Dia Anakku, Bukan Anakmu

Dia Anakku, Bukan Anakmu
Bab 26


__ADS_3

Saat aku sedang di kantor tiba-tiba saja Aurel datang menghampiri ku di sana, tanpa memberitahu ku sebelum nya bahkan ia berbohong kepada staf yang berjaga jika dia sudah memiliki janji pribadi dengan ku.


"Hallo sayang ..." Ucap nya tiba-tiba masuk.


"Aurel? Mau apa lagi kamu kemari?"


"Apa aku salah karena menghampiri calon ayah dari anakku?"


"Apa maksud mu?"


"Astaga Riki, aku sekarang sedang hamil apa kamu senang?"


"Tidak sama sekali!"


"Kenapa? Bukan kah ini yang kamu mau? Dan aku sudah memberikan nya pada mu!"


"Lebih baik kamu keluar!"


Namun, bukan nya keluar ia malah mendekat dan duduk di atas meja depan ku. Sontak saja hal ini membuat ku kaget bagaimana jika nanti ada yang melihat dan berpikir bahwa aku sudah selingkuh dengan mantan istri ku sendiri?


Astaga aku takut jika Andin yang melihat atau mendengar nya, dengan buru-buru aku bangkit dari duduk ku dan menghindari nya. Namun, sebelum itu terjadi ia lebih dulu menghimpit ku dengan m*n*a*g*a*g* ku.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah, aku hanya laki-laki biasa yang pasti akan tergoda jika melihat itu semua. Tapi ini ... Astaga ...


"Pergi lah jangan membuat harga diri mu jatuh, Aurel!"


"Memang nya kenapa sayang? Aku merindu kan mu!"


"Aku sudah memiliki istri dan anak."


"Alah dia itu loh bukan istri yang baik, bukti nya kemarin aku melihat nya mengobrol dengan mantan nya."


"Aku sudah tahu itu jadi kamu tidak perlu memberitahu ku lagi. Mengerti? Jadi minggir lah."


"Riki ... Riki ... Kenapa kamu begitu b0d0h sih?"


"Maksud mu?"


"Andin saja hamil oleh laki-laki lain lantas apa beda nya dengan ku sekarang? Bahkan kamu tidak tahu anak itu h*r*m atau halal kan?"


"Jaga ucapanmu itu Aurel, aku tidak akan pernah memaafkan mu jika kamu terus bicara seperti itu tentang istri dan anakku!"


"Kamu jangan munafik Riki, lihat lah mulut mu bilang tidak tapi anggota tubuh mu yang lain menginginkan nya, ayolah sayang! Hanya kita berdua!"


"Pergi kata ku."

__ADS_1


Ia semakin berani dan kali ini ia duduk di atas ku, dan membuat ku semakin tidak tahan lagi. Astaga ya tuhan aku sangat takut jika istri ku melihat adegan ini.


Aurel semakin liar dan ...


Ceklekkk


Pintu ruangan ku terbuka lebar dan muncul lah sosok Andin di sana, ia terpaku melihat apa yang terjadi antara aku dan Aurel.


"Astaga mas ..." Teriak nya kemudian.


"A- Andin ..." Ucap ku gugup.


"Jadi begini alasan mu menyuruh ku untuk tidak usah ke kantor hari ini?" Ucap nya lagi.


Aku bahkan sampai lupa jika aku memang melarang nya untuk ke kantor ku hari ini, tapi bukan ini alasan nya.


"Sayang ... Sayang ... Minggir ..." Aku langsung mendorong Aurel hingga terjatuh ke lantai, ia meringis kesakitan namun aku tidak peduli itu.


Aku terus mengejar Andin hingga para karyawan ku memperhatikan ku dengan tatapan ...


Di kantor aku di kenal dengan sifat dingin dan cuek ku, namun dengan Andin? Semua itu sirna seketika aku tidak peduli jika harga diri ku turun hanya karena membujuk istri yang sedang salah paham atau merajuk.


"Andin ... Dengar kan aku dulu sayang," ucap ku saat kami sudah berhadapan.


"Tidak sayang tidak, aku tidak akan menceraikan mu sampai kapan pun tidak akan aku mohon jangan ucapkan kata itu lagi."


"Tapi mas aku tidak ingin menjalin rumah tangga dengan orang yang belum selesai masa lalu nya!"


"Aku mohon jangan seperti ini sayang, dengar kan aku! Begini ..."


"Cepat jelas kan." Potong nya. Aku melirik ke kanan dan ke kiri ternyata mereka masih memperhatikan aku dengan Andin.


Aku mengambil hp ku dan menelfon Andre, untuk ikut bersama masuk ke dalam ruangan ku. Karena aku yakin di sana masih ada Aurel.


"Kita bicarakan di ruangan ku ya sayang? Tidak enak di lihat anak-anak." Andin menoleh ke arah mereka semua, dan mereka seketika menunduk kan kepala nya.


"Baik lah."


Akhirnya kami masuk ke dalam ruangan ku, dan benar saja masih ada Aurel di sana sedang duduk manis di sana.


"Hai calon madu ku!" Ucap nya.


"Diam kamu" bentak ku pada Aurel.


"Duduk lah sayang" aku menyuruh Andin duduk di kursi milik ku. Karena kursi untuk tamu di duduki oleh Aurel.

__ADS_1


"Begini aku dengan Aurel tidak ada hubungan apapun sayang, ia tiba-tiba datang ke kantor ku dan duduk di atas meja. Aku sudah menyuruh nya pergi tapi dia semakin berani dan ..."


"Dan kalian melakukan nya?"


"Belum sayang ..."


"Apa? Jadi jika aku tidak datang maka kalian akan melakukan hal itu?"


"Astaga ... Andre tolong bantu aku."


"Begini bu, tadi saya sudah tanya pada staf yang berjaga di bawah hari ini ia mengatakan jika bu Aurel ini mengaku sudah memiliki janji dengan pak Riki secara pribadi, tetapi saat staf itu konfirmasi pada saya itu semua bohong. Dan bu Aurel ini masuk dengan paksa ..."


"Apaan orang Riki sendiri yang meminta ku datang kemari kata nya ia kangen dengan permainan ku, karena permainan Andin monoton."


"Apa mas?"


"Astaga Aurel, lama-lama ku sobek mulut itu. Bisa-bisa nya kamu mengarang cerita yang tidak ada!"


"Aku bicara secara jujur mas! Sudah lah akui saja perselingkuhan kita ini."


"Siapa yang selingkuh? Aku tidak pernah melakukan hal itu, aku menyayangi anak dan istri ku. Kamu jangan memperkeruh suasana ya Aurel. Kami sudah hidup bahagia jadi pergi lah dari kehidupan kami, dan rawat anak mu sendiri."


"Apa mbak Aurel hamil? Jadi ..."


"Iya saya hamil, kenapa?"


"Jadi yang mas katakan itu ..."


"Iya sayang, dia hamil dan itu bukan anak ku! Kamu tahu sendiri kan jika selama ini kita selalu bersama lalu kapan aku ada waktu untuk bersama wanita itu?"


"Lantas apa alasan mu melarang ku datang ke kantor hari ini?"


"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan bulak balik sayang."


"Kalau begitu aku pindah kantor jadi bersama mu."


Aku beradu pandang dengan Andre, karena di perusahaan ku di larang pasangan bekerja dalam satu perusahaan. Lantas aku sendiri yang melanggar nya? Astaga.


"Kamu lupa dengan peraturan di kantor ini sayang? Begini saja kamu boleh ke kantor ku setiap hari setiap detik, tanpa harus bekerja. Biarkan tempat kerja mu nanti di urus oleh orang lain. Dan satu lagi asal kamu jangan telantar kan anak kita, dan kamu Aurel pergi atau aku panggil satpam untuk mengusir mu!"


"Dasar bucin b0d0h."


Aurel pergi dengan amarah, bahkan ia membanting pintu ruangan ku dengan sangat kuat.


Andin masih diam membisu ia tidak bergerak sama sekali dari kursi nya, bahkan ia tidak kembali ke kantor nya. Aku tidak mempermasalahkan hal itu tetapi aku tidak suka jika ia mendiami ku seperti ini. Aku takut kejadian dengan Aurel terulang lagi, itulah sebab nya aku melakukan apapun agar Andin tidak marah lagi.

__ADS_1


__ADS_2