Devotion (Sebuah Pengabdian)

Devotion (Sebuah Pengabdian)
Jealousy


__ADS_3

“Sabar, ya, Cinta. Ga usah terlalu kepikiran mau hamil anak perempuan. Allah sudah mengatur rejeki kita. Ikhlas kalau yang diberikan Allah tiga anak laki-laki. Toh, mereka bisa menjadi anak yang sholeh, yang bisa menjadi penjaga Ibunya kelak jika dewasa.”


Nofi duduk di samping bed. Ia mengelus-ngelus kepalaku dengan kasih sayang. Namun, yang kurasakan adalah aliran hawa panas yang tersalur dari setiap gerakan tangannya. Hawa panas itu memenuhi ubun-ubun, mendidihkan segala isinya. Petuah yang baik dan bijak bila yang mengatakan orang lain, tapi saat kalimat itu terucap dari mulut perempuan yang selama ini membayangi ketakutan-ketakutan dalam hidupku, kalimat itu bagai bara api.


Aku pernah bercerita kepada sahabatku itu beberapa waktu setelah Mas Hadi ingin memberi hadiah kepada anaknya. Hanya saja, aku tidak mengatakan kepadanya bahwa ide untuk hamil karena rasa cemburu melihat anak Nofi menggelendot manja di pangkuan suamiku. Apalagi Caca juga seperti mencari perhatian kepada Mas Hadi, rasa ceburu itu semakin menguat setiap kali melihat suamiku itu berbicara dengan Nofi dan anaknya. Mas Ahdi sudah mulai berani bertanya-tanya untuk mengajak mereka pergi. Entah benar atau tidak, bagiku itu tidak etis.


“Iya, lagian kamu ini kok ada-ada saja idenya mau hamil anak perempuan. Buat apalagi punya anak,” balas Sheryl tetanggaku yang datang bersama Nofi dan beberapa orang lainnya sore itu.


Akhirnya semua tetangga tahu, bahwa aku ingin hamil anak perempuan. Aku sih, tak perlu malu mengakui ingin anak perempuan. Dengan bercerita kepada orang yang kupercaya, berharap mendapatkan doa dan dukungan untuk membahagiakan suami.


Pernah suatu hari tetangga mengejek dan menghina karena aku memiliki tiga anak laki-laki dan tidak memiliki anak perempuan. “Suaminya, tidak pinter bikin anak perempuan.” Sakit rasanya mendengar hujatan itu. Apakah kami yang menentukan jenis kelamin? Apakah kami bisa memilih anak laki-laki atau perempuan yang ada di rahim? Apa mereka tidak merasakan sakitnya kalimat yang telah mereka lontarkan itu?


Mas Hadi berdiri, di samping televisi mendengarkan dan menjawab pertanyaan ibu-ibu yang menjenguk. Seperti biasa, yang namanya ibu-ibu, pasti sangat ingin tahu aku sakit apa dan kenapa.


“Sakit apa, Bu Cinta, Pak?” tanya Bu RT mewakili tetangga yang membezuk.


“Ga tahu juga, Bu,” jawab Mas Hadi.


Kutatap wajah polos suamiku dengan geram. Kenapa tidak dijelaskan? Bukankah kemarin sudah melihat sendiri foto hasil USG-nya. Kenapa tidak menjawab saja kalau aku ada dugaan kista, tipes, atau muntah-muntah. Bisa juga menyebutkan apa yang aku alami seminggu kemarin hingga aku nge-drop. Huh! Malah dijawab tidak tahu.


“Lho, suaminya kok tidak tahu tuh gimana, tho, Pak?” ledek tetangga lainnya sambil tertawa.


“Lho, katanya kemarin kanker, Pak?”


Aku menoleh ke arah asal suara itu. Kulihat senyum di bibir yang merona merah jambu. Wajah penuh simpati dalam balutan hijab yang modis. Eye liner hitam pekat menegaskan sorot matanya yang menggoda. Suara merdu membuai angan setiap telinga.


Aku terkesima. Kanker? Dari mana ia memperoleh informasi kalau aku sakit kanker? Aku bahkan belum bercerita kepada siapa pun, selain kepada Mas Hadi. Bagaimana ia tahu aku sakit kanker.


“Oh, ya?” seluruh pengunjung yang datang membezukku serempak berteriak histeris. Mereka segera mendekat ke arahku.

__ADS_1


“Gejalanya apa, Bu?”


“Bagaimana tahunya, Bu?


“Lho, selama ini belum tahu?”


“Stadium berapa?


Aneka pertanyaan dari mulut-mulut bergincu merah itu memenuhi pendengaranku. Entah, sedih atau bahagia dengan perhatian mereka semua. Hanya aku tidak mengerti, mengapa wanita itu menyimpulkan aku sakit kanker.


“Oh, tidak, Ibu-ibu. Bukan kanker, kista fungsional. Kista yang bisa luruh kalau haid. Tapi harus di cek lagi dua bulan ke depan. Mohon do’anya,” jawabku sambil tersenyum ramah kepada mereka semua.


Geram. Sakit yang kurasa karena geram terhadap informasi yang diberikan oleh wanita berlipstik merah jambu itu lebih dari sakit akibat kram di bagian bawah perutku seminggu ini. Ingin kutampar mulutnya agar tak sembarangan bicara sesuatu yang tidak ia ketahui dengan benar.


Wajah Mas Hadi terlihat pias saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh suara merdu itu, antara terkejut dan cemas. Ketika tatapan mata kami bertemu, aku bertanya dengan sinar mata yang tajam menuduh, [dari mana dia dapat informasi kalau aku sakit kanker?]


“Lho, Pak Hadi kemarin sampai malam malah ikut nonton acara di lapangan. Padahal Bu Cinta sedang opname. Bagaimana Bapak ini, ya? Masa Bu Cinta sendirian di rumah sakit?” tanya bu RT.


Senyum cengengesan Mas Hadi membuatku semakin geram.


“Iya, lho malah sampai malam, sampe selesai acara habis kita nyanyi lagu ‘Sayang’ itu,” lanjut Sheryl menggemaskan hatiku.


Setelah mereka semua berpamitan serta mendoakan kesembuhanku, tanpa pikir panjang segera kukirim pesan WA ke Sheryl. Penasaran, dari mana informasi kanker itu berasal?


[Sheryl, dari mana Nofi tahu aku sakit kanker? Aku tak pernah memberi tahu siapapun soal sakitku.] Kukirim pesan kepada Sheryl, tetangga yang sangat baik kepadaku.


[Lho, kukira memang kanker, Cin, tadi sebelum berangkat Nofi cerita kalau kamu sakit kanker.]


[Siapa yang kasih tahu?] tanduk berwarna saga terasa tumbuh di puncak kepala ini.

__ADS_1


[Katanya, suamimu yang kasih tahu. Bahkan suamimu yang mengirim foto USG ke Nofi.]


Astgahfirullah. Tak kubalas pesan terakhir Sheryl. Dengan segera aku bangun dari bed. Kubuka pengaman untuk turun dan mendekati suamiku yang sedang bermain ponsel di sofa.


[Nanti, kukirim Screen Shootnya, masih di jalan.] lanjutnya.


Tertatih kudekati laki-laki yang disebut Sheryl telah menyebarkan berita kalau aku sakit kanker.


“Maksudmu apa memberi tahu Nofi kalau aku sakit kanker? Tujuanmu apa?” teriakku tanpa bisa menahan emosi.


Mas Hadi langsung meletakkan ponselnya. Ia bangkit dari rebah, lalu membantukuku duduk.


“Kamu ini sakit, kok malah marah-marah. Ada orang bertanya ya kujawab. Siapa yang bilang sakit kanker? Bisa-bisanya dia saja itu, ngarang.”


“Dari mana dia tahu nomermu? Buat apa tanya sama Mas? Kenapa ga tanya sama aku sendiri? Bukankah dia kenal aku? Kenapa malah tanya ke suamiku?” Kulontarkan pertanyaan dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Mas Hadi tergagap menerima serangan kalimat itu. “Jangan pelihara penyakit hatimu itu, marah-marah sama suami. Bikin ribut saja. Sudah sana tidur lagi!”


Oh Tuhan! Cobaan apa lagi ini.


“Mas, kamu dengar sendiri kan kata-kata tetangga tadi. Masa suami tidak tahu istrinya sakit. Masa istri sakit, malah joged-joged di lapangan. Apa kamu ga punya hati?”


“Udah-udah, bikin ribut saja bisanya. Tiap ketemu ribut. Mending ga ke sini tadi. Biar aja sendiri di rumah sakit!” ketusnya sambil beranjak hendak pergi.


“Gimana ga ribut, suami di chat perempuan, kasih informasi ga jelas. Kenapa ga WA aku saja sesama perempuan. Wanita gila!” gerutuku sebal.


“Eh, jaga bicaramu!” potongnya.


"Sekarang aku tahu, dari mana Mas tahu sore ini ada orang yang akan datang. Bukan ilmu terawangan atau ilmu gaib. Tapi karena kalian saling chat."

__ADS_1


__ADS_2