
Langit sore dengan sinar matahari berwarna kuning kemerahan, ceria. Kulihat bayang-bayang teduh pepohonan jatuh di jalan berpaving block saat akan memasuki rumah. Liukkan manja dedaunan tergambar hitam di atas paving itu.
Pulang dari Rumah Sakit kurebahkan tubuh di pembaringan. Rasa sakit dan perih membuatku sulit bergerak. Ngilu di area panggul berdenyut-denyut. Panas membakar **** ********** sangat menyiksa. Rasanya seperti bara api yang membakar setiap bagiannya, sakit.
“Bu, Adik belum selesai tugasnya. Tapi mau main bola dulu di lapangan.”
“Selesaikan dulu dong, Dek,” jawabku meringis kesakitan.
Riuh suara kanak-kanak bermain bola terdengar riang di lapangan. Setiap sore mereka berkumpul di lapangan tanpa sebuah janji. Apapun yang terjadi, bermain bola adalah sebuah ikatan hati di antara anak laki-laki di kompleks itu. Usai Azar bila cuaca cerah, tanpa ada komando mereka membentuk tim dan saling adu kekuatan merebut bola plastik.
Permaian usai bila ada salah satu ibu yang memanggil pemain bola dadakan itu, kumandang Azan Magrib, bola plastik rusak atau terlempar ke luar pagar komplek dan tidak bisa diambil lagi. Ketika itu terjadi, wajah kuyu penuh peluh akan pulang ke rumah masing-masing.
“Nanti malam saja,” teriaknya sudah berlari.
Kulanjutkan menikmati rebah. Tubuhku semakin ringkih. Pinggang mulai terasa sakit dan ngilu seperti saat mengalami terlambat haid. Suhu tubuhku belum stabil. Selera makan tak lagi menyapa diri.
Setiap hendak makan atau minum, ingatan ini kembali pada foto-foto kemesraan Mas dan Nofi yang menjijikkan. Ketika akan berdiri, aku tersentak oleh bentakan Mas Hadi apabila kunasihati. Tubuhku limbung lagi. Tak ada semangat untuk hidup. Untuk apa aku hidup?
Bagaimana kalau aku sakit menular? Aids? HIV? Gonorrhea? Dari mana pula aku bisa sakit? Siapa yang menulari?
Menunggu hasil laboratorium masih seminggu lagi. Rasa hati tak menentu. Masih segar ingatan tentang vonis kista fungsional beberapa waktu lalu, sekarang harus berhadapan dengan penyakit yang belum kutahu karena apa.
“Itu makanya jangan sok suci. Mengatakan orang lain tidak baik, nyatanya diri sendiri sakit kelamin.”
Tak kusangka reaksi Mas Hadi seperti itu saat kukabarkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan oleh Dokter Melisa tentang penyakit kelamin yang ditimbulkan akibat **** bebas, berganti-ganti pasangan yang tidak diketahui latar belakangnya.
Sakit hati, tentu saja. Bagaimana tidak sakit hati, aku wanita yang menjaga diri dan kehormatan. Justru dia yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatannya untukku, malah menuduh aku sok suci. Aku hanya ingin membukakan mata hati dan pikirannya, bahwa berganti-ganti pasangan itu bahaya resikonya. Apalagi tidak tahu siapa yang pernah berhubungan dengan Nofi dan mantan suaminya. Suaminya selingkuh dengan wanita yang tidak baik.
Entah apa yang sudah mereka lakukan. Apakah aku harus bertahan dengan kondisi tidak baik ini? Bertahan hati tersiksa, tidak bertahan sama dengan membiarkan setan bertepuk tangan. Apalgi Mas Hadi masih dengan kemsyrikannya. Sudah layak dan boleh ditinggalkan.
“Boleh ditinggalkan, bukan berarti harus ditinggalkan, Cint,” nasihat Sherly saat kami berbincang di Bakso Geger kemarin.
“Cinta itu apa sih? Cinta itu adalah mengajak seseorang menuju kebaikan, menuju ridho Illahi. Apa menurutmu suamimu dan Nofi itu cinta? Bukan! Itu bukan cinta. Itu nafsu setan, Cint.”
__ADS_1
“Apakah harus bertahan?”
“Harus!” kata Sherly semangat.
Iri melihat semangat wanita yang terbalut anggun dengan gaun berbunga warna merah muda itu. Wajah Indonya tanpa make up terlihat natural. Sejak ia memeluk agam Islam, hijab tak pernah lepas dari kepalanya.
“Jangan biarkan iblis menghancurkan rumah tanggamu.”
Mendengar kata iblis, hatiku tersulut hendak mengalahkannya. Namun, aku juga harus menakar diri. Suami seperti apa yang harus kupertahankan? Suami yang musryik dan berzina?
“Tapi, Sher. Aku wanita yang menjaga kehormatan diri. Apa aku harus bertahan dengan laki-laki pezina?”
“Bila kamu bersabar, suamimu taubat dan mendapatkan hidayah karenamu, maka ladang pahala yang besar bagimu membuat seorang musryik kembali beriman.”
“Apakah saat itu ada?”
“Kenapa kamu tidak yakin? Allah Maha pembolak-balik hati. Kekuatan tertinggi melawan iblis itu, saat kamu didizalimi, kamu mendo’akan kebaikan untuknya. Allah saja Maha Pengampun. Ampuni suamimu, tapi tak perlu beri ampun pada Nofi.”
“Sakit, Sher,” bisikku pelan.
Kudengarkan nasihat Sherly dalam diam dan merenunginya. Apakah Mas Hadi baik untukku?
“Belum tentu suamimu yang tidak baik sekarang, adalah sesuatu yang buruk. Bisa jadi ia dikirimkan Allah untukmu, agar menjadi baik dengan jalan itu. Pahala yang besar, jika ia bertaubat karenamu.”
‘Pahala yang besar, jika Mas Hadi bertaubat karenaku’, kalimat itu membuat mataku mengembun. Allah, apakah aku kurang bersyukur?
*****
“Trichomonas.” Dokter Melisa membaca kertas hasil laboratorium yang kuulurkan.
“Apa itu, Dok?”
Sebelumnya sudah kubaca lembar hasil lab itu saat baru diserahkan oleh petugas. Rasa penasaran mengenai apa yang terjadi menuntunku membuka paksa amplop itu. Namun, belum jelas bagiku apa itu bakteri ‘Trichomonas’ yang terdeteksi dalam tubuhku.
__ADS_1
“Trikomoniasis itu penyakit menular seksual, Bu. Disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Trikomoniasis sebenarnya dapat dicegah dengan perilaku seksual yang aman, yaitu tidak bergonta-ganti pasangan seksual dan menggunakan ******.”
“Kok saya bisa kena, Dok?”
“Trikomoniasis itu menular melalui hubungan seksual, Bu. Selain hubungan seksual, berbagi pakai alat bantu **** dengan penderita trikomoniasis juga dapat menularkan penyakit ini. Penyakit trikomoniasis sering kali tidak menimbulkan gejala. Walaupun tanpa gejala, seseorang yang menderita trikomoniasis tetap dapat menularkannya kepada orang lain.
Trikomoniasis disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis, yang menyebar melalui hubungan seksual. Parasit ini juga bisa menular lewat berbagi pakai alat bantu **** yang tidak dibersihkan terlebih dahulu.
Risiko trikomoniasis terjadi pada orang yang sering bergonti-ganti pasangan seksual, tidak menggunakan ****** saat berhubungan seksual, pernah menderita trikomoniasis, pernah menderita penyakit menular seksual.
“Gejalanya apa saja, Dok?” ingin mencocokkan dengan apa yang kualami.
“Kebanyakan, sih, penderita trikomoniasis tidak merasakan gejala apapun, Bu. Tapi penderita bisa menularkan trikomoniasis. Bila terdapat gejala, biasanya keluhan akan muncul 5-28 hari setelah terinfeksi," jelas perempuan berwajah oriental itu menatapku.
Mencoba menghitung mundur sejak kurasakan gejala ini, hingga kutemukan bukti Mas Hadi pergi dengan Nofi. Aku tak bisa menghitung dan melacak jejak waktu.
“Ini beberapa tandanya, Bu. Bisa ditandai dengan keputihan yang banyak dan berbau amis, keputihan berwarna kuning kehijauan, bisa kental atau encer, serta berbusa, gatal yang disertai rasa terbakar dan kemerahan di area ******, nyeri saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil.”
Rasa nyeri di bawah sana begitu mendengar kalimat Dokter Melisa. Sakitnya tak tertahan saat buang air kecil. Duhai!
“Seharusnya, suami Ibu juga perlu periksa ke dokter. Harus diobati juga agar tidak menimbulkan efek bolak-balik.”
Aku mengangguk. Bagaimana mau mengajak, kalau aku sakit saja masih disalahkan?
“Ini saya resepkan metronidazole. Dikonsumsi 2 kali sehari, selama 5-7 hari, ya, Bu. Selama masa pengobatan, Ibu jangan dulu berhubungan seksual sampai sembuh. Ibu harus menghindari konsumsi minuman beralkohol 24 jam setelah mengonsumsi metronidazole, karena bisa menyebabkan mual dan muntah.”
Wanita itu menuliskan resep untuk kukonsumsi beberapa hari.
“Kalau Ibu mematuhi dengan baik , biasanya sembuh dalam tujuh hari. Tapi, Ibu perlu periksa kembali dalam 3 minggu hingga 3 bulan setelah pengobatan, untuk memastikan diri terinfeksi kembali atau tidak. Trikomoniasis yang terjadi pada wanita dapat membuat penderitanya lebih rentan terkena infeksi HIV, Bu."
Penutup kalimat Dokter Melisa membuatku gelisah. HIV? Penyakit yang selama ini aku takutkan.
Dalam resah dan gontai, kutinggalkan ruang praktik Dokter Melisa. Perawat menawarkan kursi roda, tapi kutolak.
__ADS_1
[Apakah aku tetap harus bertahan, Sher?] pesanku pada Sherly dalam gundah.
Langit senja Kota Semarang beranjak memasuki waktu malam. Aku melangkah pulang dengan hati yang semakin gamang.