
“Cinta ini istrimu, Hadi. Ibu ini perempuan, tahu bagaimana perasaannya. Kamu ini laki-laki, pemimpin untuk keluargamu. Kalau kamu tidak mau menikahi Nofi, kamu tidak perlu memberi perhatian, juga kepada anaknya.”
Mas Hadi diam tanpa banyak bicara. Ia duduk terpekur menunduk tanpa gerakan, terpaku. Laki-laki itu sama sekali tak berani menatap wajah Ibunya.
“Untuk Cinta, menantuku. Kalau suamimu ada yang salah, tegur, ingatkan.”
“Sudah saya tegur, Bu. Tapi Mas Hadi kalau ditegur marah.” Sisa isakku masih terdengar. Biar saja Ibu tahu kelakuan anaknya.
Malam itu, Ibu mertua menginap semalam di rumah kami. Hingga larut, beliau menasihati anak laki-lakinya yang tak berkutik di dadapan sang Ibu. Sesekali, aku berteriak histeris kehilangan kontrol setiap kali Mas Hadi mengingkari apa yang terjadi.
“Benar kamu yang menginginkan anak perempuan?”
“Mboten, Bu. Tidak.”
“Lalu apa maksudmu marah-marah kepadaku ‘makanya punya anak perempuan’ Mas?” pekikku tertahan mendengar pengakuannya.
Laki-laki itu tak bisa menjawab pertanyaan itu. Mulutnya tak sedikitpun mengucap kata-kata yang selama ini dilontarkan untukku. Karena ada Ibu yang siap mendengarkan kesaksian anaknya, Mas Hadi tak mengakuinya.
“Trus kenapa kamu memberi tahu kalau aku sakit kanker? Supaya bisa menikahinya? Tanpa aku sakit pun, kamu bisa menikahinya. Ditanya mau menikahinya, jawab tidak. Tapi melakukan ritual dengan fotonya.”
Kemarahanku sudah mencapai ubun-ubun. Saat bersamaku ia mengakui dan dengan jelas mengatakan ingin menikahi Nofi. Ketika ada Ibu, kenapa tiba-tiba jadi berubah?
Wajah Ibu terlihat letih menasihati Mas Hadi. Perempuan sepuh itu kehabisan kata membujuk Mas Hadi untuk bicara yang sebenanya. Tangannya masih dengan lembut mengusap kepalaku yang tergeletak di pangkuan.
“Besok, Ibu pulang. Kalau kamu menyakiti Cinta lagi, kamu boleh pergi menemui perempuan yang kamu rasa lebih baik dari istrimu. Biarkan Cinta dan anak-anak menjadi tanggungan Ibu di rumah ini. Jangan pulang ke sini lagi.”
__ADS_1
Aku terkejut mendengar kata-kata Ibu yang terakhir. Merasa puas dengan pembelaan beliau, tapi bukan maksudku seperti itu. Tak apalah, biar Mas Hadi tahu akibatnya nanti bila terus mendekati Nofi.
Malam itu Ibu tidur di ruang tengah. Aku menemani beliau sebentar sebelum masuk ke kamar. Perempuan yang telah hampir lima belas tahun menjadi Ibu bagiku.
Mengapa aku sangat dekat dengan beliau? Bagiku, sebagai wanita kedua yang hadir dalam kehidupan Mas Hadi, aku harus tahu posisi. Suamiku bisa sekolah dan sukses karena ayah dan ibunya, bukan karena aku. Jadi tugasku, meraih ridho ibu dan ayah mertua agar pernikahan kami penuh berkah.
Sepanjang pernikahan kami, aku tak pernah memprotes seberapa banyak uang yang diberikan Mas Hadi untuk orang tuanya. Bahkan aku selalu mengatakan, “dahulukan Ibumu, dahulukan Ayahmu. Jika mereka bahagia, doa dan keridhoan kepada kita, maka rejeki akan mudah kita dapatkan.” Bahkan ketika sedang kepepet tak ada uang, aku rela menjual perhiasan untuk memenuhi kebutuhan ayah dan ibu mertua.
Apa yang aku lakukan bukan tanpa alasan. Alasan pertama, ketiga anakku laki-laki. Aku ingin, menantuku nanti juga memeperlakukan aku, sebagaimana aku memperlakukan Ibu. Alasan kedua, jika terjadi masalah, aku bisa dengan mudah menyampaikan kepada Ibu agar beliau menasihati putranya. Jadi, itulah manfaat seorang istri mendahulukan Ibu mertua bagiku.
Seperti saat sekarang, Ibu akan dengan mudah membelaku dari pada anaknya sendiri. Karena aku yakin, Ibu tahu bagaimana perasaanku. Bukan sesuatu yang di buat-buat. Bersyukurnya aku memiliki Ibu mertua seperti beliau.
“Saya ke kamar dulu, Bu.”
Sebelum ke kamar, kuintip dulu anak-anak di kamar masing-masing. Adi sudah tidur di kamar sendiri. Kamarnya terletak di bagian paling depan rumah sebelah ruang tamu. Ivan dan Izal menempati kamar besar berdua. Ivan belum tidur. Izal sudah pulas dalam mimpi. Kumatikan lampu kamar sebelum berpesan, “berdo’a dulu, Nak.”
“Kamu itu, sukanya ngadu-ngadu sama Ibu. Ga berpikir apa, Ibuku sudah tua,” gerutunya dengan muka sebal. “Kalau ada masalah, selesaikan berdua. Bukan mengadu ke orang tuaku.”
Aku tersenyum penuh kemenangan. “Mas, bukankah aku sudah menasihati, dan memberi jalan. Mas ingin anak perempuan, aku beri solusi. Tapi Mas tidak setuju. Aku tidak suka Mas merhatiin Nofi dan anaknya, tapi Mas tidak mau menjaga perasaanku. Jadi, aku sudah tidak bisa menasihati lagi.” Kusampaikan semua perasaanku kali ini, tanpa marah. Kucoba menahan hati, agar tidak terdengar ribut oleh Ibu mertua.
Esok harinya Ibu pulang sambil tak bosan memberi petuah kepada anak lelakinya. “Kamu laki-laki. Tugasmu menjaga anak dan istri. Bukan jelalatan lihat wanita lain.”
Sebenarnya, aku ingin tertawa melihat wajah Mas Hadi yang bagai kerbau di cucuk hidung di hadapan ibunya. Hilang semua marah dan gusarnya terhadapku. Aku tak peduli. Kewajiban seorang Ibu menasihati anak laki-lakinya, jika istri sudah memberi nasihat tapi tidak digubris.
Semenjak kedatangan Ibu, Mas Hadi tak membahas soal Nofi dan Caca lagi. Namun ada yang berbeda dengannya. Sekarang, Mas Hadi sering pulang terlambat. Setiap ditanya, ada pekerjaan yang belum selesai. Apalagi saat jabatannya naik, tanggung jawabnya semakin besar.
__ADS_1
“Tanya saja sama Pak Kemal kalau tidak percaya.” Begitu ia selalu berkilah setiap kutanyakan.
Sabtu itu, Alfin dan Caca bermain ke rumah seperti biasa. Nofi menitipkan anak-anak itu kepada mantan suaminya, kemudian bergegas pergi. Alfin dan Caca bermain bersama anak-anak kecil di gang. Aku mencoba memendam gelisah melihat kanak-kanak bermain di depan rumah. Tak sepatutnya kutunjukkan rasaku.
“Mas aku ke pasar dulu,” pamitku kepada Mas Hadi yang masih tidur-tiduran di kamar. Hari Sabtu ia libur bekerja.
Mas Hadi tak menoleh, hanya menjawab, “hem," lalu melanjutkan kegiatannya dengan ponsel.
Hari Sabtu sangat ramai di Pasar Ngaliyan. Masyarakat Semarang dan sekitarnya sebagian besar pegawai dan buruh pabrik. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari di mana mereka bebas dari pekerjaan dan bisa berbelanja dengan leluasa. Seperti aku, lebih suka belanja di hari Sabtu.
Setelah belanja aku pulang. Anak-anak yang tadi bermain sepeda dan bola, sudah tidka terlihat. Alfin dan Izal bermain game di ruang tengah. Ivan memilih membaca buku. Saat masuk ke kamar, tak kudapati suamiku.Baru kusadari saat masuk ke garasi, mobil tidak ada.
Kutekan nomor telepon Mas Hadi untuk menanyakan kebereadaannya dan ingin dimasakkan apa siang ini. Tak ada jawaban. Lima kali kuulangi, tak ada tanda-tanda panggilanku terjawab.
Saat makan siang, Alfin dan Izal makan siang bersama di ruang tengah. Tetap kuperlakukan Alfin sebagaimana biasanya. Anak lelaki bertubuh kurus itu, tergagap menjawab pertanyaanku.
“Lho, Caca ke mana Al? Ke rumah Ayahmu?” Tak kudapati gadis kecil itu bermain bersama kakaknya.
“Eh, itu Tante. Pergi sama Om Hadi pergi ke tempat Bunda reuni.”
Kutatap sekali lagi mata Alfin, “Ke mana Al?”
“Sama Om Hadi Tante, nyusul Bunda.”
“Kamu tidak bohong?”
__ADS_1
“Iya tadi ngajak Al, tapi Al ga mau. Jadi ya Caca sendiri.” Suara polos anak laki-laki itu membuatku tegang.
Aku langsung berdiri menuju kamar dan menelpon Mas Hadi. Sejak tadi belum juga memberi kabar. Jam makan siang sudah terlewat dan ia belum pulang.