Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 12


__ADS_3

Andin kini sudah membereskan semua pakaian yang ia bawa, semua tetangga di tempat baru nya sangat baik dan menerima Andin dengan ramah.


Andin bertetangga dengan sepasang suami istri yang sudah menikah selama lima tahun namun, tak kunjung mendapatkan momongan. Sedangkan di sebelah kiri kosan Andin bertetangga dengan mahasiswi yang cantik dan baik.


Andin merasa sedih jika melihat mahasiswi itu, pasal nya ia juga dulu seorang mahasiswi namun semua berubah saat ia tahu hamil dan Devan tidak ingin bertanggung jawab.


"Mbak Andin, udah berapa bulan?" Tanya Dini. Tetangga yang sudah menikah.


"Sudah delapan bulan mbak!"


"Wah seneng nya, nanti di sini bakalan rame karena ada bayi. Semoga hamil nya menular sama ku ya mbak!"


Aamiin ... Semoga mbak bisa segera dapat momongan!"


"Aamiin, oh ya, mbak apa mbak sudah makan? Jangan telat makan mbak, kalau mbak tidak sempat masak karena beberes sejak tadi. Makan saja di tempat ku, aku masak banyak hari ini. Karena suami ku gajian emang biasanya selalu seperti itu aku bagi-bagi rezeki lah mbak. He he he."


"Wahh Alhamdulillah kalua begitu, semoga rezeki nya lancar terus ya! Tapi saya sudah makan tadi di kasih sama pembantu rumah itu," ucap Andin menunjuk rumah sang pemilik kosan.


"Oh rumah mas Riki, dia orang nya lagi single tuh baru cerai lima bulan lalu gara-gara istrinya selingkuh!"


"Oh ya?"

__ADS_1


"Iya mbak, dia emang baik ornag nya itulah sebab nya saya betah ngekos di sini."


"Alhamdulillah kalau begitu!"


"Nanti kalau mbak Andin mau periksa kandungan, ajakin saya ya mbak! Ya walaupun enggak punya anak tapi pingin lah tahu gimana di USG atau di periksa kaya gitu he he he."


"Iya mbak, insyaallah. Saya masuk dulu ya mbak! Hari sudah semakin sore."


"Oh iya silahkan, memang tidak baik ibu hamil sudah senja masih di luar!"


Aku masuk ke dalam kosan yang kini sudah tertata rapih, di dalam sana sudah tersedia kompor dan barang-barang lain nya.


"Oke semua sudah beres, mungkin besok aku akan belanja kebutuhan ku selama sebulan!" Gunam Andin.


Saat baru saja membaringkan tubuhnya tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Mbak Andin, apa ada di dalam? Saya si mbok."


"Sebentar mbok."

__ADS_1


Ceklekkk


Andin membuka pintu dan terlihat si mbok di luar sana.


"Ada apa mbok?"


"Ini tuan Riki menyuruh saya untuk mengantar kan ini ke sini, kata nya takut bumil kelaparan" ucap nya menyerah kantong kresek warna hitam.


"Wah merepotkan sekali ini ... Saya sudah bersyukur di berikan kosan di sini, sekarang malah semakin merepotkan saja! Memang kebetulan saya sedang ingin makan sesuatu."


"Mau makan apa? Biar nanti mbok bilang sama si Ujang untuk mencari kan nya."


"Ah tidak perlu mbok, besok saja! Ngomong-ngomong ini makasih banyak ya mbok, bilang tuan jangan repot-repot terus."


"Sama-sama non, si mbok pamit pulang ya! Di makan di habis kan juga."


"Oke mbok."


Andin menutup kembali pintu kamar nya, ia membuka plastik berukuran besar yang di berikan si mbok tadi.


Andin terkejut saat melihat isi nya adalah susu hamil, vitamin, penambah darah, eskrim dan lain-lain nya.

__ADS_1


"Aduh ko itu duda bisa tahu sih barang-barang kaya ginian?" Gunam Andin.


__ADS_2