Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Korpus Luteum


__ADS_3

Kista, mendengar nama itu hatiku menciut. Sebuah penyakit yang bagi kaum wanita sepertiku, membuat hati serasa berada di palung dasar laut terdalam. Gelap dan menyakitkan karena batu karang yang tajam. Apalagi mendengar kata operasi.


Rasanya sungguh mengerikan bila tubuh ini harus berada di meja operasi yang dingin dan beku. Sudah cukup rasanya menikmati ruang mengerikan itu saat kelahiran Izal dan Ivan. Sudah cukup kurasakan sakitnya bekas operasi yang menyayat tubuh ini beberapa jam setelah tindakan, dan penghilang nyerinya mulai berkurang efek sampingya. Nyeri tiada ampun.


Apakah harus meneruskan niat untuk hamil anak perempuan? Kalau tak bisa memberikan anak perempuan, bagaimana kalau Mas Hadi dekat dengan Caca? Ada sesuatu yang tidak semestinya dari cara Mas Hadi berbicara dengan Caca dan Nofi. Namun, aku tidak mau membuat perasaan itu berkembang menjadi sebuah ketakutan. Apalagi mendengar tindakan laparoskopi yang disebutkan Dokter Melisa. Tindakan tersebut harus diambil segera, bila sudah menunjukkan gejala tidak baik pada tubuhku.


Aku belum mempelajari lebih jauh mengenai laparoskopi ini. Menurut Dokter Melisa, hanya berupa sayatan kecil di perut sebanyak tiga titik untuk memasukkan kamera dan alat bantu. Coba nanti kutanyakan lagi sama Dokter Melisa saat periksa lagi. Supaya lebih jelas. Ragu dan cemas mulai menghantui, apabila apa yang aku derita benar-benar sebuah penyakit yang harus dilakukan tindakan operasi. Takut.


Sepanjang malam seminggu ini kuhabiskan waktu dalam gelisah. Gelisah menungu haid yang tak kunjung tiba, resah merasakan tubuh nyeri dan kram di bagian bawah perut, juga nyeri panggul tak tertahankan. Pereda nyeri dari Dokter Melisa hanya tahan beberapa jam. Setelahnya, nyeri itu datang tanpa peduli kapan waktunya, pagi, siang, malam, kapan saja dia mau menyiksaku. Perutku mulai sering terasa mual. Aku tak berselera makan, hanya bisa minum susu dan sedikit camilan. Bisa-bisa kurus tubuh ini.


Malam ke-6, aku tak bisa tidur. Tubuhku demam, meski tak tinggi suhunya membuat aku gelisah. Kuhabiskan waktu malam dengan membaca artikel untuk menambah pengetahuan.


Dengan mengetik kata kunci ‘kista’, lalu munculah bermacam-macam artikel kesehatan yang terekam di tombol pencarian browser. Kuamati artikel itu satu persatu, kemudian memilih salah satu dan menekan layar ponsel agak lama supaya artikel itu terbuka.


[Apakah Anda Mengidap Kista Ovarium? Cari Tahu Gejalanya di Sini


Setiap wanita memiliki dua ovarium yang setiap bulannya akan melepaskan sel telur secara bergantian. Terkadang kista (kantung kecil berisi cairan) bisa berkembang di salah satu ovarium. Mungkin Anda pernah mengalaminya tanpa Anda ketahui. Banyak wanita memiliki kista setidaknya satu kali selama hidupnya. Namun, umumnya ini tidak menyakitkan dan tidak berbahaya. Bahkan, kista ovarium ini bisa hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan.


Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika kista ini tidak hilang, malah makin membesar, dan pecah. Kista jenis inilah yang biasanya dapat menimbulkan gejala kista ovarium dan membuat Anda tidak nyaman. Ada dua jenis kista ovarium yang perlu Anda ketahui, yaitu:1.) Kista ovarium fungsional. Kista yang berkembang karena bagian dari siklus menstruasi. Jenis kista ini tidak berbahaya dan mudah untuk hilang dengan sendirinya. Ini merupakan jenis kista yang paling umum, 2.)Kista ovarium patologis. Kista ini berkembang karena pertumbuhan sel yang tidak normal. Biasanya kista ini menimbulkan gejala dan perlu perawatan khusus untuk menanganinya. Kista jenis ini bisa jinak atau ganas (kanker).


Apa saja gejala kista ovarium? Pada umumnya kista ovarium yang kecil tidak menyebabkan gejala apapun dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, kista ovarium yang besar, pecah, tak kunjung hilang dapat menyebabkan Anda merasa tidak nyaman dan menimbulkan beberapa gejala, seperti:1). Nyeri perut bagian bawah (nyeri panggul), yang bisa datang dan pergi, serta bisa menyebar ke daerah punggung bawah dan paha, 2.) Nyeri panggul sebelum dan sesudah menstruasi, 3.) Menstruasi tidak teratur, bahkan bisa menyakitkan, lebih berat, atau lebih ringan dari biasanya, 4.) Sakit dan merasa tidak nyaman di bagian bawah perut saat berhubungan seksual (dispareunia), 5.) Perut terasa tertekan, 6.) Merasa kembung atau bengkak pada perut, 6.) Kesulitan buang air besar atau sakit saat buang air besar, 7.) Lebih sering buang air kecil karena tekanan pada kandung kemih atau Anda mengalami kesulitan untuk mengosongkan kandung kemih, 8.) Merasa sangat kenyang setelah makan hanya sedikit, 9.) Mual, muntah, atau nyeri pada payudara, seperti yang dirasakan saat hamil.]

__ADS_1


Artikel itu kubaca berulang-ulang, memastikan agar tak salah baca. Apalagi artikel tersebut dari situs kesehatan yang dipimpin oleh dokter terpercaya. Sekonyong-konyong, perut bagian bawah terasa sakit tidak terkira. Terasa seperti ditarik oleh sebuah tali yang sangat kuat. Aku meringkuk menahan nyeri.


Paginya aku tak bisa mengantar Mas Hadi ke teras untuk berpamitan sebelum bekerja. Ia pun, bersiap-siap segera berangkat setelah dengan berat kusuguhkan sarapan pagi untuknya.


“Tuh, udah kubilangin. Tidak usah hamil. Sudah tua. Ga percaya. Trus, kalau sakit begini, siapa yang susah akhirnya?” gerutu Mas Hadi sebelum berangkat.


Aku hanya bisa tersenyum masam mendengarnya, lalu menenangkan diri seperti biasa bila mendengar kalimat tidak baik darinya. “Subhanallah.”


Mataku berkunang-kunang. Tangan dan kaki terasa seperti kesemutan. Tarikan di dalam perut bagian dalam terasa semakin kuat. Suhu tubuhku meningkat. Rasa mual yang muncul membuatku bangkit dari tidur untuk memuntahkan segala isi yang masuk ke dalam perutku. Dengan berjingkat pelan menahan desakan dari dalam perut, aku ke wastafel dapur.


“Hoek!” Makanan pagi tadi keluar dalam keadaan yang sudah tidak utuh lagi. Tidak hanya sekali aku memuntahkannya.


“Hoek! Hoek! Hoek!” Cairan berwarna kuning kehijauan menjadi akhir dari penderitaanku pagi itu.


Kubersihkan mulut dari sisa-sisa makanan dengan tengan yang telah basah oleh air kran. Bunyi gemericik meningkahi gerakan tanganku. Tak bisa menahan berat tubuhku sendiri, rasanya semua bergoyang. Aku terhuyung ke belakang dan terduduk di lantai dapur.


Tak ada siapa-siapa. Anak-anak sudah berangkat sekolah. Aku sendirian. Kok rasanya seperti hamil ya? Tapi Dokter Melisa mengatakan ini bukan hamil. Gambar tiga buah titik di dalam sekitar rahim yang diperlihatkan, sudah bisa dipastikan bukan embrio.


Dengan langkah terseok aku kembali menuju kamar, merebahkan tubuh perlahan-lahan. Kukabari Mas Hadi untuk menyampaikan kondisiku. Berharap ia segera pulang dan membawaku ke IGD terdekat.


[Mas, aku lemes. Habis muntah-muntah. Gak kuat rasanya.] tulisku dalam pesan WA.

__ADS_1


Kutunggu pesan balasan dari Mas Hadi. Berkali-kali kubuka chat, tak ada tanda pesanku berbalas. Di setelan terakhir terlihat, terdeteksi satu jam yang lalu sebelum pesanku terkirim. Mungkin sedang sibuk, hibur hatiku menenangkan diri.


Kram semakin terasa menguat setiap kugerakan tubuh ini. Kalau menunggu Mas Hadi pulang, masih nanti sore atau malam jika ada lembur. Apa baiknya aku berangkat sendiri ya? Kutimbang-timbang mana yang lebih baik. Berangkat sendiri saja naik taksi. Kalau ada apa-apa bisa tertangani lebih cepat.


*****


“Dokter Melisa sedang cuti seminggu, bagaimana kalau dengan dokter lain, Bu?”


Aku terpaksa berangkat sendiri ke rumah sakit. Memang tadi tidak janjian dulu, karena sakitnya sudah tak tertahankan aku memilih langsung ke rumah sakit tanpa memberi tahu Mas Hadi.


Satpam menyambutku dengan kursi roda begitu aku turun dari taksi dengan tubuh gemetar menahan nyeri. Tubuhku serasa tidak menyentuh tanah.


Laki-laki berpakaian seragam biru tua itu, mengantarku ke ruang IGD. Perawat jaga datang menghampiri dan mencatat identitasku. Kuserahkan surat pengantar dari Dokter Melisa, ternyata beliau tak ada. Perawat menawarkan kepadaku untuk dirawat Dokter Titin. Aku setuju.


Melalui Dokter Titin, perawat mendapatkan arahan untuk melakukan beberapa tindakan.


“Bu, rawat inap saja ya. Sambil menunggu hasil lab. Sudah seminggu demam, kenapa ibu tidak periksa saat panas 3-5 hari. Ga takut DB, Bu?”


Aku tersenyum lemah menyaksikan perawat memasang inpus dan memeriksa kondisi tubuhku yang terasa seperti melayang.


[Mas, aku opname di RS. Columbia, Kalibanteng. Tolong titip anak-anak kalau nanti pulang sekolah jam dua, ya.]

__ADS_1


****


__ADS_2