
Setelah Ziyan meletakkan ponselnya di atas meja, Ia pun segera keluar dari kamar dan menemui kedua orang tua dan kedua mertuanya. Ziyan pun ikut bergabung dan bercengkrama dengan keluarga nya, tampak mereka semua bahagia akhirnya kesalahan pahaman yang terjadi antara Ziyan dan Diva akhirnya selesai.
Ziyan dan Diva tampak duduk bersama dan terlihat mesra, hari itu masih pagi sekali kedua orang tua mereka datang, sehingga masih ada waktu beberapa jam untuk tiba di kota Marvel untuk berkumpul pada acara reuni kecil-kecilan sesama teman cowok. Disaat orang tua mereka sibuk berbincang. Ziyan berbisik pada telinga sang istri, " Diva! Nanti malam anak-anak ngajak Aku ke rumah Marvel, ya sesama cowok aja sih, boleh nggak?" ucap Ziyan.
"Rumah Marvel yang mana? Bukannya Marvel tinggal di Surabaya?" tanya Diva yang tahu jika rumah Marvel tak jauh dari rumah Tante Nova dan Om Wawan.
"Enggak lah! Dia nggak tinggal di Surabaya lagi, dia tinggal ikut Om nya sekarang, di kota ini." balas Ziyan.
"Di kota ini? Terus anak-anak lainnya ke sini jauh dong?" tanya Diva
"Ya nggak tahu, mungkin saja! Tahu sendiri teman-teman tuh udah pada pergi kemana-mana, ada yang di kota A, ada yang di kota B. Nah! Kenapa mereka pilih rumah Marvel, karena rumah Marvel letaknya di tengah-tengah, jadi ya mereka putuskan kita kumpul di rumahnya Marvel, itu pun cuma cowok doang, yang cewek nggak ada." jelas Ziyan meyakinkan istrinya.
"Ohhh ... ya udah! Ikut aja." balas Diva yang tentu saja tidak menaruh curiga.
"Beneran nggak apa-apa? Kamu izinkan?" Ziyan pun terlihat senang jika sang istri mengizinkan Ziyan untuk ikut reuni dengan teman-temannya.
"Iya nggak apa-apa! Santai aja kali."
"Terima kasih banyak, Sayang! Kamu memang benar-benar istri pengertian! Nanti deh kalau kita jadi reuni Akbar semua lulusan SMA Delima, Aku pasti ajak kamu dan Aku perkenalkan dengan bangga siapa istri Ziyan Aldama. Biar tuh anak-anak pada terkejut melihat kenyataan jika Aku dan kamu sudah menikah, untuk sekarang masih cuma sesama cowok, Aku nggak bisa ajak kamu, pasti mereka bakal ganggu kamu, lihat kecantikan mu, puji-puji kamu, Aku nggak suka itu, lagipula tidak ada cewek di sana, jadi kamu tidak usah khawatir, hmm!"
Diva tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya Aku ngerti!"
Setelah beberapa jam kedua orang tua mereka berkunjung, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang, Papa Krisna dan Mama Rini, Papa Baskoro dan Mama Hani, memberikan pelukan hangat untuk pasangan pengantin baru itu dan berharap sebentar lagi akan ada berita menyenangkan tentang kehamilan Diva.
"Mama dan Papa pulang dulu! Jaga diri kalian baik-baik, ingat! Jangan bertengkar lagi." seru Papa Krisna kepada putrinya.
"Iya iya, Pa! Kita nggak akan bertengkar lagi, kok!" balas Diva sembari malu-malu.
Setelah Diva dan Ziyan mengantarkan kedua orang tua mereka ke depan, akhirnya mobil yang membawa kedua orang tua mereka pun pergi meninggalkan rumah yang ditinggali oleh Diva dan Ziyan.
__ADS_1
Ziyan segera membawa istrinya masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu dan jendela, sementara Diva tampak mengerutkan keningnya saat melihat tingkah sang Suami.
"Kok ditutup sih? Ini sudah siang, Ziyan!"
Ziyan tak menjawab, Ia justru membawa Diva langsung ke atas tanpa basa-basi.
"Eh eh Ziyan! Apa-apaan sih, turunin!"
Ziyan tak memperdulikan ucapan Diva, Ia pun terus membawa Diva masuk ke dalam kamar mereka.
Satu jam ... dua jam ... akhirnya pintu kamar Diva mulai terbuka. Rupanya Ziyan sudah rapi dengan setelan kemeja pria lengan pendek, Ia bersiap untuk pergi ke rumah Marvel. Sementara Diva tampak masih mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya dan sebuah handuk kecil yang melilit pada rambutnya yang masih basah.
"Aku pergi dulu!" ucap Ziyan sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Diva.
"Hmm ... iya! Jangan lama-lama! Aku tidak bisa menunggu sendirian terlalu lama, Aku takut!" balas Diva sembari merapikan kerah baju sang suami.
"Kamu pikir Aku juga mau berpisah terlalu lama sama kamu, ya enggak lah! Aku pinginnya selalu bersama kamu, paling besok Subuh Aku pulang, kamu tahu kan perjalanan nya cukup jauh ke rumah Marvel meskipun satu kota, tapi Aku usahakan tidak akan sampai Subuh, paling sekitar jam satu atau dua pagi, tahulah anak-anak tuh kalo nongkrong betah banget, apalagi sekarang ada piala dunia, ya nobar lah kita, meskipun Aku kurang suka dengan pertandingan piala dunia, tapi sebagai teman aku menghormati mereka, karena Aku lebih suka pertandingan di rumah, lebih seru dan mendebarkan."
Seketika Diva mencubit pipi Ziyan dan tersipu malu.
Sementara itu Amel pun dalam perjalanan menuju ke rumah Marvel, Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ziyan, apalagi Ziyan pasti datang ke rumah Marvel, mengingat acara ini sebenarnya hanya untuk para cowok.
"Ziyan! Aku akan datang! Setelah lima tahun kita tidak bertemu, hari ini kita dipertemukan lagi, dan Aku sudah menyiapkan kejutan untuk mu." ucap Amel dengan tersenyum smirk.
Setelah beberapa saat, Amel tiba di rumah Marvel, gadis itu sudah berdandan sedemikian rupa untuk menggoda Ziyan, Amel sengaja menyiapkan kejutan yang akan membuat Ziyan Kembali ke dalam pelukannya.
Amel turun dari mobilnya dan segera pergi ke rumah Marvel yang rupanya sudah ada beberapa teman-teman cowoknya yang datang terlebih dahulu.
"Eh eh siapa tuh?" seru Ferry yang terkejut dengan kedatangan Amel.
__ADS_1
"Cewek njiiir! Eh kayak si Amel tuh, gila! Kok beda sih, seksi euy." balas Marvel yang terkesima dengan kedatangan Amel yang memakai rok mini dan memperlihatkan kaki jenjang nya meskipun dihiasi dengan baut kecil-kecil disekitar lututnya.
"Amel! Kok bisa cantik dia? Eh kira-kira giginya masih kuning nggak, ya?" sahut Ferry yang masih penasaran dengan perubahan gigi Amel.
Amel pun mulai mendekati teman-teman cowoknya, kemudian Ia pun tersenyum kepada mereka yang tak berkedip melihat penampilan Amel yang kini sangat berubah.
"Hai semuanya!" sapa Amel sembari tersenyum menunjukkan deretan giginya yang kini sudah di bleaching dan terlihat putih bersinar. Amel melihat salah satu temannya yang kelihatan berbeda, Ia sejenak memperhatikan wajah Ferry yang kini sudah berubah.
"Itu si Ferry bukan, sih? Kok sekarang dia putih sih? Padahal dulu item banget kayak angus." batin Amel yang tidak sengaja Ia memuji perubahan Ferry yang dulu sering mengejeknya saat sekolah.
Seketika teman-teman cowok Amel melongo melihat senyum Amel yang menyilaukan mata itu.
"Anjiiirrr silau men!"
"Cantik euy!"
"Pakai susuk apa dia?"
"Dulu kerempeng kok sekarang bahenol ya? Apa kira-kira itu bukan busa?"
"Astaga! Benar-benar kayak bukan Amel!"
"Njiiir ini pasti bukan Amel, ini pasti reankarnasi Amel, si Amel yang dulu pasti mati dan ini kembaran nya guys!" sahut Ferry yang ceplas-ceplos. Seketika Amel mendekati Ferry yang sedang duduk dan berkata sambil menarik kerah baju nya.
"Nggak usah banyak bacot kamu! Hello ini Ferry yang dekil, item, bau ketek itu kan, ya?" seru Amel. Ferry pun menelan ludahnya susah payah saat Ia melihat belahan dada Amel saat gadis itu membungkukkan badan.
"Njiiir! Susunya asli ngga nih?" batin Ferry dengan bola matanya tertuju pada dua bola yang menggantung pada dada Amel.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1