Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Batu Mirah Delima


__ADS_3

Malamnya, aku dirawat di rumah sakit yang terletak di daerah Kalibanteng. Rumah sakit terdekat yang melayani asuransi kantor Mas Hadi.


Mas Hadi menyusul ke ruangan perawatan di sore hari bersama anak-anak. Kebetulan, sekolah mereka tidak jauh dari rumah sakit. Mereka ikut menginap di rumah sakit karena tidak ada yang menjaga. Bisa berangkat sekolah dari sini esok pagi.


Karena bukan penyakit menular, aku mengizinkan mereka tidur di ruangan ini. Izal si bungsu yang sangat manja tentu tak bisa ditinggalkan. Ivan lebih dewasa sebenarnya, tapi ia memilih ikut ke rumah sakit. Lebih baik ikut di sini. Adi memilih di rumah saja. Untuk makan sudah di siapkan mi instan dan beberapa roti.


Suhu tubuhku belum juga normal. Rasa nyeri di perut bagian bawah masih terasa meski tak sesakit hari sebelumnya. Rasa mual sudah tidak muncul lagi. Panggul masih berdenyut menyakitkan. Aku mencoba memejamkan mata setelah perawat mengecek dan menyuntikkan obat pereda nyeri. Anak-anak sudah pulas bersama ayahnya di extra-bed.


Ruang rumah sakit tempatku dirawat terasa sangat gelap. Mungkin karena lampu dimatikan. Aku berusaha bangkit dari posisiku tertidur di bed. Tidak bisa. Tanganku menggapai-gapai. Tak ada yang sesuatu pun yang bisa kuraih sebagai pegangan.


*****


Di sebuah tanah lapang, seorang lelaki tanpa wajah mengenakan tudung kerucut bambu membawa sebuah karung. Dari kejauhan, kulihat ia melepaskan tali karung goni berisi binatang berwarna hijau kehitaman. Binatang kecil itu meloncat-loncat menerjangku dengan antusias. Lendir dari kulit napas binatang itu menempel ke tubuh ini. Aroma amis dan lumuran lumpur basah terloncat setiap binatang itu bergerak mendekat. Menjijikkan.


Kukibaskan tanganku untuk mengusir binatang itu. Seketika gigi taring tajamnya menggigit jemari ini. Kuentakkan kaki agar mereka lepas dari tubuhku. Semakin kukibaskan, gigitan mereka semakin tajam mencengkeram. Binatang itu mengerubung perutku yang tengah menahan sakit. Mengggigit setiap senti bagian isi perut. Mencabik-cabik kulitnya hingga keluar tiga buah batu hitam kecil berkilau.


“Pulang, aku mau pulang!” teriakku dalam kekalutan.


Keringat semakin deras membasahi tubuh. Sakit tak tertahan di area perut bagian bawah. Binatang-binatang itu mencengkeram kuat dan tajam. Seperti sebuah catut yang mencabut paksa sesuatu dalam tubuhku. Ya, mereka mengambilnya. Mengambil apa yang tersimpan dalam saluran rahimku.


Ada yang terasa lapang di rongga perut ini setelah binatang berlendir itu menjauh membawa ketiga batu dari tubuhku. Keringat dingin membasahi kepala.


“Pulang, Mas. Pulang!” kugeleng-gelengkan kepala tanda tak mau berada di rumah sakit ini. “Aku mau pulang!” tangisku tergugu mengingat gigitan binatang hijau itu. Binatang yang menjelma semakin besar, berlendir, dan anyir. Mereka menjilat seluruh tubuh ini tanpa ampun.


Bulu tengkukku merinding saat lelaki tanpa wajah itu menuju ke arahku. Semakin mendekat, lelaki itu melangkah ke arahku, semakin gugup irama jantungku. Terlihat sorot matanya berwarna hijau menatap lurus dan tajam.


“Aku dari pantai selatan,” pesannya agar aku mengingat siapa dirinya. Suaranya menggema di pendengaran. Ia menerima tiga buah batu yang dibawakan katak hijau peliharaanya, lalu melangkah pergi menjauh.


*****


“Ssst! Kamu mimpi buruk lagi?” Mas Hadi sudah di sampingku bersama perawat jaga yang hendak menggantikan infus.


Tubuhku hampir meloncat saat benar-benar menyadari, ternyata sosok tanpa wajah tadi, adalah perawat yang tengah berdiri dalam temaramnya lampu ruangan. Wanita berkerudung itu, membungkuk untuk menyuntikkan obat ke dalam infus yang terpasang di punggung tanganku.

__ADS_1


Mimpi buruk lagi di tengah malam. Aku meludah ke kiri sebanyak tiga kali. Sebagaimana ajaran Rasul Allah bila bermimpi buruk dan menakutkan sambil berzikir. Masih dalam tangis, kupeluk Mas Hadi yang sore tadi datang bersama anak-anak untuk menjagaku. “Aku mau pulang.”


“Kamu lihat apa?” tanya Mas Hadi saat perawat menutup pintu.


“Katak hijau. Banyak sekali. Mereka mengambil isi perutku. Ada laki-laki tanpa wajah dengan sorot mata yang menakutkan.”


“Sepertinya ada yang mencoba mengirimkan sihir untuk mencelakaimu. Tidak apa-apa, sudah kusuruh pergi laki-laki itu.”


“Kok, Mas tahu. Memang siapa yang mengirim begituan ke aku?”


“Ya ga tahu. Mungkin tidak suka denganmu.”


“Apa aku orang jahat, sampai ada yang tidak suka? Siapa yang tidak suka aku?”


“Jawab aja sendiri, kamu jahat atau tidak. Mungkin ada yang tak suka kamu hamil.”


Apakah aku orang jahat? Mengapa ada yang ingin mencelakai? Mengapa ada yang tidak suka denganku? Apa yang tidak ia suka? Apa tidak suka jika aku hamil? Atau dengan sikapku?


Mas Hadi jadi aneh. Kok, tahu-tahunya ada yang mau mencelakai dan menyihir agar aku tidak hamil. Kuingat-ingat, semenjak kepulangan dari Jogja beberapa waktu lalu, ada yang lain dengan Mas Hadi. Ia menjadi suka membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal, gaib.


“Cincin emas itu tidak baik untuk laki-laki. Kan laki-laki haram memakai perhiasan emas.” Mas Hadi melepaskan cicin kawin yang telah lima belas tahun melingkar di jari manisnya.


Memang benar alasan yang disampaikan Mas Hadi. Menurut beberapa referensi yang kubaca, atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit melalui pori-pori dan masuk ke dalam darah manusia. Jika seorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan: di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas. Jika terjadi dalam jangka waktu lama, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.


Namun, melepas cincin kawin tanpa ada penanda bahwa ia telah menikah membuatku sedikit resah. Apalagi setelah beberapa waktu ia menyampaikan bahwa banyak yang mengira ia masih bujang.


“Si Nisa gak percaya lho, kalau aku sudah punya anak tiga,” katanya dengan wajah serius.


“Lho, kan teman-teman yang lain tahu, anakmu tiga. Nisa orang baru ya?”


“Iya, bahkan dia nawarin diri jadi istri.”


Aku tersenyum geli. “Mau gitu jadi istrimu?”

__ADS_1


“Lho, gimana, sih. Banyak lho yang mau jadi istriku,” katanya bangga.


Kebanggaan yang tidak pada tempatnya. Sebagai seorang laki-laki beristri, seharusnya menunjukkan pada orang yang baru dikenal, bahwa ia telah berkeluarga. Bukan malah senang ada wanita yang menginginkan jadi istrinya, sedangkan ia punya istri dan anak di rumah. Aku hanya bisa tersenyum masam. Sungguh menyebalkan.


“Kamu tak percaya? Ini aku diberi cincin batu akik yang terkenal saat aku dinas ke Jogja, Batu Mirah Delima. Batu bagus katanya. Ini bisa mempengaruhi agar para wanita jatuh cinta kepadaku kata yang memberi.”


Laki-laki yang kupanggil Mas Hadi itu menunjukkan sebentuk cicin berbatu akik warna merah menyala. Aku melotot tak percaya. Memakai cincin batu akik setelah menanggalkan cincin kawin, hanya untuk memikat wanita? Yang benar saja? “Siapa yang memberi?” tanyaku penasaran. Tak biasanya suamiku menyukai pernak-pernik aksesoris.


“Tukang pijit. Waktu aku pijit karena keseleo di Jogja.”


Kulihat ia terus mematut-matut diri dengan cincin di jari manisnya. Senyum bangga akan cincin Batu Mirah Delima, seakan ia menjelma menjadi orang lain bagiku.


“Dikasih apa beli? Tak mungkin di kasih?”


“Ga beli, cuma ngasih mahar.”


“Sama aja. Berapa gitu?”


“Lima ratus lima puluh ribu.”


Subhanallah! “Sampeyan, melepaskan cincin kawin, hanya untuk bisa memakai batu akik murahan agar bisa menggoda wanita?” Kutepuk puncak kepalaku dengan telapak tangan. Konyol!


“Eh, jangan salah ya. Batu Mirah Delima ini batu langka. Kata si tukang pijit, ini milik Raja-raja zaman dahulu. Batu ini namanya Ratnaraj, raja dari batu mulia.”


Duh, aku semakin ngeri melihat pengaruh batu itu pada diri Mas Hadi


“Batu Mirah Delima ini, bisa menjaga dari bahaya atau ancaman dari orang jahat.” Ia berhenti sebentar. “Batu Mirah Delima ini juga lambang cinta kasih, semangat, gairah, kekuatan, kekuasaan dan kebijaksanaan. Pokoknya batu ini berkhasiat bagi yang pakai. Apalagi, bisa mempengaruhi kaum wanita bila melihat yang laki-laki yang pakai ini. Mudah jatuh cinta.”


“Syirik percaya sama batu akik, Mas! Sampeyan itu punya anak dan istri. Masih mikir wanita lain!” Sebal rasanya mendengarkan penjelasannya mengenai alasan menggunakan batu akik Mirah Delima.


Senyumnya membuatku tak percaya. Akibat melepas cincin kawin jadi seperti itu. Sekarang, percaya ada yang mengirim penyakit ke dalam tubuhku karena ada yang tidak menyukai, atau mungkin tidak suka aku hamil anak perempuan.


Malam itu, kulanjutkan tidur sambil berpikir, siapa yang ingin mencelakai aku?

__ADS_1


Nyeri di perut, kram, dan rasa sakit lainnya sudah tak terasa hingga pagi menjelang. Apa penggembala binatang kecil hijau dan berlendir itu telah mengambil penyakitku?


__ADS_2