
Devan pergi meninggalkan kaosan Anton dengan langkah gontai dan pipi merasa perih akibat di pukul oleh Anton.
Devan tidak membalas nya karena ia memang salah karena sudah menyia-nyiakan Andin yang begitu tulus dengan nya.
"Andin ... Lihat lah, aku di pukul oleh teman mu. Ia marah pada ku karena aku sudah membuang mu dan juga anak kita. Andin ... Kamu dimana ...?" Gunam Devan sambil menyetir.
Ia pergi ke rumah berkumpul nya dengan teman-teman nya itu. Setelah dua puluh lima menit perjalanan, ia sampai di sana. Teman-teman nya kaget saat melihat pipi Devan memar bekas tinjuan dari Anton.
"Astaga Devan ... Kenapa pipi mu memar begini? Astaga ..."Teriak Fitri.
"G1 l4 kau abis tarung dimana?" Tanya Ahmad.
"Diem ah ... Aku di pukul sahabat nya Andin."
"Hah kenapa?"
"Aku menyesal karena sudah menyia-nyiakan Andin dan juga anakku, aku mendatang tempat Andin tinggal yang baru. Namun, dia sudah pergi bahkan sahabat nya pun tidak di beritahu dulu kemana Andin pergi."
"Terus kau percaya?"
"Shhhttt ... Auu ... Pelan-pelan lah Fit, sakit ni perih! Ya percaya aja, karena aku pun lihat dia kaya bingung gitu di tambah lagi ia memberikan aku surat yang di tulis oleh Andin."
"Iya ni pelan-pelan."
"Lalu apa yang bakalan kau lakukan sekarang?"
"Entahlah aku bingung!"
__ADS_1
"Lah ..."
"Lagian kau sih, pake memutuskan dengan kepala panas. Nyesel kan kau!" Ucap Deni.
"Iya aku menyesal dan sekarang aku bingung harus mencari kemana lagi mereka."
Mereka mengobrol seperti biasa, meminum kopi hangat dan dingin di malam hari.
Pukul sebelas ia pulang lebih dulu, lebih tepat nya pulang ke kosan bukan ke rumah nya.
Kehidupan Devan sangat lah bebas, bahkan ia selalu membawa pacar-pacar nya masuk ke dalam kosan.
Namun, apes beribu apes. Ia kebablasan saat bersama dengan Andin. Karena bagi nya Andin begitu n1 k m4 t bukan main.
[Andin kamu diman?]
[Andin, apa kabar anak kita? Apa dia baik-baik saja? Aku berharap kalian sehat-sehat ya!]
Deretan pesan yang Devan kirim untuk Andin, namun sayang nya nomor yang ia tuju hanya ceklis satu.
Dengan keputusasaan Devan terlelap dan di saat itu juga ternyata Andin membuka semua pesan Devan.
Dengan cepat ia memblokir nomor milik Devan, karena ia takut jika Devan melacak nya menggunakan nomor telfon.
Keesokan harinya ...
Devan bersiap menuju tempat kerja nya yang tak jauh dari kosan nya itu, ia melirik hp nya dan melihat pesan yang di kirim untuk Andin sudah di baca.
__ADS_1
Devan merasa senang bukan main karena ia berpikir jika ia masih memiliki kesempatan untuk membawa Andin kembali.
Namun, sayang hal itu hanyalah ada di dalam pikiran Devan dan tidak akan pernah terjadi. Berulang kali Devan menelfon nomor milik Andin namun tidak bisa karena Andin sudah memblokir nya.
"Ndin ... Kenapa kamu memblokir nomor ku?" Tanya Devan.
Di saat Devan duduk tiba-tiba muncul sosok Widya bersama laki-laki lain tak lain tak bukan adalah teman nya sendiri.
Ya Widya berselingkuh dengan teman Devan, mereka menjalin hubungan diam-diam di belakang Devan.
Sungguh Devan laki-laki ya g sangat bo do h karena percaya dengan segala ucapan yang di lontarkan Widya, hingga ia memilih untuk menelantarkan Andin dan juga buah hati nya.
"Untuk apa kalian datang ke mari?"
"Kami hanya ingin melihat keadaan mu sekarang, aku mendengar dari yang lainnya kata nya kamu sangat sedih karena di tinggal oleh Andin dan juga anak mu. Maka dari itu aku dan Widya ingin meminta maaf dengan mu!"
"Sudah lah lupakan saja! Tidak penting juga untuk kalian berdua, dengan kalian minta maaf pun tidak akan merubah Andin dan anakku ada di depan mata ku sekarang!"
"Setidaknya kami ada niat untuk minta maaf!" Ucap Widya lantang.
"Oh oke, sudah kan? Jadi silahkan pergi dari sini."
"Maaf kan cara bicara Widya yang mungkin terlihat kasar pada mu!"
"Jangan banyak bicara, aku bilang pergi ya pergi."
Akhirnya mereka pergi meninggalkan Devan sendiri lagi, Devan masih terus berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan kabar dari Andin. Sungguh saat ini ia sangat menyesal dengan semua nya.
__ADS_1