
Anton kaget bukan main, saat ia pulang kerja dan berniat mengajak Andin untuk berjalan-jalan tetapi saat sampai di depan kamar Andin.
Ia di kaget kan dengan kabar bahwa Andin sudah pergi meninggalkan kosan nya itu, Anton bertanya ke setiap orang yang ada di sana pada saat itu. Namun, nihil tak ada satu orang pun yang tahu.
Ia masuk ke dalam kamar Andin dan melihat secarik kertas di atas meja rias Andin.
"Dear Anton ...
Maaf kan aku ya, karena aku sudah pergi tanpa izin dari mu! Jujur aku sangat berat melakukan ini semua. Tetapi aku terpaksa karena aku tidak mau terus menerus di ganggu oleh Devan. Kamu tahu sendiri bukan? Jika Devan sudah mengetahui kosan ku sekarang, besar kemungkinannya ia akan terus menganggu ku sampai aku mau kembali pada nya.
Anton, makasih ya karena sudah menolong ku sedemikian rupa! Aku janji akan menjaga anakku hingga dewasa nanti, kamu jangan khawatir aku di sini baik-baik saja.
Sekali lagi makasih dan maaf aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu pada mu."
Anton yang membaca surat itu pun seketika lemas dan tidak berdaya. Ia kesal dengan Devan karena dia. Andik pergi meninggalkan nya!
Ia sangat menyayangi Andin dan anak yang ada di dalam kandungan nya itu. Ia menyesal karena meninggal kan Andin seorang diri di kosan.
Anton mencari-cari Andin kemana-mana, namun tak ada hasil sama sekali. Bahkan ia sampai tak masuk kerja hanya untuk mencari Andin.
"Andin, kamu dimana? Kenapa kamu tega memisahkan ku dengan anak mu?" Gunam Anton.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Mas Anton, itu ada yang nyari!" Ucap tetangga kamar nya itu.
__ADS_1
"Siapa?"
"Engga tahu dan enggak kenal juga."
"Oh ya sudah, makasih ya!"
"Iya ..."
Anton keluar kamar dan mendatangi orang yang mencari nya itu, saat ia sampai di depan rumah ia kaget saat melihat Devan lah yang mencari nya.
Seketika amarah Anton memuncak kembali mengingat kepergian Andin dan juga anak nya secara tiba-tiba akibat ulah Devan.
"Mau apa kau kemari?" Tanya Anton sinis.
"Seharusnya aku yang nanya seperti pada mu!"
"Jangan bercanda kamu!"
"Apa ku terlihat bercanda?"
"Dimana Andin?" Bentak Devan.
"Woi santai ... Seharus nya kau yang lebih tahu dimana Andin, Andin pergi meninggalkan tempat ini."
"Bohong kamu."
__ADS_1
"Untuk apa aku bohong? Ia pergi karena ia tidak mau kamu ganggu terus menerus."
"Itu semua tidak mungkin, karena Andin sedang mengandung anakku!"
"Anak mu? Jangan munafik Devan, aku tahu kalau kamu pernah menuduh Andin hamil anak laki-laki lain. Dan kini dengan sangat enteng nya kamu bilang itu anak mu!"
"Saat itu aku syok, aku belum siap memiliki anak!"
Bugh
Anton memukul Devan dengan kuat, ia tidak terima dengan alasan yang di berikan oleh Devan.
"Alasan macam apa itu?"
"Aku benar-benar syok saat itu, aku bingung aku ..."
"Sudah lah, lebih baik kau pergi dari kosan ku dan jangan pernah kembali apa lagi bermimpi bertamu Andin di sini. Karena ia sudah pergi entah kemana."
"Tapi ..."
"Pergi kata ku bilang sebelum aku memukul ku lagi!"
"Oke-oke aku pergi."
Anton menatap kepergian Devan dengan bengis, ia masih kesal dengan manusia satu itu.
__ADS_1