
“Aku tidak mau minum obat! Aku tidak sakit! Kamu aja yang minum. Kan, kamu sakit!” Wajah lelaki itu berwarna merah padam saat kuulurkan obat dari Dokter Melisa.
Subhanallah, lelaki bebal macam apa yang aku nikahi? Sudah tahu istrinya terindikasi penyakit menular, tapi tidak mau berobat bersama. Sudah terbukti hasil laboratorium yang aku tunjukkan kepadanya, juga hasil konsultasi dengan Dokter Melisa. Masih juga belum bisa menerima kalau aku sakit, dan kemungkinan dia juga membawa bakteri itu yang entah dari mana asalnya.
“Jika tidak diobati bersama, takut nanti pas aku sembuh, Sampeyan masih ada bakterinya, nulari aku lagi,” jelasku memberi pengertian agar ia memahami.
Namun, harapanku tak menemui tujuannya. Laki-laki itu tidak paham, atau bahkan tidak mau menerima kenyataan bahwa penyakit yang aku derita harus dituntaskan pada tubuhku, juga pada dirinya. Huft! Dasar laki-laki!
Sekarang laki-laki itu tidak mau meminum obat, ataupun periksa ke dokter. Jadi harus bagaimana lagi menyelesaikan masalah? Kenapa begitu keras hati dan kesombongannya?
“Aku tidak mau sakit Aids Mas, aku tidak mau kena HIV!” jeritku tersiksa.
Duhai laki-laki yang kupanggil suami, tak tahukah kamu apa yang kurasakan saat ini? Sakit fisik, sakit hati, dan sakit jiwa karena perbuatanmu.
“Sakit Aids dari mana?” teriaknya menyesakkan pendengaran.
Mengapa masih bertanya sakit dari mana? Apa dia tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan di luar sana bersama wanita lain? Wanita yang tidak diketahui dnegan pasti sudah berhubungan dengan laki-laki mana saja.
“Mas, apa yang sudah kalian lakukan? Tentu aku tidak sembarang menuduh kalau tidak ada bukti.”
“Sok tahu, maha tahu!” gerutunya kesal.
Subhanallah. Lelah sekali rasanya dengan semua ini. Bagaimana cara memberi tahu, kalau ini serius? Masih kurangkah kesabaranku?
“Mas, kalian laki-laki dan wanita dewasa. Pergi kesana kemari layaknya suami istri. Ketika istri menuduh kalian berzina, memang zina. Tak pantas seorang laki-laki pergi menginap dari hotel ke hotel dengan wanita yang berani membuka aurat dengan sengaja. Kalian sudah menikah?”
“Belum!” jawabnya pendek.
“Bisa kupegang kata-katamu?” kutekankan kalimat itu dengan nada berat.
“Bisa!” matanya membulat saga seperti hendak melompat paksa.
”Mas masih ingin menikahinya?”
“Tidak!”
“Lho, dulu katanya mau menikahinya?”
“Itu kan dulu.”
__ADS_1
“Sekarang?”
Laki-laki itu terdiam. Kulihat wajah letihnya tak seceria dulu, kehangatan yang sirna.
“Aku sakit. Dan sakit ini karenamu!” pekikku tak tahan.
“Jangan menuduh sembarangan!”
“Perempuan itu bukan perempuan baik-baik, Mas.”
“Kayak kamu paling suci saja! Lihat tuh, kamu yang sakit, kan? Bukan dia?”
Oh Tuhan! Gontai tubuhku mendengar kalimat itu. Iya, kenapa aku yang sakit? Padahal yang berzina mereka.
“Tahu kenapa kamu sakit? Karena menuduh orang lain berzina tanpa bukti! Akhirnya balik sendiri mengenai kamu! Rasakan sakitmu, akibat pikiran dan energi negatif terhadap orang lain!”
Kurang jelas apa sebenarnya bukti yang aku berikan, ya? Foto seorang laki-laki beristri dan wanita tanpa suami di kamar hotel, dengan pose yang tidak patut, masih kurang? Video yang memutar kebersamaan dan kegembiraan mereka layaknya keluarga, belum cukup?
Ditambah bukti foto dan video Nofi pergi dengan laki-laki tak dikenal, yang disangkal oleh Mas Hadi sebagai taksi on-line, tidak membuka matanya tentang siapa wanita yang dicintainya itu? Apakah aku yang keterlaluan, atau Mas Hadi yang tak bisa berpikir dengan waras?
“Begini saja, Mas ikut periksa minggu depan saat obatku habis. Harus bersama-sama periksanya.”
Wanita bisa menahan sakit dan perihnya mengandung dna melahirkan. Bahkan mungkin laki-laki tak akan sanggup melalui proses itu. Namun, sekali bentakan dari laki-laki yang sudah sekian lama menjadi suami, meruntuhkan semua benteng pertahanan yang selama ini kuperkokoh.
****
Allah, apa yang harus aku lakukan dengan semua ini? Apakah harus bertahan? Ataukah harus pergi.
Sore ini, Mas Hadi pulang dalam keadaan tidak enak badan. Ia mengeluh sakit perut dan mual tak tertahan.
“Tolong di keroki,” katanya pendek. Tubuhnya lemas, keringat dingin membasahi dahinya
Dengan patuh kulaksanakan perintah Mas Hadi untuk mengeroki tubuhnya. Suhu tubuh seperti membakar setiap yang bersentuhan dengan kulitnya, tapi telapak tangan dan kaki dingin saat kupegang.
“Tadi aku buang air kecil warnanya merah muda,” kisahnya cemas.
“Harus periksa ke RS,” perintahku sambil menggerakkan koin di punggungnya. Aroma minyak kayu putih menguar.
Selama hampir seminggu Mas Hadi mengeluh tidak enak badan. Suhu tubuh naik turun tidak menentu. Tidak mau minum obat apapun.
__ADS_1
“Biasanya aku tidur saja sudah sehat lagi.” Kalimat yang selalu diucapkan saat sakit.
Sejak awal menikah hingga hampir lima belas tahun, laki-laki yang kupanggil Mas itu memang tidak pernah mau minum obat meski badannya sakit. Diajak ke dokter sulit sekali. Pernah suatu hari aku harus menelpon Ibu mertua agar beliau menasihati anaknya periksa ke dokter, saat selama satu minggu ia panas demam. Setelah diperiksa ternyata sakit tipes dan harus segera opname. Mas Hadi menolak dirawat di Rumah Sakit.
Laki-laki itupun memaksakan dirinya untuk tetap berangkat ke kantor. Sudah kusarankan untuk istrirahat dan meminta izin atasan. Aku sudah mengenalnya dengan baik selama hampir dua puluh tahun. Jadi ketika ia dalam keadaan sakit dan masih memaksa masuk ke kantor, aku tak bisa apa-apa lagi kecuali tersenyum mengantarkan di depan pintu.
*****
“Bapak opname, ya?”
“Opname aja, Dok!” jawabku pendek sebelum Mas Hadi menjawab.
Sore itu, Mas Hadi bersedia kuantar ke dokter untuk memeriksakan diri karena demam sudah hampir dua minggu tak kunjung sembuh. Ketika sudah tidak kuat lagi, ia meminta ke dokter.
“Sebenarnya sudah sering demam, Dok. Tapi hanya minta dikerokin. Tidak mau diajak periksa atau minum obat,” terangku kepada Dokter Roy. “Sulit minum air putih juga.”
“Besok pagi kita USG, untuk memastikan, ya Bu,” pesan dokter berperawakan gemuk dan pendek itu sebelum melanjutkan memerksa pasien berikutnya.
Dokter Roy memeriksa kondisi pasien di bilik sebelah. Kudengar ia sedang menanyakan keluhan seorang wanita bersuara lemah. Kutaksir usianya tiga puluh tahun.
“Ibu, ibu daftar dulu ke depan, untuk mendapatkan ruang rawat inap,” perintah perawat jaga kepadaku. Wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu, lalu mengikuti Dokter Roy setelah urusannya denganku selesai.
Berjalan ke meja pendaftaran rawat inap. Kubawa ponsel Mas Hadi karena data asuransi ada di sana. Kartu asuransi dari kantor belum diterima, sehingga untuk memeriksakan diri menggunakan aplikasi di ponsel pintar.
“Dek, dek, sini HP-nya,” Ia tertatih-tahih menyusulku ke meja pendaftaran.
“Apa sih, Mas! Masih dipake daftar ini lho HP-nya. Kode asuransi dan nomornya masih di situ!” kutunjuk HP yang direbut olehnya.
Laki-laki itu kembali ke bilik perawatan setelah mengambil paksa HP yang aku gunakan untuk mendaftar. Kubuang napas sebal. Kenapa kok bisa-bisanya mengambil paksa HP yang digunakan untuk mendaftar.
Setelah selesai melakuan pendaftaran aku kembali ke bilik pemeriksaan. Masuk melalui bagian kepala Mas Hadi, laki-laki itu tak menyadari kehadiranku. Terlihat ia masih sibuk dengan ponselnya.
Aku diam mematung tanpa suara. Berdiri tepat di belakang bed kepalanya.
Korden bilik berwarna hijau muda memisahkan ruang antar bilik. Terdengar suara Dokter Roy di balik kain itu.
Mas Hadi tersenyum sendiri dengan ponselnya. Jemari laki-laki itu memainkan keyboard untuk menjawab setiap pesannya. Mungkin mengabari teman kantornya bila besok tidak bisa masuk kerja.
[Semoga segera sehat, ya, Mas] pesan sebuah akun yang terbaca olehku.
__ADS_1
Kubaca baik-baik nama yang tertera di bagian atas, ‘Dek Fi Hadi’.