Di Jodohkan Dengan Mantan

Di Jodohkan Dengan Mantan
Taplak meja


__ADS_3

Kini, Diva baru bisa merasakan bagaimana rasanya berciuman itu. Dadanya tampak naik turun, nafasnya begitu memburu, apalagi ciuman Ziyan pindah ke leher jenjang sang istri. Menyapu dengan lembut seiring gairah keduanya yang mulai membuncah.


Kemesraan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, tertahan selama bertahun-tahun, apalagi ke salah pahaman yang terjadi selama itu, membuat Ziyan menahan betapa rindunya hati kepada sang gadis pujaan. Kini tak ada lagi yang bisa menghalangi langkahnya untuk menyatukan cinta mereka berdua.


Diva sudah berada dalam dekapan laki-laki yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Ia tak bisa mengelak dan menghindar, apalagi Ziyan sudah berhasil melepaskan semua yang ada pada tubuh Diva tanpa terkecuali.


Tatapan liar mata Ziyan, tampak begitu tajam menatap wajah sang istri dan sudah saatnya mereka bersatu dalam raga, menciptakan sebuah hubungan baru yang dimulai sebagai suami istri yang sah.


Di sela-sela melakukan fore play, Ziyan berbisik mesra pada telinga sang istri yang saat itu Diva tampak pasrah dan menyerah. "Malam ini adalah milik kita berdua." setelah mengatakan hal itu, Ziyan mematikan lampu kamar, sehingga dalam kamar tersebut tampak remang-remang, hanya sedikit cahaya yang masuk dari arah luar jendela kamar, hanya desaahan nafas yang terdengar sepanjang malam.


Entah apa yang sedang mereka lakukan, samar terdengar suara Diva yang sedang merintih yang diselingi tangis sesenggukan. Belum lagi suara benda berjatuhan seperti vas bunga. Mungkinkah Ziyan sedang mengamuk? Ataukah mereka sedang bertengkar? Yang jelas malam itu suasana dalam kamar terdengar riuh oleh deru suara yang saling bersahutan.


Dua jam berlalu. Diva terbangun dengan tubuh yang terasa begitu berat, Ia memegangi tengkuknya dan mencoba merenggangkan otot lehernya. Sejenak Ia melihat suasana kamar yang gelap, dan Ia tersadar jika dirinya tanpa memakai sehelai benang pun. Diva pun segera beranjak berdiri untuk menyalakan saklar lampu yang dimatikan oleh Ziyan.

__ADS_1


Namun, saat dirinya akan berdiri. Tiba-tiba saja ia merasa ada yang begitu mengganjal pada area sensitifnya, begitu sakit dan perih, tidak seperti biasanya.


"Oh ya ampun! Kenapa rasanya seperti ini, awwww sakit banget." keluh Diva sembari mencoba berdiri dan berjalan menuju tempat saklar lampu. Ia meraba-raba dinding dengan tubuh polosnya, berjalan pelan-pelan hingga akhirnya Diva menemukan tempat saklar lampu yang berada pada dinding di sebelah suaminya yang sedang tidur.


"Ceklek."


Diva menyalakan lampu kamar kembali, sehingga pencahayaan pun mulai terang kembali. Sejenak Ia melihat kondisi kamarnya yang super berantakan. Apapun berserakan di atas lantai.


"Astaga! Kenapa bisa seperti ini, ya Tuhan hanya dua jam jadi seperti kapal pecah, apa yang sudah kami lakukan? Eh ngapain tuh CD sampai ke sana, jauh banget terbangnya." seru Diva yang melihat CD miliknya yang sedang menggantung di atas lemari dengan posisi hampir saja terjatuh.


"Sudah! Nggak usah diambil, biarkan dia di sana!"


Spontan Diva menoleh ke arah sang suami, Ia pun dengan sekejap mengambil taplak meja yang berada di sampingnya dan menutupkan nya pada tubuhnya yang polos.

__ADS_1


Ziyan yang melihat itu tampak tersenyum melihat tingkah konyol sang istri.


"Untuk apa ditutupi?Aku sudah tahu semuanya." ucap Ziyan sembari beranjak bangun dan menghampiri istrinya.


"Eh eh ngapain berdiri, tetap di situ?" sergah Diva yang tahu jika Ziyan akan menghampirinya. Dan Ia juga tahu kalau Ziyan sedang tidak memakai apa-apa seperti dirinya.


Ziyan tidak menghiraukan perkataan Diva, pria itu dengan percaya diri tetap berjalan menghampiri Diva yang sedang berusaha menutupi tubuhnya dengan taplak meja. Sementara Diva terlihat menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Ia mengintip dari sela-sela jarinya, sebuah pemandangan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.


"Apaan tuh? Apa benda itu yang menyebabkan Aku kesakitan, benda sekecil itu bisa membuat ku sesakit ini? Kayak nggak mungkin deh, cuma berupa daging yang menggantung." batin Diva saat melihat keperkasaan suaminya. Sementara itu Ziyan semakin dekat, entah kenapa benda yang baru saja Diva lihat mulai berdiri perlahan-lahan. Membuat gadis itu semakin panik dan gugup.


"Waduh! Tadi menggantung kok sekarang berdiri. Aduh Mama! Kok bisa jadi segede itu sih, takut takut!" batin Diva sambil memejamkan matanya semakin erat, hingga akhirnya tangan Ziyan mulai menarik kedua tangan Diva agar Diva menurunkan tangannya yang menutupi wajah cantik sang istri.


"Aduh aduh ... gimana nih, pasti diserang lagi nih!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2