Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Caca yang Menggoda


__ADS_3

Caca yang Menggoda


Hari Minggu pukul delapan, Izal dan Ivan kembali dari lapangan bola. Baju mereka kuyup dengan keringat. Rambut basah dan seluruh tubuh terlihat mengilat.


“Lapar, Bu!” teriak Izal sambil berlari masuk, tanpa peduli keringat menetes di lantai yang baru saja kupel.


Ingin berteriak, tapi kedua anak itu sudah mengambil roti bakar. Kemudian meminum susu yang telah siap, setelah kuminta mereka untuk mencuci tangan. Hanya bisa mengelus dada dan berbisik dalam hati, “astaghfirullah!”


Ivan dan Izal bermain game usai membersihkan badan dan berganti pakaian. Hari Minggu adalah hari bebas beraktifitas bagi mereka. Aku hanya mengijinkan main game di akhir pekan saja.


Kedua anak lelakiku itu usianya tak begitu jauh, hanya terpaut tujuh belas bulan saja. Badan mereka sama besar. Banyak yang mengira kembar. Namun hanya aku yang bisa membedakan, mana Ivan dan mana Izal.


Caca dan Nofi datang dengan riang. Alfin anak sulung Nofi menyusul Ivan dan Izal bermain game di ruang tengah. Mereka memang terbiasa bermain bersama. Apalagi, saat dulu rumahnya masih di sini. Alfin sering dititipkan ke rumahku, jika Nofi sedang sibuk bekerja.


Rumah mantan suami Nofi yang terletak di depan rumahku, terlihat masih sepi. Mobil Pak Dodo, rapi di dalam pagar teralis besi. Sebuah motor Ninja berwarna hitam, terparkir di samping mobil berwarna putih itu.


Nofi menghentikan mobilnya di depan rumahku. Pagi ini, ia dibalut pakaian berwarna biru tua, berbahan jersey membentuk tubuhnya yang aduhai. Jilbab panjang yang dikenakan tak mampu menutupi kemolekannya. Seperti biasa, matanya terlukis eye-liner yang sangat mencolok. Make up menyamarkan usianya yang hampir berkepala empat. Sungguh sangat terlihat sempurna.


“Ngantar anak-anak menengok ayahnya.” Begitu alasan yang dikemukannya kepadaku. Dengan sedikit hentakan, ia menghempaskan tubuhnya di kursi teras.


Ya, kami memang bersahabat baik. Seluruh warga kompleks ini tahu, bagaimana hubungan kami terjalin dengan baik. Sudah biasa wanita berbadan seksi itu mengunjungi aku kapanpun dia mau. Setelah pindah rumah pun, dia masih mengirimkan paket-paket pesanan ke alamat rumah mantan suaminya, agar dititipkan di rumahku oleh pak Satpam. Ia akan mengambilnya, atau aku akan mengantarkan ke rumah barunya.


Caca berlari mendekati Mas Hadi yang duduk bersama anak-anak di ruang tengah. Aku dan Nofi bercengkrama di teras.


Desir-desir halus menyapa jiwa melihat pembawaan Nofi yang luwes dan menyenangkan. Wanita itu telah berhasil memicu rasa cemburuku, karena anak perempuannya begitu dekat dengan Mas Hadi. Kucoba menepis desiran halus itu dengan mendengarkan kisahnya.


“Ada yang mau mengajakku poligami, Cin. Tapi laki-laki itu pengecut, ga berani. Aku juga ga mau di poligami.” ia memulai pembicaraan. Matanya melirik ke rumah mantan suaminya.


Ekor mataku mengikuti lirikan Nofi. Kulihat Pak Dodo menyalakan motor Ninja-nya. Suaranya menggelegar memenuhi udara. Asap tebal putih membubung dari knalpot besar. Laki-laki itu melaju perlahan meninggalkan gang kompleks.


Nofi menunduk sekilas. Ia kembali fokus berbicara denganku setelah mendesah. Bulu matanya yang pekat mengerjap indah. Perlahan tangan wanita itu meraih toples camilan. Jemarinya yang lentik dan cantik, memasukkan makanan kecil itu dengan cara yang terlihat menarik ke bibirnya.

__ADS_1


Aku menatapnya sedikit perih. Begitu sempurnanya Nofi secara fisik, kenapa bisa bercerai dengan suaminya? Apa kurangnya Nofi? Cantik, pandai agama, ASN, dan beberepa prestasi lain yang semakin mengibarkan namanya menjadi pujaan laki-laki.


Sering Nofi ditunjuk untuk mengisi acara di lingkungan kami, meski ia telah berpisah dengan suaminya dan menghuni rumah baru. Suaranya memang sangat indah. Tak bisa kupingkiri, ia memiliki segalanya yang diidamkan laki-laki.


“Kenapa kamu tidak mau dipoligami?” tanyaku mengalihkan desir-desir halus yang mulai menguasai diri. Desir itu menjelma menjadi rasa aneh dalam benakku.


Meski aku mengangumi Nofi, tapi ada yang mulai terasa tidak nyaman mendengar kalimatnya tidak mau dipoligami. Bukankah saat suaminya selingkuh, ia yang menawarkan suaminya poligami? Sekarang, saat ia menjanda, ada yang ingin menikahinya sebaga istri ke-2, tidak bersedia? Bukankah lebih terhormat menjadi istri ke-2?


“Laki-lakinya, pengecut!” dengusnya kesal.


“Pengecut bagaimana maksudmu?”


“Takut sama istri pertamanya, takut sama keluarganya, takut sama atasannya. Ya gitu, takut dipecat, takut ketahuan anaknya. Pengecut memang.” Penjelasannya bagai retetan peluru yang keluar dari pistol. Cepat dan mematikan. Mulutnya masih mengunyah camilan terlihat maju beberapa senti. Ia mengambil sisa isi toples.


“Eh, enak kacang yang ini. Beli dimana?” katanya mengalihkan.


Seperti terkena muntahan peluru kata-kata dari Nofi, dadaku seakan terjerembab. Sesak terasa memenuhi jiwa. Terhuyung, aku mencoba menawarkan minuman lagi. Kulihat gelasnya sudah kosong.


Suara anak-anak yang sedang bermain game riuh. Mereka begitu riang. Aku melintasi ruang tengah menuju ke dapur sambil melirik jenis permainan apa yang mereka mainkan. Kulempar senyum pada Alfin yang melihat ke arahku.


Alfin ikut bergabung main game, ia tak banyak bicara. Semenjak orang tuanya berpisah, ada sedikit keanehan pada anak lelaki kurus itu. Ia kesulitan bila ingin mengucapkan sesuatu. Matanya akan sedikit terbuka, kepalanya terlihat berpikir sangat keras untuk mengucapkan sebuah kalimat. Saat kalimat itu harus ia ucapkan, membutuhkan jeda beberapa waktu agar menjadi sebuah kalimat utuh dan bisa di pahami oleh lawan bicara.


Caca duduk di atas pangkuan Mas Hadi dengan riang. Mas Hadi terlihat bahagia bermain dengan gadis empat tahun itu. Mereka asyik bermain game di ponsel suamiku. Tawa riang dari bocah kecil itu terlihat polos. Tapi bagiku tidak.


“Aah, Om gitu sih. Aku jadi kalah,” rengekan manja itu terdengar sangat menjijikkan.


Mas Hadi tertawa tergelak-gelak. Kulihat tubuhnya terguncang karena tawa. Ia memeluk Caca dengan sayang.


Mataku melotot melihat adegan itu. Kupercepat langkah kaki ke dapur untuk mengambil minuman bagi Nofi yang masih menunggu di teras. Dada ini bergemuruh tanpa bisa dikendalikan. Panas dingin ujung kaki dan tangan menahan rasa. Jantungku terasa meloncat dari tempatnya.


“Besok kita jalan-jalan ke mana Ca?” kudengar suara Mas Hadi bertanya kepada Caca.

__ADS_1


“Ga tau Om. Bunda yang suka jalan-jalan.” Tawa gadis kecil itu, terdengar bagai suara monster di telingaku.


“Om antar, ya?” Mas Hadi bertanya setengah bercanda.


Gelas yang kupegang, terasa licin saat mendengar dengan jelas tawaran Mas Hadi kepada Caca. Gila!


“Tanya sama Bunda, Om. Kalau Bunda bilang iya, artinya boleh.”


Astaga! Yang benar saja?


Aku bergegas melangkah ke teras dengan hati dongkol. Kulewati ruang keluarga yang riuh dengan suara anak-anak bermain dengan hati yang kosong. Tubuhku seakan melayang tidak menapak di lantai. Gamang, aku kembali duduk di hadapan Nofi.


Caca berlari keluar dengan riang. Wajahnya terlihat antusias menuju pangkuan bundanya.


“Bun, minggu depan diajak Om jalan-jalan. Boleh ya, Bun?”


Tanpa kusadari, Mas Hadi telah berdiri di sampingku. Entah sejak kapan ia berada di situ.


Aku terkejut mendengar pertanyaan Caca.


“Boleh sayang,” jawab Nofi mengelus puncak kepala Caca. “Memang mau kemana?”


“Lihat Dholpin, Bun. Itu, yang waktu kita jalan-jalan di mana itu, yang arah sana lhooo ...” Tangan mungil itu menunjuk arah barat kota.


“He he he,” tawa Mas Hadi terdengar aneh.


Aku tercekik mendengar tawa itu.


Sungguh aku membenci Caca!


___

__ADS_1


__ADS_2