Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Another Love Song


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit sore itu, badanku sudah terasa sedikit segar. Meski aku belum bisa menghilangkan rasa jengkelku kepada Mas Hadi, aku mencoba fokus membuat fisikku sehat terlebih dahulu. Aku masih menginginkan hamil anak perempuan. Tak apa jika Mas Hadi tahu aku tidak minum pil kontrasepsi lagi.


Sehari setelah pulang dari rumah sakit, aku mengalami haid. Alhamdulillah, semoga kista fungsional yang kemarin terindikasi oleh Dokter Melisa, bisa luruh bersama haidku. Minggu depan jadwal kontrol ke Dokter Titin sekalian memeriksa ulang.


Esoknya usai waktu Asar, Nofi dan tetangga yang belum sempat menjenguk di rumah sakit datang ke rumah membawakan kue dan makanan kecil. Padahal, rumah Nofi sudah tidak di kompleks ini lagi, kenapa dia rajin sekal datang ke rumahku? Meski berbagai pertanyaan menghampiri, tak mungkin aku bermuka masam di hadapan banyak orang.


Nanti saja aku main sendiri ke rumahnya dan menanyakan apa maksudnya informasi yang mengabarkan kalau aku sakit kanker, dan dari mana ia mendapatkan informasi tersebut.


Jujur, aku sangat terganggu dengan hal itu. Kenyataannya memang aku sakit kanker. Jadi untuk apa desas-desus aku menderita kanker sampai ke Nofi. Sherly belum juga mengirimkan berita mengenai Screen Shoot percakapannya dengan Nofi tempo hari.


“Sehat, nggih, Bu Cinta. Tidak usah terlalu banyak pikiran,” kata bu Dar, wanita tua yang tinggal tepat di samping rumahku. Bu Dar dianggap sebagai sesepuh di komplek ini karena usianya jauh di atas penghuni- penghuni baru seperti aku.


“Matur sembah nuwun, Eyang.” Kubalas pelukan beliau saat pulang.


Sherly dan Nofi tinggal sebentar sementara yang lain sudah pulang. Saat itu, barulah muka tersenyum yang tadi aku suguhkan kepada tetangga yang lain hilang. Kehadiran Nofi di rumahku sudah tak seperti dulu lagi saat kami bersahabat baik. Sekarang, setiap katanya menyakitkan hatiku. Apakah hatiku yang sakit karena iri dan benci? Apakah hatiku yang kotor karena cemburu? Bukankah hal yang wajar bila seorang istri cemburu, bila sang suami dekat dengan wanita lain?


Sherly membuka-buka dagangan yang baru datang. Baju gamis bermerek juga tas branded yang baru saja kuambil dari supplyer.


“Waah, ini bagus, Cin! Berapa yang ini?”


“Gamis aja empat ratus, Sher. Kalau sama khimarnya, enam ratus lima puluh deh buat kamu. Aku kemarin ambil satu yang warna salem.” Meski belum pulih benar, kalau bicara soal dagangan hatiku jadi gembira.


Soal jualan gamis, aku menyesuaikan dengan selera pembeli. Ada yang satu set harga tiga ratus, hingga yang paling mahal merek terkenal satu jutaan. Tergantung yang pesan saja. Kebetulan merek yang dipegang Sherly ada yang memewan warna merah marun, sedangkan beli ke supllyer minimal harus tiga setel.


“Aku ambil yang krem aja ini ya, Cint. Bayarnya besok. Tadi aku ga bawa uang. Wong niatnya cuma nengokin kamu.”


Aku tersenyum mendengar kata-kata Sherly. Sudah biasa kami bertransaksi seperti ini, karena kami saling mengenal. Sering pula aku mengambil dagangan Sherly, membayar esok harinya.


Nofi membolak-balik jualan lainnya. Matanya menatap barang-barang itu dengan sinis. “Mahal, banget sih, Cin! Masa barang kayak gini segitu harganya. Ga ada yang murah?” Ia melihat tas yang tertulis harga satu juta lima ratus.


Tas warna gading itu memang istimewa, seistimewa harganya. Ada yang memesan tas model serupa dengan warna merah, jadi aku membeli 3 buah dengan warna yang berbeda. Siapa tahu ada yang ingin membelinya.


“Ya, ada harga ada rupa,” jawabku kalem.


Nofi pulang terlebih dahulu setelah anaknya menelpon menintanya segera pulang. Sherly memastikan Nofi sudah pergi dengan tatapan matanya. Kulihat ada yang aneh dengan tingkah Sherly.

__ADS_1


“Kamu kenapa, sih?”


“Kamu hati-hati saja sama Nofi, Cint!”


“Kamu kok menakutkan begitu sih, Sher. Ada apa memangnya?”


Sherly segera membuka ponselnya dan menunjukkan chat yang kemarin belum sempat dikirimkannya kepadaku. Hatiku terasa sesak. Ada rasa tidak enak. Perutku terasa mulas. Lidahku kelu tak sanggup berkata. Tanganku gemetar menggeser layar monitor ponsel Sherly. Sebuah screen shoot yang dikirim oleh Nofi kepada Sherly kubaca dalam kondisi pandangan buram. Embun diujung kelopak mata telah terbentuk menyiratkan perihnya hatiku yang terluka.


[Mas Hadi, Cinta sakit apa, sih sebenarnya?]


Sebuah foto USG dengan namaku terkirim ke nomor Nofi. Hmm, ini alasannya kenapa Mas Hadi meminta foto itu. Untuk dikirim ke Nofi.


[Kanker, Dik. Sudah kubawa ke spesialis onkologi. Mungkin aku tidak akan bisa punya anak perempuan lagi dari Cinta.]


[Oh, ya nggih sabar, Mas. Namanya rejeki, Allah yang mengatur.]


[Iya, Dik. Sudah ada Caca yang kuanggap anakku sendiri. Terima kash ya, Dik. Mengzinkan Caca dekat denganku.]


[Nggih, Mas. Anggap saja anak sendiri. Wong sama ayahnya saja tidak bisa dekat. Malah senang dia dekat dengan Mas Hadi. Dia ingin punya ayah seperti Mas Hadi, yang sayang kepadanya. Tidak seperti Ayahnya.]


[Iya, Dik. Aku sayang Caca, juga sayang Dik Nofi.]


Satu demi satu bulir bening terasa hangat di pipi ini. Benarkah isi pesan itu? Benarkah itu ungkapan Mas Hadi kepada Nofi.


Sherly mendekat. Wajah cantik blesteran Spanyol-Semarang itu terlihat sangat prihatin dengan kondisiku. Ia letakkan baju gamis yang tadi dipilihnya. Duduk tepat di hadapanku, ia mulai berbicara.


“Kemarin sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Nofi cerita. Pak Hadi mengejar-ngejar hendak menikahinya sebagai istri ke-2. Dia tidak mau di poligami, katanya. Cint. Kamu jangan lengah. Wanita ini jahat. Tak mau menjadi istri ke-2, padahal dia tahu Pak Hadi punya istri. Nofi mau menyingkirkanmu, Cint.”


Kelebat mimpi yang hampir purba dari ingatan datang kembali. Mimpi tentang Mas Hadi turun dari mobil di sebuah perjalanan, lebih memilih pergi dengan Nofi dari pada bersamamku. Laki-laki itu meninggalkanku sendiri di tengah jalan raya, dalamkendaraan yang sedang mogok. Kucoba menepiskan mimpi itu.


“Sher, tolong kirim ke aku ya, yang tadi.”


***


Menjelang Magrib Mas Hadi pulang dari kantor diantar oleh sopir. Kusuguhkan teh dingin dan gorengan kesukaannya. Wajahnya cerah laksana purnama. Ia sibuk dengan ponselnya, tersenyum sendiri membalas chat dan membuka-buka medsos. Aku melihat semuanya dalam posisi duduk diam di kursi ruang tengah.

__ADS_1


Televisi sudah dimatikan oleh Izal. Ia dan kakak-kakaknya bersiap ke masjid. Mas Hadi? Ia memilih menonton televisi dari pada ke masjid.


Ketika malam menjelang dan anak-anak sudah selesai mengerjakan tugas, kubacakan cerita menjelang tidur seperti biasanya. Karena sekarang usia mereka sudah tidak balita lagi, buku ceritanya sudah berganti genre. Bukan lagi cerita binatang, tapi cerita anak-anak. Kadang mereka lebih memilih cerita misteri. Setelah kupastikan mereka terlelap, aku ruang tengah menyusul Mas Hadi yang sedang menonton film.


“Mas, bisa jelaskan kepadaku, ini apa?” kutunjukkan screen shoot yang dikirim Sherly.


Mas Hadi meraih ponsel yang kuulurkan. Ia membaca semua pesan yang tertangkap oleh layar itu. Matanya membuka semakin lebar. Napasnya memburu dengan irama tak beraturan. Wajahnya berubah saga.


“Ya, memang aku menyayangi, Nofi dan Caca. Kamu mau apa?”


Kupandangi wajah yang telah lima belas tahun menemani hidupku. Wajah itu kini menemukan rona baru untuk memeriahkan jiwanya. Ia mendendangkan lagu cinta lain di hatinya. Aku hanya bisa menatap tak percaya, ia berani mengakui perasaannya terhadap Nofi. Ada yang teriris saat mengingat janji setianya, “kita akan bersama, hingga maut memisahkan.”


[Yen ing tawang ono lintang cah ayu


Aku ngenteni teka mu


Marang mego ing angkoso


Sung takok-ke pawartamu.


Janji janji aku eleng cah ayu


Sumedot roso ing ati


Lintang lintang'e wingi wingi nimas


Tresna ku sundul ing ati


Ndek semono janjimu disekseni


Mego kartiko keiring roso tresno asih


Yen ing tawang ono lintang cah ayu


Rungokno tangis ing ati

__ADS_1


Miraring swara ing ratri nimas


ngenteni bulan ndadari.]


__ADS_2