
Disaat yang bersamaan, Amel rupanya melakukan panggilan video call dengan Ziyan, tentu saja Diva tak menyangka jika Amel bisa seberani itu ingin mengambil suaminya.
"Sialan pake video call segala, nggak bakalan Aku buka, enak aja mau ganggu suamiku, sudah cukup kamu bohongi Aku, sekarang tidak akan Aku biarkan kamu melakukannya lagi." umpat Diva disela-sela dirinya menahan rasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Ziyan dibawah selimut.
"Ahhh Ziyan! Kamu ngapain sih ...!" Diva semakin tidak kuat menahan lagi. Spontan Diva membuang ponsel yang ada di tangannya saat Ziyan semakin liar memperlakukan istrinya, sementara itu Diva tanpa sadar memencet tombol terima pada ponsel Ziyan, hingga secara tak sadar video call dengan Amel terbuka. Tapi, ponsel Ziyan tergeletak di atas lantai dengan keadaan on sehingga Amel tidak bisa melihat wajah siapapun, yang ada hanya pemandangan langit-langit kamar, dan tentu saja suara-suara desaahan dari kedua insan yang sedang dilanda cinta itu.
"Ziyan! Haloo Ziyan! Kamu dimana? Kok nggak ada sih. Eh tunggu-tunggu suara siapa itu?" Amel tampak mendengarkan secara seksama suara yang ada disekitar ponsel Ziyan.
Terdengar suara saling tertawa yang diiringi dengan desaahan manja, tentu saja suara itu begitu indah terdengar bagi pasangan pengantin baru itu, tapi tidak untuk Amel, Ia merasa jika suara itu adalah suara orang yang sedang bercinta.
Seketika Amel menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat suara Ziyan yang sedang berteriak keenakan terdengar di telinga Amel, dan di iringi dengan suara desisan Diva, Ia tampak menahan suaranya agar tidak terlalu keras, Diva hanya menggigit bibir bawahnya ketika Ziyan membawa dirinya terbang melayang.
__ADS_1
"Hoo ya ampun! Ziyan bersama dengan siapa? Apa mereka sedang bercinta? Siapa wanita yang sedang bersama Ziyan, enggak-enggak Ziyan tidak boleh dimiliki oleh wanita lain, sebelum janur kuning melengkung, Aku akan mendapatkan Ziyan Kembali. Seharusnya Aku yang jadi wanita itu, siapa sih itu, penasaran!" Amel tampak mendengarkannya dengan serius, suara wanita siapa yang sedang bersama dengan Ziyan.
Sampai beberapa menit, akhirnya suara-suara itu berakhir dengan lenguhan panjang, pertanda jika keduanya sudah mencapai puncak, Amel tidak mendengar lagi suara-suara itu, hingga akhirnya layar ponselnya berubah menjadi hitam karena Ziyan mematikan ponselnya dengan segera karena Ia tahu jika ponselnya masih menyala.
Ziyan menatap istrinya dan menaikkan kedua alisnya, sementara itu Diva tampak mengerutkan keningnya melihat ekspresi wajah sang suami.
"Ada apa?" tanya Diva penasaran.
"Apa? Ponselnya masih menyala? Oh astaga! Iya tadi Amel sedang melakukan panggilan video call dan nggak Aku angkat, malas lah. Karena kamu udah buyarin konsentrasi ku, jadi Aku lemparkan saja ponselnya. Nggak tahu kalau tombolnya kepencet. Itu berarti dari tadi dia dengerin kita dong!" seru Diva terkejut. Ziyan justru tertawa.
"Itu bagus dong! Biar dia tahu kalau kita sudah menikah." ujar Ziyan sembari tiduran di samping Diva.
__ADS_1
"Iya juga sih. Tapi, apa Amel tahu kalau kita udah nikah? Kayaknya nggak ada yang tahu kalau kita nikah, buktinya teman-teman aja nggak ada yang tahu." seru Diva.
"Hmm ... kayaknya begitu. Jika nggak ada yang tahu kalau kita udah nikah, tuh si Diki, Marvel, Ferry, Kenny pasti nyariin kamu dong, Aku nggak mau ya kamu dideketin sama mereka, tuh anak-anak dari dulu suka sama Kamu." sahut Ziyan.
"Mas Diki? Ketua OSIS di sekolah kita? Kenapa, kamu cemburu?" goda Diva yang tahu jika suaminya tidak suka ada teman-teman cowok Diva yang menyukai sang Istri saat masih sekolah, Diva dulu terkenal dengan gadis multitalenta, Ia banyak penggemar cowok dari kakak kelas hingga adik kelas, banyak yang menyukai sosok Diva yang supel dan pandai bergaul.
Ziyan tampak bermuka masam saat mengingat nama-nama cowok yang ngefans dengan istrinya.
"Diihh manyun tuh muka." seru Diva sembari tertawa kecil.
"Pokoknya jika mereka ganggu kamu lagi, langkahin dulu Ziyan!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...