Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Sayang


__ADS_3

Hari ini aku bersiap-siap untuk pemeriksaan lanjutan. Badanku sudah mulai terasa sedikit segar. Sakit di bagian bawah perut sudah tidak terasa. Panggul yang berdenyut tidak lagi sakit. Tarikan otot kram yang menyakitkan tak kurasakan.


Mas Hadi mengantar anak-anak ke sekolah, kemudian ke kantor untuk memeriksa pekerjaan dan mengecek laporan. Semenjak menikah, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Beberapa kali anakku dirawat, atau aku sendiri yang dirawat, Mas Hadi tetap masuk kerja.


Aku tak mempermasalahkannya. Siang atau sorenya, Mas Hadi baru kembali ke rumah sakit. Lagi pula, menunggu tanpa mengerjakan apa pun sangat membosankan. Lebih baik digunakan untuk bekerja, begitu pikirku. Tak masalah.


Pagi hingga siang, aku hanya seorang diri di dalam ruangan. Sesekali perawat datang mengecek kondisi infus dan menyuntikan obat pereda nyeri. Selama waktu itu, aku tak melakukan apa-apa selain terlentang di atas bed. Sesekali mata ini mengerjap karena mengantuk. Suara televisi menyiarkan berita kondisi negeri, sayup-sayup kudengar sebelum terlelap.


Terbangun saat menjelang pukul setengah dua, aku lupa belum sholat. Bergegas ke kamar mandi dengan langkah tertatih, kubawa tiang infus dan berusaha mengatur posisi agar darah tidak keluar dari punggung tangan. Setelah kututup pintu kamar mandi usai mengambil air wudu, seorang perawat masuk ke dalam ruangan. Mungkin sudah ganti shift. Ia masuk setelah mengetuk pintu, dan membukanya sendiri.


“Siang, Bu Cinta. Saya perawat jaga. Siang ini jadwal kita periksa ke Dokter Titin ya, Bu. Kita ke bawah, sudah ditunggu oleh beliau,” sapanya hangat.


“Saya salat dulu ya, Sus. Ketiduran, belum sholat,” pintaku untuk menunda periksa beberapa saat. Aku tersenyum kepada perawat tersebut.


“Baik, Bu. Nanti panggil saya kalau sudah selesai.”


Mas Hadi belum kembali ke rumah sakit. Mungkin sedang menjemput dan mengurus anak-anak. Aku hanya bisa bersabar. Hidup di Kota Semarang tanpa saudara, orang tua jauh di kampung, membuatku harus bisa menerima kondisi ini.


“Kita cek tensi dan suhu dulu ya, Bu,” kata perawat saat aku memanggilnya usai salat.


Perempuan muda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu, meraih pergelangan tanganku dan memasang tensi meter. Termometer digital ia pasang di ketiak kiriku. Sambil menunggu beberapa waktu kedua alat itu bekerja, perawat itu menanyakan kondisiku.


“Makan siangnya habis, Bu?”


Aku mengangguk dan tersenyum tanda mengiakan pertanyaannya.


“Obat setelah makan sudah di minum?”


Kepalaku kembali mengangguk untuk yang kedua kali. “Sudah, Sus.”


Saat kuperhatikan dengan baik, ia bukan perawat yang semalam kusangka lelaki tanpa wajah dengan sorot mata bersinar hijau semalam. Perawat yang semalam badannya tinggi tegap, suara dan wajahnya tegas. Yang ini, wajah dan suaranya lebih lembut. Badan langsing dan gerakannya lebih gemulai.


Setelah selesai memeriksa kondisi, wanita berparas manis dengan wajah oval itu mendampingiku ke ruang periksa yang terletak di lantai dua. Ia mendorong kursi roda yang kunaiki dengan perlahan. Setumpuk berkas pemeriksaan ia letakkan di pangkuan. Aku duduk menikmati derit roda yang bergesekkan dengan licinnya lantai.


Tiba di ruangan, telah menunggu seorang wanita mengenakan pakaian berwarna serba putih. Kulihat ia tersenyum menyambut kehadiranku. Kubalas senyum itu sambil menyapa.


“Siang, Dok!”


Perawat jaga, membimbing dan membantuku bersiap di bed pemeriksaan. Sebuah kain berwarna hijau ditutupkan di atas bagian bawah tubuhku. Sambil menunggu Dokter Titin, kusiapkan lahir batin untuk menerima hasil pemeriksaan. Semoga baik.


Dokter Titin berusia sekitar lima puluh tahun. Berbeda dengan Dokter Melisa yang masih muda dan modis, penampilan Dokter Titin lebih terlihat sebagai dokter. Mungkin karena usianya lebih tua, jadi kesan serius terpancar dari matanya.

__ADS_1


Setelah mengoleskan gel, wanita dengan jas praktik putih itu memutar-mutar kamera di atas perutku. Monitor di depan kami menampilkan hasil rekaman kamera USG. Kulihat setiap gerakan tanpa kedip.


“Tidak ada apa-apa. Hmm!”


Kamera itu memutari seluruh area perutku. Monitor menampilkan hasil rekamannya. Penasaran, kuperhatikan dengan seksama monitor itu, mencari sebentuk gumpalan penyakit yang seminggu lalu membuat gelisah. Dengan susah payah kuikuti setiap gerakan kamera yang terekam di monitor dan mencoba melihat sesuatu yang aneh, gagal.


“Sakit atau tidak saya tekan?” Dokter Titin menekan bagian perut yang aku keluhkan sakit.


Aku menggeleng. “Tidak, Dok.” Sungguh, tak ada lagi rasa sakit yang selama seminggu ini menyiksaku. Ke mana perginya?


Dokter berkaca mata bulat, dengan wajah yang sudah mulai mengeriput itu merapikan kamera dan peralatan setelah rekaman hasil USG keluar. Ujung jilbab berwarna salem melayang saat ia membalikkan badan untuk kembali ke kursi praktiknya.


“Betul tidak ada apa-apa? Yang di USG minggu lalu apa, Dok?” tanyaku tak habis pikir. Bukankah minggu lalu aku divonis kista fungsional. Kenapa tiba-tiba tidak ada begitu saja?


Apakah ini ada hubungannya dengan mimpiku semalam. Mimpi tentang penggembala binatang hijau berlendir, yang merobek-robek kulit perutku dan mengambil bongkahan batu hitam berkilat dari dalamnya? Apakah penyakitku sudah diambil oleh mereka? Katak hijau yang menjijikkan itu?


“Tidak ada apa-apa ini. Suhu badan ibu yang tinggi karena ada infeksi disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa. Rasa mual dan perihnya juga karena karena itu. Bukan karena apa-apa,” jelas Dokter Titin.


Dokter Titin mencoret-coret kertas resep dengan tulisan khasnya, dan memberi pengarahan kepada perawat yang sibuk mencatat setiap instruksi yang diberikan. Kedua orang itu berbicara dengan serius mengenai apa yang harus dilakukan untuk membantu kesembuhanku. Aku melihat Dokter Titin dan perawat itu dengan seksama, dan mencoba memahaminya.


“Terima kasih, Dok,” ucapku sebelum keluar dari ruang praktik.


“Cepat sembuh ya, Bu.”


“Terima, kasih Suster,” ucapku saat ia pamit kembali mengurus pasien yang lain.


“Kalau ada apa-apa, dipencet saja tombol darurat ya, Bu. Memang tidak ada yang menjaga ya, Bu? Sendirian saja?”


Aku tersenyum, sambil menahan getir. Hatiku mulai gelisah. Hingga sore Mas Hadi belum datang.


[Ada acara di lapangan RT. Anak-anak tidak mau berangkat.] Kubaca pesan Mas Hadi sore itu penuh pemakluman.


Mencoba mengerti perasaan Ivan dan Izal yang ingin bermain dan berkumpul dengan teman-temannya di lapangan, dalam rangka menyambut lomba peringatan Hari Kemerdekaan RI. Aku terdiam dalam hening, menikmati berbagai gambar yang terkirim oleh grup RT.


Senyum dan tawa gembira seluruh warga menyambut Hari Kemerdekaan terekam dengan riang. Ada yang nyeri, tapi bukan sakit di perut. Kurasakan lelehan cairan hangat mengalir dari ujung kelopak mata.


Aku tergugu. Sebuah video menampilkan seorang wanita tengah menyanyi dangdut dengan suaranya yang merdu mendayu. Mas Hadi duduk bersama bapak-bapak yang lain menyaksikan dengan antusias, sementara anak-anak berlarian di lapangan. Riuh rendah suara mereka diiringi musik.


Wanita yang sangat kukenal dengan baik. “Nofi!” pekikku dalam hati saat menyaksikan ia menyanyi sambil berjoget.


Telapak tanganku mencengkeram besi bed. Geligi beradu menahan geram. Kumatikan ponsel dan meletakkannya di bawah bantal. Suara merdu Nofi terngiang-ngiang.

__ADS_1


[Sayang, opo kowe krungu jerite atiku?


Mengharap engkau kembali


Sayang, nganti memutih rambutku


Ra bakal luntur tresnoku


Wes tak cobo nglalekke jenengmu soko atiku


Sak tenane ra ngapusi isih tresno sliramu


Pepuja neng ati nanging kowe ora ngerti


Kowe sing tak wanti-wanti malah jebul saiki


Kowe mblenjani janji


Jare sehidup semati nanging opo bukti


Kowe medot tresnoku demi wedokan liyo


Yowes ora popo Insya Allah aku iso, lilo


Meh sambat kalih sinten


Yen sampun mekaten


Merana uripku


Aku welasno, kangmas


Aku mesakno, aku


Aku nangis


Nganti metu eluh getih putih]


Aku menangis tersedu-sedu saat menyadari, hingga jam sepuluh malam Mas Hadi dan anak-anak belum sampai. Suamiku memilih menyaksikan Nofi menyanyi di lapangan, dari pada segera ke rumah sakit.


[Acaranya belum selesai.]

__ADS_1


Kucengkeram besi bed semakin kuat. “Argh!”


__ADS_2