
Setelah selesai makan Anton berpamitan untuk kembali ke tempat kerja nya, meskipun masih beberapa jam lagi menuju tengah malam.
"Aku pamit ya, ndin!"
"Loh, ini kan belum tengah malam! Malah baru aja isya."
"Tidak apa, aku tidak enak juga berduaan di dalam sini dengan mu."
"Santai aja kali, nton. Lagian kita kan enggak ngapa-ngapain kan?"
"Iya sih tapi ..."
"Ya sudah aku mau ke belakang dulu mau cuci piring bekas makan tadi."
"Biar aku saja."
"Tidak apa, kamu tidur saja di sana nanti kalau sudah hampir tengah malam aku bangunkan."
"Makasih ya dan jangan p3r k0 S4 aku ya ha ha ha."
"Dih ada-ada aja kamu itu, mana mungkin aku melakukan itu semua aneh."
"Iya-iya."
Aku ke dapur dan mulai mencuci semua piring kotor di sana, bahkan aku juga mencuci baju-baju ku yang sudah tiga hari tidak ku cuci karena masalah ini semua.
Setelah isya semua pekerjaan ku selesai aku melihat Anton yang tidur dengan sangat nyenyak, bahkan sesekali ia mendengkur karena terlalu nyenyak tidur.
Aku duduk di tepi ranjang sambil bermain hp, aku membuka aplikasi hijau dan melihat-lihat status hingga satu postingan membuat ku sesak nafas.
Ya siapa lagi jika bukan postingan Devan dengan Widya, mereka tidur bersama di kosan milik Devan.
Aku memutuskan untuk memblokir nomor milik Devan kembali, dan merebah kan tubuh ku di samping Anton.
Singkat cerita kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, aku terbangun karena ingin ke toilet dan membangun kan Anton agar segera ke tempat kerja karena hampir tengah malam.
"Anton, bangun ini sudah hampir tengah malam."
"Hmm ... Bentar lagi lah masih ngantuk."
"Hei, ini sudah jam sepuluh lebih apa kamu tidak masuk kerja?"
"Hah?"
"Apa?"
"Jam sepuluh lebih sekarang?"
"Iya."
"Astaga, Andin. Aku numpang mandi sebentar ya!"
"Iya."
Setelah beberapa saat ia mandi dan bersiap pergi ke tempat kerja nya, ia berpamitan pergi dan ...
Cup
Satu kecupan mendarat di kening ku.
"Dadah calon istri."
Aku mematung melihat perlakuan Anton pada ku, aku tidak menyangka ia berbicara seperti itu. Padahal saat siang tadi ia bilang jika ia sedang mengincar wanita yang ia sukai.
Setelah Anton pergi, aku mengunci pintu kembali dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya ...
Kuliah ku libur dan saat aku selesai mandi tiba-tiba pintu kosan ku di ketuk dari luar kamar.
Tok ... Tok ... Tok ...
Aku mengintip nya dari balik jendela karena biasanya selalu kelihatan siapa yang mengetuk itu.
"Devan, mau apa dia ke sini lagi?" Tanya ku dalam hati.
__ADS_1
Segera aku memakai baju dan celana lalu membuka pintu.
Ceklekkk
"Ada apa?" Tanya ku langsung tanpa menyuruh nya masuk lebih dulu.
"Aku mau masuk dulu sebentar."
"Jangan lancang kamu, kamu tidak ada berhak lagi untuk masuk ke dalam kosan ku."
"Aku masih berhak karena kamu masih kekasih ku, di perut mu ada anak ku!" Ia menerobos masuk ke dalam kamar ku.
Aku masih diam mematung di depan pintu, aku tidak akan beranjak dari pintu karena takut jika ia akan melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan lagi bersama nya.
"Kemari lah, dan duduk di samping ku. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Percayalah."
"Cepat kata kan."
"Aku tidak suka kamu bersama laki-laki itu."
"Siapa?"
"Anton."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau anak ku bersama laki-laki lain."
"Anak mu? Ha ha ha. Ini bukan anak mu, anak mu bukan nya sudah mati?"
"Jaga ucapan mu itu Andin."
"Bukan kah baru saja kemarin kamu bermesraan dengan Widya dan menyuruh ku untuk membuang ini semua? Lalu kenapa sekarang kamu malah mengaku-ngaku bahwa ini adalah anak mu?"
"Aku menyesal, tolong jangan bahas itu semua."
Ia bangkit dan mencoba untuk memeluk ku namun aku menghindar, namun apa lah daya aku mentok di tepi dinding hingga ia berhasil meraih ku.
Ia mencengkram kuat tangan ku hingga memerah, sesaat ia ingin melakukan hal itu tiba-tiba ...
Pintu di buka dari depan dan nampak lah sosok Anton di sana, aku sangat bersyukur ia datang tepat waktu.
"Jangan sentuh calon istri ku!" Bentak Anton.
"Hei dia milik ku, dia sedang mengandung anak ku."
"Bukan anak mu, anak di dalam kandungan nya itu adalah anak ku. Dan kamu tidak berhak mengganggu nya lagi."
Bugh
Satu pukulan melayang di pipi Anton, aku terkejut sekaligus bingung melihat itu semua.
"Jangan membuat keributan di sini."
"Kamu juga, ternyata kamu itu m***han."
Plakkkk
Aku menampar nya karena kesal dengan ucapan nya itu.
"Jaga mulut mu itu Devan. Lebih baik kamu pergi dari kosan ku sebelum aku teriak."
"Dasar j4 l4 n6 ..." Ia berlalu keluar kosan ku dengan kesal.
Aku menghampiri Anton yang masih menahan rasa sakit di pipi nya.
"Sakit ya?" Tanya ku.
"Enak ko tenang saja. Ya udah tahu sakit masih aja nanya."
"Ihh ... Ya udah ayok aku obati dulu."
"Iya."
Aku mengobati nya dengan sangat pelan dan telaten, aku takut ia semakin merasa kesakitan karena terlalu kuat mengobati nya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja ko."
"Apa anak ku baik-baik saja?"
"Apaan sih Anton."
"Dia anak ku, Andin."
"Dia baik-baik saja ko."
"Bagus kalau begitu."
"Kamu ngapain ke kosan ku?"
"A-aku hanya kangen saja dengan anak ku ha ha ha."
"Dasar aneh"
"Seperti nya aku akan pindah kosan," ucap ku lagi.
"Kemana? Kenapa?"
"Aku tidak mau Devan kembali datang ke sini, entah lah. Aku belum mencari nya."
"Di kosan ku saja! Di sana ada kamar kosong dan aku jamin Devan tidak akan berani ke sana. Di tambah lagi biar aku gampang melihat mu dan anak ku."
"Ya sudah kalau begitu."
"Oke kalau begitu kemas kan lah barang-barang mu agar aku bisa langsung bawa ke sana."
"Iya."
Saat aku sedang mengemasi barang-barang ku, Anton menelfon pemilik kosan nya dan memberitahu kan bahwa aku akan menyewa kamar itu.
Setelah selesai aku dan Anton pergi ke kosan baru dengan membawa baju-baju ku terlebih dahulu.
"Di sana sudah ada kasur dan tv serta AC dan satu lemari baju, dapur ada di dalam nya sama seperti di sini kamar mandi juga di dalam."
"Berapa bayaran nya?"
"Sudah aku bayar selama tiga bulan."
"Astaga kenapa?"
"Tidak apa. Ayok, pake mobil mu dulu atau pake motor ku?"
"Pake mobil ku saja, karena baju nya lumayan juga."
"Oke."
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya kami sampai di sana, terlihat bahwa tempat ini sangat nyaman dan aman.
"Nak Anton, ini kunci nya." Panggil seorang wanita.
"Makasih ya bu."
"Sama-sama, wanita ini siapa nya nak Anton?"
"Dia istri saya bu, tapi baru menikah siri karena kami dulu menikah belum ada biaya yang cukup. Sekarang dia sedang mengandung anak saya, doain ya Bu biar sehat mama sama anak nya."
"Oh begitu, kenapa tidak satu kamar saja? Pilih kamar yang satu nya lagi biar agak besar."
"Istri saya sedang muak dengan saya bu."
"Oh biasa itu bawaan bayi."
"Kalau begitu kami permisi dulu ya."
Saat kami sampai di kamar.
"Kenapa kamu bilang kaya gitu tadi?"
"Lah emang kamu istri aku ko."
__ADS_1
"Dih ..."