
“Memang benar ya, kalau jujur itu menyakitkan.” Suara Mas Hadi lesu.
“Jujur apa maksudmu, Mas?”
Apa maksudnya jujur? Dia berkata aku sakit kanker, itu namanya bohong! Mengatakan tidak tahu dari mana Nofi memperoleh informasi soal penyakitku, juga dusta! Sekarang dia mengatakan jujur soal perasaannya terhadap Nofi. Allahu Rabbi!
Seperti hantaman sebuah benda yang sangat berat menerjang dadaku, sesak. Tangan ini terasa gemetar ingin memukul mulutnya. Panas memenuhi ruang kepala. Kukatupkan mulut dengan paksa. Laki-laki tak tahu diri!
“Kalau aku memang mencintainya, trus bagaimana?”
Pertanyaan gila! Mencintai wanita lain, sedangkan sebagai istri, aku masih sanggup melayaninya. Apa hanya karena aku tak bisa memberi anak perempuan? Bukankah aku sudah menyatakan bersedia hamil lagi bila ia menginginkan anak perempuan? Bukankah aku sudah siap dengan segala program untuk menunjang agar aku bisa hamil lagi? Tapi dia menolak semua solusi yang kutawarkan.
“Arrghh!” kukepalkan jemari kuat-kuat. Dengkus napas tak beraturan tertahan dalam-dalam. Emosiku telah berujung di lidah, meninggalkan logika, membungkam teori-teori murahan tentang cinta.
Istana batu yang kubangun dalam mimpi, di mana aku menjelma seorang ratu di dalamnya, hancur berkeping-keping seketika. Raja yang kujunjung harkat martabat dan kehormatannya, memilih menyemai bunga di istana lain. Semak belukar menggerogoti usia pernikahan kami. Apakah salahku selama ini?
“Apa yang membuatmu mencintai orang lain? Aku kurang cantik? Aku kurang melayanimu? Bukankah Mas yang mengatakan tak akan pernah meninggalkanku hingga maut memisahkan?”
Aku mengingat betul kalimat itu, kalimat yang sering ia ucapkan selain sebuah kalimat lain yang ia jejalkan semenjak menikah, “jangan mencintai berlebihan, nanti kamu sakit. Aku juga tidak akan mencintaimu seratus persen. Kalau kamu mencintai laki-laki lain, aku tidak akan mengekangmu. Tak ada gunanya mempertahankan orang yang tidak ingin bertahan.” Ah, sudah berapa lama kalimat itu tak kudengar.
Ketika itu, aku beranggapan apa yang disampaikan Mas Hadi berhubungan dengan rasa cinta terhadap manusia dan Allah. Pesan yang tertangkap adalah, tidak seharusnya mencintai manusia secara berlebihan. Cinta sejati hanya milik Allah semata. Kita tak perlu menggantungkan harapan kepada manusia. Hati manusia mudah terbolak-balik.
Aku pun mencoba seperti apa yang disampaikan oleh suamiku tersebut. Mencoba mencintai sewajarnya, tidak berlebihan, tidak ingin menggantungkan hidup sepenuhnya kepada laki-laki itu. Dengan membangun bisnis jual-beli barang keperluan wanita, aku bisa menghidupi diri sendiri. Kadang, aku bisa membantu keperluan keuangan yang tidak bisa terpenuhi saat Mas Hadi dalam keadaan kepepet.
Selama ini aku juga tak terlalu menuntut soal keuangan kepada Mas Hadi. Keperluan sekolah anak-anak dan harian yang tidak seimbang dengan gaji dari Mas Hadi, kusadari sepenuhnya. Kuterima berapapun yang diberikan tanpa banyak mengeluh. Ya, tidak perlu menggantungkan harapan kepada manusia. Aku setuju.
__ADS_1
“Sudah malam, masa mau ngajak ribut lagi malam-malam begini. Tiap hari ngajak ribut, bukankah aku tadi sudah berterus terang kepadamu,” elaknya beranjak pergi ke kamar.
Aku belum puas mengeluarkan semua isi hati, sekarang ia memintaku untuk berhenti bicara. Enak saja! Aku bangkit dengan tergesa dan menyusulnya ke kamar.
“Sudah, aku tidak mau membahas lagi!” ketusnya marah.
“Maksudmu tidak mau membahas itu bagaimana?” Aku menahan suara agar tidak terdengar oleh anak-anak.
Kamar yang terletak di bagian belakang rumah, dekat ruang makan ini terasa sempit oleh pikiran tidak menentu. Sejuknya udara yang dialirkan oleh pendingin ruangan, tak membuat hawa panas yang kurasakan hilang. Hawa panas yang terbawa oleh setiap kalimat ayah dari anak-anakku.
“Kamu kan sudah pernah aku beri tahu sebelumnya. Aku sudah dinikahkan secara gaib dengan seorang ratu dari daerah selatan pantai Jawa. Aku raja, kamu ratu yang akan selalu mengikutiku. Sedangkan ratu baru ini, ingin ikut denganku.”
“Hey, Mas! Di mana-mana, ratu itu cuma satu! Kalau ada orang ke-2, namanya bukan ratu tapi selir. Lagi pula, pernikahan gaib macam apa pula?” Setengah tertawa aku mendengarkan ocehannya mengenai raja dan ratu. Ada-ada saja.
“Kamu tidak percaya? Nanti tengah malam, rumah kita akan tercium bau harum. Nah, bau harum itu menandakan kedatangan ratu yang akan ikut dengan kita. Ratunya baik.” Sorot matanya serius menatapku.
“Mas, syirik itu namanya. Syirik! Percaya sama yang gaib-gaib begitu. Buang saja cincinnya. Bikin Mas makin jauh sama agama. Dosa!”
Malam beranjak semakin larut. Waktu berputar perlahan. Aku hampir tidak tidur menunggu bukti yang disampaikan oleh Mas Hadi. Rumah ini akan kedatangan tamu seorang ratu yang akan ikut mengabdi. Mata terasa berat menunggu momen yang dijanjikan suamiku. Apakah memang benar ada ratu baru yang akan datang.
Apakah ratu itu akan ikut bersama menjadi satu keluarga di rumah ini, atau akan menggantikan kedudukanku sebagai satu-satunya permaisuri. Hmm ... ! Aku punya akal.
Aku pura-pura memejamkan mata. Dalam gelisah aku memikirkan bagaimana cara agar ia tak lagi berbicara soal ratu-ratuan. Mungkin ini sebuah firasat, agar ia bisa membawa Nofi ke rumah ini menjadi istri ke-2. Enak saja! Akan kubatalkan niatmu membawa ratu baru ke rumah ini.
Pukul dua dini hari, Mas Hadi bangun. Kudengar suara shower menyala. Air gemericik membangunkan sepi. Ia kembali ke kamar dan melakukan ritual sholat malam. Usai sholat, kudengar suara sebuah kertas yang dibuka.
__ADS_1
Kuintip semua yang dilakukan oleh Mas Hadi dalam tanya. Sholat malam? Selama ini ia jarang sholat, kenapa sekarang sholat malam? Bagus, mungkin sudah bertaubat dari kemusyrikan.
Namun, perasaan legaku hanya bertahan beberapa waktu saja. Beberapa menit setelah salam, tercium aroma ratus dari arah Mas Hadi bersujud. Kuubah posisiku berbaring, agar lebih jelas melihat apa yang terjadi. Lampu tidur terasa kurang jelas menerangi kondisi ruangan.
Asap putih halus terlihat keluar dari telapak tangannya. Aroma menyengat semakin tajam. Hampir saja aku terbatuk karenanya. Kutahan rasa gatal di tenggorokaan, geli. Lama sekali Mas Hadi sholatnya. Kuubah posisi lagi. Kali ini kepala ini kudekatkan ke arah tempat sholatnya. Aku masih dalam keadaan pura-pura tidur.
Mas Hadi memegang sebuah kalung batu. Bukan, itu bukan tasbih. Mungkin difungsikan sebagai tasbih. Ia terus saja menghitung zikir dengan kalung batu berwarna hitam legam itu.
“Hai, Kamu. Pergi dari rumahku!” Kubangkitkan tubuh ini dengan tiba-tiba. Dalam keadaan terpejam, aku berbicara garang, “kamu mau apa ke sini? Mau menghancurkan istanaku? Jangan berharap kamu bisa melakukannya! Kamu akan hancur, sebelum sempat menghancurkanku!” Ha ha ha ha .... Aku tertawa dalam hati. Bisa juga aku bermain peran.
Mas Hadi bangkit, ia segera menyalakan lampu. “Ada apa?” tanyanya panik.
Kubuka mata perlahan-lahan. Berakting bingung, aku melihatnya panik berlari mendekat. “Memang kenapa, Mas?”
“Kamu tiba-tiba saja bangun dan mengusir seseorang. Apa yang kamu lihat? Kamu mencium bau wangi ga?”
“Iya aku lihat, wanita pakai baju kerajaan. Seperti ratu, cantik,” kataku tergagap. “Tapi, Mas ....” Aku tak melanjutkan kalimat yang sudah kususun rapi. Sengaja kugantung agar ia penasaran.
“Tapi apa?” jawab lelaki itu panik.
“Tapi, saat ia membalikkan badan, punggungnya penuh belatung, bau busuk menyengat membuatku muntah-muntah. Ratu itu hanya meninggalkan kotoran dan ulat. Rambut di kepalanya menjelma kobra berwarna hitam, dengan mata yang menyorot merah. Mengerikan. Dia bukan ratu yang baik.” Dengan menggebu-gebu menceritakan seolah-olah apa yang kukatakan adalah kenyataan. Aku tertawa terbahak-bahak, dalam hati tentu saja.
“Benarkah?”
Duhai, wajah itu. Antara takjub dan tidak percaya mendengar kisah Ratu Belatung. Ternyata ia benar-benar mempercayaiku. Bagus!
__ADS_1