
“Kenapa, Cint?”
Sherly segera menemui di kamar setelah Izal mengatakan bahwa aku sakit di kamar. Wanita cantik itu sangat khawatir dengan kondisiku.
“Kita ke rumah sakit ya? Sakitmu kambuh?”
Lemas kugelengkan kepala untuk menjawab pertanyaanya. Mataku bengkak, air mata yang sepanjang hari ini membasahi pipi sudah hampir kering. Namun, saat Sherly merangkulku, air mata ini semakin deras.
“Kenapa? Cerita dong. Kalau ga cerita mana kutahu.”
Dalam isak kutunjukkan semua chat dan bukti yang ada di ponsel Mas Hadi. Entah kenapa ponsel yang hanya digunakan untuk menghubungi keluarga itu tertinggal. Apa memang sengaja?
“Setan! Benar-benar setan si Nofi!” umpat Sherly kepada Nofi. “Iblis kerak neraka!”
Mata sayuku tak mampu menjawab cacian dan umpatan Sherly. Benar, Nofi itu setan. Setan yag disebutkan oleh sebuah hadist, ” Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau”(HR Muslim). Ya, Nofi adalah wanita jelmaan iblis yang ingin memisahkan suami dari istrinya. Ia ingin agar aku dan Mas Hadi bercerai, bukan poligami.
“Sekarang kita ke dokter dulu deh, ya. Tubuhmu kayak gini. Ini badanmu sudah mulai panas lagi. Kamu sudah makan belum?” tanya wanita bermata indah itu.
Aku menggeleng. Bagaimana mau makan? Hati rasa tak karuan, badan gemetaran, jantung berlompatan, dan jiwa ini serasa melayang.
“Makan dulu ya?” bujuknya.
Kugelengkan lagi kepala ini untuk menjawab pertanyaannya. “Sakit, Sher, sakit!” jeritku tertahan dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis.
“Udah, kamu jangan sedih. Kita balas perbuatannya. Setan mah, harus dilawan. Diam saja, kita buat dia tak berkutik.” Suara geram Sherly terdengar menakutkan bagi Cinta.
“Gimana melawannya. Aku aja takut sama Dia.”
“Kenapa kamu takut?”
“Entahlah, rasanya minder aku ini, Sher.”
“Waahh jangan, gitu. Dia suka sekali kalau kamu terlihat lemah, sakit, dan membuat suamimu semakin marah dan benci kepadamu.”
“Tapi aku tak sanggup, kalau harus bertemu dia. Apalah aku ini, Sher.”
__ADS_1
“Yeee, kamu kok lemah gitu. Nih lihat postingan dia.” Sherly menunjukkan semua postingan Nofi yang fotogenik di berbagai lokasi wisata.
Ngilu rasanya, saat mengetahui semua lokasi itu adalah lokasi yang sama seperti gambar yang tertera di rincian waktu dan tempat foto di gallery Mas Hadi.
“Dia ini, merasa sok cantik dan sok hebat bisa menggoda suamimu. Apa dia bahagia? Dia ini sedang berpura-pura bahagia, karena suamimu ingin menikahinya, tapi tidak segera menceraikanmu. Dia sebenaranya juga tersiksa. Nah tugasmu sekarang, kamu tidak boleh lemah di hadapannya. Kamu harus kuat ngadepin dia.”
“Tapi sakit, Sher. Aku tak sanggup lagi,” tangisku pecah lagi.
“Ups! Sherly tidak mau melihat Cinta putus asa. Kita balas Nofi!” Semangatnya membuatku terpana. Kalau Sherly saja begitu antusias, mengapa aku harus lemah.
Sherly pamit setelah menyuapkan beberapa sendok bubur sambil menggerutu tentang kelakuan Nofi. Aku mendengarnya dalam diam.
“Kamu makan yang banyak, jangan kurus-kurus. Dia aja semok semlohay, lihat badanmu kurus kering kayak gini. Sedang dia lihat kamu sakit.”
Semenjak ada masalah dengan Nofi, memang aku tak napsu makan. Pikiran terkuras dengan semua perilaku Mas Hadi dan Nofi yang menyembunyikan pengkhiatan. Berat badanku yang semula lima puluh delapan, menjadi hanya empat puluh lima kilo gram saja.
Dulu saat masih gadis, empat puluh lima kilo gram itu sudah gemuk. Tapi saat sudah menjadi ibu, rasanya badanku sangat kurus dan tipis. Apa memang Mas Hadi mencari yang seksi? Entahlah.
*****
“Maaf, Mas. Benar Mas mau menikahi Nofi?”
“Siapa yang bilang? Tak mungkin aku menikahi temanmu sendiri.”
Percakapan malam itu setelah Mas Hadi duduk. Kutanyakan mengapa terdengar suara Caca dan Bundanya di seberang telepon saat hendak kutanyakan kepulangannya karena Izal si bungsu ingin membeli Gundam di Simpang Lima. Ia tetap menyanggah itu suara Caca. Menurutnya itu suara orang di luar mobil saat ia membuka jendela mobil. Tidak masuk akal kan?
“Maaf, kalau rawonnya tidak enak.” Kataku pelan.
Ia meletakkan piringnya dengan kasar setengah membanting. “Kalau tidak enak kenapa disuguhkan?”
Duhai, laki-laki yang mengaku menjadi suami dan imam bagiku. Sekali bentakan yang engkau berikan, sudah cukup untuk merobohkan dinding pertahanan diri ini. Tak sanggup mendengarnya lebih lama lagi.
“Jadi, kapan Mas mau menikah?” tanyaku tanpa basa-basi. Terlalu lama bila harus memendam perasaan. Lagi pula, untuk apa mencoba membuatku diam dengan memberi mahar kepada Mbah Jagad jutaan rupiah.
“Siapa yang mau menikah?” balasnya sengit.
__ADS_1
Huft! Bagaimana masalah bisa selesai kalau begini. Ditanya, menyangkal. Dibiarkan, keterlaluan. Serba salah.
Kuulurkan semua foto yang telah kucetak sore tadi di Pasar Ngaliyan. Foto semua kepergian dan pengkhianatan yang ia lakukan di belakangku.
“Tolong jelaskan ini kepadaku!” tuntutku setengah memaksa.
Tak ada suara dari mulut Mas Hadi, diam. Matanya membulat tak percaya dengan semua bukti yang telah aku dapatkan. Wajahnya pasi karena semua foto yang ku suguhkan bersama rawon yang telah dingin malam ini sungguh diluar dugaannya.
Kutunggu ia mengucapkan pembelaan, tapi lama sekali ia tercenung dengan gelisah. Menyebalkan. Kemana perginya semua sanjung puji yang selama ini ia berikan kepada wanita itu? Kemana perginya mata berbinar bahagia saat akan pergi menemui wanita yang katanya tidak mau dipoligami, tapi melayani suami orang layaknya suami sendiri?
“Dia paham agama, mengerti syari’at, menutup aurat dengan baik, ia juga wanita yang cerdas dan pintar,” puji Mas Hadi suatu hari di hadapanku.
“Mana ada wanita paham syariat, kalau masih joged-joged di depan laki-laki Mas. Masa ia wanita paham agama pergi dengan laki-laki? Aku tak habis pikir, wanita yang cerdas dan pintar, kok suka sekali mendzalimi orang lain.”
“Sok suci kamu!” bentak suamiku saat kusanggah semua tingkah laku Nofi yang tak sesuai dengan gambaran yang disebutkannya kala itu.
Sekarang, mana? Ia hanya bisa diam seribu bahasa menatap semua foto itu dengan linglung. Kulihat ia ingin bicara, tapi mulutnya kelu tak sanggup berkata.
“Ini bukti transfer uangmu kepada Mbah Jagad. Habis berapa puluh juta Mas untuk mewujudkan mimpi poligami dengan Nofi. Buat apa percaya syirik seperti ini? Kalau mau poligami, sini kuajarkan cara yang baik agar tidak menyakiti. Bukan main belakang seperti ini.” Huh! Dia mengharapkan aku diam. Yang ada, keluar semua apa yang aku pendam selama ini.
Laki-laki yang menyebut dirinya sebagai suami itu, tak mampu menatap mataku. Foto dan bukti yang telah kuberikan diremas-remasnya dalam amarah.
“Bicara, dong! Masa diam saja?”
Ajaib memang makhluk bernama laki-laki. Saat keinginan yang didasari bisikan iblis datang, layaknya remaja yang mengenal cinta monyet. Menggebu-gebu tanpa memperhatikan tatanan yang berlaku, menabrak norma agama dan sosial masyarakat. Bahkan tak peduli pada dirinya sendiri.
[Aku sangat mencintai Dik Nofi, meski ada dinding pemisah di antara kita berdua. Aku tak akan membiarkan dirimu terluka. Bibirmu, hidungmu, dan wajahmu yang selalu terbayang setiap kali Mas tidur, tak akan bisa melupakanmu sampai kapan pun.
Mas akan melakukan apapun yang Dik Nofi minta, agar Mas bisa memilikimu. Tak akan kubiarkan orang lain menikahimu. Aku akan menceraikan Cinta, bila itu yang Adik inginkan.
Mas janji akan menikahi Dik Nofi setelah selesai urusan perceraian. Jangan khawatir, Mas tak akan membiarkan cinta suci kita sia-sia.]
Cuplikan pesan yang ia kirimkan untuk Nofi kutunjukkan dengan harapan, ia paham apa yang dilakukannya telah menyakiti hati dan perasaan sang istri. “Cinta suci, Mas? Cinta suci macam apa yang terjadi antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim? Yang ada cinta karena iblis, karena setan!”
“Jangan sok suci, kamu!”
__ADS_1