Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Terawangan


__ADS_3

“Seru ya lombanya, Dek?” tanyaku kepada kedua anakku.


“Aku juara makan kerupuk, Bu. Mas juara pacu kelereng.” Mereka menunjukkan hadiah yang di dapatkan malam itu kepadaku.


Ada rasa bersalah dalam hati melihat kegirangan mereka. [Anak-anak ingin ikut lomba di lapangan.] Pesan Mas Hadi itu terekam di ingatan, membuatku harus berusaha berpikir positif untuk anak-anakku. Jika mereka ke rumah sakit untuk ikut menjaga, tentu tak akan kudengar tawa ceria mereka seperti saat ini.


“Oh, ya? Hebat sekali kalian!” Kucium mereka satu persatu. Aroma asam keringat di puncak kepala dan pakaian mereka kuhirup dengan syahdu.


“Ganti baju dulu, Dek. Bau!” kataku menutup hidung. Meski asam, aroma itu sangat kurindui sepanjang pagi hingga malam menjelang.


Mas Hadi merapikan barang bawaan. Pakaian untuk anak-anak dan makanan untuk sarapan pagi berupa roti dan susu kemasan. Ia menatanya dengan rapi di lemari yang tersedia di sebelah rak televisi. Kuperhatikan setiap gerak-geriknya, mencoba melihat apabila ada yang berbeda.


“Mas, kamu tidur sebelah situ, jangan di sini! Ini tempatku!” Izal menata tempat yang telah ia susun untuk dirinya tidur. Sebuah sofa yang ditumpuk beberapa bantal yang ia bawa dari rumah. Ia tak mengijinkan kakaknya menempati tempat yang telah ia rapikan.


“Ngga mau, aku yang di situ!” Ivan menujuk tempat yang dirapikan Izal.


“Sudah, sudah! Adek tetep di sini, Mas dekat Bapak.” Kata Mas Hadi menengahi.


Mendengar suara ayahnya, kedua anak itu diam. Ivan beringsut mendekati Mas Hadi. Anak keduaku itu lebih bisa di beri pengertian dari pada adiknya.


Izal memonyongkan mulutnya. “Huh!”


“Udah, dong! Masa jenguk Ibu, Cuma mau bertengkar? Cerita saja, gimana tadi lombanya? Seru ya? Siapa saja yang ikut?”


“Tadi hampir kalah, Bu. Tapi aku makan kerupuknya cepat-cepat. Trus akhirnya menang, deh.” Izal mengisahkan adegan kemenangannya dengan antusias. “Yang juara dua Alfin. Aku bisa ngalahin Alfin,” serunya bangga.


Dadaku meletup-letup mendengarnya. “Oh, Alfin ikut lomba juga?” tanyaku mencoba menarik informasi lebih jauh kepada anak-anakku. Bukankah anak-anak sumber berita yang paling bisa di percaya?


“Iya, Bu. Padahal rumahnya sudah pindah. Kok masih ikut juga ya, Bu?” tanya Izal penasaran. Izal belum mengerti makna kata bercerai. Ia hanya tahu, sahabat kecilnya itu pindah rumah bersama adik dan bundanya, meninggalkan sang ayah.


“Rumah ayahnya, kan, masih di RT kita. Mungkin karena mau ke rumah ayahnya,” jawabku mencoba menutupi rasa penasaran yang juga menggelayuti diri.


“Ayahnya lho tidak ada tadi, Bu.” Ivan meneruskan informasi adiknya.


“Oh, ya? Ya, mungkin mau bermain sama teman-temannya. Kangen sama kalian, kangen sama teman-temannya,” kataku bijak menutupi gejolak di hati yang sudah sejak tadi seperti terkena siraman air panas saat mendengar cerita Izal.


“Iya, mungkin Bu,” kata Ivan pelan.

__ADS_1


“Udah, ayo tidur. Sudah malam.”


Mas Hadi mematikan lampu besar, menyisakan lampu tidur yang menyala. Ia sibuk mengganti-ganti saluran televisi mencari acara yang ia sukai.


“Tadi bagaimana hasil USG-nya?” ia membuka percakapan.


Izal dan Ivan sudah terlelap dalam mimpi. Rasa letih tapi bahagia terpancar di wajah keduanya. Kutatap mereka sambil menarik napas dalam-dalam. Menyembunyikan rasa yang mebuatku geram sepanjang pagi hingga malam.


“Tidak ada apa-apa,” jawabku pendek.


Aku tak ingin menceritakan apa yang terjadi kepada suamiku. Berbagi penderitaan, pada laki-laki yang tidak memahami perasaan itu seperti bercerita pada tembok. Apabila kita bercerita, cerita itu akan kembali memantul pada diriku sendiri. Sia-sia. Lebih baik kusimpan saja sendiri.


“Tidak ada apa-apa bagaimana? Kemarin kan di vonis kista. Kok sekarang tidak ada?”


Aku membuang muka. Huh! Sok perhatian. Bukankah tadi ia kegirangan menonton dangdut? Sekarang pura-pura menanyakan sakitku.


“Coba lihat hasilnya. Aku penasaran jadinya.” Ia mendekat. “Mana hasil rekamannya?”


“Tak usah, tidak apa-apa. Doakan saja kistanya luruh kalau aku haid nanti .” Senyumku mencoba menaklukkan gejolak hati.


“Ga ah, aku penasaran.” Ia mulai menggeledah isi laci yang terletak di samping bedku.


“Di mana?” ia masih mencoba mencari ke dalam tasku, ke dalam dompetku. Tatapannya tertuju pada amplop panjang yang terselip diantara barang-barang di dalam tas. Ia langsung meraih dan membukanya.


“Mana yang kemarin katanya kista?” ia menunjukkan foto itu di hadapanku. Foto hasil USG dari Dokter Titin itu dibolak-baliknya berkali-kali. Kulihat matanya membulat mengamati setiap inchi gambar di kertas petak berwarna putih itu.


Mas Hadi mengambil ponsel dan memotret hasil USG itu. Kilatan cahayanya menjelma kilat menerpa ujung penglihatanku. Untuk apa difoto? Bukankah hasil itu sudah membuktikan kalau tidak ada apa-apa lagi di dalam tubuhku.


“Mungkin sudah diambil sama laki-laki yang tadi malam mendatangi mimpimu,” gumamnya pelan.


“Syirik percaya begituan. Kalaupun sudah tidak ada, bisa jadi kistanya sudah luruh. Percaya kok sama mimpi,” gerutuku sebal.


“Lho, kamu tidak tahu. Bukankah sudah kukatakan. Aku tahu apa yang terjadi dalam mimpimu. Aku yang menyuruh laki-laki itu.” Ia masih mengamat-amati hasil USG di tangannya.


“Oh, ya. Besok akan ada orang yang datang kesini.”


“Siapa?” mataku berkilat, daun telingaku tegak berdiri.

__ADS_1


“Lihat saja besok, kamu akan tahu siapa,” ucapnya bangga melihat aku penasaran.


“Maksudmu apa, sih Mas?” aku mulai tak suka dipermainkan.


“Aku memberi tahumu, besok akan ada yang datang ke sini menengokmu.”


“Iya, siapa?”


“Kamu tak perlu tahu.”


“Kalau tidak mau memberi tahu, alangkah baiknya Mas tidak membuat penasaran. Untuk apa memberi tahu?”


“Nanti kalau kuberi tahu, ga kejutan namanya. Percaya saja sama suamimu ini. Aku ini punya ilmu terawangan.”


Nah, kan. Mulai lagi. Punya ilmu ini itu. Bisa lihat ini dan itu, dikagumi wanita, dan keahlian lainnya yang aku tidak bisa mengerti. “Karena cincin Batu Mirah Delima itu? Sini buat aku aja cincinnya, Mas.”


“Kamu ga akan kuat memakainya,” elaknya.


“Masa cincin saja tidak kuat make, apa hebatnya cincin murahan begitu? Syirik, mas. Syirik namanya kalau kita sebagai muslim percaya sama kekuatan cincin.”


“Lho, kata tukang pijit, ini cincin Raja.”


“Dukun kok dipercaya. Semua orang bisa mengarang cerita apa saja. Aku bisa bisa mengarang cerita kalau cincin itu milik Ratunya, bukan milik Rajanya.”


“Lho, salah! Ini milik Raja, bukan Ratu.” Kulihat mata seriusnya mencoba membuatku percaya.


“Suka-suka akulah. Aku yang cerita. Sama seperti dukunnya. Suka-suka dukun, ia yang punya cerita. Kalau cincin Raja kok murah? Kalau cincin raja kok banyak yang punya? Apa Rajanya banyak?” Sebal saja melihat ia percaya sama dukun.


“Udah, aku mau tidur. Capek! Tapi besok jangan lupa, ada tamu mau ke sini. Paginya aku pulang dulu ambil pakaian bersih.”


*****


Sebuah ketukan halus terdengar di balik pintu. Suara-suara berbisik, kutajamkan telingaku agar lebih jelas.


“Masuk!” teriakku tertahan.


Mas Hadi mengantar anak-anak pulang untuk mengambil pakaian dan membeli makanan.

__ADS_1


Beberapa wajah yang sangat kukenal dengan baik, muncul dari balik pintu. Aku tersenyum masam melihat siapa yang datang. Jadi ini, tamu yang diceritakan oleh Mas Hadi semalam.


“Eh, Bu Nofi. Masuk, Bu.” Entah dari mana, tiba-tiba saja Mas Hadi sudah sampai di depan ruangan. Ia datang sendiri tanpa anak-anak.


__ADS_2