Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Mbah Jagad


__ADS_3

Apakah ada yang salah dengan diriku? Apakah kurang cantik? Apakah selama ini aku kurang dalam melayani suami? Apa yang salah? Pasti ada yang salah. Pasti ada yang kurang seperti yang disebut Mas Hadi.


[Sher, bisa ke rumahku sebentar] tangisku dalam pesan kepada Sherly.


Tubuh terasa lemas, gemetar yang kurasakan tak juga berhenti. Debar di dada ini semakin cepat. Tak kuasa kujawab pertanyaan Izal yang ingin membeli Gundam bersama ayahnya.


“Ibu, kenapa?” tanya lelaki kecil itu bingung.


“Tidak apa-apa, Nak. Tolong ambilkan Ibu minum air hangat.”


Anak bungsuku itu beranjak ke dapur untuk mengambil air. Ia kembali dengan gelas yang telah berisi air hangat. Tangannya mengulur dan mencoba memegangkannya untukku, takut gelas itu jatuh.


Perlahan kubetulkan posisi duduk agar bisa minum air hangat yang dibawa Izal. Setelah bisa duduk tegak, kuteguk air hangat itu perlahan-lahan. Gemetar tubuh belum juga hilang. Keringat cemas membasahi tangan dan kaki. Rasanya seperti hilang arah.


“Ibu sakit? Ibu kenapa?” tanya Izal cemas.


Aku tak bisa menjawab pertanyaan Izal. Kutatap bola mata lugu itu penuh prihatin. Ada yang perih dalam ronanya saat mengetahui kondisiku. Kuusap puncak kepala lelaki kecil itu. Tangis pecah seketika.


Izal bingung memeluk tubuhku yang masih gemetar dalam tangis. “Ibu jangan nangis. Bilang sama Izal, Ibu kenapa. Kalau ga ada Ayah, ga usah beli Gundam. Maafkan Izal, Bu. Nunggu Ayah saja.” Anak itu merasa bersalah dengan permintaannya.


“Tidak apa-apa. Sayang. Bukan karena itu, sakit Ibu kambuh. Ibu istirahat dulu, ya.”


Izal membantuku membaringkan badan. Dibetulkannya selimut untuk menutupi tubuhku. Anak laki-laki yang paling manja kepadaku itu, memeluk dan menciumi pipiku.


“Ibu cepat sembuh, Ibu jangan sakit.”


“Iya, Nak. Doakan, Ibu ya.”


Izal keluar kamar perlahan dan menutup pintu.


Kutatap lelaki bontotku itu dengan gamang. Apa yang harus kulakukan?


[Iya, Cin. Gimana? Aku masih di jalan. Sampai di rumah nanti aku mandi dulu terus kerumahmu ya] balas Sherly.


Siang itu, tak ada makanan yang bisa masuk ke dalam tubuhku. Mas Hadi pamit sampai malam? Kemana saja, coba? Suara tadi jelas suara Caca dan Nofi. Saat Caca bicara, suaranya seperti dibekap dengan tangan agar tidak terlalu keras terdengar.


Tiba-tiba teringat HP Mas Hadi yang belum selesai kuperiksa. Kuraih lagi benda yang terletak di bawah bantal itu dengan perasaan tak nyaman. Apa yang yang belum kuperiksa? Masa tidak ada bukti sama sekali tentang kepergian mereka? Tidak mungkin. Pasti ada. Tidak mungkin tanpa jejak sedikitpun.


Kubuka sekali lagi ponsel yang tidak terkunci itu. HP yang satu lagi terkunci layarnya sehingga tak bisa dibuka. Kutarik napas tegang. Semoga tak kutemukan apapun. Bismillah.

__ADS_1


Pertama kuperiksa chat aplikasi perpesanan, mungkin ada chat yang terlupa kubuka. Atau Mas Hadi menggunakan nama samaran untuk Nofi. Nama-nama yang tertera di pesan itu beberapa kukenal baik. Ada yang teman sekolah, teman kuliah dan teman Mas Hadi yang kukenal.


[Mas, kamu sudah berjanji menikahi aku, dan akan menceraikan, Cinta. Kapan kamu akan datang ke rumah menemui orang tuaku?]


[Sabar, ya] balas Mas Hadi membuatku muak.


[Besok pagi, jadi mengantar Caca lihat lumba-lumba?] tanyanya manja.


Menjijikkan! Mana ada wanita yang katanya paham agama, menggoda laki-laki dan mengajak pergi suami orang?


[Jadi, dong. Kangen sama Caca] pesan Mas Hadi.


Rasa ingin muntah membacanya. Laki-laki yang tak bisa menjaga kehormatan diri.


[Sama Caca apa Bundanya?] tanya Nofi.


Astaga, wanita macam apa pula ini? Bukannya menolak, malah memancing laki-laki.


[Sama Caca 10%, sama Bundanya 200%] balas Mas Hadi.


Subhanallah! Suamiku, berani mengirim pesan seperti ini kepada wanita lain?


Dengan rasa tak percaya kuperiksa pengirim chat itu. Fia Hadi. Perlahan kucek profil yang terpasang. Foto Nofi, Nofia. Mau menyembunyikan kontak Nofi dengan nama lain, “dasar laki-laki tak tau diri!” Runtukku sakit.


[Lho tenan, tho. Wes kendel, sudah berani kamu ya, Di. Kapan jadinya menikah?] Sebuah pesan dari Eko kubaca dengan rasa ingin menghantam laki-laki pengirim chat itu dengan sekop. Mulut laki-laki buaya!


Kunaikkan ke atas chat, monitor memampilkan lebih banyak chat dengan Eko. Aku membekap mulut sambil memekik. Tak percaya melihat semua chat dengan Eko, kuletakkan sebentar ponsel itu, lalu meraihnya lagi dengan perasaan tak menentu. Perut mulas, tubuhku menegang semakin hebat.


[Habis lebaran, Ko. Makasih ya sudah diajarin poligami] Mas Hadi mengirimkan foto-foto kemesraannya dengan Nofi.


Oh, jadi Eko yang mengajari poligami model begini. Model apa ini? Gemas ingin kudatangi rumah laki-laki tambun itu, lalu menceramahinya tentang poligami.


Kulanjutkan memeriksa chat ke akun perpesanan yang lain.


[Pak Hadi, Abah dirawat di RS. Minta tlg dikirim uang 3 juta untuk membayar obat] Tertera nama Mbah Jagad sebagai kontak. Oh, ini dia, biang keroknya. Kunaikkan lagi chatnya ke atas.


[Mbah, ceweknya mau dinikahi, tapi syaratnya aku harus menceraikan istriku, Mbah] pesan Mas Hadi.


[Kamu mau bercerai dengan istri pertamamu?] jawab Mbah Jagad.

__ADS_1


[Ya, tidak Mbah. Aku sayang anak-anak] lanjut Mas Hadi lagi.


Oh, masih bisa berpikir rupanya laki-laki itu. Aku tak habis pikir, poligami macam apa yang diinginkan kalau sembunyi-sembunyi. Bagaimana mau tenang?


[Tolong kirim 2.5 juta kalau begitu. Kubuat istrimu manut, dan diam, serta tidak tahu kalau kamu menikah nanti] pesan Mbah Jagad lagi.


[Kapan aku bisa menikah, Mbah?] tanya Mas Hadi antusias.


[Sebenarnya kalian itu sudah dinikahkan secara gaib, oleh Ratu Selatan. Apalagi kamu sudah mengenakan Batu Mirah Delima. Tinggal ke penghulu saja. Pasti istrimu manut, dan wanita yang mau dimadu juga klepek-klepek sama kamu. Tenang saja.]


Oh, Tuhan! Jadi ini biang keladi yang menyebabkan Mas Hadi nekad mendekati Nofi.


[Nggih, Mbah.]


[Ingat, kirim dulu uangnya, ya]


Habis berapa juta Mas Hadi untuk diberikan ke Mbah Jagad? Hanya untuk menaklukan Nofi, dan membuatku diam?


Kini aku bisa menemukan hubungan antara Eko, Mbah Jagad dan Pak Catur. Eko sebagai pelaku poligami, mengompori teman-temannya tentang indahnya poligami sehingga tergiur. Pak Catur menjadi inspirasi Mas Hadi mencari orang yang bisa membantu mewujudkan keinginannya. Mbah Jagad, si paranormal, membantu Mas Hadi agar bisa poligami dengan cara sembunyi-sembunyi. Agar tidka ketahuan ia membayar uang mahar kepada Mbah Jagad.


Mbah Jagad masih minta uang kepada Mas Hadi, seperti memeras. Setiap perlu uang, minta ke Mas Hadi.Kulihat beberapa foto bukti transfer terkirim ke rekening Mbah Jagad. Subhanallah, musyrik. Ini sudah melewati batas toleransi.


Kusimpan semua bukti percakapan itu dan mengirimnya ke nomor kontakku. Kulanjutkan membuka-buka aplikasi yang lain. Gallery! Aku hampir terperanjat sendiri mengingatnya. Kenapa bisa lupa?


Setelah menekan tombol klik pada icon gallery, kutelusuri semua gambar yang ada di sana. Gambar dari folder chat, download, dan terakhir ke folder kamera. Huft! Aku harus menyiapkan diri sebelum membuka seluruh isinya.


Satu persatu foto itu tersaji dengan sadis dan menyesakkan jalan napas. Tergambar seorang wanita tanpa hijab di mahkota kepalanya dan seorang lelaki yang memeluk mesra. Dia berani membuka hijab di depan laki-laki yang bukan siapa-siapanya? Senyum bahagia tersungging di bibir keduanya.


Gemetar kulanjutkan membuka foto yang lain. Foto Mas Hadi menggendong Caca dengan mesra dan menggandeng Alfin di lengannya. Kenapa Nofi tak melarang anaknya bermanja-manja kepada laki-laki yang bukan ayahnya? Ibu macam apa ini?


Tanpa pikir panjang, kukirim semua file ke nomor kontakku. Lalu kuletakkan ponsel itu dengan lemas tanpa tenaga. Kutarik dan hembuskan napas tanpa irama.


Kutenangkan diri dalam kepedihan. Air mata menyesakkan aliran di dalam kantungnya. Hidung menjadi tersumbat, karena sebagian air mata yang tak menemui saluran karena kutahan.


'Damaikan hatimu, Cinta. Tenangkan pikiranmu,' bisik hatiku mencoba mendamaikan diri.


Aku adalah telaga, tempat biduk yang dikayuh oleh lelaki yang ingin mengalunkan jiwa. Saat jiwa lelaki itu tak bertuan karena terpengaruh Batu Mirah Delima dan Nofia, haruskah telaga ini menanti kayuhan biduk yang telah koyak karena pengkhiatan?


Hujan menggerimis di tepi jendela, bersama puisiku yang selalu setia. Meresapi setiap tetes air mata kesedihan dengan doa. Semoga rasa sakit ini sebagai penggugur dosa.

__ADS_1


[Cint, bukain pintu. Aku sudah di depan] pesan Sherly sahabatku.


____


__ADS_2