
[Mas, sampeyan kemana? Kutelepon sejak tadi tidak bisa,] pesan tak terbaca dan tak terbalas.
Tubuhku gemetar, mengingat jawaban yang diberikan oleh Alfin mengenai kepergian adiknya dan Mas Hadi. Mengantar Caca tempat acara Bundanya? Benarkah?
Serasa hilang arah, aku mencoba mengendalikan diri. “Huft! Huft! Huft!” Kutarik napas berkali-kali untuk menetralkan irama jantung yang berlarian tidak menentu ini. Keringat dingin membasahi telapak tangan.
“Sabar, Cinta. Istighfar. Biarkan ia yang tak memedulikan hatimu mencari dirinya. Kendalikan dirimu, Sayang. Anggap kamu adalah pengendali layang-layang, yang harus mengulur kadang harus menarik. Mungkin saatnya sekarang pelan-pelan, ulurkan pengikat itu perlahan-lahan.” Suara hati ini membelai penuh kasih sayang.
Pandanganku kabur oleh air yang terus mengalir dari kelopak mata. Apa maksud Mas Hadi mengantar Caca ke tempat ibunya? Gemas dengan perilaku suami sendiri yang sudah diingatkan tapi tidak peduli.
[Iya, sebentar lagi pulang.] Pesan jawaban Mas Hadi kuterima.
Saat kubaca dan memastikan posisi akun WA-nya sedang online, langsung kupencet tombol call. Tidak terjawab? Akun WA dalam posisi online, tapi tak menjawab panggilanku.
[Ga bisa jawab telepon. WA saja] balasnya.
[Mas di mana? Kok ga bilang aku, mau pergi kemana] tanyaku menuntut jawaban.
Terbaca tapi belum terbalas. ‘Mas Hadi sedang mengetik pesan’, begitu kubaca di layar monitor. Lama sekali menulisnya.
[Ada yang meninggal.]
Hanya untuk menulis ‘ada yang meninggal’, Mas Hadi membutuhkan waktu beberapa menit lebih lama. Aneh kan?
[Siapa?] Penasaran, ada yang meninggal tapi aku tidak tahu.
[Ibunya Rina, admin kantor.]
[Kenapa Mas ga menungguku? Bukankah Rina juga mengenalku?]
[Ya, besok diajak kalau pergi.]
[Kata Alfin, Mas Sama Caca ke tempat acara Nofi.]
Kutunggu pesan terbaca. Namun, harapan itu sia-sia. Pesan itu tak menemui tuannya.
[Mas, tolong di jawab. Tolong angkat teleponku, sebentar saja.]
[Aku sedang repot!]
[Mas ngapain ngurus Caca dan ibunya?]
[Siapa yang ngurus!]
__ADS_1
[Kata Alfin, Mas ngantar Caca.]
[Iya memang, Caca nangis minta pulang, trus kuantar ke ibunya]
[Ngapain mas ngurus dia. Kan ada ayahnya di depan. Anterin aja ke rumah ayahnya. Kenapa harus Mas yang antar?]
[Memang ga boleh, nganterin?]
Allahu Rabbi! Kenapa tak paham juga laki-laki ini dengan perasaanku.
[Mas pulang jam berapa? Kutunggu saja di rumah. Kita bicara.]
[Aku tidak mau pulang kalau cuma buat berantem.]
[Ya, mas jangan marah. Pasti ga berantem, angkatlah teleponku biar aku tenang.]
[Ga] jawabnya pendek.
Hampir saja aku melonjak membaca pesan balasan itu.
[Terima kasih.] Kututup percakapan di chat dengan hati yang gulana.
Menghadapi Mas Hadi selama lima belas tahun, dan laki-laki itu tidak bisa menghargai perasaan istrinya. “Huft!” kutarik napas lebih dalam. Semakin dalam, semakin perih.
agama-Mu,” desahku lirih.
Azan Asar telah berkumandang. Aku keluar kamar dan mengajak anak-anak juga Alfin yang masih bermain game untuk sholat. Setelah sholat, mereka bermain kembali. Suara canda dan tawa riang khas anak-anak.
Di dalam kamar, aku termenung menatap keluar jendela yang terhubung ke garasi. Kulihat di luar sana, sinar matahari sore berwarna orange menerpa daun rambutan yang rimbun.
Jelang Maghrib, suara Nofi terdengar berteriak memanggil Alfin dari luar. Klakson mobil ia bunyikan beberapa kali. Aku tak ingin menemuinya.
“Kakak cepat, sudah mau Maghrib!” suaranya nyaring terdengar memanggil anak laki-lakinya.
Huh!
*****
[Mas di mana? Sudah malam belum juga pulang?]
Senja telah melingkupi hari dengan bayang suram. Langit perlahan menelan siang yang terik dengan kelam. Semburat warna jingga di ufuk barat telah sirna. Suara binatang nokturnal berterbangan mengepakkan sayap hitam. Dunia telah malam.
Seperti sebelumya, pesan itu tak terbaca dan tak terbalas. Aku mendesah dalam gelisah.
__ADS_1
Menjelang Isya’ terdengar suara mobil memasuki garasi. Hatiku bimbang, bagaimana harus menyambutnya? Rasa muak, marah, benci dan sesak lebih mendominasi diri.
Setelah deru mesin berhenti, dan suara sensor tanda pintu mobil terkunci, terdengar suara pintu depan dibuka, dan ditutup kembali. Bahkan, ia tak mengucap salam saat masuk ke rumah. Kebiasaan yang tidak aku sukai selain kebiasaannya meninggalkan sholat.
Langkah kakinya mendekati kamar. Hati ini semakin kacau. Aku pura-pura masih duduk di atas sajadah melanjutkan dzikir petang. Ketika laki-laki itu memasuki kamar, aku sama sekal tak menyapa, bahkan rasa tak suka melihatnya ada d rumah ini mulai datang. Aku benar-benar membencinya.
“Begitu ya, kalau suami pulang. Didiemin?” ucapnya kesal.
Aku tetap menunduk di atas sajadah, tak menggubris kalimatnya. Dia saja tak peduli kepada hatiku, kenapa aku harus mengurusnya? Dia saja tak mau mengangkat teleponku. Kenapa aku harus menjawab pertanyaannya?
Mas Hadi ke luar dari kamar. Kudengar suara kran dari kamar mandi yang terletak disamping kamar berbunyi, mungkin dia mandi. Beberapa menit kemudian, kudengar suara piring dan sendok beradu. Ruang makan terletak tepat di depan kamar, suara gelas yang terisi air dari dispenserpun bisa kudengar dengan baik. Apa lagi televisi di ruang tengah sedang mati. Anak-anak sudah sibuk dengan pekerjaannya di kamar mereka sendiri.
Biasanya aku melayani semua kebutuhan Mas Hadi. Mulai dari menyiapkan pakaian ganti, handuk, mengambilkan makanan dan minuman. Saat kudengar ia makan dan minum di di ruang makan sendirian, ada yang kosong dalam jiwa ini.
Kemana perginya pengabdian yang selama ini aku niatkan untuk suamiku. Tak lagi ada rasa untuk melayani semenjak kutahu ia memiliki hati lain untuk di jaga. Seperti apa yang dulu ia katakan kepadaku,”bila kamu tak mau dipertahankan, buat apa aku mempertahankanmu?” apakah sudah tiba waktunya sekarang? Kalau dia tak mau memperhatiakn aku, buat apa aku melayaninya.
“Suami pulang, malah didiamkan saja. Istri macam apa kamu ini?” sungutnya saat masuk ke kamar.
Aku tetap dalam diam di atas sajadah, tanpa sedikitpun membalas kalimatnya. Tak kuhiraukan caci maki dan kata-kata kasarnya. Kuanggap saja tak ada dia di kamar ini.
“Kamu dengar tidak kalau aku pulang?” laki-laki itu mendekati tempat sujudku.
Aku tetap duduk, menunduk, tanpa banyak bicara. Kudengarkan setiap katanya dengan iringan dzikir tiada henti. “A’udzu bikalimatillahittammati min syarri maa khalaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.”
“Heh, kamu bisa jawab tidak?”
Tangan kekarnya mengangkat wajahku yang telah basah oleh air mata. Kututup mata ini tak ingin melihat rupa laki-laki yang tidak memahami perasaan istrinya. Kubisikkan mantra pengusir kejahatan dari mulut yang telah berbusa oleh air liur berulang-ulang.
“Sabar, Cinta. Tenang, Sayang. Tundukkan jin dasim yang menginginkan keluargamu bertengkar dan saling benci. Jangan biarkan iblis yang menyukai kalian ribut itu menang. Diam. Dengarkan saja. Jangan balas. Jangan balas, ya, Sayang. Diam, ya, Sayang.” Belaian suara lembut itu kuresapi dalam linangan air mata.
“Kamu dengar tidak?”
Kubuka mataku perlahan-lahan dan mencoba tersenyum kepadanya, meski mata ini telah basah. “Mas, aku tahu dan mendengar Mas pulang. Tapi aku sedang sholat dan berdo’a.”
“Tapi aku suamimu!”
“Mas, kamu suamiku, tapi saat aku membutuhkan, sampeyan tidak ada. Saat hatiku gundah dan gelisah, sampeyan tidak mau mengangkat telepon dan membalas pesanku. Jadi seperti katamu dulu, untuk apa aku mengejar-ngejar mencoba memperhatikanmu. Jika sampeyan tidak mau diperhatikan, aku tak masalah. Tapi jangan menuntut untuk melayani seperti biasa, ya. Aku tidak ingin menyapa dan melayani, karena aku tidak ingin marah kepadamu karena telah mengantar Caca menemui ibunya,” senyumku menjelaskan panjang lebar, agar dia paham mengapa mengapa tak melayani dan menjawabnya.
Wajah tirus laki-laki itu menampakkan ekspresi terkejut dan marah karena aku membalikan kata-kata yang dulu ia ucapkan. Matanya memerah tajam. Bibirnya gemetar menahan makian.
“Aku tidak mau Nofi menitipkan anak-anak di rumah ini lagi. Nanti aku sampaikan kepadanya,” tegasku kepadanya.
“Tidak usah, aku saja yang bilang!”
__ADS_1
“Maksudmu apa?”