
“Wah, asyik banget balas chatnya.” sapaku tak tahan.
Mas Hadi terkejut. Laki-laki itu tak menyadari kehadiran istrinya. Ia tidur di bed UGD, aku masuk dari arah yang tak terlihat olehnya. Dari bagian belakang kepalanya dengan menyibak kain pemisah bilik pemeriksaan.
Semenjak lima menit aku mengamati dalam diam. Melihat senyumnya yang mengembang bahagia dan tangannya yang lincah seolah berbicara langsung dengan pemilik akun itu.
“Apa, sih?” teriaknya kaget mendengar suaraku.
“Iya, seru banget chatingnya, sampe istri datang tidak tahu. HP dipakai mendaftar tidak boleh,” senyumku menyindir.
Mas Hadi meletakkan ponselnya, lalu diam seribu bahasa. Wajahnya yang putih semakin pucat tanpa seri. Rambut ikalnya yang sudah mulai panjang, terlihat berantakan. Senyum yang tadi mengembang, seketika sirna.
“Coba, Mas pikirkan. Saat sakit seperti ini, siapa yang merawat? Apakah wanita yang Mas cintai itu? Kemana dia saat Mas terbaring tak berdaya seperti ini? Hanya bisa kirim chat. Lihat sini, lihat mataku!” perintahku duduk di kursi penunggu yang terletak di samping bed.
“Jika memang kamu lebih memilih bahagia bersamanya, silakan pergi. Sekarang aku di sini, membantumu agar bisa tertangani dari sakit. Tolong hargai aku saja. Setelah Mas sembuh, terserah mau Mas apa.”
Bulir-bulir bening dan hangat meleleh di pipi. Apakah aku bodoh? Ya, aku bodoh. Merawat, memperhatikan orang yang telah merobek-robek hati dan menyiksa diri ini. Ya, aku memang bodoh. “Wanita bodoh!” runtukku dalam hati menyesali diri mengapa masih juga merawat laki-laki yang telah dengan sengaja memeperhatikan orang lain.
Beringsut menyingkir, kugunakan waktu menunggu pemindahan ke ruang perawatan untuk membaca Al Qur’an. Air mata mengaburkan pandanganku. Dalam isak, kulanjutkan bacaan hingga air ata itu mengering.
Orang bodoh adalah, ia yang tahu kebenaran tapi melanggarnya. Manusia jahil adalah, mereka yang tahu syariat agama tapi melecehkannya demi hawa nafsu diri. Apakah aku bodoh?
Bagiku, cukup kulaksanakan kewajiban terhadap Allah, suami dan orang tua, juga kepada anak-anak. Biarlah mereka yang dzalim mendapatkan teguran dari Allah. Cukup kulakukan tugasku.
“Aku tengok anak-anak dulu, nanti balik lagi ke sini, ya, Mas,” pamitku setelah berada di ruang perawatan.
“Hem,” jawabnya enggan.
Jengah mendengar suaranya, aku memilih diam. Lebih baik pulang sebentar dan menyiapkan anak-anak. Apalagi besok hari sekolah. Di Semarang tanpa keluarga, harus bisa meng-handle semua sendiri. Badan belum sehat, suami sakit, dan tiga anak yang masih harus diperhatikan.
*****
“Ini ada pasir di bagian empedu Bapak. Penuh. Terlihat juga tiga buah kristal berdiameter dua senti meter. Ini yang menyebabkan rasa mual dan tidak enak makan. Sepertinya sudah menginfeksi liver. Jadi rasa perih dan demam ini akibat infeksi,” jelas Dokter Roy.
Dokter berwajah bulat itu menunjukkan hasil USG yang sudah dilakukan pagi tadi. Laki-laki bertubuh subur itu mencatat beberapa hal di komputer yang dibawa oleh perawat. Ia mengetik sambil berpikir dan menggumam sendiri. Mungkin mengingat-ingat apa yang harus dilakukan.
Rambut putih Dokter Roy terlihat sudah mulai menipis. Kutaksir usianya jelang enam puluh tahun. Wajahnya yang penuh senyum, menenangkan hati pasien dan keluarga.
__ADS_1
Mas Hadi tergolek tak berdaya di atas bed pembaringan. Wajahnya pasi, demamnya belum stabil. Belum mau makan makanan yang disediakan oleh pihak Rumah Sakit.
“Ini pasir semua isinya. Tidak ada space lagi selain batu dan pasir.”
Sama seperti saat melihat lembar hasil USG Dokter Melisa, kali ini aku pun tak tahu apa yang dilihat dan dimaksud Dokter Roy. Yang ada hanya kertas glossy menampilakan warna hitam dan putih. Mana pasirnya? Mana batunya? Aku tak bisa membedakan.
“Wajar tidak itu, Dok?” tanya Mas Hadi tiba-tiba. Suaranya bergetar.
“Yo wes ga wajar lagi, Pak!” gelak Dokter Roy. “Wong isinya pasir kok wajar. Pasir tidak seharusnya ada di sini. Tapi di toko bangunan, Pak!” kelakar lelaki itu jenaka.
Aku tertawa mendengar lelucon Dokter Roy. Bisa-bisanya ia membuat lelucon saat pasien sedang meringis menahan sakit. Mungkin itu caranya agar pasien tidak tegang.
“Penyebabnya apa, Dok?” tanyaku ingin tahu.
Selama ini Mas Hadi mengeluh masuk angin, tapi aku tidak tahu masuk angin karena apa. Seminggu sekali minta dikerokin. Meski marah-marah dan mencaci-maki, laki-laki yang masih mengakui diri sebagai suami dan ayah anak-anakku itu minta diperhatikan. Apakah ini sebuah kebodohan?
“Salah satunya karena kurangnya supply cairan yang masuk kedalam tubuh, sehingga lemak dan kolesterolnya membentuk kristal-kristal, Bu.” Lelaki itu mulai serius berbicara.
“Susah disuruh minum air putih, Dok,” keluhku.
Mas Hadi jarang minum air putih. Minuman yang sering dikonsumsi adalah teh dan minuman supplemen lainnya. Minum air putih hanya setelah makan, seringnya malah teh dingin. Sangat jarang, atau bahkan bisa dihitung jari minum air putihnya dalam sehari.
“Tidak harus air putih, ya Dok?” tanyaku penasaran.
“Sebaiknya sih memang air putih, Bu. Tapi kalau Bapaknya keberatan bagaimana lagi?”
Entahlah, mengapa ada manusia yang sulit disuruh minum air putih. Apa susahnya minum air putih, sih? Tinggal teguk. Lagipula kan, untuk kesehatan diri sendiri. Mengapa lebih mementingkan keinginan atau kehendak hati, dari pada memenuhi kebutuhan yang merupakan hak tubuh mendapatkan cairan? Tak salah kusebut bebal.
“Jadi solusinya bagaimana, Dok?”
“Solusi paling cepat, ya operasi. Tapi kalau Bapak mau lebih menderita lagi, ya, tidak apa-apa.’” Dokter Roy tertawa lagi.
“Ikut saran, Dokter saja,” bisik Mas Hadi pasrah.
“Serius ini, Pak?” tanya Dokter Roy.
“Iya, Dok. Mana yang baik saja, supaya lekas sembuh,” sambungku yakin.
__ADS_1
“Kalau begitu nanti kita pre-op, malam puasa, besok pagi dilakukan tindakan.”
Malam ini, Mas Hadi tidur nyenyak. Tidak seperti hari sebelumnya yang harus menahan sakit dan perih di perutnya. Mungkin efek pereda nyeri.
Anak-anak terpaksa kubawa, supaya besok pagi tidak repot berangkat sekolah. Mereka sudah tidur nyenyak setelah kujemput.
Esok paginya aku mengantar anak-anak ke sekolah. Di sana, aku bertemu Sherly yang juga sedang mengantar anak bungsunya.
“Cint, ada Nofi di koperasi. Aku tunggu di gerbang, ya.”
Setengah berlari aku menuju koperasi yang dimaksud Sherly. Entah apa yang kurasa. Degub jantung semakin cepat berpacu. Desir kemarahan menghias kalbu. Kalau aku mau, bisa kucabik-cabik atau kutendang wanita yang berlagak sok alim dan anggun itu.
Dengan napas hampir putus kumasuki ruang koperasi. Kuihat seorang wanita dengan pakaian bermotif harimau dan kerudung hitam. Suaranya lemah lembut menyebutkan barang yang diinginkan kepada petugas koperasi.
Maju selangkah, kusejajari ia berdiri. Sambil menyapa penuh senyum, kutepuk pundaknya. “Hai, Assalamu’alaikum, Nof. Apa kabarmu?”
Wajahnya yang tadi ramah kepada petugas koperasi mendadak berubah. “Mau apa kamu? Bikin ribut saja!”
“Lho aku ucap salam sebagai sahabat kok jawabnya begitu? Jawab dulu dong!”
“Maumu apa, sih, Cin?”
“Lho, kenapa sewot? Aku cuma menyapa dan ucap salam.”
“Sudah! Tidak usah ngurusi aku lagi. Urus aja suamimu yang sakit itu.”
“Oh, jadi kamu tahu Mas Hadi sakit? Syukurlah, kalau mau nengok, ke kamar nomor dua puluh, ya. Rumah Sakit depan sekolah itu."
“Oh, ya? Katanya kalian mau bercerai, ya?”
“Kata siapa? Kata Mas? Nah, ini Mas masih di Rumah Sakit. Kenapa memangnya? Kamu suka ya kalau kami bercerai?”
“Lho, yang ngomong suamimu, kok. Bukan aku. Bilang sama suamimu, jangan kejar-kejar aku lagi. Selesaikan masalah kalian, jangan sangkut pautkan denganku.”
“Jadi, foto ini apa Nof? Ini yang kamu katakan suamiku mengejarmu?” Kutunjukkan semua fotonya di depan pengunjung dan petugas koperasi.
Wajah wanita itu merah padam.
__ADS_1
Salah sendiri, kusapa baik-baik malah nge-gas.