Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 28


__ADS_3

Aku mendobrak pintu kamar mandi karena sudah tidak mendengar lagi suara Andin dari dalam, aku sangat khawatir dengan nya.


Dan saat aku berhasil mendobrak nya ternyata Andin sudah tergeletak di atas lantai, wajah nya sangat pucat aku langsung menggendongnya dan membawa nya ke rumah sakit.


"Astaga Andin ..." Teriak ku saat melihat Andin.


"Sayang bertahan lah, aku akan membawa mu ke rumah sakit!"


Aku berlari dengan menggendong Andin tanpa menghiraukan apapun yang ada di depan mata ku, aku sangat panik takut jika terjadi sesuatu pada istriku ini.


"Bibi ..." Teriak ku pada kedua art ku ini.


"Ya tuhan bu Andin, kenapa? ..." Teriak kedua nya.


"Saya titip kanza ya bi, saya mau bawa Andin ke rumah sakit dulu tadi dia pingsan di kamar mandi!"


"Baik tuan, hati-hati di jalan."


Aku kembali berlari hingga garasi aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit.


Beruntung jalanan tidak sedang macet jadi aku bisa cepat sampai di lokasi, setelah sampai di rumah sakit aku langsung merebahkan Andin di bangsal UGD.


Aku menunggu hasil pemeriksaan dokter, aku sungguh sangat cemas jika terjadi sesuatu dengan Andin. Aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri karena telah lalai menjaga istri ku ini.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya dokter keluar dan ...


"Keluarga pasien atas nama Andin?"


"Saya suami nya dok, bagaimana istri saya?"


"Seperti nya bapak harus pergi ke poli kandungan agar mendapatkan hasil yang lebih akurat."


"Maksud dokter, istri saya ..."


"Benar pak! Istri bapak sedang hamil, tapi lebih baik bapak segera ke poli kandungan agar lebih tahu detail nya."


"Baik dok saya akan segera membawa istri saya periksa, terimakasih banyak dokter!"


Aku sangat bahagia mendengar berita ini, sungguh ini berita yang membuat ku terharu akhirnya aku di beri kepercayaan oleh tuhan.


Aku menemui Andin di ruang periksa ternyata ia sudah sadar walaupun wajah nya masih pucat seperti tadi.


"Aku kenapa mas?" Tanya nya padaku.


"Kita periksa dulu ya sayang, ayok turun dan naik ke kursi roda! Atau mau aku gendong lagi seperti tadi? Ah tapi rasanya kamu sangat berat sekali," ledek ku.


"Ish kamu ini istri nya lagi sakit juga, masih aja di ajak bercanda."


"Ha ha ha ayok sayang."

__ADS_1


Aku membawa Andin mengantri untuk mendapat giliran priksa kandungan, Andin sempat bertanya-tanya kenapa ia di bawa ke poli kandungan karena mungkin ia belum mengetahui jika dia sudah hamil.


"Andini ..." Teriak suster.


"Ayok sayang ..." Aku mendorong Andin masuk ke dalam untuk di priksa.


"Jadi apa keluhan nya?" Tanya dokter Rita.


"Tadi istri saya pingsan di kamar mandi!" Jawab ku.


"Begitu ya bu? Apa yang ibu rasakan?" Tanya nya lagi.


"Sangat pusing dan sedikit mual, tidak nafsu makan juga Dan ..."


"Ya?"


"Saya benci suami saya dok!"


"Loh ko aku sayang?"


"Iya dok sudah dua hari ini saya sangat benci dengan dia" Ucap Andin sambil menunjuk ku.


"Baik, ayok kita periksa dulu! Naik ke atas kasur nya ya bu."


Andin di periksa oleh dokter itu, sedangkan aku menunggu nya dengan sangat antusias.


"Wahh lihat sudah ada kantung janin nya bu."


"Benar ibu sudah hamil sekitar dua bulanan, apa ibu tidak menyadari nya?"


"Tidak dok, hanya saja saya sempat heran karena lama tidak mendapatkan haid."


"Baik ... Saya akan berikan vitamin dan penambah darah ya bu."


Mereka kembali ke tempat semula, aku sudah sangat bahagia saking bahagianya aku tidak henti nya tersenyum.


"Mas, kenapa senyum-senyum kaya gitu?" Tanya Andin.


"Aku hanya sedang berbahagia saja sayang."


"Selamat ya pak, bu. Dan obat nya tolong di minum ya."


"Baik dok. Terus kalau soal benci dengan suami saya gimana?"


"Itu hal biasa terjadi pada ibu hamil, nanti juga akan hilang dengan sendirinya."


"Baik dok, terimakasih banyak ya!" Ucap Andin.


"Untuk bu Andin jangan terlalu banyak aktivitas karena kandungan nya masih sangat muda sangat dan masih rentan."

__ADS_1


"Terimakasih banyak ya dok."


Kami keluar dan menuju apotek rumah sakit untuk menembus obat milik Andin.


"Terimakasih banyak sayang."


"Untuk apa?"


"Karena kamu sudah memberikan aku seorang anak lagi, wahh sekarang aku jadi memiliki anak dua. Ha ha ha." Aku tertawa bahagia.


"Dih kamu aneh, sudah sana jangan lama-lama."


"Iya sayang ..."


Setelah selesai aku membawa Andin pulang dengan kecepatan sangat pelan sekali, aku takut jika Andin kenapa-napa.


"Sayang kenapa pelan sekali? Lama loh sampai nya."


"Hati-hati sayang, aku tidak mau anak kita terguncang di dalam sana."


"Dih lebay ..."


"Tidak masalah aku lebay, tapi aku tetap ganteng."


"Sangat percaya diri sekali anda tuan Riki ..."


"Ha ha ha." Aku tertawa mendengar jawaban dari nya. Baru kali ini ia bicara seperti itu. Dan aku malah senang ia sudah tidak marah lagi padaku. Seperti kemarin semoga saja anak yang ada di dalam saja tidak lama-lama benci dengan ku.


Aku sudah sangat rindu tidur bermesraan dengan istriku yang cantik ini.


"Sayang, apa kamu mau sesuatu?"


"Hmmm aku mau makan seblak sayang!"


"Hah? Makanan apa itu?"


"Itu loh kerupuk ..."


"Nanti aku akan cari kan untuk mu. Apapun itu biar pun sulit aku akan tetap mencari kan nya. Tapi jika tetap sulit nego dikit boleh ya sayang?"


"Dih mana bisa nego."


"Bisa lah."


"Enggak."


"Baik lah."


Aku kembali fokus membawa mobil sampai akhirnya kami sampai juga di rumah setelah hampir satu jam perjalanan.

__ADS_1


Andin sudah mengomel karena aku terlalu lama membawa mobil yang seharus nya hanya setengah jam kini hampir satu jam sampai.


__ADS_2