Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Nokturno


__ADS_3

“Tak usah ngomong ke Nofi, dan melarangnya kesini," ketus Mas Hadi.


“Kenapa aku tidak boleh ngomong?”


“Kamu ini jadi perempuan kok tidak bisa menjaga perasaan orang lain. Tidak kasihan anak-anak itu ingin bermain di sini.”


“Itu terus yang Mas ulangi, menjaga perasaan orang lain. Sekarang apa Mas menjaga perasaanku? Apa Nofi menjaga perasaanku?”


“Kamu itu cemburunya terlalu berlebihan. Masa suami dikekang tidak boleh melakukan apa yang ingin aku lakukan. Tahu gitu, aku ga usah pulang.”


“Maksudmu apa ga pulang?” Tiba-tiba bicara tidak akan pulang. Yang benar saja? Ada ya laki-laki, suami semacam ini? Menyedihkan, aku baru menyadarinya sekarang, bahwa yang yang menyampaikan itu suamiku sendiri. Laki-laki yang kupercaya menjadi imam di rumah ini.


“Pulang ke rumah cuma ribut aja sama kamu. Huh!” sungutnya kesal.


“Ribut? Siapa yang bikin ribut? Aku sudah diam, karena aku marah sama Mas. Tapi Mas terus mendekat dan mencaci maki aku. Aku ini sedang nahan marah sama Mas. Makanya aku diam. Marah Mas, marah banget,” isakku tertahan.


“Sudah, jangan ganggu aku lagi.”


“Istri kok tidak bisa membuat suami tenang. Jangan salahkan aku, kalau lebih tenang bersama wanita lain. Kamu tidak punya yang aku cari,” bentaknya.


“Memang apa yang Mas cari, sih? Apa?” teriakku tak kalah keras.


Laki-laki itu bingung menjawab pertanyaanku.


“Atau mungkin Mas yang tidak bersyukur memiliki anak dan istri, hingga masih mencari yang kurang?” lanjutku emosi.


“Sudah-sudah, jangan bahas lagi. Ribut aja. Bikin masalah," pungkasnya.


Laki-laki macam apa yang sudah aku nikahi selama lima belas tahun ini. Kenapa aku tidak mengenalnya. Baru sekarang ia menunjukan aslinya, subhanallah.


Aku berhenti meluapkan emosi dan kata-kata yang mengundang kemarahannya, takut anak-anak di kamar depan mendengar pertengkaran kami. Gemetar hati dan rasa benci itu kualihkan dengan zikir penyejuk jiwa.


Malam itu berlalu tanpa ada pembicaraan di antara kami berdua. Aku memilih diam menenangkan diri, meski isi kepala ini ingin kutumpahkan dengan penuh emosi. Allah, tolong jaga aku malam ini.


*****


“Aku ada acara sejak pagi sampai malam.” Mas Hadi pamit saat sarapan pagi, mengabarkan kegiatan hari ini. Wajahnya terlihat bahagia. Matanya berbinar indah saat mengatakan kepergiannya.


Mataku menatapnya tak percaya, sekarang hari Minggu. Hari di mana biasanya ia menghabiskan waktu bermain game bersama Izal dan Ivan, atau mengantar mereka berenang di Kolam Renang Tirta Indah yang sebentar lagi terkena gusur pembangunan proyek tol Jakarta-Semarang.


Kusiapkan sarapan dalam diam tanpa merespon kalimatnya. Debar halus menyapa jiwa. Ada yang tak biasa, tapi aku tak bisa mengatakannya. Ingin berucap, namun lidahku kelu.


Nanti kalau menanyakan kepergiannya, ia akan marah seperti biasanya. Bukan, bukan marahnya yang membuat malas menjawab. Aku tak ingin anak-anak mendenga ia berteriak memarahi ibunya.


“Kok, diam?” tanya Mas Hadi melihat reaksiku.

__ADS_1


“Ya,” jawabku gelisah.


“Kenapa? Biasanya bicara banyak-banyak?” Ia merasakan reaksi tak wajarku.


“Untuk apa bicara banyak, kalau hanya membuat Mas marah. Lebih baik aku diam.”


“Curiga terus, curiga terus. Istri kok curigaan suami mau ke mana. Mbok ya, berpikir itu yang positif sama suaminya. Kalau kamu berpikir negatif nanti kejadian bener lho,” katanya cuek.


Tuh, kan. Aku belum menanyakan kepergianya kemana sama siapa, Mas Hadi sudah seperti ini. Lalu bagaimana harus menyelesaikan masalah hati ini. Apa iya aku saja yang terlalu berpikiran negatif ya? Mungkin ada benarnya, Mas Hadi hanya mengantar Caca.


“Aku pergi dulu. Di rumah ga betah. Ribut saja terus sama kamu.”


Laki-laki itu pergi meninggalkan rumah dengan tergesa. Aku kembali ke rutinitas yang biasa kulakukan di Minggu pagi, beberes rumah. Kualihkan gelisah dengan berkegiatan dan memasak untuk anak-anak yang sebentar lagi pulang bermain.


“Ayah kemana, Bu?” tanya Izal yang baru pulang bermain bola.


“Oh, ada acara. Gimana, Dek? Mau berenang? Sama Ibu saja, nanti Ibu antar.”


“Ga mau, maunya sama Ayah.”


Ada yang tersayat di dada ini mendengar permintaan si kecil yang sangat dekat dengan ayahnya. Mereka biasa menghabiskan waktu untuk berenang bila libur tiba.


“Kita cari kegiatan lain, yuk?”


“Kalau ga ada ayah, ga mau,” rajuknya manja.


“Memang Adek mau kemana hari ini?” tanyaku perlahan.


“Aku mau beli Gundam ke Simpang Lima. Ayah sudah janji kemarin.”


“Sama Ibu saja, yuk. Ibu sekalian beli bahan buat bikin baju.”


“Enggak mau! Maunya sama ayah. Sekarang!”


“Ya udah bentar, Ibu telpon Ayah dulu ya. Biar cepat pulang.”


Aku masuk kamar mengambil ponsel dan menelpon Mas Hadi untuk mengabarkan permintaan Izal. Setelah kutemukan kontaknya, kutekan tombol call. Beberapa detik nada sambung terkirim.


Terdengar dering suara telepon yang sangat kukenal di balik bantal. Kaget, kusibakkan tumpukan bantal itu, dan kudapatkan ponsel Mas Hadi di sana. Mas Hadi bawa HP yang mana tadi? Yang ini kok ditinggal.


Mas Hadi memiliki dua ponsel. Satu untuk kepentingan kantor, satu untuk keluarga. Yang tertinggal adalah ponsel yang biasa digunakan untuk menghubungi keluarga.


Kuraih benda pipih berwarna silver itu dengan gemetar. Aku tak pernah memegangnya. Pemiliknya pernah marah saat aku memegang ponsel itu, marah tak berkesudahan.


Kubuka benda itu dengan doa maha panjang. Semoga pikiranku salah. Semoga apa yang aku bayangkan selama ini salah. Semoga aku salah, ya Allah. Semoga apa yang disampaikan suamiku benar adanya.

__ADS_1


Agak kikuk kuperiksa aplikasi yang tertera di layarnya. Rasanya, aku tidak terbiasa dengan semua aplikasi di sana. Kucek WA, tidak ada yang mencurigakan. “Huft!” aku mengelus dada lega. Mungkin benar, hanya dugaanku saja yang terlalu berlebihan.


Beralih ke aplikasi media sosial, tak ada apa-apa, hanya chat kosong, postingan sekadarnya. Daftar kontak pertemanan dan follower kuperiksa dengan saksama. Sekali lagi aku manarik napas dengan rasa lapang. Serasa tali yang selama ini sesak mengikat dadaku, dilolos satu persatu.


Kuperiksa aplikasi yang lain, daftar kontak, log panggilan terakhir, export chat. Tak kutemukan apapun yang berhubungan dengan Nofi dan Caca. Aku berhenti sebentar untuk mengingat-ingat, aplikasi mana yang belum kubuka? Ku geser-geser monitor ponsel itu, mengamati satu persatu apabila ada yang terlewat. Sudah kupastikan sudah semua kubuka, dan tidak ada indikasi yang mencurigakan.


Apa hanya pikiran negatif saja ya? Aku duduk dalam diam. Kuletakkan kembali popnsel itu. Aku terpaku dalam diam menatap benda itu. Masa iya tidak ada apapun? Jadi selama ini salahku ya? Terlalu berprasangka tidak baik kepada suami sendiri.


Astaghfirullahal’azim. Aku menangis dalam penyesalan. Semua ini salahku, karena tidak mempercayai suami sendiri. Baru kusadari, disinilah peran Jin Dasim dalam membuat sebuah rumah tangga bertengkar.


Pernikahan itu adalah sebuah ibadah. Iblis tidak menyukai manusia yang melakukan ibadah. Maka ia menganggu suami istri agar bisa bertengkar, saling benci, saling marah, dan akhirnya bercerai.


Saat suami istri melakukan perceraian, iblislah yang pertama kali tertawa karena dengan begitu, ia bisa menggoda wanita yang menjadi janda dengan fitnah dunia. Ia juga bisa membujuk laki-laki yang telah bercerai untuk berzina.


“Ibu, sudah jadi telpon Ayah belum?” tanya Izal yang menyusul ke kamar. Ia duduk dengan kesal di sebelahku.


“Sebentar, Nak. Ibu telpon HP satu lagi ya.”


Kucari kontak nomor HP yang biasa digunakan untuk kepentingan kantor, dan kutekan tanda panggil dan menunggu beberapa saat sebelum jawaban suara Mas Hadi menjawab panggilanku.


[Ya, ada apa, sih? Aku sedang repot. Nanti saja kutelpon lagi.] ketusnya mengagetkan.


“Mas, itu Izal ....” tak kuteruskan kata-kataku saat di seberang terdengar suara selain Mas Hadi. Suara yang sangat kukenal.


[Bunda, Bunda, habis ini kita lihat lumba-lumba, ya.]


[Stt! Jangan keras-keras, Ca!] Wanita yang disebut bunda menjawab permintaan gadis kecil yang dipanggil Ca.


Kudengarkan semua suara itu dengan jelas, sangat jelas. Terlalu jelas, hingga membuat tubuhku seperti mati rasa.


[Cint, Cinta? Jangan salah paham dulu, Cin ....] Panggilan laki-laki itu tak kudengarkan lagi. Kurebahkan diri dalam gemetar seluruh tubuh ini.


----


[Kubiarkan cahaya bintang memilikimu,


kubiarkan angin yang pucat


dan tak habis-habisnya gelisah


tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu


entah kapankah bisa kutangkap ….]


Puisi Sapardi Djoko Damono yang dilagukan oleh Ari Reda mengalun sendu, sebelum akhirnya kututup sambungan telepon dengan Mas Hadi. Diriku melayang, jiwaku hilang.

__ADS_1


“Tut tut tut”


__ADS_2