Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 18


__ADS_3

Akhirnya hari pernikahan ku tiba, setelah ijab Kabul di KUA aku di boyong ke rumah mas Riki, meskipun pada awal nya aku merasa ragu dengan semua ini tetapi melihat sikap keluarga mas Riki pada ku sangat ramah dan baik.


Aku menjadi yakin jika keputusan ku menikah dengan nya adalah keputusan yang tepat, bahkan sang ibu mertua pun sangat senang jika aku menikah dengan mas Riki.


Pasal nya ia juga sudah menunggu cucu dari sang anak, namun sayang usia pernikahan sang anak tidak panjang dan bahkan bercerai karena perselingkuhan sang menantu.


"Andin, kamu jangan sungkan ya! Anggap saja ibu ini adalah ibu kandung mu. Ibu senang jika kamu menikah dengan Riki, jujur saja setelah ia bercerai ia sering murung. Dan setelah ia bertemu dengan mu beberapa bulan terakhir ia kembali ceria setiap kali mengunjungi ku," jelas nya.


"Terimakasih banyak bu, aku juga senang karena telah menjadi bagian dari keluarga yang sangat baik ini."


"Sama-sama sayang, dimana cucu Oma?"


"Ada di dalam kamar tadi sedang di asuh oleh bi inem."


"Kalau begitu ibu ke dalam dulu melihat cucu ibu sedang apa."


"Iya bu."


Aku tak henti nya tersenyum dengan semua ini, aku sangat bahagia sekali meskipun kami menikah hanya di KUA dulu tapi aku sangat senang.


Dari kejauhan terlihat mbak Aurel yang datang kembali ke rumah ini, aku yakin ia akan membuat onar kembali seperti tempo hari.


Dan benar saja saat ia hampir sampai di depan ruang tamu, ia berteriak memaki ku bahkan ia menyebut nama nama binatang pada ku. Aku masih diam karena aku belum pulih seutuh nya.


Mendengar ribu-ribut ibu mertua langsung mengahmpiri kami di ruang tamu, ia terlihat kaget saat melihat Aurel lah yang membuat keributan itu.


"Aurel ..." Ucap nya nyaring.


"Mamah ..." Balas nya dengan suara manja.


"Apa-apa kamu menyebut kan menantu ku seperti itu hah?"


"Apa aku tidak salah dengar mah? Mamah menjadi kan wanita kampung ini menantu? Bahkan mamah tidak tahu jika anak nya itu anak h*r*m."


Plakkkk


"Jaga ucapanmu itu Aurel, anak Andin adalah cucu ku sekarang jadi kamu tidak berhak untuk mengatai nya seperti itu paham!" Ucap ibu mertua tegas.


"Tapi ..."


"Ada apa ini?" Ucap papah mertua ikut keluar.

__ADS_1


"Papah ... Lihat mamah menampar ku, aku sangat sakit pah!" Ucap nya manja.


"CK tukang drama," gunam ibu mertua pelan tapi aku masih bisa mendengar nya.


"Benar begitu Endang?" Tanya papah mertua sambil melirik ibu.


"Iya aku menampar nya karena dia mengatakan jika cucu ku adalah cucu h*r*m, dia juga mengatakan kata-kata binatang pada menantu ku!"


"Itu tidak benar pah!"


Plakkkk


Bukan jawaban yang ia dapat melainkan sebuah tamparan keras mendarat kembali di pipi mulus nya itu, papah marah dengan nya karena mulut nya yang sangat lancang sekali.


Memang sebelum menikah aku sudah menceritakan semua nya pada mereka, dan Alhamdulillah nya mereka menerima ku dengan sangat baik.


"Sekarang juga pergi dari rumah anakku."


"Tapi aku juga mantan menantu kalian!"


"Menantu apaan yang menolak memberikan cucu dari benih anakku dan malah hamil anak orang lain?"


"Sudah pergi sana."


Ia diam mematung tanpa mengatakan apapun juga, hingga akhir nya ia melangkah mendekat ke arah ku dan ...


Plakkkk


Ia menampar ku tanpa ba-bi-bu semua orang kaget melihat tingkah nya itu, bahkan ibu mertua sampai menjerit tidak menyangka jika Aurel akan melakukan hal itu.


"Kamu berani sekali menyakiti istri ku lagi," Tiba-tiba mas Riki muncul entah dari mana. Kini ia di kepung oleh keluarga suami ku.


Aku masih diam memegang pipi ku yang perih akibat tamparan yang ia berikan pada ku.


"Kamu tidak apa sayang?" Tanya mas Riki.


"Aku baik-baik saja ko."


"Kamu pergi dari rumah ku sekarang sebelum aku kehilangan kendali dan membuat mu cacat seumur hidup."


Seketika Aurel ketakutan dan memilih untuk pergi dari rumah mas Riki, kini kami semua ada di ruang tengah mas Riki terus khawatir dengan keadaan ku. Ia takut jika aku marah atau merasa sedih akibat ulah Aurel itu.

__ADS_1


Namun berulang kali juga aku meyakin kan mereka untuk tidak perlu khawatir, kini aku resmi tinggal di rumah ini dan bahkan kamar ku menjadi di kamar mas Riki.


Canggung rasanya tapi begitu lah kenyataan nya, aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Riki ini.


"Sayang, apa kamu tidak lapar?"


"Hah? Mas lapar? Aduh maaf aku sampai lupa mengajak mas makan."


"Ha ha ha bukan itu sayang."


"Lalu apa?"


"Aku menanyakan kamu. Karena aku lihat kamu belum makan sejak tadi!"


"Aku belum lapar mas."


"Makan lah karena kanza butuh ASI yang penuh nutrisi."


"Iya mas sebentar lagi."


"Ayok makan bersama, tadi papah dan mamah mengajak kita makan bersama. kanza biar kan dengan bi inem."


"Iya."


Kami makan bersama di meja makan, ibu mertua sangat telaten memilih menu untuk ku. Ia menyuruh ku memakan air katuk agar ASI ku berlimpah.


"Makan yang banyak sayang!"


"Iya mas."


"Nak, empat puluh hari anak mu nanti acara nya di buat di rumah mamah ya." Ucap mama mertua.


"Boleh saja, atur saja mah."


"Oke sayang."


"Ayok di makan lagi."


Aku makan dengan lahap begitu pula dengan mas Riki, mas Riki tak henti nya memuji ku karena aku mau menjadi istri nya dan memberikan nya seorang anak meskipun bukan anak kandung.


Tetapi mas Riki sangat sayang dengan kanza sejak kanza dalam kandungan, ia selalu diam-diam menyuruh bi inem untuk memberikan ku ini dan itu agar kandungan ku sehat.

__ADS_1


__ADS_2