan, sebagai tanda penolakan.
“Tidak, jangan lepas cincin kawinnya!” teriaknya histeris.
“Bukankah Mas sudah melepaskannya terlebih dahulu?” tanyaku dalam pilu.
__ADS_1
“Aku akan tetap bersamamu, selamanya.” Bujuknya mendekap tubuhku.
Dengan gerakan yang sangat cepat, kukibaskan tangan kekarnya. Ia semakin erat memeluk tubuhku yang mungil.
“Aku mau pulang ke rumahku di kampung, silakan di urus anak-anaknya. Aku tak bisa maaf.”
“Tidak, kamu istriku!”
“Istrimu? Hah!”
Tanpa pikir panjang, aku menelpon ibu mertua. Menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh putranya. Aku sangat dekat dengan beliau.
“Assalamu’alaikum, Ibu. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bu. Mas Hadi telah menyakiti saya. Tolong Ibu, tolong saya,” kusampaikan semua tujuanku dengan tergesa. Tak dapat kubendung air mata demi mendengar suara beliau di telepon.
[Ndi bocahe, kasih HP-nya ke Hadi, Nduk!] perintah beliau ingin bicara dengan anak laki-lakinya.
“Ga, aku ga mau ngomong!” bentak Mas Hadi menolak berbicara dengan Ibunya sendiri.
“Mas Hadi, ndakmau bicara, Bu,” kusampaikan penolakan suamiku kepada Ibu mertua.
[Yo wes, aku ke Semarang sekarang,] putus Ibu kemudian.
Telepon kumatikan setelah mengucap salam. Kutatap Mas Hadi sambil menyampaikan info kalau Ibu usai subuh langsung berangkat ke Semarang naik bus antar kota.
“Kamu ini, nyusahin Ibuku saja. Ibuku sudah tua,” teriak Mas Hadi.
“Ibumu, juga ibuku,” senyumku penuh kemenangan.
Mas Hadi terdiam mendengar kalimatku. Ia sangat tahu bagaimana ibunya menyayangiku sebagaimana anaknya sendiri. Laki-laki itu sangat tahu, sedekat apa hubunganku aku dengan wanita sepuh itu.
“Pakai lagi cincinnya!” perintahnya memaksa.
“Tidak, terima kasih.” Aku beranjak keluar dari kamar.
Jarum jam menunjukan pukul tiga dini hari. Lebih baik kugunakan waktu untuk berdo’a dan bersujud pada Illahi. Mendoakan suami, agar segera kembali ke jalan yang benar.
“Kalau Ibu sudah sampai sini, aku pamit pulang,” pesanku sebelum sampai ke pintu.
Tiba-tiba, Mas Hadi menarik tubuhku. Suaranya menggelegar, “kamu istriku! Tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa izin dan ridhoku!”
__ADS_1
“Oh, kamu suamiku? Lalu kenapa ada foto orang lain di hadapanmu saat salat malam?” tanyaku sinis.
Mas Hadi tak bisa menjawab pertanyaanku. “Kamu istriku sampai kapanpun. Harus manut. Kalau takdirku beristri dua, kamu juga harus menerima. Harus ikhlas, ridho. Ingat, belum tentu yang kamu benci itu buruk buatmu. Bisa jadi yang tidak kamu sukai itu sesuatu yang baik untukmu.”
“Mas, kalau mau menikahi Nofi, silakan. Aku tak masalah. Kalau baik, tentu caranya juga baik. Bukan dengan cara yang musryik.”
Laki-laki itu terdiam. “Tapi kamu istriku!” tatapnya nanar. “Aku memang ingin menikahi Nofi, tapi aku tak akan menceraikanmu. Aku janji!”
“Untuk apa kamu menikahinya?”
“Aku ingin menolongnya.”
“Menolongnya? Apa ia terlihat sebagai orang yang kesusahan?”
Mas Hadi tak bisa menjawab. Hanya tatapan matanya yang terus terpaku tajam menembus pertahananku.
“Kamu yakin, dia wanita yang baik dan mau kamu nikahi sebagai istri kedua?”
“Jangan karena sakit hatimu, kamu membenci seseorang. Bisa jadi ia lebih baik darimu.”
“Wanita baik-baik mana yang menggoda laki-laki?”
“Dia tidak menggodaku."
“Lalu?"
“Aku yang memintanya jadi istriku.”
“Oh, begitu. Tanpa minta persetujuan dariku?”
Pagi itu, aku menunggu kedatangan Ibu dalam gelisah. Sore hari beliau baru sampai di Pasar Jrakah. Mas Hadi sepanjang hari cemberut karena ibunya akan datang. Ketika aku akan berangkat menjemput Ibunya, Mas Hadi memaksa mengantar meski baru saja sampai dari kantor. Kami berangkat dalam diam.
“Betul, Di? Apa yang disampaikan Cinta?” selidik Ibu.
Ibu, wanita sepuh ibu kandung Mas Hadi. Usianya sekitar enam puluh satu tahun. Perawakannya yang tinggi menurun pada anak-anaknya. Wajah keriput beliau, meneduhkan gelisahku.
Malam hari saat anak-anak sudah tidak lagi beraktifitas di ruang tengah, aku menyampaikan apa yang sedang teradi kepada Ibu mertua. Kusampaikan dengan sopan dan baik bahwa anak laki-lakinya ingin menikahi Nofi, sahabatku. Mas Hadi ingin anak perempuan, tapi tidak ingin memilikinya dariku. Menyampaikan kepada orang lain bahwa aku sakit kanker, padahal tidak. Melakukan ritual aneh dalam salat malam, dan meletakkan foto wanita lain di atas sajadah.
Dalam tangis, kusampaikan semua. Kuletakkan kepaaku di pangkuan beliau. Tangan kurus dan legam itu mengusap puncak kepalaku. Pandangan mataku melirik Mas Hadi puas.
__ADS_1
“Tidak, Bu. Sumpah demi Allah, tidak!”