Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 8


__ADS_3

Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Tidak terasa kandungan ku sudah menginjak delapan bulan.


Aku tidak menyangka bisa bertahan sejauh ini meskipun aku harus bertarung dengan rasa nyeri saat keram dan rasa kantuk saat deadline tugas kuliah.


Semenjak pindah kosan aku tidak pernah lagi bertemu dengan Devan, dan Anton semakin hari semakin perhatian pada ku. Bahkan setiap kali aku mengeluh sakit ia selalu ada di samping ku dengan sigap menjaga ku sepanjang waktu.


Namun, saat itu tiba-tiba saja Devan menghampiri ku di kampus. Ternyata selama ini ia mencari ku kemana-mana namun tidak pernah mendapat kan titik terang keberadaan ku.


Memang selama ini aku menutup rapat semua tentang diri ku, bahkan teman-teman kampus pun aku tidak beritahu jika aku pindah kosan.


"Andini ..." Teriak Devan.


Aku menoleh sesaat dan langsung memalingkan wajah ku melihat ke arah lain, dengan cepat aku berjalan menjauhi Devan yang mengejar ku di belakang sana.


Devan terus berteriak-teriak memanggil ku dan tidak ada satu pun aku membalas nya, aku terus berjalan cepat meskipun perut ku sudah mulai terasa keram.


"Andini tunggu!"


"Akhirnya dapat juga kamu, tunggu aku mau bicara dengan mu Andin."


"Apa lagi? Kita sudah selesai Devan!"


"Tidak, semua itu tidak benar. Kamu tetap menjadi milik ku."


"Apa hak kamu bicara seperti itu?"


"Aku menyesal, ku mohon maaf kan aku!"


"Sudah ku maaf kan, jadi minggir lah. Aku mau pulang!"


"Biar aku antar. Aku ingin tahu dimana kosan mu sekarang. Karena sejak saat itu aku terus mencari mu, hidup ku tidak tenang saat jauh dari mu Andin."


"Sudah lah, lebih baik kita tidak perlu bertemu lagi. Karena selama ini aku sudah hidup nyaman seperti ini."


"Tapi anak kita ..."


"Jangan bicara kan hal itu di sini, aku susah payah menyembunyikan nya dari semua orang di kampus ku. Dan jangan pernah kamu menghancurkan nya juga hanya demi ambisi mu, sudah cukup kamu hancur kan masa depan ku dengan memberikan benih ini. Aku tidak menyesal memiliki nya tapi aku menyesal karena ia tumbuh dari benih mu!" Ucap ku tegas.


Setelah mengucap kan itu, aku langsung balik badan dan meninggalkan Devan di sana. Aku tidak peduli apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Aku sudah bertekad untuk menjauhkan anak ku dan dia, aku tidak ingin anak ku kelak tahu jika ayah nya dulu pernah meminta ku untuk membuang nya.


Sesampai nya di kosan, aku langsung merebah kan tubuh ku di kasur. Namun, baru saja aku selesai mengganti baju dan berniat merebahkan tubuh ku lagi. Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dengan sangat kuat.

__ADS_1


Posisi di kosan saat ini sedang sepi jadi tidak ada yang tahu jika ada keributan di depan kamar ku.


Ceklekkk


Aku membuka pintu dan ternyata ...


"Kamu di sini Andin?" Ucap nya menerobos masuk.


"Hei, siapa yang mengijinkan mu masuk?"


"Aku benar-benar menyesal, aku tidak akan mengulangi semua yang pernah aku lakukan dulu. Tolong Andin, beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semua nya."


"Sudah Devan, semua sudah berakhir."


"Cepat kemasi barang mu dan kita akan pindah ke tempat ku."


"Hei kamu tidak ada berhak untuk menyuruh ku melakukan semua keinginan mu."


"Aku ayah dari anak yang kamu kandung," ucap nya sedikit membentak.


Aku diam mematung setelah mendengar nya, aku terkejut dengan suara bentakan itu lagi.


"Maaf kan aku, aku ... Aku ... Aku hanya ingin kita hidup bahagia bersama."


"Tapi ..."


"Keluar kata ku, arghhhhh ..." Perut ku sakit saat berteriak pada Devan.


Ia selangkah lebih maju mendekat ke arah ku, namun aku melarang nya untuk mendekat.


"Keluar Devan, aku mohon. Jangan membuat aku melahirkan dengan cepat." Ucap ku lirih menahan sakit.


Ia pun mengalah dan pergi meninggalkan kamar ku, ternyata saat bersamaan Anton pun tiba di kosan.


Ia melihat ke arah kamar ku yang baru saja keluar Devan, dengan tatapan heran Anton masuk ke dalam kamar nya tanpa menegur ku lebih dulu.


Dalam sakit yang ku rasa kan, aku mengemasi semua barang-barang ku dan bersiap untuk pindah. Aku tidak akan tenang jika masih berada di tempat ini, Devan sudah mengetahui keberadaan ku. Dan besar kemungkinannya ia akan kembali lagi datang ke sini.


Setelah semua beres dengan cepat aku keluar dan mengunci pintu, aku berjalan keluar kosan menghampiri taxi yang sudah ku pesan lebih dulu.


"Loh mbak Andin mau kemana?" Tanya Leni penghuni kosan.


"Saya mau pulang kampung dulu mbak, maklum bentar lagi lahiran jadi mau di rumah ibu saja."

__ADS_1


"Oh, tidak sama mas Anton nya?"


"Mas Anton masih belum boleh cuti mbak, lagian aku masih gedeg sama dia tidak tahu kenapa?"


"Enggak papa, sudah biasa itu. Ya sudah, hati-hati di jalan ya mbak! Saya masuk dulu, permisi."


"Iya mbak makasih, mari ..."


Aku masuk ke dalam taxi dan berniat akan pergi ke Pekanbaru untuk menyambung hidup di sana bersama anak ku kelak. Aku akan bekerja apa saja demi menghidupi buah hati ku ini.


Tanpa terasa rasa nya hati ini sedih karena meninggal kan Anton di sana. Ia yang selalu ada untuk ku setiap aku membutuh kan nya.


"Anton maaf kan aku ..." Lirih ku.


"Mbak butuh tisu?" Tanya sang supir.


"Tidak apa pak, saya punya ko."


"Baik lah."


Jalanan kota cukup lenggang, jadi tidak membuat ku lama berada di jalan dan cepat sampai di bandara.


Hati ini semakin berat kala aku menginjak kan kaki di bandara.


"Bismillah ya sayang, semoga semua nya baik-baik saja" lirih ku.


Setelah cek in aku langsung duduk di ruang tunggu, menunggu jam penerbangan tiba. Butuh waktu satu jam lima puluh dua menit.


Setelah beberapa saat menunggu akhirnya jam penerbangan pun tiba, dengan terus meyakinkan hati ku. Aku melangkah lebih jauh masuk ke dalam pesawat.


Setelah beberapa saat kemudian, pesawat tiba di bandara Pekanbaru. Hati ini gundah gulana karena aku sama sekali belum memiliki tempat tinggal.


Uang hasil penjualan mobil ku, ku gunakan untuk keperluan aku dan anak ku di sini.


Bugh


Tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seorang laki-laki berjas.


"Maaf kan saya mbak, saya tidak sengaja."


"Tidak apa."


Aku melangkah keluar bandara, mencari taxi dan bertanya tempat tinggal yang murah di tempat ini. Karena tidak mungkin aku menyewa tempat tinggal rumah yang mewah karena keuangan ku yang menipis ini.

__ADS_1


__ADS_2