Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Embrio


__ADS_3

Muak. Muak dan benci pada senyum suamiku sendiri. Bagiku, senyum itu bagai seringai serigala liar di hutan gelap dengan desir angin yang gemerisik tertiup angin, menakutkan. Matanya yang berbinar bahagia, menjelma warna saga.


“Senang pergi sama Nofi?” tak bisa kutahan amarah melihat reaksinya.


“Apaan sih, malam-malam bikin ribut. Udah tidur lagi aja!” sergahnya kesal.


Beberapa saat kemudian, laki-laki yang kupanggil ‘Mas’ sejak menikah itu, kembali meraih tubuhku yang berusaha melanjutkan tidur.


“Coba ceritakan lagi, bagaimana mimpimu tadi? Aku pergi ke mana? Sama siapa?”


Kalau aku membawa balok, sudah kupukul kepalanya agar dia diam menanyakan detail adegan dalam mimpiku. Bahagia sekali ia mendengar kisah itu. Huh! “Tidak!” jawabku membalikkan badan menghadap ke dinding.


“Ayolah, cerita dong,” rayunya.


“Apaan, sih, Mas! Mimpi kayak gitu saja diceritakan berulang-ulang,” sergahku gusar. “Udah, aku mau tidur.”


Mas Hadi tak segera tidur. Ia memilih sibuk dengan ponselnya seperti biasa. Aku tak peduli. Besok anak-anak masuk sekolah, aku harus bangun lebih pagi. Mengurus tiga anak tanpa asisten rumah tangga, sangat menguras tenagaku.


Mimpi malam itu menghantui hari-hariku selama seminggu. Seperti slide-slide peresentasi, mimpi itu tergambar jelas dalam alam bawah sadar. Di setiap kegiatan yang aku lakukan, ingatan terfokus pada adegan Mas Hadi begitu gembira mendengar mimpi yang aku ceritakan.


Setelah seminggu, Mas Hadi tak membicarakan lagi soal mimpi itu. Aku kembali fokus pada rencana untuk memiliki anak perempuan. Kumulai dengan program diet makanan yang menunjang produksi ****** X, ****** pembawa sifat perempuan. Dengan antusias aku mempersiapkan menu-menu menarik dari bahan makanan yang mengandung banyak asam dan mengurangi bahan-bahan makanan yang bersifat basa.


Pada bulan berikutnya, haid yang kutunggu tak kunjung datang. Hatiku berbunga-bunga. Apa yang kunantikan selama ini, sudah hampir terwujud di depan mata. Aku berharap, apa yang telah diusahakan membawa hasil. Hamil anak perempuan untuk Mas Hadi.


“Mas, aku telat nih, sudah seminggu belum keluar?” kataku merajuk.


Saat itu kami sedang duduk makan malam. Anak-anak sudah masuk ke kamar. Vian memilih membaca buku, Izal lebih suka menggambar. Adi mengerjakan banyak tugas sekolah. Aku tak menyalakan televisi saat malam, kecuali akhir pekan.


“Apanya yang belum keluar?” pekik Mas Hadi kaget.


Duh, masa tidak paham sih? “Haid, aku belum haid!” pekikku penuh kegembiraan.


“Kamu gak minum Pil KB lagi?” nada bicaranya sedikit kecewa.


“Lho, kan aku mau hamil. Ya aku gak minum, lah.”


Raut mukanya memancarkan rasa tidak suka. “Jangan sampai hamil!”

__ADS_1


Tenggorokanku tercekat hendak menjawab kalimat itu. “Kalau aku hamil beneran gimana?”


“Pokoknya jangan sampai hamil!” gusar, Mas Hadi meninggalkanku sendiri di meja makan.


Kubersihkan peralatan makan malam dalam diam. Mas Hadi memilih beranjak dan duduk di ruang tengah, kembali sibuk dengan ponselnya. Aku melanjutkan merapikan pakaian di kamar.


Tiba-tiba, ada yang terasa menyentak dari bagian bawah perutku. Aku terkejut. Semakin lama, gerakan dalam perutku itu menyebabkan rasa kaku. Ketika aku bergerak sedikit, ada yang mengganjal. Otot perutku terasa tertarik paksa, kram.


“Mas! Mas!” teriakku tertahan. Sakitnya semakin terasa saat aku berteriak.


Mas Hadi datang dengan gusar. “Apa sih? Bikin ribut aja!”


Terkesiap mendengar jawabannya, aku memilih menahan sakit itu sendiri. Tertatih, kubaringkan tubuh dan mencoba meluruskannya. Tidak bisa. Perutku terasa sakit bila tubuh ini terlentang. Aku memiringkan badan ke kanan, lalu menarik napas lega. Rasa itu sedikit berkurang.


Menahan perihnya tubuh, bisa kutahankan sakitnya. Namun, menahan hati yang kecewa dengan kalimat suami sendiri, rasanya lebih menyakitkan. Benarlah sebuah pepatah yang mengatakan, “lidah itu sangat kecil dan ringan, tapi bisa mengangkatmu ke derajat yang lebih tinggi, atau menjatuhkanmu ke derajat paling rendah.” Hanya orang rendah yang berkata tidak baik terhadap orang lain.


‘Cinta, maafkan dia ya!’ bisik suara hatiku terasa hambar.


Keesokan harinya, ada yang tidak nyaman pada tubuhku. Keringat dingin menetes tanpa sebab di puncak kepala. Tangan berkeringat dingin setiap saat. Kram di perut muncul beberapa menit sekali. Mataku berkunang-kunang.


“Ya periksa, tho!” saran Mas Hadi sebelum berangkat bekerja.


“Daftar dulu, nanti malam periksa,” perintahnya.


“Anterin ya?”


“Ya.”


Laki-laki itu berangkat bekerja setelah kucium punggung tangannya.


*****


Di hadapan Dokter Melisa, aku kembali terbaring di bed pemeriksaan. Monitor dinyalakan. Kamera disiapkan.


Wajah Dokter Melisa terlihat tegang melihat layar 17 inchi berhias logo huruf produsen yang memproduksinya. Ia kembali memutar-mutar kamera di perutku. Menggelikan. Berbeda dari pemeriksaan bulan lalu, kali ini waktu yang digunakan oleh Dokter Melisa lebih lama.


“Ini kok ada sesuatu ya, Bu. Saya belum tahu, ini embrio apa bukan. Kalau ini embrio, letaknya tidak menempel di rahim, tapi di luar rahim. Jelas tidak baik. Lebih jelasnya pakai kamera dalam. Bagaimana?”

__ADS_1


“Ikut aja, Dok. Mana yang baik.”


“Jadwal haidnya kapan?”


“Minggu lalu, Dok.”


“Sebelumnya pernah mengalami ini?”


“Belum, Dok.”


“Hmm ....” Dokter Melisa terus menggerak-gerakkan kamera untuk melihat bagian dalam rahimku. Ia membetulkan letak kaca mata untuk memperjelas penglihatannya. Wanita berwajah oriental itu menekan sebuah tombol. Keluarlah hasil rekaman bagian dalam rahimku.


Setelah merapikan pakaian, aku duduk bersama Mas Hadi di hadapan Dokter Melisa yang tak henti mengamati hasil rekaman itu. Berkali-kali ia memastikan gurat hitam dan putih di sebuah kertas kecil.


“Bu, coba perhatikan ini.”


Aku mencoba menerka-nerka, apa kira-kira yang ditunjuk oleh Dokter Melisa. Tak bisa. Aku hanya mendengarkan apa yang dijelaskan oleh wanita yang mengenakan jas parktik berwarna putih bersih itu.


“Ini, semacam kista, yang terletak di luar rahim. Ada tiga buah, ukurannya sekitar satu centi-meter. Ibu biasanya haid, sakit atau tidak di bagian perutnya?”


Aku menggeleng.


“Bagian pinggang?”


Aku menggeleng lagi. “Tidak sakit sama sekali, Dok. Hanya tadi malam sampe pagi ini, sakit sekali. Kram.”


“Kita tunggu sampai dua bulan ke depan. Jika haid ibu tidak lancar, atau terasa sakit yang tidak tertahankan, kista ini harus segera diangkat.”


Begitu cepat kalimat Dokter Melisa meluncur, aku tak sempat menyimpannya lebih lama dalam memory.


“Maksudnya, Dok?”


Wanita dengan wajah cantik dan mata sipit itu, mendeham sebentar, lalu melanjutkan penjelasan. “Saya tidak tahu ini kista yang harus segera diambil, atau jenis fungsional yang bisa luruh bersama haid. Ibu nanti perhatikan baik-baik dalam dua tiga bulan ini. Jika normal, mungkin kista fungsional. Namun, jika haid tak lancar, dan sakit sekali. Segera periksa, jangan menunggu lebih lama lagi ya. Kista fungsional adalah jenis kista yang paling umum terjadi, seperti kantung kecil berisi cairan yang tumbuh. Jenis kista ini tidak memengaruhi kesuburan, Ibu masih bisa hamil. Keberadaan kista fungsional dapat menunjukan bahwa seorang wanita sedang dalam masa subur. Kista fungsional dapat hilang dengan sendirinya, tidak memerlukan perawatan khusus.”


Malam itu, aku pulang dengan hati yang tidak menentu. Embrio dari ****** X yang aku perkirakan kehadirannya dalam rahimku, hanya sebuah ilusi. Kenyataan yang harus kuhadapi dalam dua hingga tiga bulan berikutnya, aku harus waspada dengan kondisi tubuku.


“Kalau jenis yang berbahaya dan menyakitkan, harus diangkat. Ini saya beri surat pengantar. Sewaktu-waktu kondisi darurat, supaya bisa segera ditangani. Nanti kita angkat dengan laparoskopi saja.”

__ADS_1


Penjelasan Dokter Melisa terbawa dalam tidur, menggantikan mimpi buruk yang beberapa minggu ini menghantui.


__ADS_2