
Hari ini kami pergi menuju Jakarta tanpa pengawalan apapun, aku tidak ingin kalau Riki memiliki celah untuk berbuat curang!
Kami berangkat pagi sekali dan sebelum nya aku sudah menyuruh teman ku yang bekerja di rumah sakit tempat kami akan melakukan tes DNA, untuk menyiapkan semua peralatannya.
Meskipun aku menyuruh teman ku tetapi untuk melakukan tes itu aku meminta oleh orang lain agar semua jelas.
Siapa yang tidak tahu kekuasaan pak Riki? Bahkan ia menjadi orang terkaya nomor dua di Asia.
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya kami sampai di rumah sakit tersebut, aku, Andin dan anak kecil itu langsung di ambil sampel darah untuk di lakukan tes DNA.
Bahkan hingga saat ini aku belum mengetahui siapa nama anak itu! Setelah mengambil sampel aku membawa pak Riki dan Andin menuju rumah ku yang di Jakarta.
Kami semua tidak ada yang memegang hp satu pun, sekali lagi aku melakukan itu semua karena aku takut jika pak Riki berbuat curang dalam melakukan tes DNA ini.
"Jadi kita akan tidur di sini mas?" Tanya Andin pada pak Riki.
"Iya sayang, sementara kita tinggal di rumah Devan terlebih dahulu hingga hasil tes nya keluar! Lagian jika kita tidur di hotel maka kita akan terus di ganggu oleh mantan mu itu, apa kamu mau terus di ganggu oleh nya? Atau malah kamu menyukai hal itu?" Tanya Devan penuh selidik.
"Heh mas kamu ini ya kalau ngomong enggak di pikir-pikir dulu, kalau aku mau dan suka sudah ku katakan jika kanza itu ..." Ucapannya terpotong saat pak Riki mengajak nya tidur.
Sedari tadi aku terus mendengar kan mereka berbicara, aku berpikir jika anak yang bernama kanza itu adalah anakku.
Dari cara bicara nya Andin seperti nya memang benar seperti itu, jika memang ia adalah anak kandung ku. Maka aku masih berhak untuk merawat nya dan membesarkan anak itu.
Malam semakin larut namun aku belum bisa tidur juga, aku terus bulak balik di atas kasur hingga aku bosan tetapi mata ini masih saja segar dan enggan memejamkan mata nya.
Aku keluar kamar dan duduk di teras balkon kamar ku, aku menerawang jauh ke masalalu aku akui semua perbuatan ku adalah salah.
Aku telah salah menyia-nyiakan kedua orang yang saat ini aku sedang perjuangkan, aku harus mendapatkan Andin kembali bagaimana pun cara nya.
Hingga tengah malam tiba mata ini masih saja terjaga, aku putus kan untuk ke dapur mengambil air minum karena ternyata aku sangat haus dan stok minum di kamar ku sudah habis.
Ceklekkk
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar dan saat melewati kamar Andin dan pak Riki, aku mendengar jika Andin berbicara jika ia takut jika hasil itu akan berbicara nanti nya.
Namun, pak Riki terus membujuk nya dan mengajak nya untuk tidur karena besok kami akan ke rumah sakit kembali untuk mengambil hasil tes DNA itu.
Setelah mengambil air aku langsung masuk ke dalam kamar kembali, aku mencoba untuk tidur agar besok badan ku fresh.
Keesokan harinya ...
Aku sudah bersiap dan sarapan sudah tersaji di atas meja, meskipun sedikit ragu namun melihat mas Riki makan dengan lahap dan Devan pun sama hal nya. Aku menjadi yakin jika di dalam makanan itu tidak ada apa-apa nya.
Setelah selesai sarapan kami berangkat menuju rumah sakit dan langsung masuk ke ruangan, karena rumah sakit ini tempat Dinda bekerja.
Beberapa saat kemudian kami sampai di sana, aku merasa dag dig dug dengan semua ini, ku lirik mas Riki dan ia hanya mengangguk kan kepala nya saja. Ku lirik anakku yang sedang duduk di samping Devan, ada rasa tidak ihklas jika anak yang dulu di tolak oleh nya kini dekat dengan laki-laki jahat itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk ..."
Kami masuk ke dalam ruangan untuk mengambil sampel untuk tes DNA, aku semakin tidak terima dengan semua ini. Namun, lagi-lagi suami ku meyakin kan aku jika semua nya akan baik-baik saja. Hingga akhirnya hasil tes pun keluar dan hasil nya seratus persen cocok dengan Devan.
Ku lirik ada seuntai senyum di bibir nya, dia berniat memeluk Kanza anakku namun dengan cepat aku menarik nya masuk ke dalam pelukan ku.
"Semua yang kamu ingin kan sudah terpenuhi, jadi jangan pernah coba-coba dekati anakku lagi! Dan pergi jauh lah dari kehidupan kami," ucap ku tegas.
"Tapi aku ayah biologisnya ..."
"Apa kamu lupa perjanjian nya ha?"
"Tapi ..."
"Sudah lah Devan, apa sekarang kamu berpikir ingin hidup bahagia dengan anakku?"
"Kamu ..."
__ADS_1
"Kamu jangan berharap semua itu akan terjadi Devan, aku tidak akan sudi membiarkan mu dengan anakku. Jadi kami permisi ... Dan mulai sekarang kamu sudah di pindah kan ke perusahaan pusat!"
"Apa hak mu memindahkan aku seenak nya?"
"Apa kamu lupa jika aku ini istri bos mu, aku bisa kapan pun memindahkan mu bahkan aku bisa saja memecat mu saat ini juga! Mas ayok kita pulang."
Aku pergi meninggalkan Devan yang langsung terduduk di atas kursi ruang tunggu, aku benar-benar tidak rela jika anakku bersama dengan nya hingga kapanpun itu.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya mas Riki.
"Aku baik-baik saja mas!"
"Kamu tidak perlu khawatir tentang semua ini, ini semua akan baik-baik saja percaya lah padaku!"
"Ya aku percaya."
Hening tidak ada percakapan apapun lagi di antara kami berdua hingga ...
"Mas ..."
"Ya?"
"Boleh antar kan aku ke kosan teman ku dulu?"
"Anton?"
"Dari mas ..."
"Mas tahu semuanya sayang, ayok kita berangkat sekarang!"
"Tapi aku tidak ..."
"Mas tahu, jadi sekarang kamu duduk saja" Ucapnya pada ku.
__ADS_1