Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 21


__ADS_3

Aku dan mas Riki berangkat ke rumah baru pukul enam pagi, sedang kan rumah lama mas Riki di biar kan di rawat oleh bi inem namun tidak di perbolehkan menerima tamu siapapun itu kecuali keluarga.


Aku membawa putri ku yang mungil berpindah tempat, semoga saja putri ku betah berada di rumah baru.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya kami sampai di sana, rumah minimalis dengan nuansa yang sangat indah dan asri.


Rumah bercat putih itu terkesan luas meskipun hanya dua lantai, aku tidak tahu mas Riki kapan membeli nya hingga sudah siap huni seperti ini.


"Ayok masuk ke dalam."


"Suasana nya enak sekali mas."


"Aku sengaja agar kamu betah berada di rumah baru kita."


"Tapi mas kapan beli nya? Karena setahu ku mas selalu berada di rumah."


"Oh ini mas beli lewat online, terus mas suruh si Andri buat ngecek nya dan membayar nya! Kenapa sayang? Tidak suka ya?"


"Suka ko, cuman heran aja gitu. Oh ya, itu dua penjaga di luar untuk apa?"


"Untuk jaga-jaga sayang, kita tidak tahu kapan saja orang akan berbuat jahat itu lah sebab nya mas ingin melindungi mu dari orang-orang itu!"


"Makasih mas, aku tidak akan henti nya berterimakasih pada mu dan juga keluarga mu! Aku ..."


"Shuttt .... Kamu wajar mendapatkan ini semua karena kamu istri ku, kalau aku memperlakukan seperti ini pada wanita lain baru lah itu tidak wajar."


"Mas ini ihh ...!"


"He he he ya habis nya kamu itu loh makasih terus, apa tidak bosan?"


"Tidak, aku tidak akan pernah bosan!"


"Sudah mas, mau ajak main kanza. Dimana dia?"


"Bukan nya tadi mas lihat sendiri kalau aku sudah masuk kan dia ke dalam box bayi?"

__ADS_1


"Oh iya aku lupa, maaf kan suami mu ini sayang!"


"Iya."


"Aku ke sana dulu ya!" Ucap nya sambil m*n*e*u* kening ku dengan lembut.


Sedangkan aku pergi ke dapur untuk membuat makan siang bersama bi Juminten, ia juga menyayangi ku dan juga anakku.


"Bi, masak apa?"


"Eh bu, ini masak sayur sop sama ikan goreng. Apa ingin sesuatu?"


"Oh tidak. Ayok aku bantu."


"Tidak perlu bu, nanti jahitan nya ke gores. Lebih baik duduk saja di sana biar bibi yang memasak nya."


"Tapi ..."


"Duduk lah di kursi, mau teh atau susu?"


"Tidak, masalah ini sudah pekerjaan bibi."


Kami berbincang segala hal bersama, hingga masakan telah sedia. Aku bangkit dan berniat membangun kan mas Riki di dalam kamar.


Namun saat di depan kamar aku mendengar mas Riki menelfon seseorang di sana.


"Aku tidak bisa melakukan itu."


"Kamu yang seharus nya mengerti!"


Aku masuk ke dalam kamar dan ia terkejut d dengan kedatangan ku yang tiba-tiba.


"Siapa yang harus mengerti mas? Dan apa?"


"Sayang ... Sejak kapan kamu di sana?"

__ADS_1


"Sejak tadi, kenapa mas Riki seperti nya gugup? Apa yang di sembunyikan?"


"Tidak ada sayang, kenapa? Apa ada sesuatu?"


"Tidak ada, pergi lah makan dulu."


"Ayok kita makanan bersama."


"Tidak ... Kamu saja makan duluan aku belum lapar!"


"Ayok lah sayang, jangan seperti itu! Tadi aku sedang bicara dengan Andri agar ia mengerti jika aku tidak bisa hadir meeting. Karena harus menemani mu di rumah baru."


"Pergi lah, jangan membuat pekerjaan mu tertunda."


"Tidak akan."


"Oh."


"Sudah, ayok kita makan bersama."


"Aku tidak lapar."


"Tapi aku lapar."


"Ya sudah makan sana."


"Tapi mau di temani istri ku."


"Aku mau kasih ASI untuk kanza."


"Ya udah mas nunggu."


"ihh ..."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2