Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Ulat Bulu


__ADS_3

“Suamimu yang mengejar-ngejar aku!” ketusnya. Wanita itu menampilkan senyum ramah kepada petugas, namun suaranya ketus menjawab pertanyaanku.


Geli sebenarnya, tapi aku menikmati setiap perubahan wajah Nofi dengan santai. Menikmati setiap bentakan Nofi yang hilang akal. Manusia yang waras, tentu akan menjawab salam sapaan dan pertanyaanku dengan baik.


Entahlah, siapa yang berpenyakit hati sebenarnya. Tak apa, yang penting aku puas membuat wanita yang dulu menjadi sahabat baikku itu memunculkan watak aslinya.


Petugas koperasi memandang kami penuh keheranan. Wanita bertubuh subur berkulit kelam itu segera menjauh setelah meletakkan barang pesanan Nofi. Matanya tak bisa berbohong. Tentu ia heran, biasanya kami datang ke sekolah bersama-sama.


“Oh, jadi ini foto kamu dikejar suamiku, begitu ya?” aku manggut-manggut, pura-pura mengikuti alur permainannya.


Semua foto di ponsel kubuka. Gambar seorang wanita tanpa hijab berpelukan dengan Mas Hadi di sebuah kamar hotel, foto lain mereka berpelukan di mobil.


“Aku tidak mau dipoligami, Cinta. Kamu kan sudah tahu sejak awal. Suamimu maunya monogami sama aku. Dia lebih mencintai aku dari pada kamu.”


Ups! Ingin tertawa, tapi kok rasanya tidak sopan. Ada ya, wanita seperti ini? Mengaku dicintai oleh laki-laki, tapi ditinggal pergi? Kalau benar-benar saling mencintai, tentu caranya baik. Bukan menipu, bukan merusak. Kalau saling mencintai, tentu sudah menikah.


“Syukurlah kalau mencintai kamu. Tapi kok, saat Mas sakit kamu ga merawatnya? Kok Mas minta aku yang merawat, ya? Bukan kamu?” jawabku tersenyum lebar.


“Sudah-sudah, jangan bikin ribut disini! Suka banget memalukan aku!”


“Lho, aku tanya baik-baik tentang anakmu. Kamu malah sewot. Eh, Alfin, kelas apa? A atau B? Sekelas tidak sama Izal?” tanyaku santai.


“C,” jawab wanita bermake up tebal itu ketus. Tangannya membuka-buka barang yang diserahkan oleh petugas. Ia memeriksanya dengan emosi.


“Oh, kelas C sebelah mana ya? Tetap di ruang tahun lalu apa pindah?” tanyaku lagi.


Kali ini aku tentu saja pura-pura bertanya. Aku tahu tempatnya. Hanya ingin membuat dia gelisah saja. Puas rasanya.


“Ngapain tanya-tanya?” tanya wanita itu semakin ketus. “Mbak, tolong baju batik perempuannya tukar ukuran agak besar, ya. Kurang panjang sedikit.”


“Lho tanya saja ga boleh gimana, sih?” Aku tertawa.


“Heh! Urus aja urusan kalian. Jangan ganggu aku lagi!” ketusnya marah. Wajahnya yang penuh dengan bedak tebal, bersemu merah tanda amarah.

__ADS_1


“Eh, Nof. Kamu ini kenapa, sih, kok marah-marah sendiri?” tanyaku sambil menyedekahkan senyum bersahabat. Mungkin kalau orang lain ia sudah dijambak, dicakar, atau bahkan di caci maki wanita dengan sebutan ulat bulu ini.


Wanita itu diam tak peduli. Ia mengemasi barang yang dipesan dari koperasi. Membayarnya dalam diam setelah disebutkan nominal oleh pelayan. Sambil menunggu kembalian ia membuang muka. Mulutnya maju entah berapa senti.


Kunyalakan kamera ponsel untuk berswafoto dengannya. Wajah wanita itu terlihat masam. Aku tak peduli. “Cekrek, cekrek,” bunyi ponsel yang menandakan wajah kami berhasil ditangkap kamera.


“Senyum dulu dong, Nof. Ga lucu kalau kamu manyun!” kuambil beberapa foto berdua. Kupasang tampang senyum paling memesona. Tak kupedulikan pengunjung lain yang heran melihat tampangku yang memaksa.


Wajahku yang penuh senyum, sangat kontras dengan wajah dan raut muka Nofi. Kusimpan baik-baik foto itu. Kuperiksa ulang, ada sekitar lima slide.


“Udahlah, Cint. Jangan ganggu aku lagi!” katanya memelas.


“Lho, kok menggangu, sih? Bukankah kita teman baik. Kamu sering main ke rumah, anak kita bersahabat. Justru kamu yang menghindari aku. Ada masalah apa? Kalau aku ada salah, maafkan aku ya Nof,” pintaku.


Nofi bergegas melangkah pergi. Aku masih harus membayar beberapa barang yang kupesan, sebelum akhirnya berlari tergesa-gesa menyusul wanita yang telah berusaha menghancurkan rumah tanggaku. Enak saja main kabur, aku belum selesai mengerjai.


Kemana tadi? Tak kulihat mobil warna merah marun terparkir di tempat parkir. Mataku liar mencari kemana perginya wanita dengan sepatu wedges warna krem dan tas hitam bermerek terkenal. Gaun bercorak harimau dan kerudung hitamnya juga tak nampak. Cepat sekali ia pergi.


“Lihat Nofi lewat, ga?” napasku terengah-engah.


“Barusan aja lewat. Ha ha ha ha .... Kamu apain tadi? Kok kecut banget mukanya?” wanita bertanya penasaran.


Kami tertawa berderai-derai membicarakan Nofi dan tingkahnya. Lucu saja melihat wanita yang sudah mencoba menghancurkan rumah tanggaku, masih juga tidak mau mengakui perbuatannya. Aneh saja melihat wanita yang berperilaku alim dan suci di hadapan manusia, agar dianggap mulia. Namun, sejatinya hanya tipuan belaka. Ulat bulu.


Usai mengurus peralatan sekolah anak-anak, aku kembali ke Rumah Sakit. Di dalam ruangan kulihat seorang perawat sedang mempersiapkan tindakan kepada Mas Hadi tepat jam sepuluh pagi.


Kubantu laki-laki itu mengenakan pakaian. Menyiapkan hatinya agar siap menjalani proses operasi dengan sabar. Tersenyum meski ada yang getir di dada ini.


“Nanti kalau sudah siap, kami dikabari, ya, Bu!” pesan perawat. Wanita yang kemarin mendampingi Dokter Roy meninggalkan ruangan.


Telepon berbunyi. Mas Hadi sedang di kamar mandi. Dalam gemetar, kulihat siapa yang memanggil suamiku. Siapa tahu ibu mertua atau saudara yang menanyakan kabar kami. Kabaca baik-baik agar tidak salah melihat.


‘Dik NaHadi’, begitu nama yang tertera. Kuamati foto profil si penelpon. Terpampang jelas siapa dia. Aku berusaha menekan diri agar tidak mengumpat, meski dalam hati.

__ADS_1


“Perempuan gila! Tak tahu malu!” Hanya itu yang mampu kuucapkan, selebihnya hanya istighfar panjang dalam gemuruh dada yang melompat-lompat. Kenapa masih juga menyimpan nomor kontak wanita itu dengan namanya?


Kenapa wanita itu masih menelpon Mas Hadi? Katanya tidak ada hubungan apa-apa? Katanya sudah tidak ada apa-apa lagi? Laki-laki bebal! Laki-laki tak tahu diri!


Mas Hadi keluar dari kamar mandi.


“Jelaskan! Coba jelaskan kenapa wanita sialan itu masih menelponmu?” teriakku tak tahan.


“Aku tidak tahu.”


“Kenapa kamu simpan namanya dengan namamu?” emosiku meluap.


Laki-laki dengan pakaian operasi itu diam.


“Aku pulang. Silakan urusi sendiri dirimu. Maaf. Aku tak bisa menjagamu lagi.”


Aku pulang dengan hati tak menentu. Kutarik tangan anak bungsukuu segera. Lelaki kecil yang sedang bermain game itu menatapku penuh tanya.


“Ibu, kenapa menangis? Siapa yang menjaga Bapak?” tanya Izal saat tangan mungil itu kugandeng untuk segera menjauh dari ruang perawatan.


Kulajukan mobil dalam gemetar, pulang. Tak kupedulikan lagi laki-laki yang tak bisa menghargai perasaan. Ia lebih memilih menuruti kata hatinya mencintai wanita lain yang ia rasa lebih baik dariku. Untuk apa aku mengurusnya?


“Ibu, Ibu kenapa menangis? Jangan menangis Ibu, Adik tidak akan nakal lagi.”


Pandangan mataku buram tak bisa melihat jalan. Sedih mendengar suara anak lelaki bungsuku itu. Ia menyaksikan bagaimana marahku saat mengangkat telepon Nofi ke Mas Hadi. Wajahnya berubah sedih saat emosiku tak tertahan lagi. Matanya menyiratkan luka yang amat dalam saat dengan paksa ia kuajak pulang, meninggalkan ayahnya yang tak berdaya di Rumah Sakit.


“Tidak apa-apa, Nak!” jawabku berbohong.


“Hati-hati, Bu!” teriak Izal si bungsu saat aku tak menghentikan laju mobil ketika lampu lalu lintas menyala merah.


"Ibuu!" pekik anakku.


----

__ADS_1


__ADS_2