
Diva yang masih panik menunggu kedatangan sang suami, Ia terlihat mondar-mandir sembari sesekali melihat ke arah luar jendela, menanti kedatangan Ziyan yang sampai jam tiga belum pulang.
"Ya ampun Ziyan! Kamu kok belum pulang juga sih! Mana udah hampir subuh lagi." Diva melihat ke arah jam dinding yang terus berdetak.
Hingga akhirnya Ia dikejutkan dengan kedatangan mobil suaminya yang sudah masuk ke dalam halaman rumah. Diva bisa bernafas dengan lega, akhirnya sang Suami yang ditunggu-tunggu tiba dengan selamat.
Diva tersenyum dan bersyukur akhirnya Ziyan pulang ke rumah dengan selamat. Ia pun segera membukakan pintu untuk sang suami. Ziyan turun dari mobilnya dengan tatapan yang aneh, sekilas Diva melihat ada sesuatu yang berbeda dari sang suami. Ziyan seolah-olah datang menghampiri Diva dengan tergesa-gesa.
"Ziyan! Kamu kenapa?" tanya Diva saat sang suami tiba di depan nya dengan tatapan mata yang liar, tanpa basa-basi Ziyan mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Diva yang masih belum mengerti apa yang terjadi pada sang suami, Ia pun berusaha berontak agar Ziyan melepaskan dirinya.
"Ziyan! Lepasin Aku! Kamu kenapa sih?" Ziyan tak menjawab, yang penting baginya, Ia segera menuntaskan gejolak yang terlanjur menguasai akal sehatnya. Pria itu pun langsung mengeksekusi dan tanpa berkata apa-apa Ia langsung menghempaskan tubuh sang istri dan segera menguasai nya.
Dalam kungkungan suaminya, Diva hanya bisa pasrah, Meskipun Ziyan sedikit memaksa nya, tapi ini adalah kewajiban nya sebagai seorang istri. Diva tampak kesakitan dan menangis, karena tak ada pemanasan sebelum mereka melakukan hal itu. Sangat berbeda dari yang biasa Ziyan lakukan. Malam itu Ziyan sedikit kasar dan memaksa. Sesekali Diva merintih kesakitan, Ziyan tak perduli. Karena baginya Ia harus terbebas dari rasa yang menyiksa itu.
"Ziyan! Kamu kenapa? Apa yang terjadi pada mu?" batin Diva sembari menahan rasa sakit dan perih.
Setelah beberapa saat, Ziyan pun mulai mengeluarkan hawa panas yang sedari tadi menyiksanya, seiring lenguhan panjang pria itu, Diva hanya bisa mencengkram erat punggung sang suami.
"Haaaaaaaaaa ..."
Ziyan tergolek di samping sang istri, dadanya naik turun dengan cepat, hingga akhirnya ia benar-benar tertidur pulas dalam keadaan terlentang. Diva pun akhirnya bisa bernafas dengan lega. Namun, kali ini apa yang dilakukan oleh suaminya sungguh membuat badan Diva remuk dan pegal-pegal.
__ADS_1
Diva menoleh ke arah sang suami, dilihatnya wajah pria itu yang sudah tertidur dengan nyenyak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Diva mengusap keringat pada wajah sang suami dan Ia pun mencium kening Ziyan, sebelum dirinya beranjak untuk bangun.
Diva meringis kesakitan ketika Ia hendak pergi ke kamar mandi, sungguh diantara kedua pangkal paha miliknya itu benar-benar ngilu dan sakit. Bahkan sakitnya melebihi saat dirinya melakukan malam pertama dengan Ziyan.
"Ziyan kok kamu bisa segila itu sih? Sakit banget sumpah!" gerutu Diva sembari berjalan menuju ke kamar mandi dengan tertatih dan memegang perut bawahnya.
*
*
*
*
Ziyan mulai mengerjabkan kedua matanya, Ia melihat langit-langit kamar yang berhiaskan lampu kristal, sejenak Ia melihat ke sekeliling, ternyata dirinya sudah berada di dalam kamar.
Ziyan beranjak duduk dan mencoba mengumpulkan kembali kesadaran nya yang masih belum full.
"Astaga! Kenapa kepala ku pusing sekali? Apa yang sudah terjadi dengan ku?" ucapnya sambil memijit pelipisnya. Kemudian sekilas Ziyan melihat bayangan seseorang yang sedang berdiri di atas balkon kamar mereka. Ziyan pun tersenyum pasti itu adalah istrinya.
"Diva! Kenapa dia ada di sana?"
Ziyan segera beranjak berdiri. Namun, Ia dikejutkan dengan kondisi dirinya yang tanpa memakai apapun, polos tanpa penutup apapun yang melindungi tubuh perkasanya.
__ADS_1
Ziyan mengambil piyama tidurnya dan Ia pun segera pergi menghampiri sang istri yang sedang menikmati indahnya matahari terbit di pagi ini.
Ziyan mendekati Diva yang sedang menatap arah matahari terbit, Ziyan tersenyum dan melingkarkan tangannya pada pinggang Sang istri dan membisikkan kata-kata mesra pada Diva.
"Selamat pagi, Cantik! Hmm kamu harum sekali pagi ini, wangi ini yang membuat ku tak bisa lupa, ingin selalu ada di dekat mu, Sayang!" bisik Ziyan dengan suaranya yang mendesaah.
Diva tetap diam, Ia masih teringat perlakuan Ziyan yang sedikit kasar kepada nya, dan itu benar-benar tidak bisa Diva terima, karena Ia merasa jika Ziyan hanya melampiaskan hasratnya sendiri tanpa memikirkan sang istri, seolah Ziyan egois sudah menikmati kenikmatan itu sendirian.
"Mandilah! Aku akan siapkan sarapan untuk mu!" seru Diva yang sedikit dingin, sungguh kata-kata itu membuat Ziyan mengerutkan keningnya dan membalikkan badan sang istri.
Ziyan menatap kedua bola mata Diva, Ziyan melihat mata sembap sang istri, seolah wanita yang sangat dicintainya itu habis menangis.
"Kamu kenapa? Kamu seperti habis menangis?" tanya Ziyan sembari mengusap lembut wajah istrinya. Diva menundukkan wajah dan menggelengkan kepala. Tentu saja Ziyan sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada istrinya.
...BERSAMBUNG...
*
*
*
...Sambil menunggu author update bab berikutnya mampir dulu ke karya punya kak T.L. Handayani yang berjudul BUKAN WANITA TARUHAN. CUSS KEPOIN 🏃🏃...
__ADS_1