Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Tak Sengaja


__ADS_3

“Yang harus kita lakukan pertama kali adalah, membuat Nofi lemah.” Sherly menemuiku di suatu siang yang sejuk.


Kami berdua duduk di teras rumah. Anak-anak belum pulang dari sekolah. Wanita cantik itu singgah usai pulang dari pasar. Meskipun suka keluyuran ke pasar membeli bahan makanan untuk warungnya, Sherly tetap terlihat cantik dengan penampilannya.


Angin menggoyangkan pucuk-pucuk bunga. Langit Semarang yang teduh tak seterik biasanya.


“Kamu makan yang banyak, lho. Ingat, kamu harus seksi. Jangan kalah sama Nofi. Kamu lebih cantik dari dia. Apa dia cantik? Enggak sama sekali. Dia terlihat cantik karena kamera. Karena make up.”


“Apa harus begitu?” Kuhela napas dengan bimbang. Seksi? Cantik? Make up? Apa hanya itu yang dicari kaum laki-laki?


“Dengar, Cin. Kalau dilihat dari bentuk wajah, kamu lebih cantik dari Nofi. Nofi itu cantik polesan saja. Bukan cantik alami kayak kamu. Kamu cantik, memang aslinya cantik. Tapi kita percantik lagi dirimu, biar Nofi kejang-kejang melihatmu tidak hancur saat ia ingin menghancurkanmu.”


“Aku harus bagaimana?”


“Kamu ini di posisi yang benar masa lemah. Dia yang jelas-jelas tidak pada tempatnya saja berani. Masa kamu kalah sama orang yang salah? Jadi kamu harus berani!”


“Iya, tapi kalau ngadepin dia, rasanya ku ini tidak ada apa-apanya. Dia hebat, punya segalanya. Cantik, pintar, hebat.”


“Kamu, sama orang salah dan dzalim aja cemburu? Hey, dia tak pantas dicemburui. Orang tidak baik, dicemburui. Cemburu itu sama orang cantik, tapi bisa menjaga dirinya. Bukan sama orang yang menjual diri untuk laki-laki. Orang hebat tak aan menjatuhkan orang lain demi kepentingan dirinya.”


Betul juga kata Sherly. Cemburu kok, sama Nofi. Perempuan yang mengobral dirinya untuk dipeluk dan dibawa laki-laki yang bukan mahramnya, tidak pantas untuk dicemburui. Wanita yang menjual dirinya untuk laki-laki, bagai kerikil dipinggir jalan yang mudah diambil lalu disepak begitu saja. Bagai bunga plastik imitasi berwarna-warni menggiurkan, nyatanya bukan bunga asli beraroma surga.


Gemas rasa hati ini mengingat perempuan yang berbuat seolah tidak ada apa-apa di depanku saat bermain kerumah, ternyata di belakang Nofi pergi bersenang-senang dan bergembira dengan suamiku. Jadi Mas Hadi yang mengajaknya poligami? Kalau diajak poligami dia tidak mau, lalu maunya apa kok tetap pergi dengan suamiku?


“Trus aku harus gimana, Sher,” tanyaku lemah.


Setiap bergerak, yang kuingat foto-foto menjijikkan itu. Setiap kali membuka mata, bayangan senyum yang menyurutkan langkahku bertahan. Ketika bernapas, sesak rasa hati ini oleh bentakan dan cacian dari suamiku sendiri. Betapa gembiranya iblis dan setan saat seorang suami marah dan mencaci maki penuh kebencian kepada sang istri.

__ADS_1


Mengalahkan iblis? Apa aku bisa membuat iblis hancur? Bagaimana menghancurkan musuh yang telah lama bercokol bahkan merajalela memasuki rumahku tanpa rasa berdosa sedikitpun telah menyakiti hati sahabatnya sendiri? Sahabat yang selama ini membantu, menyayangi, menasihati, dan merawat anak-anaknya bila sedang repot.


“Yuk kita jalan, biar otakmu fresh dikit,” usul Sherly tiba-tiba.


“Jalan ke mana?” Sungguh, tubuhku rasanya lemas sekali tanpa tenaga.


“Cuci mata, biar ga mikir kelakuan suami kamu yang ga jelas itu.” Sherly terlihat sebal dengan Mas Hadi.


“Sebentar saja tapi ya, nanti anak-anakku pulang sekolah tidak ada yang menjaga.”


“Sekalian aja jemput anak-anak? Gimana?”


Ada rasa ragu menggelayut di hati. Menjemput anak-anak dalam kondisi tubuh masih belum bisa tegak berdiri dengan baik? Tapi saran Sherlyy untuk menyegarkan pikiran ada baiknya juga. Semenjak hati tersiksa dengan perlakuan Mas Hadi, aku lebih sering mengurung diri.


Malas keluar, tidak nyaman bertemu orang, minder, dan perasaan seperti menjadi orang yang paling tidak baik dalam segala hal. Semua perasaan negatif itu muncul menyergap tiba-tiba tanpa rasa bersalah, membuatku menjadi orang paling bersalah dengan semua keadaan yang terjadi. Menangis dan bersedih karena merasa telah membuat runyam kondisi rumah tanggaku ini. Apa benar aku yang salah?


“Mampir dulu ke ATM, ya, Sher.” Kuminta wanita Indo-Spanyol itu berhenti di ATM dekat Pasar Ngaliyan.


Sherly menepikan mobil. Aku keluar sambil mengenakan masker dan sarung tangan. Kondisi virus Corona yang tidak terdeteksi berada di mana, tubuhku yang ringkih tanpa energi, membuatku semakin waspada. Sesampai di booth ATM, segera kuambil sejumlah uang untuk keperluan seminggu ini.


“Oh, Hai Nof? Apa kabar?” sapaku begitu keluar dari ATM.


Bagaimana tiba-tiba ada Nofi yang sedang mengantre masuk ke dalam booth?


Detak jantung di dada ini melonjak-lonjak dalam tempo yang tidak stabil. Gemuruh yang menyesakkan jalan udara, membuatku sesak bernapas. Bertemu dengan wanita yang menghendaki aku bercerai dengan Mas Hadi dalam keadaan yang tidak sengaja, membuatku berdebar tak menentu.


Wanita itu tidak menjawab. Oh, mungkin karena aku memakai masker. Ia tak bisa melihat wajahku. Tapi masa tidak mengenali suaraku?

__ADS_1


Nofi masuk ke dalam booth dengan tergesa. Kulihat ia masih menatapku dengan sinis dan bingung. Ia bahkan tak menjawab salamku.


Masa tidak mengenali sahabat sendiri? Oh, aku lupa. Tadi aku memakai mobil yang baru dibeli Mas Hadi. “Akan kuberikan apapun yang kamu mau, asal kamu bersikap baik terhadap Nofi,” katanya saat menyerahkan kunci mobil berwarna merah itu.


“Sher, ada Nofi di ATM!” jeritku dari balik jendela.


“Kamu masuk lagi ke ATM, tunjukkan kamu tidak lemah!” perintah Sherly kilat.


Aku berjalan menuju pintu ATM untuk yang kedua kalinya. Padahal tadi sudah ambil uang, masa mau ambil lagi? Tidak apa-apa. Kuat. Harus kuat. Tidak boleh lemah. Hebat, aku lebih hebat darinya. Wanita pezina tak layak dicemburui.


Nofi masih di dalam. Lama sekali, ya? Apa dia menungguku pergi? Aku mematung di depan booth. Wanita itu tak segera keluar. Kakiku kesemutan karena terlalu lama berdiri.


“Hai, lama tidak ketemu. Kemana saja?” sapaku saat ia keluar.


Perempuan yang mengenakan pakaian bahan jersey berwarna orange itu menatapku tanpa suara. Pakaiaan yang dikenakannya membentuk lekuk tubuh setiap kali ia bergerak. Kerudung motif bunga berwarna merah menutupi kepalanya.


Ia terus melangkah menjauhi. Langkahnya tergesa memasuki mobil.


Aku masuk kedalam booth sebentar lalu keluar lagi untuk mengikutinya, tanpa mengambil uang. Kulihat ia masuk ke dalam mobil, yang kurasa itu bukan mobilnya. Sebuah mini van berwarna hitam telah menunggu. Ia masuk ke bagian depan samping kursi pengemudi.


Mobil itu di kemudikan oleh seorang laki-laki. Kuhapal dengan baik nomor polisinya. Tapi aku tak bisa dengan jelas melihat lelaki yang berada di dalamnya.


Dengan napas terengah-engah aku masuk ke mobil. Nampak olehku, Sherly sedang serius dengan kamera ponsel, membidik setiap gerakan Nofi dalam lensanya. Aku tersenyum melihat aksinya. Sherly, sahabat yang dikirim Allah untuk membantu melawan Nofi.


“Ini, nomor mobilnya. Ini fotonya. Lihat nih, ekspresinya saat melihatmu. Kaget dia kan?”


Aku mengamati setiap slide foto di ponsel Sherly dalam keringat dingin dan gemetar. Tak percaya mampu menghadapinya dengan kondisi setenang itu.

__ADS_1


__ADS_2