
Kini aku sampai di depan rumah mas Riki rasanya aneh saja jika aku diam di rumah ini, karena kami tidak memiliki hubungan apapun. Apa lagi ada bayi di sini, aku takut jika yang lain salah faham dengan kami berdua. Aku lebih nyaman tinggal di kosan ku saja aku bisa ko mengurus semuanya walaupun sendiri.
"Ya tuhan Andin, anak mu lucu sekali! Mirip dengan mu cantik" Ucap mbak Intan.
"Makasih mbak!"
"Iya mbak Andin, anak nya lucu. Aduh jadi pingin cepet punya anak nih ha ha ha."
"Cari dulu suami nya," celetuk mbak Intan.
"Lah itu mas Riki ada," sambung ku.
"Aduh mbak Andin dan mbak Intan ini gimana sih! Mas Riki itu udah tandai mbak Andin tahu ihhh!"
"Hah?"
Aku kaget mendengar perkataan nya, ko dia bisa tahu soal ini? Apa mas Riki bercerita dengan nya? Sungguh aneh rasanya.
Saat kami semua sedang bercengkrama tiba-tiba datang seorang perempuan yang sangat cantik dan s*x* ia menghampiri kami dengan gaya angkuh nya.
"Oh jadi ini anak h*r*m nya mas Riki!" Ucap nya.
Hati ku terasa perih mendengar perkataan nya itu, jika ia tidak suka dengan ku berada di sini jangan mengatakan anakku seperti itu. Lagian aku juga bisa pindah ke kosan ku jika ia bicara dengan baik pada ku.
"Maksud nya mbak ini apa ya?"
"Aduh jangan sok polos deh! Kamu di bayar berapa sama si Riki biar ngelahirin anak nya?"
"Jaga ucapanmu itu ya mbak! Jangan pernah mengatakan anak ku yang bukan-bukan."
__ADS_1
"Lah emang bener kan? Lagian kalau emang bukan, untuk apa kamu dan juga anak h*r*m mu itu berada di rumah mantan suami ku hah?"
"Ma-mantan suami?"
"Iya, mas Riki itu mantan suami ku. Kenapa?"
"Oh!"
Kami semua kaget mendengar penuturan nya, ternyata wanita di depan ku ini adalah mantan istri mas Riki.
Bukan nya ia dulu berselingkuh karena tidak ingin memiliki anak dari mas Riki? Lalu untuk apa lagi ia datang kemari?
"Aurelia ..." Teriak mas Riki dari balik pintu.
"Mas ..." Ucap nya dengan gaya manja, aku dan yang lain hanya bisa melihat nya dari dalam yang kebetulan aku di perbolehkan tinggal di kamar tamu.
"Mau apa lagi kamu ke sini ha?"
"J*j*k aku mendengar nya, lebih baik kamu sekarang pergi dari rumah ku."
"Tapi mas ..."
"Pergi sekarang juga ..." Kini ucapnya penuh dengan penekanan.
Seketika bayi ku menangis mendengar mas Riki berteriak. Aku langsung menenangkan putri ku yang semakin menangis akibat pertengkaran mereka berdua.
"Mas, aku pulang saja di bantu dengan mbak Intan dan yang lain. Ayok mbak tolong bantu aku membawa barang-barang dedek kanza!"
"Iya ayok, kamu ke tempat mbak aja!" Aku mengangguk setuju, aku yakin mbak Intan hanya ingin mencegah agar prempuan itu tidak sampai mengganggu ku di kosan.
__ADS_1
Aku berjalan melewati mere berdua yang sedang bertengkar, saat aku berpapasan dengan mas Riki. Tiba-tiba ia menarik tangan ku agar tidak pergi dari rumah itu.
"Kamu tetap di sini jangan pergi, mbak tolong jangan bawa Andin dan anakku pergi!" Ucap mas Riki memohon.
"Hah?" Mbak Intan kaget mendengar penuturan nya itu.
"Kamu ... Sekarang juga pergi dari rumah ku dan jangan menganggu anak dan istri ku, seujung kuku kamu menyentuh mereka maka aku tidak akan mengampuni mu Aurel" Ucap mas Riki penuh penekanan.
"Mas, apa sih yang istimewa dari perempuan itu hah? Dia itu tidak secantik diri ku, dia bahkan sudah melahirkan pasti tubuh nya akan menggelember di tambah lagi itu pasti akan ..."
"Stop jangan sampai aku kelepasan dan menampar mulut mu itu! Jangan pernah berani macam-macam terhadap keluarga baru ku!"
"Mas ..."
"Pergi atau aku suruh satpam untuk menyeret mu!"
"Oke-oke aku pergi, tapi aku akan datang lagi nanti ... Aku tidak terima dengan semua ini mas."
"PERGI ...!"
Akhirnya mantan istri mas Riki pergi dari rumah ini, aku dan yang lain hanya melongo mendengar semua perkataan nya barusan.
"Andin, maaf kan Aurel yang sudah mengganggu kenyamanan mu!" Ucap mas Riki.
"Lebih baik aku kembali ke tempat ku mas! Aku bukan istri mu, yang kamu barusan kata kan itu bohong! Jangan berbohong apapun alasan nya mas, aku permisi. Mbak ayok!"
"Iya!"
Kami semua keluar tanpa mendengar kan perkataan mas Riki satu kata pun, aku tetap melangkah keluar bersama yang lain.
__ADS_1
Kini aku sudah sampai di kosan ku, aku tidur berdua bersama anakku! Sebenarnya mbak Intan menawarkan aku untuk tidur di kamar nya namun aku menolak karena aku merasa tidak nyaman bila nanti ia terganggu dengan suara bising jika anakku menangis.
Aku meratapi nasib ku dan juga anakku sekarang! Mungkin aku akan pindah nanti setelah empat puluh hari anakku.