Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Pengabdian


__ADS_3

“Ibu, hati-hati!” teriak anak bungsu yang duduk di sebelah kiriku.


Terkejut dengan teriakan anak laki-laki berambut ikal itu, kuinjak pedal rem dengan paksa. Laju mobil baru berhenti beberapa meter setelah garis marka, tepat di tengah perempatan jalan. Setelah sadar kuhapus air mata dalam gemetar.


Suara klakson membahana bersahutan. Pekikan dan raungan mesin yang terpaksa berhenti mendadak mengagetkan diri. Tubuhku mematung beberapa detik.


Kendaraan dari arah berlawanan dan yang akan membelok berhenti tepat di hadapan mobil kami. Umpatan dan caci maki keluar dari mulut-mulut mereka, terjulur di kaca jendela yang terbuka.


“Guoblok! Yen ra iso numpak, ojo ning ndalan gedhe!,” seru pengemudi mobil pick-up yang mengangkut barang-barang elektronik.


‘Bodoh! Kalau tidak bisa mengemudi, jangan di jalan raya’, begitu kira-kira artinya. Sangat kasar terdengar olehku. Belum lagi umpatan dari pengemudi lain yang terpaksa berhenti mendadak, membuat merah telinga ini.


Aku hanya bisa mengucap maaf saat membuka jendela. Kuangsurkan wajah senyum penuh rasa bersalah. Ini bisa sangat berbahaya bagi pengemudi lain. Bersyukur mereka masih bisa mengendalikan laju kendaraan. Jika tidak, mungkin aku sudah tidak bisa menangis lagi.


Setelah situasi terkendali, mereka menyingkir untuk memberiku jalan. Namun, umpatan itu masih terdengar sayup-sayup. Kesal dengan semrawutnya kendaraan, mereka saling menyalahkan aku. Kulanjutkan laju kendaraan pelan-pelan dan menepi untuk menenangkan hati.


“Allahu Rabbi, terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menghirup napas lagi,” ucapku pelan.


Kesempatan hidup langka yang harus kugunakan dengan baik. Tak bisa kubayangkan jika kendaraan yang berseliweran tadi tak bisa mengendalikan lajunya. Tentulah mobil mungil merah hadiah dari Mas Hadi ini sudah ringsek tertubruk oleh mobil-mobil itu.


Polisi yang bertugas di Pos datang dengan wajah ramah. Laki-laki berseragam coklat itu menghampiri sambil mengunyah makanan. Mulutnya tak berhenti bergerak. Ia mengetuk pintu kaca meminta agar kubuka.


“Selamat pagi, Bu. Ibu telah menerobos lampu merah. Tolong tunjukkan SIM dan STNK-nya,” perintah polisi bernama Raharja ramah. Nama itu terbaca dari seragam yang dikenakannya.


Dengan kondisi masih gemetar, kubuka tas untuk mencari berkas yang diminta oleh polisi tersebut. ‘Duh! Kemana perginya dua benda itu?’ runtukku dalam hati. Saat sedang terburu-buru begini, aku tak menemukannya.


“Saya tunggu di Pos, ya, Bu.” Laki-laki itu melangkah menuju Pos Polisi setelah SIM dan STNK kuberikan.

__ADS_1


Aku menyusul ke Pos untuk menyelesaikan masalah. Hati yaang tak menentu, menyebabkan langkahku gontai. Marah, kecewa, dan kini rasa terkejut karena hampir saja nyawa kami dalam bahaya.


Izal kutinggalkan di dalam mobil. Wajahnya pasi. Kuminumkan air putih agar ia kembali tersadar dari keterkejutanya."


“Ibu ditangkap polisi?” tanyanya takut.


“Tidak apa-apa, ibu yang salah. Adek disini dulu, tunggu Ibu, ya!” jelasku memberi pengertian.


Wajah polos itu mengangguk. Tuhan! Aku masih bisa melihatnya tersenyum, meski cemas tak bisa ia sembunyikan dari sorot mata.


Aku memilih opsi untuk sidang dua minggu lagi setelah diberikan pengertian UU lalu lintas apa yang telah kulanggar. Memang aku yang salah, mau membantah bagaimana? Lagi pula tak ingin mempanjang masalah. Aku hanya ingin sampai di rumah, dan menenangkan diri.


Usai urusan dengan polisi, aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Jalan Siliwangi ke Jakarta padat kendaraan dari arah Surabaya. Truk-truk besar melaju dalam kecepatan sedang. Bus antar kota sepi tanpa penumpang.


“Ibu, baik-baik saja, kan?” tanya lelaki bungsuku setelah tiba dirumah.


Sebuah nada pesan masuk ke ponsel terdengar. Benda pipih yang tergeletak di meja rias samping tempat tidur itu hanya kulirik sekilas. Aku ingin menenangkan diri.


Beberapa saat kemudian telepon berdering. Ah, mungkin Mas Hadi. Malas mengangkat, kubenamkan wajah ke tumpukan bantal, lalu berteriak sekencang-kencangnya. Semoga sakit dan sesak terlampiaskan di balik benda yang terbuat dari busa itu.


Dering telepon terdengar berkali-kali. Terpaksa aku bangkit dan melihat siapa yang memanggil. Ternyata pihak Rumah Sakit mengabarkan proses operasi akan segera dimulai, tapi tidak ada anggota keluarga yang menandatangani berkas tindakan.


[Tolong bawakan pakaian ganti, aku sudah ttd surat tindakan. Mau masuk ruang operasi, nunggu dokternya.] pesan dari Mas Hadi.


Aku mendesah panjang. Astaghfirullah! Aku sudah berjanji fokus melakukan tugas dan kewajiban terhadap keluarga dan suami. Baru menyadari kehadiran setan yang tidak menyukai manusia sedang beribadah.


Melayani suami seberapapun sakitnya, akan ditulis sebagai sebuah ibadah yang sangat besar pahalanya. Hanya satu makhluk yang tidak menyukai hal tersebut. Iblis tidak menyukai ketenangan sebuah keluarga. Tipu muslihat dan talbis yang dilakukan setan ini, memang tugas utamanya membuat keributan di dalam rumah tangga.

__ADS_1


Menyesal rasanya telah membuat setan bergembira saat aku marah terhadap laki-laki yang masih mengakui sebagai suamiku.


Siapa setan itu? Dia adalah wanita yang ingin aku sakit hati dan meminta cerai kepada suami, atau menggoda Mas Hadi untuk menceraikan aku dan menikah dengannya. Setan berwujud manusia yang melakukan tugas utamanya, mencerai beraikan suami dan istri. Ia yang akan bertepuk tangan meriah, bila aku dan Mas Hadi bertengkar.


Mas Hadi masih pulang ke rumah. Masih memberikan nafkah lahir, meski nafkan batin belum bisa terpenuhi dengan baik karena kondisiku yang masih belum selesai berobat akibat bakteri ‘Trikomonas’.


‘Syukuri yang sedikit, Cinta. Bersyukurlah! Masih banyak wanita lain yang lebih menderita darimu. Mereka yang mengalami KDRT, terancam jiwanya. Ada yang ditinggal suami pergi tanpa kabar. Ada yang tak dinafkahi. Kamu masih mendapatkan hakmu, meski tak seusai keinginanmu. Bersyukurlah, Cinta,’ pengingat diri yang terus kubisikkan dalam hati. ‘Jangan menuntut atau bahkan mendikte Allah memenuhi keinginanmu. Penuhi hak Allah, maka hakmu akan datang dengan sendirinya.’


Bersyukur, karena masih ada yang jauh lebih tidak beruntung dari pada keadaan yang aku alami. Aku masih bisa beribadah dengan tenang, masih bisa mengurus anak-anak, juga masih diberi kesempatan mengabdi kepada suami, meski keadaannya tidak baik.


Kutenangkan hati dengan tilawah seperti biasa, penghibur dikala hati luka. ”Dan (ingatlah juga), tatkala Robmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. [QS.Ibrahim: 7].


Maafkan aku ya, Allah. Bila tak mensyukuri nikmat yang sedikit ini. Kufur terhadap kebaikan suami, walau hanya bisa dihitung dengan jari. Alhamduillah ‘ala khulihal, bersyukur di setiap keadaan. Karena pasti ada kebaikan dari Allah, di balik semua musibah dan sakit yang kualami.


Astaghfirullah. Mengapa aku mengikuti keinginan setan untuk marah kepada suamiku? Untuk apa aku marah terhadap manusia yang tidak bisa membedakan mana yang haq dan yang bathil? Tak ada gunanya. Lebih baik kembali fokus lakukan kewajiban.


[Sebentar, ya, Mas. Aku siapkan dulu]


Kembali ke Rumah Sakit, Mas Hadi berada di ruang tunggu operasi. Tubuhnya sudah rapi dengan balutan kain hijau. Perawat yang membantu dari ruang perawatan hanya bisa mengantar hingga ke pintu masuk.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, kami berdo’a bersama. Laki-laki itu menengadahkan tangan untuk berdo’a. Kutatap ia penuh harap, agar hidayah datang bersama sakit yang di derita.


Ada yang hangat, di hatiku. Sesuatu yang meronta ingin memberontak dan pergi meninggalkan laki-laki yang telah menghancurkan diri ini. Aku tahu, ini bisikan iblis. Ia tak ingin aku berbuat baik dan mengabdi kepada suamiku.


Perlahan kuantar dengan tatap mata tubuh lemahnya masuk ke dalam ruang tindakan. Do’a terbaik yang bisa kupersembahkan kepada ayah dari anak-anakku.


Mendo’akan seseorang yang telah menyakiti hati, sungguh sangat berat kulakukan. Apalagi ia masih juga tidak mengakui apa yang telah diperbuatnya, telah menyebabkan hancurnya rasa percaya diri.

__ADS_1


Mengingat sebuah petuah, manusia terbaik adalah ia yang mendoakan kebaikan bagi orang yang telah menyakiti dan mendzaliminya. Insan yang paling tinggi derajatnya adalah ia yang mampu memaafkan, dalam keadaan yang tertekan. Allah ampuni kami.


__ADS_2