
Setelah Mas Hadi masuk ke ruang operasi, aku duduk di ruang tunggu untuk keluarga. Anak-anak kutitipkan Sherly di rumah. Alhamdulillah mereka tidak rewel. Malah gembira tak ada ibunya, karena bisa leluasa melakukan eksperimen di rumah. Pulang dari Rumah Sakit, aku harus tetap dengan kepala dingin bila menemukan barang-barang di rumah tidak pada tempat semestinya.
“Kamu santai saja, Cint! Ga usah mikir anak-anak dulu,” ujar wanita cantik itu menenangkan saat aku berpamitan berangkat ke Rumah Sakit lagi. “Sabar, ya, Sheyeng! Semangat!” imbuhnya menyemangati.
Kehadiran dan dukungan Sherly yang terus menguatkan, membuatku tersenyum. Ketika orang lain menyarankan agar aku menggugat cerai Mas Hadi dan meninggalkannya, Sherly justru memberiku suntikan energi agar tetap tegak berdiri meski Nofi ingin menghancurkan keluargaku.
“Kalau suamimu memang ingin bercerai, ia sudah sejak lama melakukannya dan meninggalkanmu. Hadi masih pulang, masih memberimu nafkah, kamu masih bisa beribadah dengan baik dan tidak dilarang. Belum tentu ketika bercerai, kamu akan tenang beribadah seperti sekarang,” nasihat sahabat cantikku itu.
“Tidak usah kamu pikirkan perkataan orang yang tidak pantas memberi penilaian terhadap orang-orang beriman. Nofi itu itu tidak beriman. Janganlah kamu kalah berpikir dengan orang yang tidak beriman.”
Ah Sherly, dia selalu saja bisa memompa rasa dalam diri ini.
“Ketika kamu didzolimi, gunakan waktu terbaik itu untuk mendoakan suami, anak-anak, juga kebaikan keluargamu. Do’akan untuk kebaikan bagi dia yang jahat terhadapmu. Tunjukkan kamu lebih mulia dan terhormat dari pada iblis yang ingin merusak rumah tanggamu,” wajah geramnya terlihat marah mengingat kelakuan Nofi.
“Dia itu sakit jiwa, stres! Keluarganya hancur. Ia takut tidak laku dinikahi laki-laki. Entah berapa banyak keluarga yang sudah dibuat berantakan, dan dia masih pongah dengan kesombongannya. Hanya orang berpenyakit hati yang tidak merasa bersalah saat mendzalimi saudaranya.” Wanita berhidung mancung itu berbicara panjang lebar mengantarkan kepergianku.
Allah, apakah benar yang aku lakukan? Menerima suami yang dengan nyata berkhianat bahkan tak menghargaiku. Sikap Nofi yang juga tidka menyadari apa yang telah diperbuatnya, membuat hati panas dingin dalam amarah. Apa sebenarnya tujuan wanita itu? apa yang diinginkan oleh Mas Hadi?
“Oh, aku lupa. Dia bukan suamimu. Mas Hadi yang ingin menikah denganku, jadi dia menceraikanmu.” Gemuruh di dada ini semakin kencang beradu antara kasihan dan benci terhadap wanita yag mengakui diri dikejar oleh para lelaki.
Apakah wanita dengan eye-liner hitam pekat itu tidak punya hati dan perasaan? Kasihan apabila ia tidak dikaruniai perasaan. Karena fitrah seorang wanita itu akan ikut merasakan sakit yang dialamai oleh kaumnya. Nofi, justru menyalahkan kaumnya sendiri.
Benci, rasa ini lebih dominan menguasai hati. Bagaimana tidak membenci, ia dan anak-anaknya kubantu begitu rupa. Namun, ternyata di balik semua sikap manisnya, niat busuk menghancurkan rumah tanggaku telah tersusun dengan rapi.
Bagaimana tidak disebut ulat bulu perusak rumah tangga. Jika tidak ingin merusak hubungan suami dan istri, tentu ia menerima sebagai istri ke-2 dengan cara yang baik. Bukan malah menuntut Mas Hadi menceraikanku. Sudahlah ketahuan belangnya, malah menyebar fitnah suamiku yang mengejar-ngejar.
Subhanallah. Mengingat semua yang menyakitkan, terbit rasa syukur kepada Allah. Alhamdulillah, masih dikaruniakan rasa sakit, sehingga aku bisa mengingatkan diriku agar tidak menyakiti dan mendzalimi orang lain di kemudian hari.
Operasi diperkirakan berlangsung selama satu jam. Kali ini hanya dilakukan laparoskopi terhadap batu yang ada di dalam kantung empedu Mas Hadi. Semula, selain batu di empedu juga akan dilakukan kolonoskopi dan endoskopi.
__ADS_1
Keluhan Mas Hadi selain mual, juga sulit buang air besar, dan buang air kecil berwarna merah muda. Kemungkinan ada luka di bagian dalam tubuh yang harus diperiksa. Selain itu, riwayat keluarganya menderita kanker. Sehingga perlu mengambil sampel jaringan tubuhnya.
Namun, asuransi kantor tak bisa memenuhi semua tindakan. Kali ini, hanya pengangkatan batu empedu yang dilakukan, mengikuti saran Dokter Roy memprioritaskan yang darurat.
Perawat mengabarkan jika Mas Hadi sudah selesai. Saat ini sedang berada di ruang pemulihan karena belum sadar. Wanita itu memintaku menunggu beberapa menit hingga suamiku pulih kesadaran seratus persen dan bisa kembali ke ruang perawatan.
Mengikuti wanita yang berseragam putih-putih menuju ruang serah terima pasien. Ruangan itu diberi pembatas berupa garis merah. Kami yang berada di luar ruangan operasi, tidak boleh melewati garis merah itu.
Keluar dari ruang operasi, Mas Hadi diserah terimakan kepada perawat jaga. Kedua perawat itu memeriksa catatan berkas dan saling mengecek. Kemudian berkas itu diletakkan di atas tubuh Mas Hadi.
“Bu, ini sampel yang telah kami ambil. Tapi masih perlu kami PA, nanti saat pulang kami serahkan lagi,” ujar perawat yang membantu tindakan operasi.
Kupegang tabung kaca silinder yang diperlihatkan oleh wanita bertubuh kecil dan kurus itu. terlihat benda berwarna putih seperti pasir pantai dalam jumlah yang sangat banyak. Tiga buah batu berwarna legam yang telah hancur terlihat diantara pasir putih itu.
“Kristal hitam ini tadi pecah saat diambil, Bu,” kata perawat memahami rasa aneh yang kuperlihatkan memalui raut muka.
Aku berdiri di samping bed yang telah di dorong melewati garis batas berwarna merah. Kulihat tubuh laki-laki itu lemah tanpa tenaga. Setelah kuperhatikan baik-baik, sekujur tubuhnya terdapat bercak berwarna merah muda. Sangat kontras dengan kulit putihnya.
Matanya yang baru saja terbuka menatap sayu ke arahku. Pandangan kami saling beradu. Bibirnya membiru, mungkin kedinginan di dalam sana. Mata itu menutup lagi tanpa peduli akan kehadiranku.
“Masih ngantuk, ya, Pak?” tanya perawat yang tadi mengantar kami.
Wajah lelaki itu tersenyum samar, lalu matanya terpejam lagi.
“Sudah sadar, sih, Bu. Hanya belum bisa komunikasi,” jelas perawat itu. “Tidak apa-apa, kita langsung ke ruang perawatan.”
Menyusuri lorong menuju ruang perawatan sore itu usai tindakan, aku berjalan di belakang perawat dan seorang security. Suasana sepi terlihat kontras dengan hiruk pikuk Jalan Pantura yang terlihat dari balik kaca.
“Sementara belum boleh begerak dulu. Minumnya sedikit-sedikit dengan yang hangat. Besok pagi Dokter Roy visit, Ibu bisa bertanya.”
__ADS_1
Perawat jaga meninggalkan kami. Tubuh wanita itu tak terlihat setelah ia menutup pintu ruangan perlahan. Suara langkah kakinya terdengar menjauh.
Mas Hadi tergolek dalam keadaan belum bisa bergerak sama sekali. Ia tertidur lagi.
Kugunakan waktu luangku seperti biasanya, mengaji. Kudengar suara besi bed dipukul-pukul oleh tangan. Kutengok, Mas Hadi berusaha memanggilku.
“Tolong ambilkan pispot.”
Laki-laki itu belum bisa berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Pengaruh bius dan luka di dalam tubuhnya perlu waktu untuk pemulihan.
‘Layani suamimu dengan baik. Kalahkan setan yang ingin kamu marah, benci dan bertengkar dengan suamimu,’ bisik suara dari dalam diriku.
Gemetar kulayani keperluan buang hajat suamiku dengan rasa tak nyaman. Aku membenci laki-laki ini, sangat benci. Bagaimana aku harus mengabdi dan melayani pada orang yang sangat kubenci? Rasanya tak sudi aku memegang tubuhnya lagi, jijik.
Sementara air mata ini meleleh dalam diam, laki-laki itu tak bersuara. Ia melihat tangisku, tapi tak berusaha membuat diri ini tenang.
“Ada yang menginginkan kematianku,” kata Mas Hadi saat kutunjukan benda yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Subhanallah! Apa ia berbicara soal mistis lagi? Apa dia masih belum bisa memahami apa penyebab penyakitnya secara medis.
“Memang siapa yang ingin Mas mati? Tahu dari mana?”
“Orang yang dulu jalan bareng Nofi, ingin aku mati.”
Astaga. Menyebut nama itu lagi, ingin membuatku pergi saja dari ruangan ini. Lagi pula apa hubungannya. Orang yang dulu pernah selingkuh dengan Nofi sudah menikah. Untuk apa meninginkan suamiku mati?
Ini hal yang tidak aku sukai dalam ilmu mistik. Menuduh orang tanpa bukti yang jelas. Belum tentu juga orang lain itu menginginkan kematian Mas Hadi. Bisa jadi hanya prasangkanya sendiri. Anggapannya bahwa laki-laki yang dulu selingkuh dengan Nofi membenci dan ingin dia mati, adalah sebuah fitnah yang timbul dari sakit hatinya sendiri.
Kalaupun ada yang menginginkan Mas Hadi celaka, orang itu adalah aku.
__ADS_1