Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Bukan Istri Fir'aun


__ADS_3

Ya, aku pernah menginginkan Mas Hadi dan Nofi celaka. Ingin sekali melihat keduanya mengalami kecelakaan mirip seperti Putri Diana Spencer dan Dodi Al Fayed pada 31 Agustus 1997 silam. Puas rasanya bila mereka mengalami nasib buruk menjemput karma.


Putri Diana dan Dodi meninggal setelah kedua pasangan kekasih itu mengalami kecelakaan. Mobil Mercedes yang mereka tumpangi melaju kencang dengan kecepatan 120 mph karena dikejar dan diikuti oleh paparazzi yang mengendarai motor. Setelah itu, tepat pukul 00.25, mobil Putri Diana menabrak pilar ke-13 di dalam terowongan Pont de l'Alma, Paris, Prancis.


Kecelakaan tersebut langsung menewaskan Henri Paul, sang supir, dan Dodi Fayed. Jam dua pagi, Putri Diana tiba di Rumah Sakit Pitie Salpetriere. Di rumah sakit, Sang Putri menerima pompa jantung selama hampir dua jam, hingga pada jam empat pagi, Putri Diana dinyatakan meninggal dunia. Nama abadi dalam kisah cinta. Namun sayang, bukan merupakan kisah cinta yang suci, karena mereka bukan suami istri.


Alangkah tragisnya bila Mas Hadi dan Nofi mengalami hal yang sama dengan Putri Diana dan Dodi. Meninggal saat sedang berselingkuh dan tidak ada kesempatan untuk bertaubat memperbaiki diri. Selesai sudah hidup mereka dan tak perlu menyakiti orang lain lagi, termasuk aku.


Nama mereka akan abadi sebagai pasangan selingkuh, yang meninggal dunia saat sedang berbuat maksiat. Supaya semua orang tahu perbuatan bathil mereka. Agar menjadi pelajaran bagi yang mengetahui, bahwa mereka meninggal karena mengikuti langkah-langkah setan.


Kenyataannya, Nofi masih hidup dan tidak meyadari kemaksiatan yang ia lakukan. Justru semakin pongah dan merasa diri lebih baik dari orang lain. Mas Hadi juga tidak semakin menyadari kekeliruan, malah menyalahkan dan mengatakan aku tidak memiliki apa yang ia cari. Mencaci maki dan berpikir Nofi lebih baik dariku. Setelah kupersilakan untuk meninggalkanku dan anak-anak, langkahnya bimbang.


Sekarang ketika sakit parah dan tak bisa bangun, bukannya menghargai istri yang merawat meski hatinya sakit. Malah terus melayani keinginan wanita tak tahu diri yang ingin keluarga kami tercerai berai. Apakah salah aku mendoakan yang buruk terhadap orang yang sudah menyakitiku?


“Hati wanita itu seperti gelas kaca, Mas. Sekali gelas itu jatuh, pecah berkeping-keping, ia tak akan bisa berbentuk gelas cantik seperti semula lagi. Mau disatukan seperti apa, tak akan sama lagi. Begitupun hatiku,” ujarku malam itu sambil membantunya menyiapkan obat pereda nyeri.


Aku berharap, perumpamaan yang aku sampaikan bisa memberinya gambaran tentang apa yang terjadi sengan hatiku. Bahwa luka hati yang ia sebabkan, sungguh telah menghancurkan kepercayaanku terhadapnya.


“Cari yang baru-lah!” ujarnya ringan. Setelah ucapan yang terlontar dari bibirnya, laki-laki itu meringis kesakitan. Selang di tubuhnya meneteskan darah.


“Maksudmu apa cari lagi? Memangnya aku ******* seperti, Nofi? Yang dengan mudah gonta-ganti laki-laki,” mulutku maju beberapa senti tanda tak suka dengan kalimatnya.


“Kok bahas Nofi lagi.”


“Lagian, Mas nyuruh cari lagi. Emang aku apaan?”


“Kalau ada laki-laki yang mau sama kamu, kulepaskan,” ucap laki-laki itu tanpa beban.


Aku menatapnya tak percaya. Mudah sekali berbicara seperti itu, seolah-olah ia punya banyak stok kalimat untuk membuat istrinya terluka. Laki-laki macam apa yang menyuruh istrinya mencari pengganti dirinya, sedangkan masih terikat sebagai suami dan istri.


“Baik, nanti kita selesaikan setelah Mas sembuh,” ujarku pendek. Yah mungkin sudah saatnya.


Kurapikan meja dan bersiap-siap tidur. Hari ini aku agak tenang karena Ibu mertua datang mengurus anak-anak di rumah. Beliau mengetahui kabar Mas Hadi saat aku meminta do’a ketika suamiku akan masuk ke ruang operasi.


Wanita sepuh itu menyesalkan kenapa aku tidak memberi tahukan sakitnya Mas Hadi sejak awal. Bagaimana akan memberi tahu, jika belum apa-apa sudah dimarahi, ‘jangan membuat Ibuku repot dengan kemanjaanmu!’

__ADS_1


Sungguh luar biasa apa yang dikatakan oleh suamiku sendiri. Mungkin jika orang lain yang menghadapi akan lebih memilih untuk pergi meninggalkan laki-laki sepert ini. Untuk apa memiliki suami seperti ini? Membuat hati sesak.


Namun, setiap kali diri ini hendak pergi, yang teringat adalah rasa syukur yang harus aku tingkatkan lagi. Rasa syukur karena aku masih bisa leluasa beribadah dan merawat anak-anakku. Rasa syukur masih memiliki suami meski tak sebaik yang aku inginkan. Cobaanku tak seberat apa yang Bunda Aisiyah alami saat menjadi istri Fir’aun. Beliau tetap teguh dalam keimanan meski sang suami jahat tak terkira.


Sikap Fir'aun yang mengaku sebagai Tuhan memaksa wanita berparas cantik itu untuk menuruti permintaan suami walau di dalam hatinya ia sangat keberatan, tersiksa dan berontak. Asiyah terus bersabar menghadapi sifat buruk Fir’aun. Beliau rela berkorban nyawa menghadapi perlakuan sang suami. Meski Fir’aun menyiksanya dengan siksaan berat, ia tak pernah mau mengingkari keteguhan hatinya.


Saat Fir'aun menyiksa, Asiyah berdoa, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” Atas keteguhan keimanannya, Asiyah pun menjadi salah satu wanita mulia yang dijamin masuk surga.


Meski bukan istri Fir’aun, semoga aku tetap diberi kesabaran dalam kesempitan hati akibat kezaliman suamiku. Mas Hadi tak pernah melarangku beribadah. Nikmat Allah mana lagi yang harus aku dustakan selain bisa melaksanakan perintahNya tanpa halangan apapun.


Perawat jaga datang untuk memeriksa tensi, tekanan darah dan kondisi. Wanita itu datang dengan peralatan yang ia bawa dalam sebuah baki plastik berwarna merah.


“Besok pagi baru bisa belajar turun dari bed dan latihan jalan. Hari ini ada pusing, mual, atau keluan lain?” tanya perempuan itu ramah.


Mas Hadi menjawab pertanyaan dengan suara lemah. Laki-laki itu mengulurkan lengannya untuk dicek tensinya. Ia juga menyampaikan beberapa hal kepada perawat yang kali ini bertugas.


“Mualnya sudah hilang, tapi pusingnya masih terasa.”


“Baik jika begitu, kita tunggu Dokter Roy besok pagi,” sahut perawat itu sambil tersenyum mengemasi peralatan.


Tiga titik lubang laparoskopi itu satu di pusat, satu di bagian tengah dada, dan satu di perut bagian kanan. Selang yang masih terhubung ke bagian dalam perutnya itu berfungsi untuk mengeluarkan darah sisa tindakan sebelumnya.


Aku tak bisa membayangkan perihnya tubuh dimasuki selang seperti itu. Perih pastinya. Namun, dengan melihat ia tak bisa bergerak sama sekali hingga semua kebutuhannya bergantung padaku, aku bahagia. Mungkin jahat ya, kenapa aku bahagia melihat suami sakit?


Ketika Mas Hadi sakit dan tak bisa kemana-mana, artinya ia tak lagi bisa menemui Nofi untuk bermaksiat. Kukatakan maksiat, karena mereka belum menikah, dan tidak mengakui sudah menikah. Aku hanya tak habis pikir kepada wanita seeperti Nofi, mengapa tak sadar diri bahwa perilakunya bisa ditiru oleh anak perempuannya di kemudian hari? Atau berpikir bahwa apa yang dilakukannya sangat memebuat malu ayah ibunya.


Ah, ya, mungkin seperti kata Sherly. Hatinya sudah berkarat hitam pekat penuh maksiat. Karat itu semakin melebar ke seluruh bagian tubuhnya menjadi sebuah penyakit yang berasal dari hatinya. Hati juga tempat bersemayamnya syaitan dan keburukan yang disebut juga dengan penyakit hati.


“Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain. Jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Baiknya hati dengan memiliki rasa takut, rasa cinta pada Allah dan ikhlas dalam niat. Rusaknya hati adalah karena terjerumus dalam maksiat, keharaman,” tutur Sherly saat kami berdiskusi di teras rumahku di suatu sore, kenapa Nofi tak pernah merasa bersalah atas perbuatannya kepada keluarga kami.


Pagi ini Mas Hadi bangun dalam gelisah. Sebentar-sebentar membuka ponsel dan membuang napas dengan raut marah. Tangannya terlihat lincah membalas chat di ponsel.


Aku memandang perubahan yang terjadi pada raut mukanya. Sudah kuperkirakan apa yang akan ditanyakan oleh suamiku. Reaksi yang kutunggu sejak pulang dari sekolah anak-anak dan menyapa Nofi saat itu.


“Kamu ini, jangan mempermalukan orang di depan umum. Nanti kalau kamu juga dipermalukan di depan orang banyak bagaimana?” kata laki-laki yang di tubuhnya terpasang berbagai selang dan infus.

__ADS_1


Kudekati laki-laki itu dan duduk di sampingnya. Senyum paling indah kusuguhkan lewat garis lengkung yang menarik pipiku ke atas.


“Maksudnya apa, Mas?” Sebenarnya, aku tahu apa yang dia maksudkan.


“Ya, itu, jangan mempermalukan orang.”


“Memangnya siapa yang kupermalukan?”


Ia tak menjawab. Tangannya membalas chat dalam amarah. Gemetar jemari menunjukkan ia terdesak. Kulihat matanya memerah dan berair.


“Mas, kalau Mas masih terus berhubungan dengan Nofi. Bagaimana keluarga kita akan tenang?”


Mas Hadi tak juga meletakkan ponselnya. Laki-laki itu tak mendengarkan pertanyaanku.


“Mas?” kutekankan lagi kalimat itu agar ia fokus menatap diri ini dan mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


“Apa?” bentaknya kasar.


Aku bukan istri Fir’aun yang bersabar dalam menghadapi suami yang zalim. Aku hanya wanita biasa, yang menangis saat suami membentak kasar dan tidak memahami bagaimana perasaan sang istri. Kutatap laki-laki itu dalam diam.


“Kita urus perpisahan usai Mas pulang.” Kalimat itu meluncur dalam


sisa kepedihan.


“Tidak, kamu istriku. Aku tidak akan menceraikanmu!”


“Maaf, aku tidak bisa.”


“Tidak, kamu tidak boleh pergi,” tatapan nanar di matanya terlihat luka.


“Maaf.”


“Kamu jangan pergi, kamu istriku!”


Kutatap lekat-lekat bola mata itu. Duhai! Ada air dari sudutnya.

__ADS_1


****


__ADS_2