Di Jodohkan Dengan Mantan

Di Jodohkan Dengan Mantan
Telepon dari Arlan


__ADS_3

Setelah Ziyan berbicara dengan Ferry, Diva terlihat mengerutkan kening saat melihat wajah Ziyan yang sumringah.


"Apa yang terjadi? Ferry kenapa?" tanya Diva penasaran. Ziyan meraih tangan istrinya dan menangkap tubuh Diva seraya berkata, "Kamu tahu, dari kemarin ini yang sangat ingin Aku ketahui, reaksi Ferry dan Amel saat mereka terbangun di pagi hari. Aku nggak bisa bayangkan bagaimana kedua orang itu melihat wajah masing-masing, dulu mereka selalu bertengkar setiap hari, saling olok saling ejek, kini mereka berdua berada dalam satu ranjang. Bisa dibayangkan nggak sih!" seru Ziyan yang berharap Ferry dan Amel berjodoh.


Diva tersenyum dan bisa membayangkan bagaimana malunya ketika orang yang biasa kita ejek, nyatanya dia juga orang yang melakukan hubungan terlarang bersama, sama-sama merasakan hal yang begitu jauh, sama-sama merasakan kenikmatan berdua.


"Iya semoga saja, Ferry dan Amel memang cocok, biar tidak ada yang ganggu suamiku lagi." balas Diva sembari memainkan dagu sang suami.


"Tapi, Aku masih khawatir." Ziyan menatap kedua bola mata Diva.


"Khawatir kenapa?"


"Arlan, Lutfi dan lainnya masih mengira kamu sendiri, apa kita berterus terang saja kalau kita udah nikah, biar kamu nggak ada yang ganggu, Aku nggak suka istriku dikira masih gadis." ucap Ziyan dengan wajah kesalnya. Sementara Diva tertawa kecil melihat ekspresi Ziyan.


"Kok malah tertawa sih? Emang ada yang lucu?" ucap Ziyan yang melihat istrinya menertawakan dirinya.


"Kamu memang lucu banget, biarin aja mereka bilang Aku masih gadis, itu bagus dong! Berarti Aku udah nggak perawan pun mereka nggak pernah tahu, dikiranya gadis terus. Harus bangga dong Sayang, biarin aja mengira Aku masih gadis, tetap kamu juga yang menang, kamu sudah mendapatkan semuanya dariku."


Ziyan pun tersenyum dan mengecup kening sang Istri. "Iya kamu benar, biarkan saja mereka pusing dulu rebutan kamu, nanti saat acara reuni Akbar, mereka semua akan tahu jika kamu adalah istriku, nggak bisa bayangkan bagaimana ekspresi wajah mereka, pasti pada pingsan semua."


Ziyan dan Diva pun saling tertawa. Kembali Ziyan mencium bibir sang istri, sungguh masa-masa manisnya sebagai pengantin baru. Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Diva. Untuk sesaat Diva melepaskan ciumannya karena ia akan melihat siapa yang sedang menghubunginya. Namun, Ziyan menahan tangan Diva dan tetap meraih bibir itu dengan rakus.


"Ziyan! Aku mau angkat emmptt ...!" lagi-lagi Diva harus mengikuti permainan sang suami yang selalu ingin bermesraan dengannya.


Namun, suara dering ponsel Diva tak mau berhenti juga, sangat menggangu konsentrasi Ziyan yang sedang bermesraan dengan istrinya. Karena merasa terganggu, Ziyan pun melepaskan ciumannya sejenak dan menyuruh istrinya untuk mematikan ponselnya.


"Matikan ponselnya! Dari tadi ganggu saja, siapa sih yang telepon?" Ziyan terlihat kesal karena kemesraannya tengah terganggu dengan adanya dering telepon yang masuk.


"Biar kulihat, kamu sih tadi udah mau aku matiin malah nggak boleh." protes Diva sembari mengambil ponselnya.


"Nanggung sih!" ucap Ziyan sembari memainkan puncak gunung kembar milik Diva yang terlihat begitu menantang, Ziyan tidur di atas pangkuan Diva dengan posisi kepala menghadap pada tubuh sang istri, mirip seorang anak yang menyusu kepada Ibunya.

__ADS_1


Sementara Diva tengah membuka ponselnya dan melihat nomor Arlan sedang menelepon.


"Arlan? Ngapain dia telpon?" ucap Diva sembari menunjukkan kepada Ziyan siapa yang sedang meneleponnya.


"Arlan?" Ziyan pun ikut melihat layar ponsel Diva.


"He em, biar ku tutup aja!"


"Eh jangan-jangan, angkat saja!" sahut Ziyan.


"Nggak apa-apa nih, kamu nggak marah Aku ngomong sama Arlan?" tanya Diva yang khawatir jika Ziyan marah.


"Hmm palingan dia cuma tanya-tanya kamu tinggal dimana, dan bla bla bla, Aku percaya kok sama Kamu!" ucapnya sembari melahap bulatan kecil di ujung buah dada yang indah itu. Diva sedikit meringis menahan sensasi rasa yang membuatnya menggigit bibir bawahnya. Dengan izin dari suaminya, Diva pun berani menerima telepon dari Arlan.


"Halo ...!"


"Halo Diva!" sapa Arlan.


"Ada apa Arlan?"


"Emm ... nggak juga ahhhh!" Diva tampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya, karena suara desaahan akibat ulah Ziyan terpaksa keluar dari bibir mungilnya.


"Diva, kamu kenapa?" tanya Arlan penasaran, takut jika terjadi sesuatu kepada Diva. Sejenak Diva menjewer telinga Ziyan yang sudah menyesapnya terlalu kencang. Ziyan pun tertawa kecil dan terus melanjutkan aktivitasnya.


"Enggak! Aku nggak apa-apa kok, cuma tadi digigit semut." jawab Diva panik.


"Ohh digigit semut aja seperti itu apalagi digigit yang lainnya."


"Hah ... apa maksudmu?"


"Ohh nggak, nggak ada. Lupakan! Oh ya Diva, kita bisa ketemuan nggak? Aku mau ajak kamu makan malam."

__ADS_1


"Makan malam? Kayaknya Aku nggak bisa deh, Aku ada acara keluarga nanti malam, sorry banget!"


"Yaahh nggak bisa, ya! Nggak apa-apa deh, tapi kapan-kapan kita jalan, ya! Aku pingin banget ngajak kamu jalan-jalan."


"Hmm kita lihat saja nanti ahhhh!" lagi-lagi Diva berteriak kecil, karena Ziyan sungguh membuat Diva tak bisa mengontrol diri.


"Diva! Kamu kenapa? Kamu kok berteriak gitu, kamu terluka, kamu sakit?" tanya Arlan yang sangat khawatir dengan keadaan Diva.


"Ohh nggak, nggak ada kok, mungkin kamu salah dengar, Aku nggak apa-apa, percayalah!"


"Baiklah, Aku percaya. Oh ya Diva sebenarnya Aku ingin sekali bicara denganmu, em ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum nggak sih? Aku penasaran banget, kalau belum Aku boleh dong daftar jadi pacar kamu, boleh nggak Diva?"


Karena Diva sudah tidak kuat menahan rasa geli karena ulah sang suami, Diva pun membuang ponselnya dan akhirnya ponselnya mati seketika. Tentu saja Diva lebih memilih melayani suaminya daripada berbicara yang tidak penting dengan Arlan.


"Ziyan! Kamu nakal banget sih!"


"Hmmm tubuhmu begitu candu, Aku sangat menyukainya."


"Ziyan, lepaskan! Geli ah."


Kedua pasangan pengantin itu tentu saja selalu ingin menikmati kemesraan bersama, berbeda dengan Arlan yang tiba-tiba mendapati telepon nya terputus.


"Halo Diva! Halo ... halo ... ah sialan! Mati lagi. Pokoknya Aku harus deketin Diva sebelum yang lainnya mendekatinya, sebelum janur kuning melengkung, Aku akan terus mendekati nya!" ucap Arlan penuh semangat, tanpa Ia sadari jika Diva dan Ziyan sudah menikah, bahkan sekarang keduanya tengah sibuk membuat adonan bayi, berbaur menjadi satu dalam indahnya percintaan.


...BERSAMBUNG...


*


*


*

__ADS_1


...Cuss author bawa bacaan seru nih yuk kepoin segera 🥰...



__ADS_2