
Lost Contact
‘Cek ******?’ Aku hanya bisa bertanya dalam hati.
Dokter Melisa seperti mengetahui keresahanku. “Iya, cek ****** untuk mengetahui kondisi ****** suami Ibu,” jelas dokter cantik itu sambil berkemas-kemas.
“Sebenarnya, kalau mau lebih gampang, bisa dengan bayi tabung, Bu. Tapi mahal biayanya.”
Dokter Melisa berpamitan, karena harus melanjutkan jadwal lainya. Wanita dengan postur tubuh semampai itu berdiri dengan anggun sambil merapikan jas praktiknya. Ia mengibaskan rambutnya yang bergelombang berwarna kekuningan. Wajah oriental yang ramah itu tersenyum sebelum keluar ruangan.
Perawat memberikan beberapa petunjuk tentang obat, dan tagihan harus dibayar ke kasir.
“Ini ada resep dari dokter, vitamin untuk Ibu. Dan beberapa supplemen hormon. Ibu, ke apotik untuk menghitung harga obat dulu, kemudian bayar ke kasir, baru bisa mengambil obatnya.” Perawat memberi petunjuk apa yang harus kulakukan berikutnya.
Aku mengangguk tanda memahami petunjuk perawat itu. Kuterima selembar resep dari perawat untuk ke bagian farmasi, menunggu petugas menghitung jumlah biaya obat yang harus dibayar.
“Maaf, Bu. Suplemennya, tidak tercover ke asuransi. Pemeriksaan dokternya juga tidak bisa dibayarkan oleh asuransi,” jawab kasir saat aku mengangsurkan kartu asuransi dari kantor Mas Hadi.
“Lho, kenapa begitu? Asuransi kantor kami meng-cover semua kebutuhan karyawan. Sebentar saya menelpon suami dulu.” Resah dengan pemberitahuan kasir, aku menelpon Mas Hadi.
Beberapa kali nada sambung, tak ada tanda-tanda panggilanku diangkat oleh Mas Hadi.
[Panggilan Anda ditolak.] Sebuah pemberitahuan mengabarkan panggilan pertamaku ditolak oleh Mas Hadi.
Kuulangi lagi hingga beberapa kali, ditolak. Panggilan ke sepuluh, tak ada nada sambung. Telepon di matikan. Subhanallah. Kesal, ingin kubanting ponsel di depan kasir.
“Karena tadi saat masuk, indikasinya bukan karena sakit. Tapi karena program hamil,” jelas kasir yang memperhatikanku dengan ramah dan senyum merekah.
Aku termangu mendengar jawaban kasir wanita yang mengenakan seragam berwarna hijau itu. Kucoba menguasai keadaan.
“Ya sudah saya bayar tunai saja kalau begitu.” Sedikit kesal aku membayar semua biaya pemeriksaan dan suplemen dari dokter yang hampir satu juta itu.
Biasanya semua biaya pengeluaran ke dokter dalam rangka apapun, bisa dibayar oleh perusahaan. Kenapa sekarang berbeda? Mas Hadi juga tak mengabarkan apa-apa saat aku hendak berangkat ke dokter. Sekarang ditelpon tak ada jawaban, bahkan dimatikan.
__ADS_1
Ada yang melintas dalam pikiran, kucoba menepiskannya. Tak ingin memikirkan sesuatu yang buruk terhadap Mas Hadi. “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-ku, Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.”
Mengingat janji Allah itu, aku berusaha berprasangka yang baik mengenai telepon yang tak diangkat. Mungkin baterainya drop, mungkin sedang tidak ada signal, dan pemakluman lain kutanamkan dalam pikiran. Kuhela napas dengan paksa. Huft!
Dari jalan Pandanaran, taksi yang kutumpangi memutar ke arah Simpang Lima menuju Ngaliyan, tempat tinggalku. Wilayah Ngaliyan terletak di daerah ketinggian Kota Semarang, arah Jakarta, belok kiri ke kampus UIN Walisongo.
Mataku menyusuri malam Kota Semarang yang kian semarak. Semakin malam, Simpang Lima bukannya sepi, tapi ramai oleh pedagang dan pembeli kuliner. Simpang Lima terkenal dengan warung kuliner khasnya di malam hari, mulai dari tahu gimbal, tahu pong, gudeg, lumpia dan yang lebih menarik bagi beberapa orang adalah, teh poci.
Teh poci menjadi menarik karena fenomena 'Ciblek'. Ciblek atau ‘Cilik Betah Melek’, adalah sebutan bagi wanita muda pekerja **** yang menyamar sebagai penjaja teh poci.
Fenomena Ciblek dan teh poci berawal pada tahun 1990an, saat Sunan Kuning mengalami kelonggaran pengawasan. Sunan Kuning adalah daerah lokalisasi di daerah Kalibanteng Kulon. Disebut Sunan Kuning karena terdapat petilasan tokoh muslim bernama Soen An Ing. Orang Jawa sulit mengeja nama Soen An Ing, kemudian dipelesetkan menjadi Sunan Kuning dan populer hingga sekarang.
Longgarnya pengawasan persoalan ketertiban masyarakat serta munculnya isu penutupan resosialisasi, menyebabkan para pekerja **** di Sunan Kuning mulai keluar ke jalan-jalan. Banyak yang kembali lagi ke jalanan protokol Kota Semarang.
Sepak terjang 'Ciblek' pun tidak seperti biasanya. Mereka menjajakan diri secara terselubung, dibantu pengusaha yang kerap menggunakan lapak teh poci ini sebagai modus. Lokasinya banyak ada di sekitar Simpang Lima Semarang.
Aku mendesah mengingat nasib gadis-gadis muda itu. Sungguh menyedihkan. Semoga mereka segera menemukan jalan hidayah, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Malam menunjukkan waktu yang sudah larut. Sesampai di rumah, tak kulihat mobil Mas Hadi. Belum pulang. Dadaku bergemuruh. Hampir jam sebelas, dan belum pulang? Kemana saja?
Kututup pintu rumah, sambil terus melantunkan do’a keselamatan untuk Mas Hadi. Memasuki rumah, kudapati ketiga anakku sudah pulas. Tiga jagoan hebat yang telah mewarnai keluarga kami. Setelah membersihkan diri, aku bersiap merebahkan badan untuk istirahat.
Tak biasanya Mas Hadi pergi sendirian hingga tengah malam tanpa ada kabar. Gelisah yang semenjak sore melingkupi, mau tidak mau menyapa hati. Mata ini, tak sekalipun ingin terpejam.
Tengah malam, terdengar deru suara mobil diluar. Jam menunjukkan angka 00.30. Dari mana saja, sampai hampir dini begini baru pulang. Sedikit kesal, aku melompat tergesa untuk membuka pintu. Sudah siap dengan rentetan pertanyaan yang tersusun tak beraturan di puncak kepala.
Sebelum Mas Hadi mengetuk pintu, aku membukanya terlebih dahulu. Tak sabar menanyakan segala pertanyaan yang memenuhi pikiran. Mulutku sudah bersiap melontarkan semua kalimat itu dalam kemarahan yang merasuk ke ujung lidah.
“Kita jalan, yuk?” ajak Mas Hadi sebelum menutup pintu mobil, dan mendapatiku tengah mendelik marah di teras.
“Malam-malam begini mau jalan kemana? Anak-anak tidur. Ini waktunya istirahat.” Kemarahan itu menguap entah kemana.
“Ya, kita tak pernah jalan berdua. Aku ingin makan Nasi Pecel Mbok Sador. Yuk?” tangan kekarnya menggandeng tanganku.
__ADS_1
“Aku belum pakai baju rapi.”
“Tak tunggu yo!"
“Apa Sampeyan ga capek?” tanyaku mengingatkan, ini sudah pagi.
“Kamu ini, diajak suami senang-senang tidak mau.”
“Ini sudah pagi, bukan waktunya senang-senang lagi!” dengkusku kesal.
Memang besok hari libur. Tapi tak ada waktu libur bagi seorang wanita sepertiku. Tetap saja harus bangun pagi-pagi menyiapkan segala keperluan anak-anak dan Mas Hadi.
“Kalau istri tidak mau diajak senang-senang. Jangan salahkan suami nyari kesenangan sendiri.”
Mas Hadi menutup pintu dengan kasar, lalu melangkah masuk tanpa peduli kepadaku yang tengah berdiri dalam kebingungan. Ada apa tiba-tiba Mas Hadi mengajak pergi pagi-pagi begini. Bukankah lebih santai kalau pergi di siang atau sore hari, atau menemaniku ke dokter, lalu bisa melanjutkan jalan-jalan? Ada apa ini?
Dalam gelisah, hati semakin gundah, kututup pintu dan menyusul masuk ke kamar. Kulihat Mas Hadi sudah sudah melepaskan pakaian perginya, berganti baju untuk tidur.
“Dari mana saja Mas? Jam segini baru pulang?” Tak bisa menahan rasa penasaran, pertanyaan itu terpaksa aku ucapkan juga.
Tak ada jawaban.
“Mas!” pekikku tertahan.
“Apaan, sih! Ribut aja kalau aku di rumah.”
“Aku telpon berkali-kali, kenapa tak diangkat?”
“HP-nya mati.”
“Tak biasanya HP-mu mati. Kamu bukan orang ceroboh yang membiarkan HP mati dalam waktu yang lama. Di mobil juga ada charger.” Ubun-ubunku terasa sangat panas mendengar jawabannya.
“Jangan berisik! Tadi diajak keluar ga mau. Aku mau tidur. Capek!”
__ADS_1
------