Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Nightmare


__ADS_3

Sungguh aku sangat membenci Caca!


Aku membenci cara gadis kecil itu duduk bersenda gurau dengan Mas Hadi. Bagaimana ia dan Bundanya bisa mencuri perhatian suamiku? Aku tahu, dia masih kecil. Usianya baru akan lima tahun. Tapi saat Mas Hadi mengajaknya jalan-jalan, rasanya itu bukan hal yang wajar.


“Jadi, ke mana kita minggu depan, Ca?”


“Tanya Bunda aja, Om.”


Wanita yang dimaksud oleh Caca tersenyum menawan. Matanya berkedip indah. Suaranya yang merdu menenangkan Caca, “Bunda mau ke Jogja.” Salah tingkah, Nofi membetulkan jilbab panjangnya.


“Ga jadi mampir ke rumah Pak Dodo, Nof?” tanyaku saat ia bergegas memanggil Alfin untuk pulang.


“Yang didatangi saja pergi. Bagaimana mau kesana? Lagi pula, ia tak bisa dekat sama anak-anak. Aku ingin mendekatkan, tapi ga berhasil,” keluhnya menggambarkan situasi yang tidak baik.


Alfin tak mau di ajak pulang. Di rumah Nofi yang baru, memang jarang anak kecil yang bisa diajak bermain. Hal itu menyebabkan Caca dan Alfin lebih suka bermain di sini, tempat mereka lahir dan dibesarkan.


“Bunda aja pulang dulu. Aku masih mau main di sini,” rajuk lelaki kecil itu.


“Ayahmu saja pergi, kita pulang saja!” gertak Nofi. Hilang wajah anggun yang tadi kukagumi. “Pulang!”


“Biar aja lah, Bu. Nanti biar saya antar.”


Oh tidak! Apa pula ini? Rasa ingin kuinjak kaki Mas Hadi untuk mengingatkan.


“Nanti merepotkan, Pak?”


“Oh tidak apa-apa.”


Apa-apaan ini? Aku ingin menjerit. Tapi bibirku berusaha menyunggingkan senyum paling manis agar tak terbaca resah yang meronta.


Setelah Caca dan Nofi pergi, aku masuk ke rumah. Tak bisa kusembunyikan rasa jengkel dan marahku mendengar tawaran Mas Hadi kepada Nofi.


“Antar saja sendiri! Mas yang menyanggupi. Jangan ajak aku!” Kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Kasur itu terguncang menerima tubuhku.


Mas Hadi menyusul dengan tergesa. Tangannya segera meraih tubuhku. Tatap matanya merekah. “Ayolah, jangan begitu. Jaga perasaan orang lain. Jangan sikapmu itu membuat orang lain sakit hati.”


“Perasaan orang lain? Lalu perasaanku siapa yang jaga?”


Laki-laki itu terdiam mendengar tangisku.


“Antar aja sendiri!”


“Ya, masa aku antar sendiri. Kan ga enak. Lagi pula kamu tuh perempuan. Kalau suami minta ditemani ya harus manut.”

__ADS_1


“Tapi aku ga mau,” pekikku tertahan.


“Harus mau, apa kata orang nanti kalau aku mengantarnya sendiri?”


Kini giliranku yang terdiam memikirkan kalimat Mas Hadi. Iya, apa kata orang nanti?


Tiba-tiba ponsel Mas Hadi berdering. Ia bergegas pergi setelah beberapa kali panggilan itu dibiarkan tak terangkat. Wajahnya tegang. “Eh, aku ada acara nih. Ke rumah si Deni. Dia sakit. Aku mau mengantar ke dokter. Istrinya tidak bisa mengantar.”


Deni adalah teman sekantor Mas Hadi. Rumahnya dekat rumah almarhumah novelis N.H. Dini, di sebuah kompleks perumahan daerah Ngaliyan, Kota Semarang. Aku pernah beberapa kali diajak ke rumah Deni menengok anaknya yang sakit.


“Aku ikut."


“Kamu apa-apa minta ikut. Ini urusan laki-laki!” bentaknya.


“Tapi kan aku kenal Deni dan istri, juga anaknya.” Tak enak kalau Deni sakit aku tak ikut menjenguk.


“Ga, dirumah aja. Jaga anak-anak!”


Ia meraih jaket dan berangkat meninggalkan aku di kamar. Dengan terpaksa, aku membiarkannya pergi dalam suasana hati yang tidak nyaman.


*****


Sore itu, Nofi datang sebelum kami sempat mengantar Alfin. “Cint, maaf aku baru pulang, sekalian saja jemput Alfin. Makasih, ya,” teriaknya.


Saat itu aku tengah membaca buku di ruang tengah Alfin dan anak-anak bermain di teras. Aku bergegas keluar menemui. Kulihat ia masih mengenakan pakaian yang tadi pagi. Langkahnya tergopoh-gopoh menarik tangan Alfin.


“Oh iya, tidak apa-apa.”


Tak berapa lama dari kedatangan Nofi, Mas Hadi tiba dengan senyum penuh bunga. Di depan garasi, ia menyapa sahabatku itu dengan riang.


“Eh Bu, maaf belum bisa mengantar Alfin.”


“Tidak apa-apa pak, kebetulan baru saja pulang. Sekalian mampir.”


*****


Di suatu sore yang sangat indah, aku dan Mas Hadi berada di dalam kendaraan hendak pergi ke RS. Karyadi. Ia memegang kemudi, aku duduk di sampingnya. Kendaraan melaju perlahan-lahan sebelum akhirnya berhenti di sebuah lampu merah Tugu Muda, untuk kemudian memutar ke kanan.


Kupandangi tugu berwarna batu diantara air mancur yang sangat tinggi. Air itu mencipta hujan buatan di sekitar bundaran. Pelangi terbentuk dari sinar matahari sore yang menerpanya. Mataku tak berkedip.


Tahun lalu, anak sulungku mengikuti acara pembacaan puisi memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang di Tugu Muda. Acara yang ditunggu adalah, drama teatrikal Pertempuran Lima Hari di Semarang.


Pertempuran Lima Hari Kota Semarang melakonkan pertempuran antara warga Semarang melawan Jepang pada 15-20 Oktober 1945. Karena lamanya pertempuran selama lima hari, maka pertempuran ini diberi nama 'Pertempuran Lima Hari di Semarang'.

__ADS_1


Pelucutan senjata tentara Jepang di beberapa kota di Indonesia di tahun 1945, membuat pemuda Semarang mengikuti langkah tersebut. Tentara Jepang merasa semakin terdesak. Mayor Kido, menolak secara tegas penyerahan senjata. Tindakan Mayor Kido menyulut amarah Pemuda Semarang.


Para pemuda mendapat intruksi mencegat kendaraan Tentara Jepang yang melewati area Rumah Sakit Purusara. Para pemuda menyita dan melucuti senjata tentara Jepang. Para pemuda menjebloskan mereka ke Penjara Bulu. Tentara Jepang melakukan serangan balasan, melucuti delapan anggota Polisi Istimewa yang menjaga sumber air minum warga Semarang "reservoir Siranda".


Tentara Jepang menangkap anggota Polisi Istimewa dan melakukan penyiksaan dengan membawanya ke Markas Kido Butai di Jatingaleh. Pada waktu yang sama tersiar kabar tentara Jepang telah menebar racun di Sumber air "Reservoir Siranda".


Dr. Kariadi diperintahkan memeriksa Reservoir Siranda. Ia menuju sumber air minum warga Semarang tersebut, tanpa menghiraukan keselamatan dirinya. Di jalan Pandanaran, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dihadang oleh tentara Jepang. Nyawa dr. Kariadi tidak tertolong arena disiksa dan terluka sangat parah. Kematian dr. Kariadi menjadi penyulut amarah Pemuda Semarang.


Pada tanggal 15 Oktober 2045 sekitar pukul 03.00 WIB, Mayor Kido memerintahkan 1.000 tentara Jepang melakukan penyerangan ke Pusat Kota Semarang. Berita Gugurnya dr. Kariadi menyulut amarah seluruh warga Semarang, peperangan meluas ke penjuru kota.


Pada tanggal 17 Oktober 1945, tentara Jepang mengumumkan Genjatan Senjata, namun diam-diam mereka melakukan serangan ke berbagai kampung. Pada tanggal 19 Oktober 1945, pertempuran terjadi di seluruh penjuru Kota Semarang. Pertempuran ini memakan korban 2.000 jiwa warga Semarang dan 850 tentara Jepang.


Kisah Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang, diperingati setiap tahun dengan menggelar mini drama pertempuran. Malam itu, kami sekeluarga melihat semua adegan dari depan Musium Mandala Bakti. Aku tak bisa menahan haru menyaksian gambaran kegigihan pemuda Semarang saat itu. Luar biasa.


__


Lampu hijau menyala. Mobil tak bisa melaju. Mas Hadi bingung, mengapa tiba-tiba mobil berhenti tanpa sebab? Ia bergegas turun untuk memeriksa kendaraan. Suara klakson kendaraan di belakang riuh memekik bersahutan.


Disamping kiri, sebuah mobil berwarna merah marun dengan nomor kendaraan H-9235-NW berhenti. Pengemudinya sangat kukenal baik. Ia menyapa kami dengan ramah. Aku masih di dalam mobil. Mas Hadi yang berada diluar untuk membetulkan kendaraan, berbincang dengan pengemudi yang kukenal itu.


“Mau kemana, Pak?” suara yang sangat kubenci akhir-akhir ini.


“Mau ke Karyadi,” jawab Mas Hadi tersenyum.


“Bareng saya saja.”


Tak kusangka sama sekali, Mas Hadi menyusul naik ke mobil itu. Aku terpaku dalam gemetar. Yang benar saja? Aku ditinggal di lampu merah, dalam kendaraaan yang sedang mogok?


Tanpa pikir panjang kubuka pintu, lalu berlari keluar menyusul mobil itu. “Mas, kenapa aku ditinggal?”


Aneh, begitu keluar mobil, bukan bundaran Tugu Muda yang kulihat, tapi hamparan sawah hijau dengan rumpun yang lebat siap di panen. Kemana perginya Mas Hadi dan pengemudi mobil merah tadi?


Aku memanggil-manggil nama suamiku. Tak ada jawaban. Aku menangis dalam sedan. Angin yang menggoyangkan rumpun padi menerbangkan ujung jilbabku.


Aku tak menemukan Mas Hadi.


****


“Bangun! Bangun! Nangis ngapain?”


Sebuah guncangan hebat membangunkan lelap. Masih dalam isak, kubuka mata perlahan. Terlihat Mas Hadi panik di hadapan. Kupeluk ia dalam tangis dan menceritakan semua kisah dalam mimpi.


“Apa-apa? Aku pergi sama siapa?” Rekahan senyum bahagia tergambar di wajahnya.

__ADS_1


Senyum yang memuakkan.


____


__ADS_2